
" Iya, udah kalian makan aja. Nea edan, beli banyak kek gini" ucap Bang Evan yang sudah kenyang memakan jajanan nya. Bang Evan pun menidurkan diri di sofa taman belakang.
" Mantep, Ne. Besok gini lagi ya" ucap Ello dengan mulut penuh makanan.
" Dasar nglunjak!" Fian menoyor kepala Ello dari belakang.
" Jijik, abisin dulu baru ngomong" ucap Nea sambil terus mencomot makanan.
Tidak butuh waktu lama, makanan yang di beli tadi sudah habis tanpa sisa. Tanpa babibu lagi, Ello diikuti lainnya langsung merebahkan tubuhnya di atas karpet, untung berbulu.
" Hufftt.. kenyang banget ampun dah" keluh Yoga mengusap perutnya.
" Gila emang, Nea" Dias berucap dengan mata tertutup, tanpa dia sadari ada bantal yang sedang melayang ke wajahnya.
Puk..
" Anj*r, kaget gue" Dias membuka matanya.
" Bacooooooootttttt, toh udah masuk ususmu" Nea berbicara dengan mata melotot.
" Diem kalian, berisik banget" tegur bang Evan yang mau memasuki ke alam goib di atas sofa.
POV Nea
Malam hari, sesuai janji tadi pagi sedikit siang. Aku dan sahabatku si SOG pergi ke taman untuk berkumpul.
" Kemana kita hari ini wahai sobat?" tanyaku pada mereka.
" Emm.. ke pasar malam aja dah, jalan-jalan doang kan?" tanya Ello kepadaku.
" Iyek, nggak usah beli jajan ahihi" tawaku menyeringai.
" Ne, nggak usah aneh-aneh deh" keluh Fian. Karena Fian sudah curiga, jika Nea tertawa seperti itu.
" Enggak, yok ah.." ajakku berjalan mendahului bersama Yoga di depan. Sedangkan Dias, Ello, dan Fian berada di belakang ku.
Sesampainya di pasar malam, kami berlima bermain mancing ikan mainan, dilanjutkan dengan mewarnai gambar diatas styrofoam.
" Ih, Nea. Kenapa baju sama celananya hitam semua!" protes Ello yang melihat warna dalam gambar ku.
" Bagus ela, El. Lihat, hitam semua kan keren" banggaku melihat warna yang ku coretkan di gambar ku.
" Bagus dariman Oneng, lihat noh jadi kek orang ngelayat" bukan Ello lagi yang menimpali, tapi Fian yang ikut-ikutan melihat gambarku.
" Bacooooooootttttt banget kalian, jelas-jelas lebih baik punya gue timbang kalian" banggaku yang memang gambaranku lebih jelek daripada mereka.
" Iyain biar seneng" ucap Yoga dan Dias bareng.
Setelah mewarnai tadi, kami berkeliling lagi. Kami benar-benar tidak membeli apapun, sampai akhirnya.
" Kita duduk sini ya, haus gue. Ne, tolong beli minum dong" pinta Dias padaku.
" Oke" aku pun beranjak berdiri dan menghampiri abang penjual minum.
POV Nea end
................
Setelah membeli minuman, Nea kembali ke sahabat-sahabatnya. Nea tidak tahu jika ada Kivan di sana.
" Hei" sapa Kivan pada Nea. Nea pun menoleh kearah Kivan.
" Hmm?" jawab Nea cuek.
" Kivan, kuta belum kenalan berdua kan?" Kivan menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Nea.
" Emm, Nea" hanya sekilas menjabat tangan kemudian langsung melepaskannya.
'Baru kali ini gue dicuekin cewek, ajaib bener ni cewek nggak peduli sama wajah gue. Ini nih tipe yang gue cari, idaman banget' batin Kivan yang masih melihat wajah Nea.
Kivan, dibuat penasaran oleh sikap Nea padanya. Nea benar-benar beda dari kebanyakan cewek lain, bagi Kivan. Yang biasanya Kivan sangat irit berbicara, tapi ntah hawa darimana membuat Kivan ingin banyak bicara di dekat Nea.
" Dah malem, yok pulang gaes" ajak Fian pada orang-orang yang ada di sana, bukan semua tapi mereka berlima.
" Yok dah, gue laper soalnya" keluh Nea sambil mengusap perutnya.
" Lah? Perut lo terbuat dari apaan sih, Ne. Karet amat dah" ucap Dias heran.
" Biarin wlee, yok" Nea berjalan terlebih dahulu.
" Eh? Lo mau pulang apa masih disini?" tanya Ello pada Kivan. " Emm.. gue ikut kalian aja, toh rumah kita searah" jawab Kivan, kemudian mengikuti Nea dari belakang.
" Emm.. enggak sih. Dia ceria, cuma ya sedikit aja judesnya kalau sama orang yang baru di kenal" jawab Yoga menjelaskan.
" Dia beda kek cewek-cewek diluaran ya!" Kivan semakin penasaran oleh sosok Nea ini.
" Yaps, tahan banting sih dianya" jelas Dias kali ini. Yang belakang asik gibah yang depan asik main tebak-tebakan.
" Ne, gue punya tebak-tebakan nih" senggol Ello pada lengan Nea.
" Apaan, garing gue tonjok lo" canda Nea.
" Buah apa yang paling cocok untuk jomblo" Ello memberi pertanyaan sambil menahan tawanya.
" Semua buah lah" jawab Nea enteng.
" Salah" ucap Fian.
" Apaan" tanya Nea tidak mengerti.
" Buahahahaha" Ello tertawa dengan keras, orang yang berada di jalan pun langsung melihat ke arah Ello.
" Anjir, jan keras-keras ogeb" Nea meninju lengan Ello.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di warung penjual nasi goreng. Mereka pun segera memesannya.
" Bang, 6 ya. Teh hangat semua" pinta Nea pada abang nasi goreng.
" Oke, Neng".
Nea duduk berhadapan dengan Kivan, entah sengaja atau tidak sengaja. Nea yang ingin mengambil kerupuk pun tiba-tiba Kivan juga mengambilnya, tangan mereka bersentuhan.
Nea dan Kivan reflek saling berpandangan.
deg, deg, deg
'Anjir, napa jantung gue weee' batin Nea.
'Lahkok jantung gue deg-degan gini sih' batin Kivan.
" Akkheeeem ehem! udah kelar belum acara tatap-tatapan nya!" sindir Fian yang membuat kedua orang itu langsung memutus pandangan mereka.
" Makan dulu, pdkt nya ntar lanjut lagi kalau udah kelar makan" sindir Ello memanasi.
" A-apaan sih, pdkt pdkt" jawab Nea sewot sedikit gugup.
Kang nasgor pun datang membawa pesanan mereka. " Ini neng, gapapa neng pdkt. Kalian cocok" goda kang nasgor sambil meletakkan minuman nya.
" Apaan sih bang!" ucap Nea salah tingkah, kemudian melahap makanannya dengan cepat.
" Pelaa..
Uhuk, uhuk
" Nah kan, belum juga gue selesai ngomong udah keselek" Fian menyodorkan minumannya, tapi tanpa Kivan sadari, dia juga menyodorkan minumannya. Tanpa melihat siapa yang memberi minum, Nea langsung mengambil yang ada di depan mata, jelas punya Kivan.
" Duh aduh aduh" sindir Yoga melihat hal itu.
" Eh eh maap, nih" Nea menukar minumannya dengan milik Kivan yang tadi diminumnya.
................
" Assalamualaikum, Nea pulang... jangan ditanya apa-apa. Nea mau tidur, capek" ucap Nea mencegah pertanyaan yang akan keluar dari mulut abangnya.
" Wa'alaikumussalaam" tidak ingin membuat mood Nea jelek, Bang Evan hanya menjawab salamnya saja.
Setelah Nea sampai kamar, dia langsung bersih-bersih. Kemudian, dia keluar ke balkon membawa buku belajarnya. Tidak terasa, sudah hampir 3 jam Nea belajar. Tanpa sadar, Nea tertidur di atas sofa depan.
Ceklekk..
" Lah? mana tuh anak" heran Bang Evan yang tidak melihat Nea di kamarnya. " Di balkon kali ya" keluar mencari Nea. " Eh, malah ketiduran disini" jongkok di depan Nea. Kemudian, Bang Evan menggendong Nea untuk dipindahkan ke kasurnya.
" Abang?" Nea terbangun karena merasakan dirinya terbang.
" Lo makan apaan dah dek, berat kali" protes bang Evan sambil mengibaskan tangannya setelah menurunkan Nea.
" Aih, abang aja yang lemah" jawab Nea sewot.
" Yaya Abang lemah, udah tidur lagi sana. Nice dream" pamit bang Evan sambil mencium kening adik satu-satunya itu.
" Oke bang, too" Nea mengambil selimutnya dan menutup tubuhnya rapat-rapat.