Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 10. Dosen Menyebalkan



Seperti biasa Leeyya berhasil tiba di kampusnya 10 menit sebelum mata kuliah dimulai, di jam pertama ini adalah mata kuliahnya bu Inggrid. hanya Leeyya yang mengambil mata kuliahnya bu Inggrid, hal itu dikarenakan dirinya kelebihan SKS sehingga ia memutuskan untuk mengambil mata kuliah di semester atas.


Saking asiknya mendengarkan penjelasan dari bu Inggrid, Leeyya sampai lupa jika ia masih ada kelasnya pak Gavano. kini sudah lewat 1 menit dari jam mata kuliah pak Gavano. Leeyya pun buru-buru meminta izin kepada bu Inggrid, berhubung kelas itu dihuni oleh senior-senior yang hampir lulus. biasanya bu Inggrid selalu menambahkan jamnya, namun kalau mahasiswanya masih ada mata kuliah lain, ia akan mengizinkan mereka untuk keluar terlebih dahulu.


Leeyya berlari tak tentu arah, beberapa yang ia lewati pun tak khayal sering tertabrak olehnya. tiba dikelas dengan tergopoh-gopoh, Leeyya mengetuk pintu ruangan yang didalamnya sudah ramai oleh mahasiswa dan juga pak Gavano sebagai dosen yang akan mengajar hari ini.


"Selamat...."


"Telat 3 menit, berdiri di bawah tiang bendera parkiran ini. kalau saya lihat anda tidak ada disana maka saya akan lipatkan hukuman anda. silahkan pergi" ucap Gavano tanpa menoleh kearah Leeyya.


"Pak, setidaknya dengarkan dulu alasan saya pak" seru Leeyya karena Gavano tidak menanyakan kenapa alasannya bisa telat masuk kekelasnya.


"Sudah 3 kali anda telat di jam mata kuliah saya, sudah pasti yang keluar dari mulut anda adalah sebuah alasan yang anda sudah karang sejak beberapa menit bahkan jam yang lalu" sinis Gavano setelah mendekat kearah Leeyya.


"Segera keluar, jangan menganggu teman anda yang lainnya. mereka hendak belajar" lagi-lagi ucapan Gavano berhasil melukai hati Leeyya. sangat tajam hingga menusuk kerelung hatinya.


Leeyya langsung pergi tanpa mau membantah lagi ucapan sang dosen.


Melihat Leeyya dihukum, Devo sebagai sahabat baiknya merasa tidak terima. ia pun langsung membereskan buku-bukunya dan beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana anda?" tanya Gavano ketika Devo hendak pergi dari kelasnya.


"Saya akan menemani Leeyya pak, permisi" Devo dengan santainya melewati Gavano.


Delila dan juga Kania yang melihat keberanian Devo pun merasa sangat terharu. padahal kemarin mereka habis berantem dan belum bertegur sapa setelah kejadian itu. namun Devo kini dengan suka rela menemani Leeyya yang tengah dihukum.


Diluar kelas, tepatnya dibawah terik sinar matahari, bertatapan dengan sebuah tiang yang menjulang tinggi, dengan sebuah kain berwarna merah putih berkibaran diatas sana. Leeyya berdiri menatap langit yang menyilaukan mata, lalu tak lama kemudian seseorang berdiri disampingnya.


"Loh Dev, ngapain lo disini? telat juga?" tanya Leeyya terkejut.


"Hmm...parah banget tuh dosen tompel, telat 5 menit doang dihukum. kayak anak SD saja" gerutu Devo sembari menatap jendela di lantai 2.


"Huft....iya jadi nyesel gue pernah terpesona sama dia. Dasar Dosen Menyebalkan" celetuk Leeyya membuat Devo mengernyitkan keningnya.


"Ohhh...jadi benar nih kemarin sempat naksir pak Tompel? haha" ledek Devo


"Apaan sih Dev, gak jelas lo" Leeyya tersipu


"Hahaha....akhirnya bisa juga lo tersipu, gue kira lo sudah mati rasa Leey..." canda Devo.


"Oh ya Dev, gue wakilin Delila dan juga Kania, kami minta maaf banget ya Dev. gak seharusnya kami bersikap egois seperti itu, Fia memang membutuhkan elo, gue jadi gak enak sama Fia. karena dia selalu mengalah untuk kita" sesal Leeyya.


"Hmm...gue bersyukur mempunyai Fia disisi gue Leey. hanya dia yang bisa sesabar itu, gue jarang ada waktu buat dia, keseharian gue dari dikampus sampai pulang kuliah pun hanya bersama kalian. tapi Fia dengan sabar dan ikhlasnya sama sekali tidak pernah mengeluh dan menuntut gue untuk selalu menemaninya. jujur gue ngerasa sakit banget waktu Delila dan Kania berbicara yang tidak-tidak tentang Fia. kalau gue ingat kesabaran Fia selama ini, gue malu Leey. sahabat gue tidak mengerti dan malah menyalahkan Fia" Devo mencurahkan segala isi hatinya kepada Leeyya.


"Gue tahu Dev, maafin kita ya karena tidak mau mengerti perasaan kalian. kedepannya ajak saja Fia untuk hangout bareng kita, kalau kalian ingin waktu untuk berdua, kami juga tidak masalah Dev" ujar Leeyya seperti sosok seorang ibu yang bicara dengan anaknya dari hati ke hati.


"Gue hukum biar jerah, ini mereka malah berpacaran. semua wanita sama saja. sok polos tapi ternyata" remeh nya, ia fikir Leeyya sama seperti mantannya terlebih dahulu. yang terlihat polos namun ternyata sangat licik dan seperti ular berbisa.


............


Setelah hari melelahkan berhasil terlewati, Leeyya mengajak para sahabatnya untuk makan malam disebuah Cafe langganan mereka. awalnya Devo sempat menolak, karena masih merasa canggung pada Delila dan juga Kania. namun berkat bujukan Leeyya, akhirnya ia pun mau untuk datang berkumpul bersama seperti sebelum terjadinya adu mulut diantara mereka.


Kini mereka telah berada ditempat yang sama, di meja pinggir dekat jendela.


"Dev, gue minta maaf ya" Kania membuka suara setelah sekian menit mereka hanya berdiam diri.


"Iya Dev, gue juga minta maaf ya, lo kan tahu mulut kita berdua ini suka tidak terkontrol. hehe..." tambah Delila sedikit kikuk.


"Haha...sudahlah gue sudah lupain semuanya kok"


"Ah syukurlah, lo emang cucok deh.. haha"


"Enak saja panggil gue cucok, gue ini lelaki tulen tau" kesal Devo membuat ketiga sahabatnya itu tertawa.


"Oh ya guys, by the way. bantuin gue dong" pinta Devo


"Bantuin apa Dev?" tanya Delila


"Gue rencananya mau melamar Fia" sontak ucapan Devo itu membuat Kania dan juga Delila tersedak dengan makanan yang mereka makan kini.


Uhuukk .... uhhuukk...


"Apa gua gak salah dengar ha!?" Kania langsung bereaksi.


Devo menggelengkan kepalanya,


"Sama sekali tidak, Fia gadis yang baik. bersama dia gue merasa nyaman dan selalu bersyukur karena memiliki dia disisi gue" ucap Devo penuh suka cita.


Ketiga sahabatnya itu saling melirik, sebenarnya ada sesuatu yang mereka ketahui tentang pacar sahabatnya itu. namun mereka enggan untuk mengungkapkannya, biarlah Devo sendiri yang mengetahui kebenarannya agar Devo tidak menganggap mereka menfitnah kekasihnya itu. mereka sangat tahu betapa Devo sangat menyayangi Fia, dia tidak pernah suka jika mereka mengatakan sesuatu yang buruk tentang Fia.


"Emm...mending lo fikir baik-baik dulu Dev, jangan terburu-buru lo juga kan masih kuliah setidaknya selesaikan dulu kuliah lo" ucap Kania, memang diantara mereka adalah sosok yang paling dewasa dan paling berani dalam bertindak.


"Sudah gue fikirin matang-matang, dan kalian harus bantuin gue dalam menyiapkan segala sesuatunya. oke" sahut Devo


"Insyaallah" ucap mereka serentak membuat Leeyya, Delila, dan Kania tersenyum-senyum penuh arti.


Mereka kembali menyantap makanan mereka hingga semuanya habis, setelahnya mereka memisahkan diri untuk pulang kerumah mereka masing-masing.