Neona

Neona
Bab 4



" ini tinggal dicoret aja kalau belakangnya sama, ntar tinggal ngitung yang depan aja" terang Nea pada Andin.


" Oh begitu toh, oke terima kasih Ne" ucap Andin berterima kasih dan pergi. " Oke, sama-sama" jawab Nea.


................


" Assalamualaikum, Nea pulang, yuhuuuuuu.. bi Iyemmmm..." teriak Nea sambil membuka pintu.


" Wa'alaikumussalaam. Astaghfirullah, Nea jangan kebiasaan teriak-teriak nggak jelas gitu. Kayak di hutan aja" bukan bi Iyem yang menjawab tapi Mama Nita.


" Eh mama? tumben pulang? udah inget rumah ya? Mana papa?" bertanya dengan nada mengejek menahan amarah. Setelahnya dia melanjutkan pergi ke kamar.


" Nea, tunggu dulu. Mama belum bicara apapun kok ditinggal sih?" cegah mama Nita, sebelum Nea sampai ke pintu kamarnya.


" Nea capek mau istirahat" jawabnya acuh, Nea malas dengan kedua orangtuanya yang hanya mementingkan uang daripada keluarganya.


Mama Nita pun hanya menghela nafasnya dengan kasar, dia memang salah. Tapi, itu semua juga demi masa depan bang Evan dan Neona.


Mama Nita menghampiri papa Indra, " Gimana pa? Anaknya masih marah sama kita" ucapnya sendu sambil menahan air matanya. Papa Indra yang melihat pun menjadi tidak tega.


" Sudah Ma, biar nanti papa minta tolong sama bang Evan untuk bujuk Nea" ucap papa Indra menenangkan.


Setelah itu, papa Indra dan mama Nita pergi menuju kamarnya.


Tak lama kemudian, sekitar pukul 16.50, terdengar suara mobil di halaman depan. Tampaknya itu bang Evan yang sudah pulang dari kantornya.


Mama Nita yang mendengarnya pun langsung keluar dari kamar untuk menemui bang Evan. Bang Evan yang masih berada di depan pintu pun terkejut dengan kedatangan mamanya.


" Eh mama, kapan datang ma?" menghampiri mama Nita sambil menyalami tangannya.


" Tadi, sekitar jam 3 an bang. Abang bersih-bersih dulu ya, nanti setelah makan malam, mama mau bicara sama abang" ungkapnya dengan mengelus kepala bang Evan yang tinggi menjulang.


" Oh oke ma, abang ke kamar dulu" pamit bang Evan pada mama Nita. Bang Evan langsung membersihkan dirinya.


Tak lama kemudian, empat orang makan malam pada pukul 18.30. Papa Indra, Mama Nita, Bang Evan dan Nea sudah duduk di meja makan. Ayah Indra tidak suka jika terlalu banyak bicara di meja, jadi mereka makan dengan khusyuk.


Setelah makan malam selesai, Nea langsung pergi ke kamarnya. Mama Nita yang melihat pun hanya menghela nafasnya dengan kasar.


" Mama mau bicara apa sama abang?" tanya bang Evan setelah mereka berada di ruang keluarga.


" Mama sama papa udah mutusin buat bekerja di rumah saja, dan kamu yang nerusin perusahaan papa di pusat ya" pinta Mama Nita pada anak sulungnya. " Udah nggak apa-apa nggak dijawab sekarang, abang pikirin baik-baik ya. Besok abang bisa jawab" lanjutnya dengan mengelus kepala bang Evan.


Bang Evan yang mengerti pun hanya mengangguk. " Terus? apa ada lagi yang mau dibicarakan?" tanya bang Evan.


" Emmm, mama mau jodohin Nea sama anak temen mama. Biar dia ada yang jagain, mama takut bang. Di luar banyak pergaulan bebas, mama takut nanti adik kamu terjerumus ke jalan yang salah" ucap mama Nita dengan pandangan lurus ke depan.


" Oh, kalau untuk kebaikan Nea sih abang ngikut aja. Tapi, mama juga harus bilang sama anaknya, jangan terlalu dipaksakan ma. Mama harus mendekati Nea lagi biar dia nggak dingin lagi sama mama" ucap bang Evan panjang lebar.


" Iya bang, ini mau minta bantuan abang. Tolong ya bang, abang kan yang deket sama Nea. Tolong bujuk dia ya bang" pinta Mama Nita dengan tatapan sendunya.


" Iya ma, mama tenang aja udah. Ntar biar aku yang bilang sama Nea" jawab bang Evan yang berusaha untuk membuat mama Nita senang.


Mama Nita yang mendengarnya pun langsung sumringah. " Terima kasih ya bang" ucap mama Nita sambil mengelus pundak bang Evan.


" Sama-sama Ma, yaudah aku ke kamar dulu ya Ma" pamit bang Evan pada Mama Nita. Sebelum ke kamarnya sendiri, bang Evan menyempatkan untuk ke kamar Nea.


Ceklek..


Saat Bang Evan masuk ke kamar Nea, dia tidak melihat Nea berada di tempat tidur. Bang Evan pun memutuskan untuk pergi ke balkon. Ternyata Nea sedang berdiri menikmati angin malam dengan langit yang bertabur bintang.


" Apa?" jawab Nea acuh tanpa melihat bang Evan.


" Sini, duduk dulu dek" menarik tangan untuk duduk di kursi panjang.


" Jangan gitu ah sama orang tua, mereka kerja toh buat kita kan? maaf in mereka ya, Ne. Mereka juga udah mutusin buat di rumah aja kok, nanti abang yang bakal lanjutin kerja di kantornya. Udah, jangan ada rasa gitu lagi, maafin mama papa ya, kamu kan anaknya baik dan pemaaf. Abang mohon ya sama kamu" ucap bang Evan panjang lebar pada Nea. Bang Evan yang melihat Nea mau menangis pun langsung memeluknya.


" Hiks...hiks..hiks, Abang mau ngomong apa ceramah sih" menangis dalam pelukan bang Evan. " Iye bang gue coba maafin mama papa, tapi kasih waktu ya. Nggak gampang soalnya" jawab Nea sambil melepaskan pelukannya.


" Iya, abang ngerti. Udah, tenangin diri dulu ya. Nggak usah nangis lagi. Dasar cengeng" mengacak-acak rambut Nea.


" Abaaaang!!!" teriak Nea menggelegar. " Ngacak rambut Nea lagi, gue jambak ya lo" tangan Nea sudah bersiap untuk menjambak rambut bang Evan.


" Iye iye maaf, udah sana siap-siap, kita keluar bentaran yuk cari jajan" ajak bang Evan ke Nea. " Abang siap-siap dulu, ntar langsung ke bawah aja" lanjutnya sambil keluar dari kamar Nea.


" Yes, cari cogan ahaha" secepatnya Nea ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti baju, setelah itu Nea bersiap-siap untuk turun.


Saat melewati ruang tengah, Nea tidak sengaja melihat mama dan papanya sedang menonton televisi. Mama Nita yang melihat pun, berinisiatif untuk bertanya kepada Nea.


" Mau kemana sayang?" tanyanya pada Nea yang terlihat rapi.


" Emm.. mau keluar sama abang" jawabnya sambil menghampiri mama dan papanya untuk mencium tangannya.


" Oh begitu, yaudah hati-hati ya. Sudah malam ini pakai jaket" ucap mama Nita memperingati.


" Nggak usah, mau gini" Nea meninggalkan mama dan papanya.


Papa Indra yang melihat interaksi keduanya cukup senang, walaupun hanya beberapa kata. Mama Nita pun tak kalah sumringah nya, karena Nea menjawab pertanyaan dengan sedikit ramah.


Nea yang sudah menunggu di depan rumah, tepatnya di taman hanya menghela nafasnya dengan kasar. Nea sudah bertekad untuk memaafkan mama dan papanya. Tak lama kemudian, bang Evan sudah menaiki motornya dan menghampiri Nea.


" Yok, Ne. Maaf abang lama" ucapnya sambil memakaikan helm pada Nea.


" Ishhh, gausah pakai helm, bang. Nggak enak, udah gini aja" protes Nea sambil melepaskan helmnya dan helm bang Evan.


" Yaudah, taruh disitu aja dah, Dek". Setelahnya, Bang Evan dan Neona mulai berjalan-jalan keluar hanya sekedar mencari angin. Karena, Nea belum melihat jajanan yang srek di matanya.


Sekitar 20 menit, mereka hanya di atas motor, akhirnya mereka berhenti di sebuah danau. Danau buatan yang sengaja di desain untuk anak remaja.


" Bang, enak banget dah malam-malam begini. Keknya sabilah ke sini sendiri" berbicara pada bang Evan yang hanya menatap lurus ke danau.


" Mana ada! Nggak usah aneh-aneh kamu Ne! Nggak ada!" balasnya ngegas banget, Nea yang melihatnya pun langsung tertawa.


" Ahahaha, nggak bang. Paling juga sama si SIG kalau kesini" masih dengan tawanya. " Nggak usah ngegas gitu yaa ampuuuun" mendorong kasar lengan bang Evan.


" Y kecil Ne" jawabnya bodoh amat.


Sudah 20 menit mereka berada di danau, Nea yang belum belajar pun meminta bang Evan untuk pulang.


" Yok, bang. Kita pulang, aku belum belajar" ajaknya sambil berdiri meninggalkan bang Evan dan menuju ke motor nya.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah. Nea langsung pergi ke kamarnya. Setelah membersihkan diri, Nea menyempatkan untuk belajar sebentar.


" Hmm, udah jam segini. Lanjut habis subuh aja..


Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe


terimakasih