
Ceklek
" Bangun Ne, udah siang. Astaghfirullah nih anak" Bang Evan menarik selimut Nea.
" Baaaang, issh ganggu aja sih" menarik selimutnya lagi.
" Udah siang Ne, bangun. Ntar kita jalan-jalan ke pantai" duduk di tepi kasur Nea.
" Siapa aja?" Langsung terbangun dan duduk berhadapan dengan Bang Evan.
Menatap jengah " Heleh, lu kalau masalah pergi aja langsung gercep" menoyor kepala Nea.
" Berdua aja gimana?" Bang Evan memberi pendapat.
" Emm, nggak ah bang. Kalau sama SOG ayok dah" merebahkan tubuhnya lagi.
" Yaudah, gih telfon terus siap-siap" Meninggalkan kamar Nea.
Nea pun segera menghubungi teman-temannya.
GRUP WA SOG
" Gais, yok ke pantai. Gausah bawa uang, apa kata bang Evan"
" Bener nih?" Yoga tidak percaya.
" Iya, yok kalian cepetan siap-siap ya" Nea langsung pergi ke kamar mandi.
" Gas" Fian
" Otw" Dias
" Hilih" Ello
30 menit kemudian. Di rumah Nea, tepatnya di ruang keluarga mereka berkumpul sambil bercerita.
" Bang, kita nggak bawa uang lo. Tadi kata Nea apa kata Bang Evan" Yoga berbicara tanpa beban.
" Iye, hari ini gue yang traktir kalian" Bang Evan berucap dengan santainya.
" Tiap akhir pekan gitu kan enak bang" Ello berkata dengan tidak tahu dirinya.
" Yeeeah dasar oneng, dibaikin nglunjak" Dias meninju lengan Ello.
" Banyak omong banget kalian-kalian nih.. Ayok berangkat bang" Nea menarik tangan Bang Evan.
" Yok" berjalan mengikuti Nea.
Sudah 2 jam perjalanan mereka di jalan. Karena jarak rumah ke pantai cukup jauh, mereka memutuskan untuk membeli beberapa camilan untuk dimakan di mobil.
" Mau keluar semua apa gue sama Fian aja?" tanyaku kepada mereka yang asik mengobrol.
" Kita semua aja, biar tau apa yang diinginkan" kata bang Evan sambil membuka pintu mobil.
" Ngoke", Nea pun mengikuti abangnya.
20 menit sudah mereka di dalam toko. Nea yang sudah tidak sabar, langsung menarik jaket abangnya.
" Abang mau beli apasih! lama banget kek anak perawan mandi!" Nea membentak bang Evan dengan wajah kesalnya.
" Utu utu sayang, sabar dong. Orang cuma 20 menit juga, sabar.. ini udah selesai" Mengelus rambut Nea lalu merangkul nya.
" Ishh" menghentakkan kakinya dan berlalu menuju mobil meninggalkan mereka.
" Beeehhh, cepet bang ntar ngamuk itu anak" Dias langsung menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.
Setelah selesai bayar berbayar, mereka kembali ke mobil. Saat bang Evan membuka pintu depan.
" Pantes ngamuk, orang dia ngantuk haha" tertawa sambil membenarkan posisi duduk Nea.
" Hmm, Udah gitu puter musik kenceng lagi, astagaa ini anak" Fian menggelengkan kepalanya.
" Udah biarin lah, yok kita lanjut perjalanan" Ello mengambil alih posisi bang Evan.
Selama perjalanan, tidak ada percakapan apapun. Ello berinisiatif memutar musik dangdut.
Rhoma Irama - Keramat
Doa ibumu dikabulkan Tuhan
Dan kutukannya jadi kenyataan
Ridla Ilahi karena ridlanya
Murka Ilahi karena murkanya
Bila kau sayang pada kekasih
Lebih sayanglah pada ibumu
Bila kau patuh pada rajamu
Lebih patuhlah pada ibumu
Bukannya gunung tempat kau meminta
Bukan lautan tempat kau memuja
" Kok lagu ginian si Lo, astaghfirullah.. pindah dah pindah" Yoga melempar kacang ke Ello.
" Njir, gue juga nggak tahu Yog. Bisa-bisanya, gue kan malah keinget mak gue jadinya" sambil mengalihkan musik ke musik lain.
" Ahaha, sabar El. Mak lo pasti bahagia sama Pak kau yang baru" Dias menepuk-nepuk pundak Ello dengan wajah mengejek.
" Bodoh amat ah" Ello mengalihkan musik menjadi lagu galau.. ngenes emang.
" Apa sih, ribut banget kalian" Nea mengusap sambil melihat ke arah Ello.
" Nggak, itu tadi salah lagu doang Ne" Jawab Fian dengan ekspresi wajah datarnya.
" Oh, oke" Nea menoleh ke belakang, " Bang, roti satu dong" mengadahkan tangannya ke bang Evan.
" Nih"
" Oke terima kasih"
" Oke"
Glenn Fredly ft. Yura - Cinta dan Rahasia
Ku cinta padamu
Namun kau milik sahabatku
Dilema hatiku
Andai ku bisa berkata sejujurnya
Jangan kau pilih dia
Pilihlah aku yang mampu mencintamu lebih dari dia
Bukan ku ingin merebutmu dari sahabatku
Namun kau tahu
Cinta tak bisa tak bisa kau salahkan
" Kurang berapa detik sih bang kita nyampe?" Nea melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.15 wib.
" Kurang 7200 detik an lah, sabar dong" bang Evan kembali melanjutkan bermain gamenya.
" Ishhh, panas dong ntar kita disananya" merajuk seperti anak kecil.
Belum sempat bang Evan menjawab, Yoga terlebih dahulu menyelanya. " Heleh panas dikit doang, nggak usah alay deh Ne" dengan tatapan jengahnya.
" Bacooooooootttttt sw" balas Nea sewot.
" Mulutmu Ne, sekali lagi ngomong kasar abang tabok nih" memperingati dengan senyuman mematikan.
" Iye bang iye" (nyenyenye) mengejek ke arah bang Evan.
1,5 jam mereka tempuh, dan mereka akhirnya sampai di tujuannya, yaitu pantai. Mereka beristirahat, makan, sembari menunggu sholat dhuhur.
14.00
" Yok ke pantai lah" Dias menarik tangan Nea dengan dibantu Yoga.
" Ihhh nggak mau, panas. Enakan disini ngadem" meronta dari genggaman tangan Dias dan Yoga.
Fian dan Ello tidak tinggal diam, mereka juga membantu menarik Nea. Pada akhirnya, Nea kalah dan terpaksa bermain bersama mereka.
" Jaaaaaannnnn!!, kok ah. Ireng kabeh toh kulitku" berteriak kepada Dias and the geng.
" Weheeee, biar kita menghitam bareng Neeee" Fian menyipratkan air laut ke arah Nea.
" Aishhh, abaaaang.. bantulah adek kau ini. Jahara sekali kau jadi abang" Nea memelaskan wajah menatap bang Evan.
" Jijay iyuuh, jangan alay please deh Ne" mendorong Nea dan berlalu pergi.
" Ahahah, dibilang jangan alay. Udah nikmatin aja say" Ello masih asyik dengan membuat rumah pasirnya.
Ya, mereka memang sudah SMA, bahkan sebentar lagi mereka akan lulus. Tapi, tingkah mereka seperti masih bocah SMP, freak.
15.30
" Njir, gue kek bapak-bapak yang lagi ngawasin anaknya main, mengsedih" bang Evan melihat dari kejauhan.
" Alhamdulillah, gue bisa bikin bahagia Nea walau sederhana. Dari kecil udah ditinggal bokap nyokap pergi kerja terus. Untung adek gue kuat" melihat Nea dengan senyuman tipisnya.
" Woy bang" tiba-tiba Nea ada di depan bang Evan.
" Anjir, kaget oneng" menoyor kepala Nea.
" Salah siapa bengong" Nea menyenderkan kepalanya di bahu bang Evan.
Hening
" Dek"
" Bang"
Mereka berucap bersamaan.
" Abang dulu lah, ada apaan bang?" menoleh sebentar lalu menyenderkan kepalanya lagi.
" Emm.. abang cuma mau bilang aja sih.."
" Bilang apa bang?"
" Kamu...
Jangan, Read, like, komen, rate hehe
terimakasih. Hanya penulis amatiran.