Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 9. Masa Lalu



Hari ini merupakan hari terakhir Leeyya berada di rumah Papi Abdyan dan mami Lia Anggraini.


"Sayang, kamu menginap sehari lagi saja ya" pinta mami Lia.


"Maaf mi Leeyya gak bisa, karena besok..." ucapan Leeyya terhenti


"Karena besok mata kuliahnya pak Gavano mi" lanjutnya dalam hati.


"Besok apa Leeyya?" tegur mami Lia yang sudah sangat penasaran.


"Itu mi, mata kuliah penting. dosennya galak mi, tidak mau menerima tugas kalau kitanya gak masuk" adunya.


"Oh, bagus dong. berarti dosen itu mau kalian bertanggung jawab atas tugas kalian. kalau seperti itu pasti yang tim copy paste dari teman pada ketakutan haha..." ujar mami Lia diiringi dengan gelak tawa.


"Mami nih kayak dulu gak pernah copy paste aja deh" sindir Leeyya.


"Hehe...iya, kok kamu tahu Leey" kekehnya.


"Hahaha iya dong mi"


"Hei hei,,, asik banget sih, suara ketawa kalian terdengar loh sampai ke taman belakang" tegur sang Papi


"Hehe....mami nih pi, ngelawak aja" sahut Leeyya.


"Dasar... ngomong-ngomong sudah siap belum makanannya, papi sudah sangat lapar nih" keluh papi Abdyan.


"Sudah pi, ayo kita makan" seru Leeyya dengan semangat.


............


Markas GZor Black


Gavano saat ini tengah duduk sembari menikmati secangkir kopi ditangannya. dihirupnya wangi kopi hitam itu, betapa sedap dan nyamannya bau minuman hangat berwarna gelap itu.


"Bos, barang kita sudah tiba didermaga" lapor Heru


"Panggilkan Jody" titahnya sambil meletakkan cangkir kopi kemeja.


"Baik bos, saya permisi"


tokk...tokk....


"Masuk"


"Ada apa bos?" tanya Jody dengan santai.


"Barang kita sudah tiba didermaga, kau pergi ambil bersama Heru dan anggota lainnya" titah Gavano


"Oke bos, segera laksanakan" jawab Jody slengean


Setelah Jody dan beberapa anggotanya pergi, Gavano yang merasa bosan pun meninggalkan markas. ia kembali ke kediaman papa Zergio dan mama Elita.


"Selamat malam tuan Vano" Sapa para pelayan dirumahnya.


"Vano, kebetulan kamu sudah pulang, ayo kita makan bersama" ajak mama Elita tengah berjalan hendak kemeja makan.


"Iya mam, Vano mau bersih-bersih sebentar" ucap Gavano, ia pun berlalu menuju kamarnya.


"Kak Vano ya mam?" tanya Zita yang sedang menuntun oma Venna berjalan.


"Iya sayang, baru saja naik keatas"


"Kemari bunda" mama Elita langsung turut membantu oma Venna untuk duduk dikursinya.


Tak berapa lama, Vano pun turun dan ikut bergabung bersama keluarganya.


Suasana kini berubah hening, hanya terdengar dentingan suara sendok dan garpu dari mereka. beberapa menit kemudian, mereka pun selesai dengan ritual makannya.


"Jadi bagaimana Vano, apakah kamu sudah bicara soal pernikahan kalian pada Sarah?" tanya mama Elita sedikit menggebu.


"Mam, sudah Vano katakan. Sarah bukanlah pilihan Vano, dia tidak pantas masuk ke keluarga ini" tolaknya langsung.


"Tapi mama lihat dia mencintai kamu Vano, jangan lah terus berkeras hati seperti itu"


"Apakah oma dan papa setujuh jika Vano bersama Sarah?" tanya Gavano seraya menatap papa dan omanya. ia sangat berharap kedua orang ini dapat membantunya keluar dari amukan sang mama.


"Emm....kalau papa sih terserah kamu Van" jawab papa Zergio tanpa berani menatap sang istri.


"Oma juga terserah Vano. tapi...lebih baik jangan jika Vano tidak suka" pungkas oma Venna, membuat Gavano tersenyum penuh kemenangan.


Sedangkan mama Elita terbelalak setelah mendengar penuturan sang mertua.


"Bun, kok begitu sih bun? bunda gak mau punya cicit memangnya?" rengek mama Elita


"Bunda mau sekali punya cicit Elita, namun kalau Cucu ku tidak bahagia kita tidak boleh memaksanya. bunda akan menunggu sampai Vano menemukan kebahagiaannya, dan dapat memberikan penerus untuk keluarga ini dengan suka cita" jawab oma Venna tegas namun tetap terdengar lembut ditelinga.


Mendengar perkataan oma Venna, mama Elita menjadi murung. meskipun benar ucapan sang mertua, namun ia tak dapat memungkiri keinginannya untuk segera memiliki cucu dari Gavano. ia juga tidak ingin melihat Gavano terus menerus menyalahkan dirinya sendiri atas pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan kekasihnya terdahulu. ia tak ingin Gavano merasakan sakit dan kesepian seperti waktu itu. ia amat tidak menginginkan masa kelam keluarga Zergio terulang kembali.


# Flashback on


Kebetulan Gavano dan Lusi berada di satu kelas yang sama. sama-sama mengambil mata kuliah manajemen, saat mata kuliah berlangsung, Lusi saat itu duduk tepat disamping Gavano. kala itu Gavano tidak pernah memperhatikan penjelasan dari sang dosen, namun tiba-tiba namanya dipanggil dan diminta untuk menjelaskan kembali tentang mata kuliah hari itu. Gavano yang sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dari dosennya pun hanya bisa celingak-celinguk sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Tiba-tiba dari samping kanannya, Lusi memberikan catatannya untuk membantu Gavano.


Setelah mata kuliah itu berakhir, Gavano langsung menghampiri Lusi dan mengucapkan terimakasih karena Lusi sudah membantunya tadi.


"Hei...ini buku lo, and thank you sudah bantuin gue tadi" ucap Gavano sambil memberikan buku Lusi dimejanya.


"Sama-sama" sahut Lusi sambil menunduk tak berani menatap Gavano.


"By the way, gue Gavano" Gavano menyulurkan tangannya kearah Lusi.


Lusi mengangkat kepalanya, menatap Gavano lekat kemudian ia pun menyambut uluran tangan Gavano dan mereka pun telah selesai berkenalan.


Dari perkenalan singkat itu, kedekatan antara Gavano dan Lusi semakin erat. keduanya kerap kali menghabiskan waktu bersama, hingga membuat para gadis cantik merasa sangat iri. Seorang Lusi dengan penampilannya yang sangat kuno dan sama sekali tidak menarik itu mampu dekat dan membuat Gavano tertawa lepas. siapa pun pasti akan merasa tidak senang dengan kedekatan keduanya.


Hari-hari terus berjalan dengan indah, seperti sore ini, sepulang dari kampus. mereka duduk berdua ditepi danau, menikmati sejuknya angin yang bertiup, mendengarkan burung-burung yang bernyanyi dengan alunan indah, dan kesunyian yang menentramkan hati. Gavano yang sudah merasakan kenyamanan bersama Lusi, akhirnya ia memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya kepada Lusi.


"Lusi...aku tidak tahu ini terlalu mendadak atau tidak. tapi aku sangat nyaman berada disisimu, aku juga tidak pasti perasaan ini cinta atau bukan. yang jelas, aku selalu ingin bersamamu. maukah kamu menjadi pacarku Lusi?" tanya Gavano sembari menggenggam tangan Lusi erat dan menatapnya penuh harap.


Terkejut? ya itu pasti. Lusi nampak terharu dengan kejujuran Gavano, pria yang selalu mewarnai hari-harinya beberapa bulan ini. Lusi yang memang menyukai Gavano sejak lama pun akhirnya menerima ajakan Gavano untuk berpacaran. sejak saat itu mereka pun resmi menjalin sebuah hubungan.


Gavano dan Lusi menjalani masa pacaran yang indah semasa kuliah, hingga mereka pun dinyatakan lulus. Lusi yang memang mengejar beasiswa pun berhasil mendapatkannya. ia mendapat beasiswa di Prancis, Gavano sempat melarang Lusi untuk pergi namun demi impiannya Lusi akhirnya tetap memilih untuk pergi. Hubungan mereka sempat renggang beberapa saat, namun akhirnya kembali baik setelah Gavano menerima keputusan dari sang kekasih yang tetap memilih melanjutkan studinya di Prancis.


1 tahun berlalu, hubungan keduanya masih baik-baik saja. Gavano juga sering datang mengunjungi kekasihnya di Prancis. namun berjalan dua tahun Lusi di Prancis, Lusi jadi sangat susah untuk dihubungi dan setiap Gavano datang mengunjunginya Lusi selalu menghindar. entah apa yang telah Gavano lakukan hingga membuat Lusi menjaga jarak darinya.


Merasa frustasi karena kekasihnya menjauh, Gavano akhirnya pergi ke club malam namun begitu tiba di sana, Gavano melihat sesuatu yang sangat tidak ia sangka sebelumnya. Lusi kekasih yang amat ia cintai itu ada disana bersama seorang pria yang usianya cukup tua, mungkin sebaya papanya dirumah, fikir Gavano. awalnya ia hendak menghampiri Lusi, namun segera ditahan oleh para penjaga disana. Lusi berjalan tanpa menyadari bahwa Gavano ada disana dan sedang melihatnya saat ini.


"Siapa pria tua itu?" tanya Gavano pada dirinya sendiri.


Gavano memutuskan untuk menunggu hingga Lusi keluar dari ruangan yang dijaga sangat ketat itu. ia terus menenggak minuman yang ada disana, hingga kepalanya terasa berat. sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, Gavano yang merasakan pusing dikepalanya itupun seketika tak sadarkan diri.


Keesokan harinya, Gavano terbangun. ia melihat sekelilingnya, nampak asing dan tak berapa lama pun terdengar suara seorang wanita menyapanya.


"Hai, are you okay?" tanya wanita itu


"Ya, i'm okay. where is this?"


"Hotel, oh ya sepertinya anda orang Indonesia?"


"Ya, ternyata anda juga orang Indonesia"


"Perkenalkan nama saya Sarah, what's your name?"


"Saya Gavano, terimakasih sudah membantu saya" ucap Gavano lalu hendak pergi dari kamar hotel itu.


"Sama-sama, tapi bisakah kita bertemu kembali Gavano?" tanya Sarah yang sudah menyukai Gavano sejak pertama kali melihat Gavano di Club malam.


"Ya, jika ada kesempatan" jawab Gavano lalu ia memberikan beberapa lembar uang sebagai ucapan terimakasihnya.


Sarah pun hanya tersenyum,


"Ternyata benar, lelaki ini banyak duitnya" gumam Sarah senang karena ia saat ini memiliki target yang sempurna.


Gavano yang masih teringat dengan jelas, pengkhianatan dari sang kekasihnya itu. dengan langkah cepat lebar ia keluar dari hotel itu, ia ingin segera mendatangi apartemen Lus, sebuah apartemen yang khusus Gavano berikan untuk Lusi. namun kenyataannya Lusi justru mengajak orang lain untuk tinggal disana.


Setibanya diapartemen Lusi, tanpa sepengetahuan Lusi, Gavano diam-diam memiliki duplikat kunci apartemen itu. dengan segera ia membuka pintu dan ia melihat sepasang sepatu pria disana, baju-baju yang berserakan dilantai, dan pintu kamar yang sedikit terbuka ditambah dengan suara erangan seseorang yang tengah bergulat didalam sana. menambah perih dihati Gavano. seakan dunia runtuh, Gavano terdiam ditempatnya, menatap nanar kedalam sebuah pintu yang berwarna coklat itu. kini emosinya sudah sangat memuncak, dengan tangan yang terkepal, Gavano perlahan mulai berjalan menuju sumber suara. dan....


Braaakkkk.....


Gavano mendorong pintu itu hingga menghantam tembok dengan sangat kerasnya, hingga membuat kedua insan yang tengah asik berolahraga itu terkejut. Lusi pun nampak sangat panik, ia benar-benar tidak menyangka jika Gavano bisa masuk kedalam apartemennya.


brugkk....brugkkk...


Beberapa hantaman Gavano layangkan ke wajah dan tubuh pria tua itu, Lusi menangis seraya meminta Gavano untuk melepaskan pria itu.


"Gavano stop, please stopp..." teriak wanita itu sambil terus menangis, sedang tangan satunya memegangi selimut yang menutupi tubuhnya yang polos.


"Lusi, aku tidak menyangka kau wanita seperti ini. kau sangat murahan, berapa yang dapat pria tua ini bayar ha? apakah kurang yang aku berikan selama ini kepadamu Lusi?" pekik Gavano, dibalik kata-katanya terselip kekecewaan yang amat dalam.


"Maaf Gavano.... hikkss....maafkan aku, aku mencintai om Gerald...hikss"


duuuaaarrr.....


Bak kesambar petir, Gavano semakin terluka mendengar perkataan Lusi. ia sangat tidak menyangka Lusi tega melakukan ini kepadanya.


"Kenapa Lus? kenapa kau lakukan ini padaku?" ucap Gavano lemas. kini ia tidak memiliki daya lagi untuk menatap Lusi.


"Maafkan aku Gavano"


"Ayo om kita pergi dari sini" Lusi membantu Gerald yang masih tersungkur dilantai.


"Tunggu. jangan lagi kau muncul dihadapanku dan ambilah tempat kotor ini" ucap Gavano lalu setelah ia melemparkan kunci duplikatnya tepat didepan Lusi dan selingkuhannya itu, Gavano pun pergi meninggalkan apartemen tersebut dengan perasaannya yang hancur.


Semenjak kejadian itu Gavano menjadi sosok yang dingin dan irit berbicara, selalu menjauh dari wanita, dan terlalu disiplin akan waktu. entahlah apa hubungannya dengan waktu yang jelas dulu ia menantikan Lusi tanpa menghitung waktu yang terbuang sia-sia.