
H-5 hari ulang tahun Gavano.
Semakin dekat dengan hari spesialnya maka semakin pusing Gavano, karena sang mama selalu saja mendesaknya untuk membawa calon istri kerumah. Sedangkan Gavano sendiri tidak sedang dekat dengan wanita bahkan tidak ingin dekat dengan wanita manapun.
Seperti saat ini, saat mereka selesai menyantap sarapan pagi. mama Elita kembali menanyakan perihal wanita yang akan Gavano bawa saat hari ulang tahunnya nanti.
"Maa..Vano tidak akan menikah, terserah mama mau bilang apa" ucap Gavano sudah sangat malas dengan pembahasan yang isinya wanita dan wanita, sungguh membuat Gavano muak. ia pun bergegas pergi meninggalkan keluarganya yang masih duduk di meja makan.
Aakkk....
Mama Elita merasa sesak di dadanya hingga detik berikutnya mama Elita tidak sadarkan diri.
"Maa...." pekik papa Zergio langsung menangkap mama Elita yang hendak terjatuh.
Gavano yang mendengar teriakan papanya itu pun langsung membalikkan badannya, betapa terkejutnya ia saat melihat sang mama sudah tergeletak tak sadarkan diri dipangkuan papanya.
"Ma...mama" panik Gavano langsung berlari mendekati mamanya.
Zita langsung menghubungi dokter pribadi keluarga mereka, sedangkan papa Zergio langsung menggendong mama Elita menuju kamarnya.
Gavano nampak merasa bersalah, baru kali ini mama Elita sampai jatuh pingsan melihat itu membuat hati Gavano sedih. karena dia, orang yang amat ia sayangi didunia ini jadi sedih dan sampai membuatnya pingsan.
"Doakan semoga tidak terjadi apa-apa pada mamamu Van" ucap oma Venna seraya mengelus elus pundak cucunya itu.
"Selamat pagi tuan Zergio, oma Venna, tuan Gavano, nona Zita" sapa sang dokter yang baru saja tiba.
"Yah pagi dokter Rei, Silahkan dok istri saya masih belum sadarkan diri dok" lalu dokter Rei pun mengikuti tuan Zergio masuk kekamarnya.
Setelah selesai memeriksa nyonya Zergio, dokter Rei pun menjelaskan tentang kondisi nyonya Elita saat ini. setelahnya, dokter Rei memberikan beberapa obat untuk nanti nyonya Elita minum dan beberapa makanan yang harus dihindari sementara waktu ini. barulah setelahnya dokter Rei pamit untuk pulang.
"Vano, ikut papa" ucap papa Zergio terdengar cukup tegas.
Gavano pun mengikuti papa Zergio dibelakangnya.
hingga tiba di ruangan kerja papa Zergio.
"Vano, awalnya papa juga menentang permintaan mamamu tapi Van..."
"Tapi apa pa?"
"Tapi kamu harus melakukannya Van, keadaan mama kamu saat ini sedang rentan. jika ia terus banyak fikiran maka kesehatannya akan terganggu Van"
Mendengar penuturan sang papa, Gavano tertunduk lemas. ia tidak menyangka ini semua akan terjadi kepada mamanya.
"Papa tenang saja, mama akan baik-baik saja. secepatnya Vano akan membawa calon istri Vano kerumah" ucap Gavano tegas.
"Yasudah, kalau begitu berangkatlah kerja, mama pasti senang mendengar ucapanmu tadi Van" papa Zergio tersenyum sembari menepuk pundak Gavano.
..............
Menatap jalanan yang begitu padat, terdengar juga suara klakson dari kendaraan lain yang amat memekakkan telinga. semua terlihat tengah terburu-buru, saling salip menyalip agar segera tiba kelokasi tujuannya. Leeyya yang kini sedang berada didalam taxi pun sesekali menarik nafas lalu membuangnya, ia juga merasa sesak dengan kemacetan yang ada di kota ini.
"Nona kita sudah tiba di gedung G'GaZe Ventures nona" ucap pak sopir itu
"Oh iya pak, ini uangnya. terimakasih ya pak"
"Sama-sama Nona, eh ini uangnya kembali nona"
"Udah pak ambil saja, itu rezeky untuk bapak"
"Terimakasih nona, semoga sukses nona melamar kerjanya" ucap pak sopir dengan tulus sembari terus merekahkan senyumnya.
Sedangkan Leeyya yang diberikan doa seperti itu nampak mengernyitkan dahinya,
"Melamar kerja? siapa? gue kah?" tanyanya pada diri sendiri
"Oohhh....pasti gara-gara ini nih" Leeyya menunjuk cara berpakaiannya hari ini yang memang terlihat seperti hendak melamar kerja. bagaimana tidak Leeyya saat ini mengenakan pakaian yang sangat rapi dengan atasan kemeja berwarna putih dan rok pensil berwarna hitam tak lupa dipadukan dengan sepatu berwarna putih.
"Ah bodo amat lah, pokoknya tujuan utama gue lebih penting saat ini. Mr. G awas saja" gumam Leeyya dengan geram.
Leeyya berjalan semakin mendekat kelobby perusahaan itu, hingga tiba didepan pintu masuk seorang Security datang menghampirinya.
"Permisi nona, kami belum buka lowongan" kata bapak security itu tanpa bertanya terlebih dahulu tentang tujuannya datang keperusahaan itu.
Beberapa karyawan yang sedang lewat pun terhenti kala mendengar Leeyya yang akan menemui bos mereka itu. seperkian menit berikutnya terlihat karyawan yang berdiri disana mencibir Leeyya dan menatapnya dengan sinis.
"Hahaha....haduh dek mending adiknya sekolah dulu saja yang benar jangan kebanyakan mimpi nanti bisa jadi gila loh" ledek salah satu wanita yang baru saja melewatinya.
"Iiss apaan sih" gumam Leeyya tak suka.
Leeyya tak memperdulikan lagi tatapan para karyawan disana, ia terus berjalan hingga tibalah ia dimeja resepsionis.
"Mbak, saya mau ketemu..."
"Tidak bisa Mr.G orang yang sibuk mana bisa bertemu dengan bocah seperti anda" sinis resepsionis itu.
"Eh mbak mbak yang sudah tua, apakah tidak pernah diajarkan sopan santun? saya datang kesini baik-baik dan berbicara dengan baik-baik pula. tidakkah kalian ini diajarkan untuk menghargai orang lain? tidak perduli itu tua atau pun muda, kalian tidak pantas memperlakukan orang seperti itu" omel Leeyya tanpa rasa takut.
"Heh bocah, sono balik omelin lo tuh gak bakal kita dengar, sana sana ganggu pekerjaan orang saja" usir sang resepsionis itu kembali.
"Iiss..sangat menyebalkan sekali orang-orang ini" kesal Leeyya, sesaat Leeyya memutar badannya disaat itu juga bertepatan dengan Jody yang baru saja keluar dari Lift.
"Loh nona Leeyya" sapa Jody membuat seisi lobby itu ternganga. pasalnya mereka tahu jika Jody adalah asisten Mr. G yang juga tidak pernah menyapa orang lain kecuali kerabat dari Mr. G. jadi mereka langsung berfikir jika Leeyya adalah kerabat dari Mr. G.
"Anda.." Leeyya nampak sedikit bingung karena ia belum pernah melihat Jody sebelumnya.
"Oh, mari ikut saya nona" Jody berbicara sangat pelan didekat telinga Leeyya.
Leeyya pun akhirnya mengikuti Jody, mereka masuk kedalam lift sesaat sebelum pintu lift tertutup Leeyya menjulurkan lidahnya kepada resepsionis dan karyawan yang tadi mengejeknya.
"Hahhaa...kenapa nona Leeyya melakukan hal itu?" tanya Jody merasa Leeyya sangat lucu.
"Mereka sangat tidak sopan padaku, jadi aku kesal" gumamnya sangat pelan tapi masih bisa didengar dengan cukup jelas oleh Jody.
"Tidak apa-apa hanya ingin saja" jawab Leeyya malas.
"Oh ya apakah tuan kenal saya?" tanya Leeyya yang baru ingat tadi Jody memanggil namanya, padahal seingat Leeyya ini adalah pertemuan pertamanya dengan Jody.
"Jelas saya kenal anda nona, bagaimana bisa saya tidak mengenal calon nyonya saya" jawab Jody membuat Leeyya jadi bingung.
"Maksudnya tuan?"
"Tolong jangan panggil saya tuan nona, nanti nona akan tahu apa maksud saya" jawab Jody seraya tersenyum.
Beberapa menit kemudian mereka pun tiba dilantai teratas dari perusahaan ini. lebih tepatnya mereka kini berada di lantai 35.
Tokk...tokk...
"Masuk" titah sang empunya.
"Mr. G, ada yang mencari anda" ucap Jody, setelah diizinkan Jody pun keluar dari ruangan itu dan memanggil Leeyya.
"Silahkan nona, Mr. G sudah menunggu didalam" ucapnya sopan.
"Terimakasih tu...eh saya harus panggil anda apa?" tanya Leeyya nampak bingung.
Jody tersenyum kala melihat kepolosan calon nyonyanya ini,
"Cukup panggil Jody saja nona"
"Anda benar-benar harus berkerja keras bos" ucap Jody dalam hati.
"Bukankah itu sedikit tidak sopan ya"
"Baiklah terserah nona saja, sekarang cepatlah masuk nanti Mr. G marah"
"Oh ya, sampai lupa saya hehe...yasudah saya masuk dulu ya tuan Jody. ah panggilan sangat nyaman" bisik Leeyya membuat Jody terkekeh akibat kelakuan Leeyya itu.
Saat hendak masuk kedalam ruangan, Leeyya sedikit merasakan kegugupan didalam dirinya. ia pun menarik nafas dalam-dalam lalu ia membuka ruangan Mr. G perlahan.
"Permisi" sapanya
Terlihat Gavano atau yang lebih dikenal sebagai Mr. G itu sedang membelakanginya, Leeyya berjalan perlahan mendekati meja kerja sang pemilik perusahaan itu. mendengar langkah kaki yang semakin mendekat membuat Gavano tersenyum tipis.
"Ada apa perlu apa?" tanyanya seraya membalikkan kursinya dan kini posisi mereka saling berhadapan.