Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 8. Harus Menikah



Dikegelapan malam yang dihiasi kerlipan bintang diangkasa, tertiup dinginnya angin yang menusuk hingga ketulang. seperti fikiran seorang Gavano yang kini kosong, melayang seraya hembusan angin membawanya pergi entah kemana.


Sembari matanya menatap langit-langit malam, tengah asik menikmati kesendiriannya, mama Elita tiba-tiba datang menghampiri Gavano.


"Vano..." suara lembut sang mama memanggilnya.


"Mam" sapa Gavano seraya tersenyum.


"Sedang apa kamu sayang? mengapa menatap langit gelap sangat lama, apa yang sedang anak mama ini fikirkan. hm!" ujar sang mama sambil mengelus punggung Gavano dengan lembut.


"Hmm...tidak ada mam, hanya beberapa hal kecil saja"


"Baiklah, oh ya Van, masalah kamu dan Sarah..."


"Mam, Vano tidak mau membahas wanita. apalagi wanita itu adalah Sarah. no mam" sanggahnya cepat.


"Tapi mama lihat Sarah sangat menyukai kamu Vano"


"Tidak mam, dia suka kemewahan ini hanya harta yang dia sukai" sarkasnya.


"Vano jangan bicara seperti itu. siapa tahu dia memang tulus sama kamu sayang" ucap mama Elita dengan lembut.


Gavano hanya diam, tak ingin lagi membahas masalah Sarah. lalu tiba-tiba seseorang ikut masuk dalam obrolan mereka,


"Mam, kak Vano lihat, kak Sarah membelikanku hadiah. katanya oleh-oleh dari prancis" Zita masuk dengan beberapa bingkisan ditangannya, dan tentu saja dengan senyum sumringah diwajahnya.


"Zita, apakah uang yang kakak berikan masih kurang, Sehingga kamu masih minta-minta sama orang lain, ha!?" bentak Gavano sontak langsung membuat Zita sedih, Semarah-marahnya Gavano dia tidak pernah sampai membentak adik kesayangannya itu.


"Hikss...kakak jahat" Zita langsung menghempaskan barang-barang di tangannya lalu berlari keluar dari kamar milik Gavano.


"Vano, mama tidak mau tahu kamu Harus Menikah di ulang tahun kamu yang ke-28 nanti" ucap mama Elita penuh penekanan.


"Aaarrggkkk" teriak Gavano setelah mamanya meninggalkan kamarnya.


Di ruang keluarga, Papa Zergio, mama Elita dan juga oma Venna sedang bersantai, sambil ditemani dengan beberapa cangkir teh dan beberapa biskuit yang akan menemani malam santai mereka.


"Zita, kamu kenapa sayang? kok mata kamu lembab kayak habis nangis gitu?" tanya oma Venna


"Habis kena teriakannya Vano bun" jawab mama Elita


"Hah! Vano?" kaget papa Zergio mama Elita mengangguk.


"Tumben Vano meneriaki Zita? kamu berbuat salah apa Zita?" kini papa Zergio langsung menatap Zita dengan tajam


"Pa, Zita gak ngelakuin apapun, ini semua gara-gara sih kak Sarah. gara-gara dia ngasih hadiah Zita, kakak jadi marah sama Zita" adunya kembali menjatuhkan air matanya.


"Ohh! kirain kamu nakal" jawab papa Zergio kembali acuh.


"Oma, pokoknya nanti oma marahin kak Vano ya" pinta Zita sambil memeluk Oma-nya, membuat oma Venna tersenyum dan membalas pelukan dari sang cucu.


"Iya nanti Vano datang kita langsung marahin dia, sudah sudah cucu Oma tidak boleh menangis, nanti cantiknya hilang loh" hibur oma Venna dan berhasil membuat Zita berhenti menangis.


............


Di Apartemen Leeyya...


Di pagi yang cerah ini, Kania dan Delila sudah berada di apartemen milik Leeyya. mengetahui jika sahabat baiknya itu akan pulang kerumah orang tuanya, mereka pun sepakat akan menghantarkan Leeyya ke stasiun.


"Leey, lo jangan lama-lama ya di rumah orang tua lo" ucap Delila menahan sedih.


"Iya Leey, pokoknya nanti ajak kami juga ya, kan pengen juga Leey kenalan sama keluarga lo" sahut Kania


"Gue sih ayo aja, tapi kan kaliannya yang belum bisa ikut gue pulang" balas Leeyya santai.


Masih dengan kesibukannya mengemasi pakaiannya,


"Eh, sih Devo beneran marah ya? gue beneran ngerasa gak enak ninggalin masalah kayak gini"


"Sudahlah Leey tidak perlu lo fikirin, kayak gak tahu aja sama bocah baperan itu. nanti juga dia baik sendiri" kata Kania yang kini ikut membantu Leeyya mengemasi barangnya.


"Tapi Kan,..." belum selesai Leeyya berbicara Kania memotongnya pembicaraan nya dengan mengatakan,


"Gak ada tapi-tapian Leeyya, sekarang ayo gue anterin lo ke stasiun" Kania pun membawa koper Leeyya menuju mobilnya, sedangkan Delila berjalan dibelakang sembari menggandeng lengan Leeyya agar segera mengikuti Kania.


Begitu tiba di stasiun kota L, Leeyya yang sudah memegang tiket kereta pun langsung hendak masuk namun sebelum itu, tak lupa Leeyya memeluk Kania dan Delila.


"Pokoknya nanti setelah nyampe, lo harus hubungi kami. oke"


"Siap bos...haha" setelah melepas pelukannya, Leeyya pun melambaikan tangannya.


"Thank you guys, sudah nganterin gue...see you" teriak Leeyya lalu menghilang didalam keramaian.


Kembali kepada Gavano yang kini hanya duduk diam sembari menghadap keluar jendela, sangat diluar dari kebiasaannya yang selalu menatap berkas-berkas jika di dalam perjalanan.


"Van, are you okay?" tanya Jody yang sedikit tidak fokus dalam menyetir.


"Huffft..." Gavano membuang nafas dengan kasar.


Jody terus saja menatap Gavano dari balik kaca spion, hingga Gavano yang sudah pusing pun tetap akan meminta bantuan dari sahabatnya itu.


"Ulang tahun gue"


"Ulang tahun lo? bulan depan kan" sahut Jody


"Hmm... mama minta gue menikah saat ulang tahun gue" ucap Gavano frustasi.


"What???" saking kagetnya Jody sampai mengerem mendadak untung saja kendaraan dibelakang mereka masih cukup jauh, sehingga tidak terjadi masalah ketika Jody mengerem mendadak barusan.


"Mana kandidat mama sih Sarah" ujar Gavano kembali membuat Jody terkejut namun kali ini tidak sampai mengerem mendadak lagi.


"Sarah? apakah Sarah yang lo maksud itu Sarah Nevilla?" tanya Jody, seraya berharap bahwa tebakannya itu salah.


"Hmm...wanita itu"


"Astagaaa... Van sepertinya memang dia jodoh lo deh...hahahaha" seketika tawa Jody pun pecah


Tawa Jody tak bertahan lama, karena tatapan dingin Gavano yang membuat bulu kuduk Jody meremang.


"Maaf bos" ucap Jody langsung menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Gavano kembali menatap luar jendela, jari-jarinya terus memijat-mijat keningnya yang sedikit pusing.


"Bos, bagaimana kalau jadikan gadis mahasiswa itu sebagai istri lo" entah mengapa fikiran Jody langsung mengarah kearah Leeyya.


"Gadis mahasiswa?" tanya Gavano yang sepertinya tidak mengingat gadis yang Jody bicarakan itu.


"Bos itu loh yang bos bilang 'Jody coba periksa apakah gadis itu sudah keluar dari rumah sakit'?" Jody mengingatkan


"Oh...Saya bahkan tidak tahu siapa namanya Jod"


"Tenang saja, masalah seperti itu bukanlah hal yang sulit bro. bagaimana?" ujar Jody seraya menaik turunkan alisnya.


"Apanya yang bagaimana?"


"Astaga Van, gue mau bantuin lo buat cari tahu tentang gadis ini lah"


"Oh...cari saja, saya tidak tertarik sedikit pun"


"Sudahlah Van, lepaskan semua masalalu lo yang pahit itu. sudah saatnya lo bahagia bersama orang yang tepat tentunya" ucap Jody.


"Gue sendiri yang bakal bantu lo untuk mencari seseorang itu" batin Jody dengan mantap.


"Lo atur aja lah Jod" pasrah Gavano, tentunya itu ada perkataan yang amat Jody nantikan. akhirnya hal tersebut keluar juga dari mulut Gavano.


Tanpa menunda waktu lagi, Setelah menghantarkan Gavano. Jody langsung mencari tahu tentang Leeyya. hingga satu hari penuh ia berkutat dengan laptopnya dan juga kesana kemari untuk mencari informasi tentang Leeyya.


Memang segala usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka hasil yang didapat pun sesuai dengan harapan.


Tiga hari ini Jody sampai bergadang untuk mengumpulkan semua informasi mengenai Leeyya, dan akhirnya semua itu terkumpul dalam satu map dan akan segera ia berikan kepada Gavano.


Didalam perjalanan menuju markas GZor Black, Jody memberikan sebuah berkas dan meminta Gavano untuk segera membukanya.


"Leeyya Faleesha Ablia" gumamnya


"Yups...namanya sangat cantik bukan? sama seperti orangnya Van hehe..." kekeh Jody.


"Usia 19 tahun, bla...bla...." Gavano membaca semua informasi yang Jody berikan kepadanya.


"Hmm... apakah dia benar-benar belum pernah menjalin hubungan pada siapapun?" tanya Gavano sedikit tidak percaya.


"Iya, fokus gadis ini hanya belajar dan belajar. dia juga orang yang bertanggung jawab dan sangat disiplin. dia gadis baik-baik Van, sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di club malam. kesehariannya kalau tidak ke kampus ya di apartemennya, atau hangout bersama ketiga sahabatnya. disana sudah gue cantumkan semuanya, tinggal lo baca saja" terang Jody.


"Menarik juga, tapi belum tentu dia benar-benar gadis yang baik, bisa jadi dia menutupi keburukannya dengan cara menjadi anak yang baik dan disiplin"


"Makanya baca pepatah bro"


"Kata orang, Tak kenal maka tak sayang, kenali dulu sebelum berfikiran lebih jauh" sambung Jody.


"Oke, akan gue coba" Setelah itu Gavano menutup map-nya kembali dan fokus melihat jalanan yang cukup padat diluar sana.