Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 18. Canggung



Kediaman keluarga Zergio...


Setelah lama menempuh perjalanan, akhirnya Gavano dan Leeyya pun tiba di kediaman keluarga besar Gavano. disana mereka telah disambut oleh para pelayan, semuanya nampak membungkuk hormat ketika keduanya berjalan melewati mereka.


"Selamat datang tuan dan Nyonya Gavano" sapaan dari para pelayan dirumah itu sungguh membuat Leeyya merasa canggung. ia tidak biasa diperlakukan seperti ratu seperti ini, apalagi pelayan dirumah itu rata-rata umurnya cukup jauh dari dirinya.


Usai melewati puluhan pelayan yang berbaris di depan pintu, kedua pasangan baru itu pun diarahkan oleh kepala pelayan menuju ruang tengah. dimana semua keluarga Gavano telah menunggu mereka disana.


"Assalamualaikum, semuanya" sapa Gavano lalu ikut duduk di antara mereka.


"Kak Leeyy" tiba-tiba dari belakang Zita datang dan langsung memeluk kakak iparnya itu.


"Loh Zita, kalian saling mengenal? kemarin saat pernikahan kayaknya kalian tidak saling mengobrol?" tanya papa Zergio penasaran.


"Hehe iya pa, Zita sempat bertemu kak Leeyya dan teman-temannya di cafe. kejadiaannya saat Zita telat kesekolah. ya kan kak?" jawab Zita penuh semangat. ia sangat senang karena yang menjadi kakak iparnya adalah Leeyya, orang yang dikenalnya serta seorang wanita yang baik dan cantik.


"Ohh, begitu rupanya" sahut papanya kembali.


"Sini Leeyya duduk, jangan berdiri terus. ini juga sudah menjadi rumah kamu, jadi jangan sungkan ya" tutur oma Venna lembut


Leeyya tersenyum sangat manis, menanggapi ucapan sang oma, ia pun berterimakasih lalu ikut duduk disebelah sang suami.


Sesekali Leeyya melirik kearah mama Elita yang nampak diam saja, tidak ada penyambutan yang mama Elita berikan. membuat Leeyya semakin tak enak hati, ia benar-benar merasa kehadirannya tidak disukai oleh ibu mertuanya itu. apalagi setelah itu tidak ada lagi percakapan seolah semuanya mematung untuk seperkian menit. sedikit canggung dan salah tingkah, Leeyya nampak beberapa kali membenarkan cara duduknya, hingga Gavano pun menyadarinya.


"Oh ya, ingat baik-baik. ini adalah kedua orangtua saya papa Zergio dan mama Elita. sebelah papa adalah oma Venna ibunya papa, dan kamu sudah mengenal gadis cengeng ini. dia adik saya" Gavano memperkenalkan seluruh keluarganya kepada Leeyya.


Leeyya mengangguk mengerti, lalu kembali memberikan senyum manisnya kepada keluarga Gavano.


"Eh aku punya sesuatu yang sangat menarik untuk dilihat loh" celetuk Zita, sukses membuat semua mata tertujuh kepadanya.


"Apa lagi kali ini Zita?" tanya oma Venna sedikit penasaran.


"Sekarang kalian lihat ke monitor" pinta Zita lalu ia pun mulai membuka satu buah foto yang menampilkan wajah seorang Gavano yang anti akan wanita itu justru terlihat tak berkedip kala melihat Leeyya.



Pandangannya seakan terkunci tak bisa teralihkan lagi oleh apapun, tujuannya hanya satu arah yaitu arah dimana gadis cantik yang bernama Leeyya itu tengah menuruni anak tangga, dengan gaun putih sederhana gadis itu melangkahkan kakinya dengan perlahan. membuat seorang Gavano terasa terhipnotis oleh pesona anggun yang Leeyya tampilkan.


Melihat kejahilan sang adik, Gavano pun langsung mematikan proyektor yang terhubung ke monitor besar itu. setelahnya tanpa sepatah kata Gavano pergi meninggalkan keluarga dan juga istrinya lalu menuju ruang kerjanya.


"Cih punya rasa malu juga ternyata" ledek Zita membuat Leeyya tertawa.


Mama Elita yang juga melihat gambar tersebut ikut tersenyum, akhirnya dia benar-benar memiliki menantu yang sesuai dengan keinginannya. sebenarnya ia telah menerima keberadaan Leeyya, namun ia ingin melihat bagaimana menantunya itu mencoba akrab dengannya. sejauh ini Leeyya masih belum banyak berbicara, sehingga mama Elita pun masih diam.


"Cih..." mama Elita berdecih lalu meninggalkan ruangan, membuat Leeyya kembali tegang.


"Wadduh ini sih fix ibu Elita tidak menerima kehadiran gue. habislah gue, bisa-bisa gue disiksa terus disini" batin Leeyya cemas.


"Sudah Leey, kamu naik saja dulu. istirahat, jangan fikirkan mama mertua mu itu, dia kalau belum kenal maka belum sayang" goda oma Venna kembali membuat Leeyya tersenyum.


Setiap ucapan yang oma Venna sampaikan selalu membuat Leeyya tenang.


"Joko" panggil oma Venna.


"Iya nyonya besar, ada yang bisa abdi bantu?" tanya pak Joko.


"Tolong antarkan cucu menantu saya kekamar Vano ya" titahnya


Mari nyonya Vano" Leeyya pun mengikuti kemana kepala pelayan itu membawanya. hingga tibalah mereka di salah satu ruangan yang amat besar dengan design interior yang amat mewah.


Usai kepergian pak Joko, ia pun duduk terlebih dahulu diking size milik Gavano, seraya melihat sekeliling, sebuah kamar yang sangat mengesankan, fikirnya.


"Jika difikirkan lagi. nama Mr. G itu sama dengan nama pak Gavano gak sih? tapi tidak mungkin juga mereka orang yang sama. jelas-jelas pak Gavano itu memiliki tompel besar sedangkan Mr. G tidak ada. dan juga pak Gavano jauh lebih baik dari pada Mr. G yang kejam itu" Leeyya berbicara sendiri seraya mengingat-ingat wajah kedua orang yang ia kenal itu.


"Mungkin hanya memiliki nama yang sama" ucapnya lagi. lalu ia beralih menuju kopernya, untuk mengambil beberapa barang yang ia butuhkan untuk membersihkan dirinya.


..............


Ruang Kerja Gavano.


Didalam ruangan yang berukuran sedang itu, terlihat Gavano sedang duduk di sebuah sofa. ia merutuki dirinya yang nampak bodoh digambar itu.


"Zita ..... anak ituuuu" geramnya seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Tidak, aku tidak boleh jatuh keperangkap wanita lagi. aku tidak mau terluka lagi seperti waktu itu"


"Khe' wanita sok lugu sejenis Leeyya sangat memuakkan" geramnya


kembali didalam kamar Gavano, Leeyya yang baru saja selesai mandi mendapati handphone-nya terus berdering. setelah berhasil meraih ponsel tersebut, tertera sebuah nama yang amat ia kenal.


Devo is calling....


"Hadduh, ngapain sih Devo Nelpon gue, bisa gawat nanti kalau Mr. G masuk bisa-bisa mereka nanya macam-macam" gumam Leeyya dan akhirnya ia berlari kembali masuk kekamar mandi.


'Ya Halo, ada apa Dev?" tanya Leeyya setengah berbisik.


'Leey, come here! kita lagi kumpul di Cafe biasa'


'Sorry guys gue lagi gak bisa kemana-mana nih, next time deh ya'


'Lo kenapa sih Leey, ngomongnya gak jelas gitu. pelan banget say gak dengar gue'


'Budek lo ya! gue bilang gak bisa kesana Devo'


'Kenapa? biasa juga fine fine aja keluar, bokap nyokap lo juga gak masalah kalau lo jalan sama kita Leey'


"Iya ini masalahlahnya gue sudah masuk kandang harimau, tidak bisa sebebas dulu" ucap Leeyya dalam hati.


'Itu....emmm...gue ...'


"Duh maaf tetangga ku yang budiman, semoga kalian sehat selalu, maaf gue terpaksa untuk pakai nama kalian supaya gue bisa menyelamatkan diri" kembali Leeyya berbicara dalam hati.


'Itu...gue mau anterin tetangga gue kerumah sakit makanya ini saja gue ngomongnya pelan-pelan takut pasiennya keganggu'


'Oh gitu, mau kita temani tidak Leey?'


'Hah? tidak....tidak perlu kalian bersenang-senang saja. disini ada keluarganya juga kok'


Akhirnya setelah menjelaskan panjang lebar, para sahabat Leeyya pun mengerti. mereka pun telah mengakhiri panggilan teleponnya.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib. Leeyya nampak duduk sembari bersandar di sandaran kasur, menunggu Gavano yang sedari tadi berada diruang kerjanya. Leeyya menunggu suaminya hingga ia pun tertidur. sedangkan Gavano justru malah memilih tidur di ruang kerjanya. sehingga kini mereka pun tertidur di tempat terpisah.