
Hari semakin sore, suara suara burung maupun jangkrik saling bersautan. Posisi Nea menjadi di tengah-tengah. Dengan posisi Bang Evan, Ello, Fian, Nea, Kivan, Dias, Yoga, dan terakhir Bang Satria.
" Bang Sat, napa diem-diem aja?" Tanya Yoga.
" Lah? Gue harus ngapa, Yog" jawab Bang Satria.
" Kali aja mau karaoke haha" canda Yoga.
" Ntar lah pas di sabana" ucap Bang Satria.
" Tuh banyak yang berhenti disitu, keknya itu pos 1 deh" ucap Fian sambil menunjuk ke arah orang-orang yang sedang beristirahat.
" Alhamdulillah dah" jawab Nea.
Sesampainya di pos 1, mereka pun langsung mendudukkan diri dan beristirahat sebentar, mereka pun disuguhi hamparan hijau dan pemandangan Kota B dan Kecamatan P.
Perjalanan menuju pos 1,medan teramat landai, melewati perkebunan penduduk. Dan di pos 1 merupakan tempat mengisi cadangan air untuk minum, dan itu kesempatan terakhir. Karena mereka akan menemukan sumber mata air lagi saat di Sabana nanti.
Lanjut menuju pos 2, perjalanan mulai menanjak, ada dua cabang menuju pos 2 yaitu jalanan warga biasa dan tanjakan PHP. Mereka pun memilih untuk melewati tanjakan PHP. Setelah sekitar 1 jam dari tanjakan PHP, mereka pun menemukan pos 2.
Sesampainya di pos 2 mereka berhenti untuk melaksanakan ibadah Maghrib. Setelah melaksanakan ibadah nya. Mereka bersiap-siap dengan memakai jaket tebalnya masing-masing. Karena di gunung, semakin malam semakin dingin pula udaranya.
" Mau makan kalian? Apa di pos 3?" Tawar Bang Evan.
" Nanti ae lah bang" jawab Kivan mewakili semuanya.
" Oke, dikit lagi sabana kok" ucap Bang Evan menyemangati.
" Your eyes dikit lagi" Nea memukul lengan Bang Evan.
" Biar kalian semangat" canda Bang Evan.
" Dih" kemudian Nea diam.
" Makan roti kalian ya, jan sampe ada yang kelaparan" ucap Bang Satria dari belakang.
" Iya bang" jawab Kivan yang memang sedang memakan roti.
" Mau nggak, Yang" ceplos Kivan dibelakang Bang Evan memanggil Nea sayang.
" Dih, nggak boleh sayang-sayangan ya" sahut Bang Evan.
" Iri? Saingi bos" ucap Nea mengejek Bang Evan.
Pukul 19.00 mereka pun melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan mereka mengisinya dengan mengobrol, supaya pikiran tidak kosong dan tetap fokus.
Mereka masih berusaha meskipun sedikit demi sedikit mereka berhenti, karena udara di atas gunung jika semakin malam akan semakin sesak. Apalagi kanan kirinya sudah hutan dan ilalang ilalang panjang.
" Berhenti bang" ucap Nea, mereka pun berhenti dan mencari tempat duduk yang sekiranya tidak memakan jalan untuk para pendaki lain.
" Carrier lo bawa" Nea melepaskan carriernya dan memberikannya kepada Fian.
" Ngoke" Fian segera mengambilnya.
Trekking panjang dimulai untuk menuju sabana, dimana tempat kita para pendaki mendirikan tenda untuk beristirahat. Tetapi harus melewati pos 3 terlebih dahulu sebelum menuju sabana.
Setelah beberapa jam, mereka pun sampai di pos 3. Pos 3 merupakan percabangan antara jalur dari gunung P dan lainnya. Di pos 3 bisa muat untuk kamping beberapa tenda, cukup luas.
" Udah malam, mau camp disini apa lanjut?" tawar Bang Evan.
" Lanjut bang, sabana sebentar lagi kan?" tanya Ello.
" Iya, paling 30 menit" jawab Bang Evan.
" Lo bilang 30 menit lagi gue gigit nih, Bang" sewot Nea. Karena dari tadi abangnya selalu bilang kurang 30 menit terus.
" Dih" Bang Evan pun diam dan meminum air gulanya.
Saat beristirahat, tiba-tiba ada pendaki lain yang juga ikut berhenti. Kami pun menyempatkan untuk mengobrol sebentar sebagai perkenalan.
" Dari kota mana mas? tanya Bang Satria pada Mas-mas pendaki, dan kebetulan ada beberapa anak ceweknya.
" Dari Kota J mas" jawab Mas pendaki, " Ini perempuan satu-satunya, Mas?" lanjutnya.
" Iya mas, kenapa ya?" tanya Nea.
" Nggak apa-apa, mbak" jawab mbak pendaki.
Sebenarnya Nea san Dias peka akan hal-hal itu, sejak tadi mereka merasakan ada yang melihat mereka dan mendengar suara-suara aneh. Tapi mereka diam, waktu Nea mendengar dia langsung menoleh ke arah Dias. Tapi Dias menyuruhnya diam.
" Lanjut?" tawar Dias.
" Ayok lah, biar cepet nyampe Sabana nya" ucap Nea melirik Dias.
" Oke, kita duluan ya mas mbak. Mariii" pamit Bang Evan pada pendaki yang masih berisitirahat.
" Iya mas, marii" jawab mas mbak pendaki.
" Musik tipis-tipis dong ges" pinta Nea pada Ello.
Boleh bang?" izin Ello pada Bang Satria.
" Boleh, tapi jan keras-keras ya. Takut ngaganggu" ucap Bang Satria memberikan izin.
Ello pun memutar musik. Kamu ngga' sendirian - tipe x
Lagu yang ku ciptakan untukmu
Walau mungkin terdengar gak merdu
Tapi hanya untukmu
Kita pernah bersama di sini
Lalui hari penuh warna-warni
Meski tak seindah pelangi
Tapi kita pernah bermimpi
Percayalah padaku meski di gelap malam
Kamu nggak sendirian
Dan semua bintang yang ku tinggalkan
Temani kau sampai akhir malam
" Mantep dah, gini kan enak daripada sunyi gelap gulita kek hidup" ujar Fian.
" Hidup lo aja kali yang gelap, nggak usah bawa-bawa" canda Kivan menimpali.
" Haha, barengan lah" timpal Fian.
" Emoooh" sahut Nea.
Perjalanan kembali dimulai, menuju pos 4 atau biasa disebut sabana, mereka menyusuri pinggiran bukit, melewati beberapa kayu roboh. Sampai satu jam kemudian mereka melewati Cemoro Kandang, yang suasananya selalu berubah, kabut bisa datang kapan saja, kadang cerah, kadang berubah jadi gelap penuh kabut. Vegetasi Edelweis mulai banyak di sini.
" Henti bang, sesek nih" ucap Yoga kemudian membuka jaketnya.
" Eh? sesek gimana? asma gitu?" tanya Bang Evan.
" Enggak, engap aja. Lepas jaket lah" Yoga pun melepaskan jaketnya dan hanya memakai kaos lengan panjang.
" Dih, pake Yog jaketnya. Dingin ini" ucap Nea sambil melirik ke arah Yoga.
" Enggak ah, nggak apa-apa ini, malah enak semilir" jawab Yoga sambil membawa carrier nya lagi.
" Udah? Lanjut?" tanya Dias.
" Bentar, masih bengek gue" tahan Nea pada Dias yang ingin berdiri.
" Oke, 10 menit ya istirahat" jawab Bang Evan.
Napas mereka ngos-ngosan. Hari semakin malam, dan mereka belum merasakan kantuk datang.
Sekitar 1 setengah jam sudah dari Cemoro kandang, mereka pun sampai di pos 4, yaitu sabana. Karena mereka kebanyakan berhenti, jadilah mereka sampai di sabana pukul 00.30.
" Eh yaampun aku menemukan singkong bakar" kejut Nea mengambil singkong bakar bekas pendaki lain yang kebetulan sudah turun.
" Bagi, Ne" ucap Ello.
" Nih" Nea membagi menjadi dua bagian dan memberikannya pada Ello.
" Waw, dingin banget disini" ucap Nea kemudian memeluk Bang Evan.
" Ih, minggir dulu. Abang mau diriin tenda biar cepet istirahat" ucap Bang Evan sambil melepaskan pelukan Nea.
" Dih" Nea pun segera membantu mendirikan tenda. Ada 3 tenda yang mereka bawa. 1 untuk Bang Evan dan Nea, 1 untuk Fian, Kivan, dan Ello, dan 1 nya lagi untuk Bang Satria, Yoga, dan Dias.
30 menit mereka membangun tenda. Dan diantaranya ada yang lapar, ada yang mengantuk dan ada yang ingin bercengkrama.
" Udah malam we, tidur kalean. Awas aja summit besok gue bangunin nggak ada yang bangun" ancam Nea, kemudian dia masuk ke tenda dan segera tidur.
" Iya iya astagaa" jawab Kivan.
" Kalian mau tidur apa makan dulu?" tanya Fian.
" Gue mau masak mie, laper" Bang Evan segera menyalakan kompor dan memulai memasak mie nya.
" Bang aku juga" sahut Ello tidak tahu diri.
" Dih, masak sendiri" canda Bang Evan.
" Dih, kan sekalian 3 mie bang" ucap Ello, kemudian dia membuka kemasan mie nya lagi.
" Cemplungin" ucap Bang Evan.
" Aku tidur dulu ya semua" pamit Kivan kemudian dia masuk ke dalam tenda.
" Aku juga bang" diikuti Yoga dan Dias.
" Oke" Jawab Bang Satria yang dari tadi sibuk dengan perlengkapannya.
Jangan lupa, Read, like, komen, rate hehe
terimakasih