
Di kediaman keluarga Gavano, terdengar suara canda tawa dari ruang tv. Gavano yang mendengarnya pun langsung bertolak menuju sumber suara.
"Ehem...ada apa sih ini, suara kalian terdengar hingga gerbang depan" seru Gavano yang hendak menghampiri keluarganya, namun tiba-tiba langkahnya harus terhenti kala seseorang yang nampak tak asing menoleh kearahnya
"Sarah" lirihnya
"Vano, kamu baru pulang sayang" tanya mama Elita
"Vano keatas dulu ma, pa, oma"
Melihat sang pujaan hati yang hendak pergi, Sarah pun langsung menghentikannya.
"Vano tunggu"
"Hei, kamu tidak rindu denganku hm? aku baru tiba loh. bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu, aku sudah rindu sama kota L" ajak Sarah sedikit manja.
"Malas" jawab Gavano sambil melepaskan tangan Sarah yang melingkar seperti ular dilengannya.
"Aaa...Vanooo....Om, tante, Oma, lihat Vano jahat" adunya kepada keluarga Gavano.
"Vano jangan seperti itu nak, Sarah kan baru tiba dari Prancis dia pasti rindu dengan masakan Indonesia dan kota L. ajaklah dia berjalan-jalan" pinta mama Elita
Papa Zergio dan oma Vanna tidak terlalu menghiraukan. pasalnya mereka sebenarnya tidak terlalu cocok dengan gaya Sarah baik dalam cara berpakaiannya yang sangat ketat hingga menampakkan seluruh lekuk tubuhnya dan cara Sarah berbicara yang sangat manja. namun berhubung Sarah bilang jika ia dan Gavano berpacaran maka mereka harus menyambut tamunya dengan baik.
"Vano, Vano" sang papa beranjak sembari menepuk pundak Gavano.
"Ayo mam, biarkan mereka berbicara" ajak papa Zergio pada mama Elita yang masih berada ditengah-tengah Gavano dan juga Sarah.
"Oma" panggil Gavano ketika melihat omanya ikutan pergi meninggalkannya bersama Sarah.
"Bicarakan lah dulu urusan kalian berdua" ucap oma Venna sembari tersenyum.
Setelah semuanya meninggalkan mereka, barulah Gavano duduk disofa diikuti dengan Sarah di belakangnya.
"Anda ngapain disini? bikin masalah saja" Gavano berbicara dengan mulut tajamnya.
"Vano, I miss you. aku sangat merindukanmu, rasa rindu ini sampai membuat aku hampir gila" ucap Sarah hendak melingkarkan kedua tangannya ke lengan Gavano.
Melihat pergerakan Sarah yang sangat aktif, Gavano langsung menepisnya dan duduk lebih jauh dari Sarah.
"Stop, anda disana saja" cegahnya ketika Sarah hendak kembali duduk didekatnya
"Vanoooo please, come here" rengeknya dengan nada manja yang membuat Gavano semakin muak.
"No, you just go. i'm Busy" setelah mengatakan itu, Gavano pergi meninggalkan Sarah yang kini sedang kesal karena Gavano tak pernah memperhatikannya.
"Vano....Vanooo" teriaknya karena Gavano terus menjauh darinya.
Di dalam kamar kedua orang tuanya,
"Tuh mantu mama, sangat tidak punya etika, masa dirumah orang teriak-teriak seperti itu. memangnya rumah kita ini hutan?" sindir papa Zergio
"Iihh papa, jangan seperti itu dong. papa harusnya bersyukur karena Vano sudah move on dari wanita licik itu, ini semua berkat Sarah pa" bela mama Elita.
"Tapi kalau dari penglihatan papa, sikap Vano tadi sudah cukup kuat, membuktikan bahwa ia tidak memiliki hubungan seperti itu dengan Sarah itu mam"
"Pokoknya kita harus menikahkan mereka segera pa, mama tidak mau nanti Vano terluka lagi" ucap mama Elita.
"Terserah mama deh, saran papa, biarkan saja Vano yang bertindak sendiri. dia sudah dewasa mam, bisa menentukan sendiri jalan hidupnya kelak. kita hanya melihat dan memberi saran jika itu salah atau berlebihan" balas papa Zergio.
.............
Apartemen Leeyya
"Leey, lo beneran gapapa kita tinggal sendirian?" tanya Delila yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
"Iya Lil gapapa, i'm Okay" jawabnya sambil tersenyum.
"Hmmm... Sih Devo nih bukannya temenin lo malah sibuk kencan sama sih Fia" kesal Delila.
"Sudah gue gapapa Lil, don't worry. kamu pulang saja kasihan orang tua kamu sudah nungguin"
"Maaf ya Leey, gue gak tahu kalau mama papa gue pulang dari kota Y-nya hari ini. nanti gue kabarin Kania deh biar dia kesini buat nemenin elo" sesal Delila.
Leeyya hanya mengangguk karena saat ini ia masih sangat lemas, perutnya terkadang masih terasa nyeri akibat tamu bulanannya itu.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 dini hari,
Drrtt...drrttt ....
Dering handphone Leeyya berbunyi beberapa kali,
"Halo" jawab Leeyya lesu.
Leeyya menatap ponselnya,
"Masih terhubung, tapi kenapa tidak ada suaranya sih" gerutunya lalu ia mengakhiri panggilan tersebut.
Sedangkan diseberang sana, seseorang yang menghubungi Leeyya barusan hanya menyunggingkan senyumnya. entah mengapa tiba-tiba bibirnya terangkat dan membentuk sebuah lengkungan. tapi apapun itu, ia sangat lega, bisa mendengar suara Leeyya. akhirnya segala kekhawatirannya bisa berkurang dan ia dapat tidur dengan nyenyak malam ini.
Keesokan harinya, Leeyya telah kembali kekampus untuk memberikan tugasnya yang sempat dikembalikan oleh Gavano. Leeyya senantiasa menanti kedatangan Gavano diruang dosen, hingga beberapa menit berselang yang tunggu pun tiba.
"Pak Gavano" seru Leeyya langsung berdiri sembari menggenggam makalahnya.
"Anda, bukannya sedang sakit? kenapa sudah ada dikampus lagi?" tanya Gavano sedikit terkejut ketika melihat Leeyya sudah berada didepan ruang dosen.
"Saya sudah sehat kok pak, berkat bapak juga" jawab Leeyya sambil tersenyum malu.
"Terus ngapain disini?"
"Oh ya, ini pak tugas yang kemarin tidak bapak terima" ucap Leeyya sembari memonyongkan bibirnya. sangat menggemaskan hingga membuat Gavano tersenyum tanpa ada yang mengetahuinya.
"Oh. masalah kemarin saya minta maaf, saya fikir anda mahasiswi pemalas makanya saya kembalikan tugas itu keteman anda" ujar Gavano dengan wajah datarnya seperti biasa.
"Jahat sekali fikiran bapak, hmm...tapi tidak apa-apa deh sepertinya ini rekor buat saya. yang saya tahu bapak tidak pernah mengucapkan kata maaf kepada siapapun hehe" ucap Leeyya tanpa sadar.
"Wah, anda sangat memperhatikan saya rupanya" goda Gavano tetap dengan wajah datarnya.
"eh maaf pak saya hanya tidak menyangka saja, bapak akan meminta maaf kepada saya" tambah Leeyya, takut jika dosen garangnya ini kembali menunjukkan taringnya.
'Kenapa mulut gue berani sekali sih ngomong seenaknya sama pak Gavano, dosen tompelku yang killer' ucap Leeyya dalam hati
"Sudahlah, Anda tidak perlu cemas, Saya cenderung akan mengakui kesalahan saya, jika saya memang salah, jika selama ini tidak pernah minta maaf itu artinya saya tidak pernah melakukan kesalahan pada siapapun" pangkasnya
'Gila, lagi-lagi gue terpesona dengan ucapannya yang tegas ini' lagi-lagi Leeyya berbicara sendiri didalam hatinya.
"Jadi, dimana tugas anda" pinta Gavano
"Eh iya, Ini pak" ia pun menyerahkan makalah yang sedari tadi ia genggam.
"Loh pak, saya belum menjelaskannya" cegah Leeyya ketika Gavano hendak langsung masuk kedalam ruangannya.
"Tidak perlu, saya sedang sibuk hari ini. silahkan masuk kekelas anda" sahutnya lalu menutup pintu sehingga Leeyya tidak dapat lagi melihat dosennya itu.
"Huh, kirai masuk keruangan bapak, hehe" gumam Leeyya seraya tertawa sendiri karena merasa geli akibat ucapannya sendiri.
Leeyya kembali berjalan menuju ruangan kelasnya, setelah bertemu pak Gavano entah mengapa perasaannya jadi aneh. tiba-tiba senang, tiba-tiba sedih karena tidak bisa melihatnya. entahlah perasaan apa ini? Leeyya belum pernah merasakan hal yang semenarik ini selama hidupnya.
"Leey, lo kok masuk sih? kan belum sehat betul" cemas Kania ketika melihat sahabatnya itu berjalan seperti orang linglung dikoridor kampus.
"Gue sudah sehat kok Kan, tenang saja" ucap Leeyya sambil merangkul lengan sahabatnya itu.
"Sorry ya Leey, gue baru lihat pesan Delila pagi tadi. coba saja gue belum tidur semalam pasti gue langsung ke apartemen elo buat nemenin elo" sesal Kania.
"Kania, gue gapapa kok, lagian benaran sudah fit tubuh gue" Leeyya berusaha menenangkan sahabatnya tersebut.
"Apalagi tadi habis ketemu vitamin gue" lirihnya sangat kecil hingga Kania tak bisa mendengarnya.
"Yasudah, nanti kalau lo merasa pusing pas dikelas lo ngomong ya nanti kita langsung izin saja buat keruang kesehatan" himbau Kania dan Leeyya pun hanya menganggukkan kepalanya.
Setibanya mereka dikelas, disana ternyata sudah ada Devo dan juga Delila yang telah menyiapkan kursi untuk keduanya.
"Leey, are you ok?" tanya Devo
"Cih, pakai nanya segala. Kan, susah ya punya sahabat bucin yang ada dihidupnya hanya pacarnya doang" sindir Delila
"Lil, lo kok ngomong gitu sih, waktu gue juga banyak dikalian kok dari pada Fia. sekali kali gantian dong gue prioritaskan Fia pacar gue" kesal Devo langsung membungkam Delila.
"Heh, Devo gak ada yang larang ya lo mau pacaran atau prioritaskan siapa pun. tapi lihat situasi dong. kan Leeyya sedang sakit diantara kita cuma lo yang bisa kita handalkan Dev" Kini Kania ikut berbicara.
Leeyya yang melihat pertengkaran para sahabatnya itu, apalagi ini disebabkan oleh dirinya, Leeya menjadi sangat merasa bersalah.
"Maaf..." ucap Leeyya sedikit kencang hingga akhirnya ketigannya pun berhenti dan beralih menatap Leeyya.
"Maaf karena gue kalian jadi tidak bisa bebas kemana pun dengan pasangan kalian. gue..." sesal Leeyya berusaha menuntaskan ucapannya
"Leey lo gak salah, kita gak berantem gara-gara elo kok Leey...ssuusstt..." Kania memeluk Leeyya dan berusaha menenangkannya.
Devo yang ikut merasa bersalah pun, langsung beranjak pergi meninggalkan para sahabatnya itu.
"Sorry Leey, gue gak bermaksud bikin lo merasa bersalah seperti itu" sesal Devo