
Hari ini adalah hari kedua Leeyya berada di kediaman Gavano. pagi ini seperti kebiasaannya di apartemen maupun dirumah, Leeyya selalu bangun lebih awal untuk membantu membuatkan sarapan. rutinitas ini juga yang akan ia lakukan di kediaman Gavano.
Setelah menyelesaikan kewajibannya menunaikan ibadah subuh, ia pun keluar menuruni anak tangga. ia mencari cari keberadaan dapur, karena ia memang belum mengetahui tata letak rumah besar ini.
"Duh dimana sih dapurnya? ini rumah besar banget pula" gumamnya sembari berjalan menyusuri setiap ruangan.
"Nyonya Leeyya, selamat pagi. ada yang bisa kami bantu nyonya?" tanya salah satu pelayan yang sedang membersihkan ruangan tersebut.
"Ah, iya selamat pagi juga mbak. ini saya mau kedapur, dapurnya disebelah mana ya?" tanya Leeyya sangat ramah.
"Oh, mari saya antar nyonya" Leeyya pun mengangguk dan mulai mengikuti langkah wanita itu.
Kini tibalah Leeyya di dapur, disana terlihat koki dan beberapa pelayan yang membantunya sedang sibuk meracik dan memilih bahan makanan yang akan mereka sajikan kepada tuannya nanti. Leeyya pun memberanikan diri untuk bergabung juga disana.
"Pagi semuanya" sapa Leeyya sedikit canggung.
Serentak semua orang yang tengah sibuk didapur itu menoleh dan seketika menghentikan kegiatannya.
"Selamat pagi nyonya Leeyya" sapa mereka seraya membungkuk memberi hormat.
"Ahh...jangan seperti itu, saya juga orang biasa seperti kalian, jadi tidak perlu membungkuk kepada saya"
"Maaf nyonya tapi anda adalah istri dari tuan kami, tentu saja kami harus menghormati anda juga" jawab sang koki yang masih menundukkan kepalanya.
"Hemm... Mila, kak Mila hari ini mau masak apa?" tanya Leeyya yang melihat nama sang koki di nametag nya.
"Ah, pagi ini menunya hanya sandwich, roti panggang dan krim sup jagung nyonya" jawab sang koki.
"Waw... makanan orang luar semua, yasudahlah apa boleh buat" Leeyya pun langsung mengikat rambut panjangnya dan mulai membuka pintu kulkas.
"Nyonya, nyonya mau apa?" tanya koki itu sedikit takut.
"Mau masak juga" jawabnya enteng
"Nyonya mau makan apa? biar kami saja nyonya yang kerjakan semua" ucap koki Mila takut jika majikannya tahu jika istrinya masuk dapur dan ikut membantu mereka, maka mereka bisa kena masalah nantinya.
"Kalian tenang saja, tidak perlu takut seperti itu. lagian majikan kalian itu semua masih didalam kamarnya masing-masing. jadi santai saja, oke" Leeyya kembali menyiapkan bahan-bahan untuknya memasak.
Semua pelayan dan koki pun menghentikan aktivitasnya dan membiarkan nyonyanya itu menggunakan dapurnya, namun Leeyya yang melihatnya tidak bisa diam saja.
"Kak Mila, kalau kalian diam saja bisa-bisa kalian terlambat menyajikan sarapan untuk keluarga ini. tidak perlu perdulikan saya, saya hanya ingin memasak nasi goreng simple saja" meskipun begitu semua orang masih takut untuk menuruti ucapan nyonya barunya itu.
"Aihh.... yasudah biar aku saja yang masak semuanya" Leeyya pun kembali sibuk dengan masakannya dan juga ia masakan sang koki.
"Nyonya biar kami saja" cegahnya dan Leeyya pun tersenyum.
"Yasudah, silahkan kak Mila. mbak-mbak yang lainnya juga silahkan jalankan aktivitas seperti biasa saja. pokoknya santai saja kalau sama aku yah" ucap Leeyya sengaja memposisikan dirinya seperti teman mereka agar semuanya kembali normal tanpa adanya rasa canggung.
Berkat ucapan Leeyya suasana dapur yang awalnya sedikit tegang kini sudah mencair, bahkan yang awalnya mereka selalu serius dalam memasak kini mereka jadi sering bercanda. berkat Leeyya semuanya jadi lebih menyenangkan.
Ketika hendak mengambil minum, mama Elita mendengar kehebohan dari arah dapur pun langsung menghampiri, dan dilihatnya menantunya itu ada disana tengah memasak sembari berbaur dengan para pelayan di rumahnya.
"Padahal dari kalangan berada juga, tapi bisa-bisanya dia akrab sama kalangan bawah. benar-benar menantuku ini sesuatu sekali" gumamnya seraya tersenyum.
"Ekhemm....ada apa ini heboh sekali? tidak seperti biasanya" ucap mama Elita sedikit tegas membuat semua orang termasuk Leeyya menegang seketika.
"Mati gue mati..." batin Leeyya
"Kamu masak apa itu?" tanya mama Elita kepada Leeyya.
"Emm..." mama Elita mengambil sendok dan mencicipi makanan yang Leeyya masak.
"Lumayan" ucap mama Elita
Saat hendak pergi,
"Satu lagi, jangan panggil saya bu karena saya bukan majikan kamu. panggil saya mama" lalu pergi meninggalkan dapur.
Sedangkan Leeyya yang masih bengong disana berusaha disadarkan oleh Mila dan para pelayan disana.
"Kalian dengar? tadi beliau menyuruh aku buat panggil beliau mama kan? iya kan kak?" tanya Leeyya dengan semangat.
"Hahahah iya nyonya Leeyya" jawab sang koki merasa gemas dengan tingkah majikannya ini.
"Yess...hah tadinya aku takut sekali kak, takut jika aku akan disiksa karena mama tidak menyukai ku. tapi syukurlah, aku rasa mama sudah menerimaku" ucap Leeyya sangat senang.
Mama Elita yang masih mendengarkan percakapan mereka pun hanya bisa mengulum senyum.
"Dasar, dia fikir aku ini sejahat itu? Leeyya Leeyya dari awal juga kamu sudah diterima dirumah ini sayang" gumam mama Elita lalu ia pun berlalu kembali kekamarnya.
Akhirnya waktu sarapan pun tiba, semua keluarga Zergio telah berada di meja makan.
"Waah sandwich" ucap Zita berbinar-binar, bagaimana tidak sandwich merupakan makanan favoritnya.
"Loh Leeyya kemana?" tanya oma Venna yang tak melihat cucu menantunya itu disana.
"Oh iya, Vano istri kamu mana?" tanya papa Zergio
"Mana Vano tahu pa" jawabnya santai
"Biar mama yang lihat" mama Elita pun langsung berjalan kedapur dan benar saja Leeyya ada disana sedang menyantap sarapan bersama para pelayan.
"Leeyya" panggil mama Elita, sontak membuat semua pelayan berdiri dan menunduk ketakutan.
"Iya bu, ada yang bisa Leeyya bantu?" polosnya membuat hati mama Elita merasa sakit. ia benar-benar tidak mau menantunya itu memanggilnya ibu, seperti bawahannya saja.
"Ngapain kamu disitu? ayo keluarga besar sudah menunggu untuk sarapan"
"Maaf bu, tapi makanan saya sudah habis"
Huft.....mama Elita menarik nafasnya lalu membuangnya.
"Ayo, setidaknya kamu layani suami kamu" ajak Mama Elita dan Leeyya pun mengikutinya.
Tiba di meja makan, semuanya tersenyum kearah Leeyya kecuali satu orang yang nampak tidak perduli, ya siapa lagi kalau bukan Gavano Galaksa Zergio. tapi Leeyya tidak perduli, toh dia sadar kalau dirinya ini hanyalah istri diatas kertas yang kapan pun Gavano mau membuangnya maka saat itulah Leeyya harus siap.
Saat Leeyya akan mendaratkan bok*ng nya kekursi, disaat bersamaan Gavano juga berdiri.
"Vano sudah selesai" lalu ia melenggang pergi tanpa menoleh kearah Leeyya sedikit pun.
"Leeyya, maafkan atas semua sikap Vano ya nak. kalian harus saling mengenal satu sama lain agar kalian bisa membangun keakraban dalam rumah tangga kalian" nasihat papa Zergio
Leeyya hanya membalasnya dengan senyum tulusnya.
"Sepertinya keluarga ini sangat mengharapkan lebih pada hubungan kami. hmm aku tahu kalian orang-orang yang tulus, tapi maaf aku juga tidak bisa berbuat banyak. aku hanya akan tetap berada diposisi ku selalu siap siaga jika sewaktu-waktu menjadi janda ting-ting, karena sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan mahkotaku pada lelaki kejam seperti Gavano dan juga mungkin dia tidak akan menyentuhku, karena dihatinya tidak pernah ada aku" batinnya