Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 16. H-2 Pernikahan



Sedangkan ditempat lain, Leeyya baru saja tiba di kediamannya. dengan tergesa-gesa ia langsung menerobos masuk dan betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang terlihat tidak asing lagi ada dirumahnya dan beberapa orang yang amat asing dimata Leeyya.


"Halo calon istri ku" ucap seseorang sembari tersenyum.


"Oh jadi ini yang namanya Leeyya" sinis seseorang yang juga ikut berada disana.


"Mam, kenapa sinis begitu, katanya mau lihat calonnya Vano. bukannya mama juga yang paksa Vano mencari calon istri nanti kalau Vano membatalkan segalanya bagaimana mam?" bisik papa Zergio


"Papa tenang saja, ini strategi mama" ucapan mama Elita itu berhasil membuat papa Zergio kebingungan.


"Pi, ada apa ini?" kini giliran keluarga Leeyya yang bermain bisik-bisikan.


"Papi juga terkejut makanya minta kamu buat pulang" jawab papi Abdyan.


"Duh, pi kalau tahu tadi Leeyya tidak akan pulang" kesalnya


"Saya rasa sudah cukup kalian berbisik-bisik disana. jadi mari kita bahas masalah pernikahan kami. karena saya tidak punya banyak waktu" Gavano akhirnya membuka suara yang langsung membuat seisi ruangan itu terlihat tegang.


"Pernikahan?" Leeyya berbicara lirih


"Pi, Leeyya..." belum selesai Leeyya mengungkapkan isi hatinya, Gavano dengan sigap langsung meminta pernikahan mereka dilaksanakan 3 hari lagi.


"Segala sesuatunya sudah saya urus, kalian tidak perlu khawatir. kalian tinggal datang 3 hari lagi di gedung D yang berada di jantung kota" pungkasnya mengakhiri diskusi sepihak itu.


Terlihat wajah kecewa dari keluarga Leeyya, namun mereka juga tak bisa melakukan apa-apa untuk anak kesayangannya itu.


"Maafkan papi Leey, papi gagal menjadi sosok pelindung keluarga. hiks.." terlihat sekali papi Abdyan sangat merasa sedih dengan semua ini. seharusnya pernikahan anak semata wayangnya ini menjadi pernikahan yang membahagiakan untuknya namun yang ia lakukan sebagai ayah justru menyerahkan anaknya kepada orang yang sama sekali tidak pernah masuk kedalam kehidupan keluarganya. Mr. G yang sangat berkuasa itu membuat pak Abdyan hanya bisa menahan perasaan kecewanya.


"Papi tidak perlu menyalahkan diri papi sendiri, mungkin ini semua terjadi juga karena takdir Leeyya harus begini pi. Leeyya hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kehidupan Leeyya kelak. pada dasarnya entah dengan siapa Leeyya juga pasti bakal menikah dan mempunyai kehidupan sendiri, hanya saja sekarang waktunya terlalu cepat dari dugaan Leeyya" Leeyya berusaha tenang dan tak ingin membuat kedua orangtuanya semakin merasa bersalah, padahal kemarin dia sendiri yang menyetujuinya tapi hari ini sungguh membuat Leeyya sedikit menyesal karena tak berfikir dulu sebelum bertindak.


.............


Universitas Vanca,,,


H-2 menuju hari pernikahan Leeyya dan Mr. G, tidak ada kabar apapun yang muncul mengenai pernikahan mereka, bahkan para sahabatnya itu pun tidak ada yang tahu jika Leeyya akan segera melepas masa lajangnya dengan pria nomor 1 di kota L itu.


Di kantin kampus, terlihat keempat sekawan itu sedang menyesap jus yang mereka pesan dari kantin disana. terlihat Leeyya yang berbeda dari biasanya, sosok Leeyya yang ceria kini berubah menjadi muram. entahlah apa yang tengah ia fikirkan hingga membuatnya murung seperti itu.


"Leey, wooii" pekik Kania, tentu saja sukses menyadarkan Leeyya dari lamunannya.


"Apaan sih Kan, kayak dihutan aja teriak-teriak" gerutu Leeyya sembari memainkan sedotan didepannya.


"Yah elo gue panggilin gak nyahut-nyahut, melamunnnn mulu" sindir Kania sambil menirukan Leeyya yang melamun tadi.


"Iya Leey, lo kenapa sih? lagi ada masalah ya?" tanya Delila yang juga memperhatikannya.


"Hemm... Tidak kok. gue cuma ah ini, kok masakan kantin makin enak ya haha"


"Leey, kita kenal lo sudah lama, ayolah jujur saja"


"Oh iya ya tuh anak benar-benar tidak memberi kabar kita sama sekali loh" akhirnya topik mereka teralihkan kepembahasan mengenai Devo.


Lain halnya dengan Kania, meskipun Delila sudah benar-benar melupakan obrolan tentang Leeyya, namun Kania tetap merasa curiga, karena sahabatnya itu tidak pernah murung seperti ini sebelumnya.


"Pasti ada apa-apa. tapi gue gak bisa juga paksa Leeyya buat cerita masalah dia kegue" fikir Kania.


Setelah selesai menyantap makanan mereka hingga hanya menyisahkan piringnya saja, mereka pun berlalu meninggalkan kantin yang masih cukup ramai itu. mereka bergegas menuju kelas untuk menerima pelajaran dari dosennya.


"Ah gue malas banget nih, kelasnya pak tompel terlalu serius" keluh Delila dan di benarkan oleh Kania.


Mendengar orang lain menjelekkan pak Gavanonya, Leeyya merasa kesal dan hanya menatap tajam mereka.


"Hugh....dingin banget yak" ucap Kania yang tidak menyadari bahwa sedari tadi Leeyya menatap mereka dengan tatapan ingin mencekik mereka.


"Iya ya Kan mendadak hawanya jadi seram, elo gak dingin Le... aaaghh" kaget Delila karena melihat Leeyya menatap mereka dengan tajam.


"Leeeyy...lo bikin gue takut" ucap Delila bergetar.


"Khe' tidak apa-apa" jawab Leeyya seraya tersenyum tanpa dosa.


15 menit kemudian, pak Gavano pun tiba. setelah mengabsen semua mahasiswanya, ia pun langsung mulai menjelaskan mengenai materi bisnis sesuai dengan mata kuliah mereka hari ini.


Di saat semuanya fokus mendengarkan penjelasan pak Gavano, lain halnya dengan Leeyya yang terus menatap pak Gavano.


"Pak Gavano kalau lagi serius, terlihat sangat tampan. andai saja Mr. G sialan itu tidak hadir di kehidupan gue. pasti saat ini gue sudah mengatakan perasaan gue ke pak Gavano. seorang pria cerdas, memiliki wawasan luas, bijaksana, dan bertanggung jawab. satu hal yang sukses membuat hati ini bergetar, sikap hangat yang ia berikan tanpa orang lain tahu. meskipun diluar dingin tidak masalah jika hatinya bisa membuat gue segila ini" gumam Leeyya dalam hati


Ia nampak senyum-senyum sendiri, Gavano yang melihat itu pun langsung mendekati Leeyya.


tok...tok...


Gavano mengetuk meja Leeyya beberapa kali, namun tidak juga Leeyya tersadar, hingga akhirnya Kania yang duduk disebelahnya pun menendang kaki Leeyya hingga ia kesakitan.


"Aaaaewww...." pekiknya membuat seisi ruangan menoleh kearahnya, begitupun dengan Gavano yang masih berada disebelahnya


"Astagaaa...Pak Gavano...hehe. ada apa pak?" tanya Leeyya yang terkejut saat mendapati dosennya itu sudah berdiri tepat disebelahnya.


"Anda kalau mau melamun, sana diluar. saya tidak suka ada yang tidak serius dikelas saya. apa yang lainnya juga ingin keluar?" tanya Gavano kepada semua mahasiswa


"Tidak pak" jawab mereka serentak


"Maaf pak saya tidak akan mengulanginya lagi" pinta Leeyya


"Keluar, saya tidak mau anda mengganggu mahasiswa lain yang ingin belajar" usir Gavano


Mau tidak mau, suka tidak suka, Leeyya pun menuruti ucapan dosennya itu, ia keluar dengan perasaan sedih.


"Padahal kelas bapak selalu dinantikan, kenapa sih selalu kena usir dan kenapa juga setiap pelajaran pak Gavano gue selalu tidak bisa fokus. hugh...." gumam Leeyya menghembuskan nafasnya dengan kasar.