Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 13. Berhasil



Sore itu nampaklah pria paruh baya tengah menatap senja sembari bergelut dengan fikirannya sendiri, sesekali disesapnya kopi yang ada ditangannya. menatap sayu langit yang sudah ingin menghilang dibawah garis cakrawala di sebelah barat. hati pria itu terasa resah, ingin sekali rasanya berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi yang akan usai setelah ia membuka mata.


"Huft...ya Allah apa yang harus hamba lakukan?" kesahnya kepada sang maha pencipta.


Cukup lama pak Abdyan menatap langit senja, akhirnya ia pun memilih untuk pulang kerumahnya. bertemu sang istri tercinta yang akan menjadi obat penenang untuknya.


"Assalamualaikum" pak Abdyan memberikan salam setelah masuk kedalam rumahnya.


"Wa'alaikumsalam, pi tumben baru pulang jam segini?" tanya mami Lia seraya mengambil jas dan tas yang dibawa pak Abdyan, tak lupa beliau mencium tangan sang suami.


"Haghhh...banyak kerjaan mi" jawab pak Abdyan seraya melonggarkan dasi.


"Papi kenapa? apa ada masalah dikantor?" tanya sang istri setelah melihat raut wajah pak Abdyan yang terlihat sangat tidak biasa baginya.


Pak Abdyan nampak terdiam beberapa saat, ia berfikir sejenak.


"Aku tidak mungkin menyembunyikan masalah ini selamanya. istriku juga harus tahu sehingga kami bisa mendiskusikannya bersama" batin pak Abdyan sembari sesekali melirik sang istri.


"Mi, ada yang ingin papi bicarakan" akhirnya pak Abdyan membuka obrolan mereka malam itu.


"Silahkan pi, mami akan mendengarkannya" ucap mami Lia dengan lembut.


"Maafkan papi ya mi, papi memang tidak bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik untuk keluarga kita. papi di tipu mi sama rekan bisnis papi, sekarang perusahaan terancam bangkrut mi..." ucap pak Abdyan seraya meneteskan air matanya.


"Astaghfirullah, papi serius? tidak sedang ngeprank mami kayak di tv-tv itu kan?" mami Lia nampak belum mempercayai perkataan suaminya.


"Mi, masalah seserius ini tidak mungkin papi jadikan bahan bercandaan mi" elak pak Abdyan.


Barulah bu Lia percaya bahwa saat ini masalah besar memang sedang menghampiri keluarga mereka,


"Tabungan kita pakai dulu saja pi"


Pak Abdyan menggelengkan kepalanya,


"Semuanya sudah habis mi, hanya tersisa rumah ini saja. maafkan papi mi" sesal pak Abdyan.


"Astaga pi, terus kita harus bagaimana pi?" kini mami Lia nampak tertunduk, ia sungguh tak percaya semua ini terjadi pada keluarganya.


"Sebenarnya tadi Mr. G datang kekantor dan menawarkan diri untuk berinvestasi di perusahaan kita mi. mana Mr. G akan menginvestasikan sahamnya sebanyak 75% mi"


"Alhamdulillah dong pi, ah papi ini bikin mami kaget saja"


"Tapi mi beliau akan berinvestasi tapi dengan syarat ia harus menikahi Leeyya mi"


"Apa???" terdengar suara lain dari belakang pak Abdyan dan ibu Lia.


Keduanya pun serentak menoleh kebelakang dan ternyata benar ada Leeyya disana,


"Astagaa mami lupa pi kalau Leeyya pulang kerumah tadi" bisik mami Lia


"Bukankah ada acara lamarannya Devo?" balas pak Abdyan berbisik.


"Gagal pi" bisiknya kembali.


"Pi, mi, jelaskan pada Leeyya. apakah semua yang Leeyya dengar barusan benar?" tanya Leeyya penuh selidik.


Pak Abdyan dan ibu Lia hanya bisa terdiam, bibir mereka terasa keluh. mereka sangat tahu sifat anaknya itu, pasti Leeyya akan berkorban demi keluarganya dan orang tuanya yang tidak ingin anaknya mempertaruhkan kebahagiaannya hanya demi sebuah bisnis.


"Tidak sayang, kami tadi sedang membicarakan orang lain bukan tentang kamu ataupun keluarga kita kok. yakan mi?" ucap papi Abdyan memberi alasan.


"Hehe...iya Leey, kamu nih ada-ada saja"


"Jangan bohon pi, mi. atau Leeyya akan cari tahu sendiri" ancamnya membuat papi dan maminya itu kembali terdiam membisu.


"Baiklah jika itu mau kalian" Leeyya pun segera mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, ia pun mulai mencari sebuah kontak.


"Halo, pak Han ini Leeyya anaknya pak Abdyan Saya ma....u" seketika pak Abdyan langsung merebut handphone milik Leeyya.


"Benar kan tadi itu?" lagi-lagi Leeyya bertanya kepada kedua orang tuanya.


Karena sudah tidak ada yang bisa ditutupi lagi, pak Abdyan dan ibu Lia pun serentak menganggukkan kepalanya.


"Mr. G itu pemilik G'GaZe Ventures?" lagi-lagi orang tua Leeyya itu mengangguk


"Huft....terima saja pi, memang sangat sulit mendapatkan investor disaat perusahaan kita diambang kebangkrutan. jika mereka mau berinvestasi cukup besar seperti itu, papi harusnya menerima saja. kasihan para karyawan papi jika perusahaan kita tak terselamatkan" ucap Leeyya berusaha setegar mungkin.


"Tapi Leey, Mr. G menginginkan kamu nak"


"Papi tenang saja, nanti Leeyya akan berusaha berbicara baik-baik dengan Mr. G itu. sekarang lebih baik papi menelpon Mr. G dan katakan jika papi setujuh dengan syarat yang ia ajukan" pungkas Leeyya setelahnya ia meninggalkan ruangan dan kembali kekamarnya.


..............


Gavano kini tengah berbaring sembari membaca beberapa materi untuknya mengajar besok, tiba-tiba handphonenya berdering terlihat dilayar datar itu bertuliskan Pak Abdyan L.A.B Comp.


'Halo Mr. G, ini saya Abdyan Raygan' sapanya dari balik telepon.


"Saya setujuh dengan persyaratan anda' seketika sebuah senyuman terbit dari wajah tampan Gavano.


'Oke, saya akan segera mempersiapkan semuanya' setelah mengatakannya, Gavano langsung menutup panggilan tersebut.


"He' Berhasil" ucapnya sambil tersenyum penuh arti


Keesokan harinya, semua tugas telah ia percayakan kepada Jody, begitu pula dengan kerja samanya di L.A.B Company.


Gavano baru saja keluar dari rumahnya, seperti biasa ia akan pergi ke apartemennya terlebih dahulu untuk mengambil motor bebeknya, tak lupa penampilannya diubah total. wajah tampannya tertutupi tompel serta tampilannya yang culun itu sukses membuat orang malas mendekatinya.


Setibanya di kampus, ia tak sengaja melihat sosok gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu berjalan dengan lemas, tertunduk dan terlihat bersedih. Gavano pun berinisiatif untuk menghampirinya.


Bruuukk....


"Maaf, saya tidak sengaja" ucap Gavano sembari membantu Leeyya membereskan buku-bukunya.


"Saya minta maaf juga pak, saya berjalan tanpa melihat kedepan" balas Leeyya merasa tak enak hati


"Tidak masalah, anda mengapa berjalan sambil melamun? taukah anda bahwa itu sangatlah berbahaya"


"Pak Gavano anda ini cuek tapi kenapa ya gue ngerasanya pak Gavano tuh orang yang hangat" batin Leeyya, matanya tak lepas dari wajah Gavano.


"Hei...melamun lagi?" tegur Gavano lalu Leeyya pun tersenyum.


"Maaf pak, saya lagi ada masalah pak. huufft...." ucapnya sambil menghela nafas kasar.


"Kalau anda mau cerita ke saya boleh, akan saya dengarkan jika itu membuat anda sedikit lega"


"Benarkah pak?" Gavano pun mengangguk tanpa ragu.


"Jadi begini pak...." Leeyya akhirnya menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada dosen tompelnya itu.


"Oh jadi seperti itu, tapi saya seperti pernah mendengar nama itu...Mr. G?" Gavano berusaha mengingat-ingat.


"Saya juga baru tahu pak, waktu itu ketika saya sama Kania ke warung sate kami sempat bertemu terus kata Kania itu Mr. G orang berpengaruh di kota ini. katanya juga semua wanita tergila-gila padanya. padahal waktu saya lihat sih dia biasa-biasa saja pak" ucap Leeyya dengan santainya.


"Apa? biasa saja? kurang ajar nih bocah. wajah setampan gue dia bilang biasa saja. hah! dia rabun apa gimana?" gumam Gavano dalam hati.


Gavano terus mendengarkan Leeyya dengan setia,


"Begitulah pak, saya bingung harus bagaimana pak" keluh Leeyya


"Bukankah dia orang kaya yang hartanya tidak akan habis, semua gadis pasti menyukainya dan tidak akan menolaknya Leey. apalagi dia tampan, terus kenapa kamu bersikeras ingin menolaknya?" tanya Gavano penasaran


"Justru itu pak, saya maunya pria yang biasa-biasa saja. saya cemburuan pak tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati kepunyaan saya" jawab Leeyya jujur.


"Wow...itu saja alasan anda? bukankah setahu saya Mr. G itu sangat anti didekati wanita ya"


"Wohhoo....pak Gavano kok paham banget sama Mr. G. jangan jangan....."


"Apa? saya hanya bertanya ya itu saja" panik Gavano.


"hahaha Saya kira bapak ini juga fansnya Mr. G, xixixixi"


Melihat tawa Leeyya yang begitu cantik, membuat Gavano seperkian detik terpanah oleh kecantikannya. sungguh baru kali ini bibirnya terus terangkat walau sedikit. semua itu karena Leeyya, semua yang Leeyya lakukan terlihat cukup menggemaskan bagi Gavano. entah sejak kapan? tapi itulah kenyataannya.


Saat Gavano dan Leeyya masih asik mengobrol, ternyata beberapa mahasiswa ada yang melihat kedekatan keduanya, membuat gosip kembali merebak.


Selama melewati koridor, banyak pasang mata yang selalu memperhatikan Leeyya dari atas hingga bawah. seakan yang Leeyya kenakan saat ini sangatlah buruk. untung saja Kania dan Delila datang tepat waktu.


"Hei Leey" Kania menghampiri Leeyya seraya merangkulnya


Setelah cukup sepi barulah Leeyya menanyakan apa yang saat ini sedang terjadi, mengapa semua mahasiswa menatapnya dengan tatapan aneh.


"Eh, Kalian tahu tidak sebenarnya ada apa tadi? kenapa semua orang menatapku dengan tatapan yang aneh?" tanya Leeyya kepada Kania dan Delila.


"Nih lihat, gara-gara ini universitas kita jadi gempar" Delila menunjukkan sebuah foto yang isinya terlihat Leeyya dan pak Gavano yang tengah melempar pandang seraya tersenyum.


"Lo benaran suka sama pak tompel Leey?" tanya Kania tiba-tiba.


"Duh kalian ini bicara apa sih? gue...."


"Sudah jangan bohong, jujur saja Leey kita gak masalah kok" ucap Delilla lalu Kania pun mengangguk tanda ia juga setujuh dengan ucapan Delila.


"Hemm... berawal dari pak Gavano yang saat itu menghantarkan gue kerumah sakit. entah mengapa gue sangat menyukai tatapan pak Gavano, terlihat hangat" ucap Leeyya sembari tersenyum


"Huft....meskipun gue gak suka sama pak tompel yang sok tegas itu. tapi demi lo, apapun keputusan lo pasti akan kami dukung Leey" Kania memegang pundak Leeyya membuat Leeyya sedikit tersentuh.


"Andai bisa seperti itu Kan, sekarang gue harus pasrah jika orang yang tidak gue sukai bahkan tidak gue kanal malah menginginkan gue. gue harus mengubur rasa suka gue pada pak Gavano" batin Leeyya.


"Sudah yuk masuk, nanti keburu dosen pujaan lo masuk lagi" ledek Delila lalu mereka pun berjalan kembali menuju ruang kelasnya.