Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 17. Hari Pernikahan



Seperti hujan yang tak jua mereda, bagai matahari yang tenggelam kala mendung mendera. hari ini, hati seorang gadis yang bernama Leeyya itu bagaikan awan yang gelap, mendung penuh kilatan dan dentuman geledek yang seakan menyerangnya, rasanya menyakitkan dan menakutkan, sakit harus dipaksakan menikah dan takut jika pernikahan ini tidak akan bisa membuatnya bahagia. mengapa? tentu hatinya tak secerah langit yang menampakkan mataharinya, hari ini ia terpaksa menikah dengan orang yang tidak ia cintai. bagaimana bisa mencintai jika kenal saja tidak bahkan bertemu hanya dua kali, pertama tanpa sengaja dan tanpa berucap sepatah kata lalu yang kedua saat Leeyya keperusahaannya untuk membatalkan rencana pernikahan konyol ini. namun usaha Leeyya gagal, ia tetap harus menikah dengan pria yang mempunyai kekuasaan ini.


Pagi ini, langit pun tak mendukung hatinya yang temaram. langit pagi ini begitu cerah sungguh sesuatu yang sangat tidak Leeyya harapkan.


Saat ini Ia duduk didepan sebuah cermin, dengan gaun kebaya putih dan riasan sederhana Leeyya terlihat sangat cantik dan memesona. hingga tak berapa lama terdengarlah suara cukup bising diluar kamarnya. menandakan jika calon suaminya itu telah datang.



"Haduh, padahal harapan gue mereka tidak jadi datang" gumam Leeyya menampakkan wajah sedihnya di depan cermin itu.


tokk...tokk...


"Nona Leeyya, saatnya keluar non" seorang penata rias datang memberitahunya serta membantu Leeyya merapikan kembali gaunnya.


Leeyya keluar dari kamarnya, ketika diujung tangga. ia melihat beberapa keluarganya telah duduk disana, acara pernikahan Leeyya memang tidak banyak yang tahu bahkan para sahabatnya itu pun tidak ia beritahu. hanya keluarga dan teman dari orang tua mereka saja yang hadir dan menjadi saksi atas janji suci yang akan Gavano atau Mr. G itu ucapkan.


Leeyya turun dengan anggunnya, semua mata pun langsung tertujuh padanya. begitu cantik paras seorang Leeyya, hingga membuat Gavano tanpa sadar menyunggingkan senyumnya yang mahal itu. terlihat jelas dari wajahnya, ia sangat terpesona akan kecantikan calon istrinya. hingga ia pun tak sadar jika Zita memotret wajah bahagia kakaknya itu.


"Baiklah karena mempelai wanita sudah disini, mari kita lanjutkan prosesi ijab kabulnya" tutur sang MC mempersilahkan pak penghulu untuk memulai prosesi ijab kabul.


"Silahkan pak" penghulu itu menuntun pak Abdyan untuk bersalaman dengan calon mantunya lalu mulai menuntunnya mengucapkan janji sucinya.


"Wahai ananda Gavano Galaksa Zergio bin Zergio saya nikahkan engkau dengan putri kesayanganku Leeyya Faleesha Ablia binti Abdyan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 2.404.080 USD dibayar tunai" ucap pak Abdyan langsung disambut oleh Gavano.


"Saya terima nikahnya Leeyya Faleesha Ablia binti Abdyan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"


"Bagaimana saksi?" tanya bapak penghulu


"Sah" jawaban kedua saksi itu melegakan kedua keluarga besar tersebut.


Semuanya mengucapkan syukur dan beralih mendoakan kedua mempelai agar selalu di berikan kebahagiaan di dalam kehidupan berumah tangganya.


Leeyya dituntun untuk mencium tangan kanan sang suami, begitu pun dengan Gavano ia dituntun untuk mencium kening sang istri hingga membuat keduanya bersemu.


Kemudian keduanya menyapa para keluarga dan kerabat. hingga hari pun semakin gelap, keluarga besar Gavano pun telah meninggalkan kediaman pak Abdyan. kini tinggallah Leeyya dan Gavano di sebuah ruangan cukup besar.


"Mr. G jika anda mau membersihkan diri, disana kamar mandinya" tunjuk Leeyya kearah ruangan kecil diujung dekat pintu kamarnya.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata Gavano berlalu dan menghilang dibalik pintu kamar mandi.


"Cih, sombongnya, setidaknya bilang Iya kek oke kek" gerutu Leeyya seraya menatap kamar mandi itu penuh kesal.


30 menit berlalu, Gavano pun keluar dari kamar mandi kecil itu. ia duduk di sebelah Leeyya yang masih asik memainkan ponselnya.


"Hei..." panggil Gavano tepat di depan wajah Leeyya hingga membuat Leeyya terkejut bukan main.


"Aaakkkhh...."


"Duh, Mr. kenapa tidak pakai baju sih?" Leeyya menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, karena ia melihat Gavano tidak memakai pakaiannya dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya.


"Justru itu, mana pakaian saya? bukankah tugas istri melayani suaminya? hmm?"


Leeyya pun langsung berdiri membelakangi Gavano,


"Yah kan saya tidak tahu dimana anda meletakkan pakaian anda Mr" jawab Leeyya sedikit gugup.


"Tuh, disana,. tolong cepat saya kedinginan"


Leeyya pun bergegas mengambilkan pakaian untuk Gavano kenakan.


"Tunggu, sepertinya ada yang salah nih. kenapa kok gue nurut banget ya? harusnya biarin aja dia kedinginan" gumam Leeyya setelah mendapatkan baju untuk Gavano.


Ia melangkah dengan gontai, memberikan pakaian yang ia ambil dari koper Gavano tadi.


"Loh ****** ******** mana?" tanya Gavano yang tidak menemukan ********** disana.


"Yah menurut Mr. saja, masa iya saya pegang-pegang ****** ***** laki-laki sih" jawab Leeyya santai


"Tidak masalah dong. kamu kan istri saya, cepat ambilkan jangan banyak alasan" titah Gavano lagi-lagi membuat Leeyya kesal.


Leeyya pun kembali menuju koper milik Gavano dan mulai mencari sesuatu yang diminta Gavano tadi.


"Ini"


"****** ***** saya sudah dicuci dengan sangat bersih, kenapa kamu membawanya seperti sangat menjijikan seperti itu?" kesal Gavano


"Bukan jijik Mr. saya hanya merasa geli saja, sudahlah saya mau tidur" Leeyya langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk itu.


"Oh ya Mr. G, tuh sudah saya siapkan selimut disana" setelah mengatakan itu, Leeyya langsung menarik selimutnya hingga seluruh tubuhnya tertutupi bahkan wajahnya pun tak terlihat lagi


"Dasar *****, baru juga nempel kebantal langsung tertidur pulas" Gavano pun merapikan kembali selimut Leeyya dan setelahnya ia ikut berbaring disampingnya.


Tidak ada malam indah yang terjadi, mereka sama-sama lelah menjalani hari ini. sampai pagi pun menjelang, cahaya matahari masuk dari celah jendela. membangunkan Leeyya dari tidur panjangnya.


"What???" Leeyya langsung menutup mulutnya dengan tangannya, ia sangat terkejut mendapati seorang pria tengah berbaring disampingnya, bahkan Leeyya sempat memeluknya saat terbangun tadi. buru-buru ia bangun dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Gilaa...gue tidur sama Mr. G? tidak terjadi apa-apa kan semalam?" tanya Leeyya saat dirinya berada didepan cermin. ia memeriksa anggota tubuhnya dan bernafas lega melihat semuanya terlihat normal.


Di bawah, tepatnya di ruang makan. semuanya sudah siap, makanan untuk sarapan keluarga ini telah tersusun rapi diatas meja makan tinggal menanti anak dan menantunya saja agar mereka bisa makan pagi bersama.


"Morning sayang, morning Mr. G" sapa kedua orang tua Leeyya sedikit canggung.


"Jangan canggung seperti itu pi, mi kalian cukup panggil Vano saja" ucap Gavano tanpa memberikan senyumannya.


"Oh baik, ayo mari nak Vano ah bolehkah saya panggil nak Vano?" pak Abdyan meminta izin


"Silahkan apapun yang membuat anda nyaman" jawabnya


"Leey, ambilkan untuk suami kamu dulu sayang" tegur mami Lia saat melihat Leeyya hendak menyendokkan nasi goreng itu ke piringnya sendiri.


"Lah dia kan punya tangan sendiri mi" jawab Leeyya santai membuat papi dan maminya sedikit khawatir, khawatir jika Mr. G akan marah dan menarik semua ucapannya.


Plak...


Mami Lia memukuk tangan Leeyya, mau tak mau Leeyya pun menuruti kemauan sang mami dan beralih meraih piring Gavano.


"Silahkan pak suami" ucap Leeyya sedikit ketus.


"Terimakasih" tiba-tiba kata itu lolos dari mulutnya, Gavano menyadari nya namun ia bersikap seolah tidak pernah mengatakan hal tersebut.


Sedangkan papi Abdyan dan mami Lia yang sedikit banyak mengetahui tentang menantunya ini hanya bisa memandang dan tersenyum.


"Ternyata Mr. G tidak seburuk seperti kata orang-orang" batin papi Abdyan.


"Oh ya, pi, mi, hari ini saya izin untuk membawa Leeyya kekediaman Zergio nanti setelahnya kami akan pindah kerumah kami sendiri" ucap Gavano setelah mereka menyelesaikan sarapan pagi mereka.


Leeyya nampak menunduk, inilah yang ia takuti dari pernikahan. harus berpisah dengan orang tua yang amat ia sayangi, tidak tahu apakah nanti akan ada yang melindunginya seperti kedua orangnya yang selalu melindunginya dari kecil hingga sedewasa ini. apalagi pria yang ia nikahi ini tidak mencintainya, Leeyya takut tidak ada yang memihaknya. melihat waktu itu mama Elita juga terlihat tidak menyukai Leeyya semakin menambah kekhawatirannya.


"Leey, ikut mami sebentar sayang" ajak mami Lia dan Leeyya pun mengikutinya


Di meja makan itu, masih tersisa pak Abdyan dan Gavano,


"Baik jika itu memang keputusannya, kami hanya berharap nak Vano bisa menjaga putri kesayangan kami ini dengan baik. tolong jangan sakiti dia, meskipun nantinya tetap tidak ada cinta diantara kalian, tolong kembalikan putri saya kesini dengan baik-baik. saya akan menerimanya dengan lapang dada" ucap pak Abdyan sendu.


"Anda tenang saja, saya pastikan itu tidak akan terjadi. saya menikah bukan untuk bercerai, walau pun saya kejam saya tidak akan melukai wanita" jawaban tegas Gavano membuat pak Abdyan tersenyum lega.


Disisi lain, mami Lia ikut memberikan nasihat untuk anak gadisnya itu.


"Leey, mami tahu kita semua belum ada waktu untuk bernafas, semuanya seakan datang begitu cepat sampai kita kesulitan untuk mencerna semuanya. namun Leey, sekarang kamu sudah tidak sendiri bagaimana pun juga dia sosok suami dan imam didalam rumah tangga kamu. perlakukan dia dengan baik, layani dia dengan baik, buatlah dia mencintai kamu sayang dan cintai dia kembali dengan setulus hati kamu. ingat surga kamu bukan lagi di mami, tapi sudah berada di suami kamu. jadi patuhlah sebagai seorang istri jadilah istri yang baik untuknya dan anak-anak mu kelak" ucapan mami Lia sungguh menyentuh hati Leeyya, ia tak sanggup menahan derai air matanya yang langsung tumpah begitu saja.


Hingga beberapa menit kemudian, Gavano datang menghampiri kedua wanita itu.


"Eh nak Vano, sayang mami keluar dulu ya. bersiap-siaplah jangan buat suamimu menunggu terlalu lama" tutur mami Lia sambil tersenyum dan menyeka air mata dipipi anaknya.


Seusai kepergian mertuanya itu,


"Kenapa kalian menangis?" tanya Gavano penasaran.


"Terharu saja" singkat Leeyya


"Memangnya mami bilang apa?"


"Kata mami anda jangan banyak nanya Mr." Leeyya beranjak dan mulai mengambil kopernya.


Kesal, itulah yang Gavano rasakan kini, baru kali ini ada orang yang berani kepadanya. wanita cantik ini sungguh tidak ada rasa takutnya, fikir Gavano.


Sampai tibalah saatnya, Gavano dan Leeyya berpamitan kepada kedua orang tuanya. penuh haru, akhirnya Leeyya meninggalkan kedua orang tua yang sangat disayanginya itu.


"Kenapa sesedih itu? seperti tidak akan bertemu lagi saja" celetuk Gavano membuat Leeyya marah kepadanya.


"Kalau ngomong itu pakai perasaan bisa tidak sih?"


"Kalau pakai perasaan nanti takutnya kamu tidak dengar" jawab Gavano santai


Leeyya beralih menatap luar jendela, tak ingin berdebat dengan pria menyebalkan disampingnya ini. begitu pun dengan Gavano yang sibuk dengan ponselnya, banyak pekerjaan yang menantinya. padahal baru satu hari tidak mengecek handphonenya, sudah ribuan panggilan dan pesan yang masuk, cukup memusingkan kepala.