
"Pak Gavano" lirihnya dari balik kaca mobil.
"Hah? ngomong apa lo Leey?" ucap Kania yang duduk tepat disebelah Leeyya.
"Kayaknya gue salah lihat deh" fikirnya
"Enggak kok Kan, gue gak ngomong apa-apa" jawab Leeyya bersikap seperti biasa.
Seusai menempuh perjalanan lebih kurang 10 menit, kini mobil yang Leeyya dan teman-temannya tumpangi itu telah terparkir dengan rapi disebuah cafe yang biasa mereka datangi.
"Guys, gue ke toilet dulu ya" pamit Leeyya
"Mau gue temenin ga Leey?" tanya Delila.
"Gak usah Lil, pesenin makanan gue aja hehe" Leeyya pun pergi seorang diri menuju toilet.
Bruukkk....
"Awws...." ringis keduanya.
"Maaf saya tidak sengaja" ucap Leeyya seraya membantu gadis itu untuk berdiri.
"Tidak masalah kak, saya juga salah karena tadi sibuk melihat ponsel saya" balas gadis yang masih memakai seragam putih abu-abu itu.
"Kamu tidak sekolah? ini belum jam pulang kan?" tanya Leeyya heran.
"Telat kak, hehe..." ucapnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal
"Hmmm... nama kamu siapa? dan bersama siapa disini?" tanyanya lagi.
"Nama saya Zita kak, saya sendirian sambil nunggu teman-teman saya pulang sekolah. kalau nama kakak siapa?" Zita balas bertanya
"Nama kakak Leeyya, kalau begitu mau gabung sama teman-teman kakak tidak?"
"Kalau boleh ya mau kak, dari pada saya sendirian" ucapnya sembari menyengir kuda.
"Oke, tunggu saya sebentar, saya mau ketoilet dulu" Leeyya pun memasuki toilet khusus wanita, sedangkan Zita menunggunya didepan pintu masuk toilet tersebut.
"Kak Leeyya, namanya bagus sekali aku menyukainya, orangnya juga baik mana cantik pula" gumamnya sambil tersenyum.
Setelah selesai, Leeyya dan Zita berjalan mendekati meja dimana teman-temannya sedang duduk menunggunya.
"Eh Leey, anak siapa yang lo culik?" tanya Devo
"Halo kakak kakak, nama saya Zita. tadi saya tidak sengaja menabrak kak Leeyya terus kak Leeyya mengajak saya untuk bergabung. apakah boleh Zita gabung bersama kalian?" tanya Zita panjang lebar.
"Hahaha dasar bocah, polos amat yak, sini Zita duduk saja, tidak perlu sungkan begitu" sahut Kania dengan senyum ramahnya.
Zita pun mengangguk kemudian ikut duduk disebelah Leeyya. lalu mereka pun makan bersama hingga waktunya bagi Leeyya dan teman-temannya kembali ke kampus. begitupun dengan Zita yang sudah pergi terlebih dahulu, ia dijemput oleh teman-teman sekolahnya 5 menit yang lalu.
Seusai Leeyya menyelesaikan mata kuliahnya hari ini, ia pun segera bergegas pulang namun sebelum itu ia sempatkan untuk mampir ke supermarket terlebih dahulu, mengingat persediaannya dirumah telah habis. ia membeli beberapa bahan makanan dan juga keperluan lainnya untuk persediaan satu bulan kedepan.
Drrttt....Drrttt...
Mami❤️ Call...
'Halo Assalamualaikum mamiku yang cantik' sapa Leeyya.
'Wa'alaikumsalam, kamu dimana Leey? ramai sekali'
'Leeyya di supermarket mi, lagi belanja bulanan. ada apa mami menelpon?'
'Mami rindu, kapan kamu pulang? punya anak 1 tapi seperti tidak ada saja' keluh mama Leeyya.
'Hehe...mami jangan ngambek, minggu depan Leeyya janji akan pulang. sekarang Leeyya tutup dulu ya mi, sudah mau bayar dikasir. dah mami ku sayang, love you' Leeyya pun mematikan sambungan teleponnya.
.........
Di sebuah ruangan yang cukup minim cahaya, terlihat seorang lelaki dengan tatapannya yang tajam menusuk, tengah duduk di singgasananya.
"Jody, pengiriman barang kita bagaimana?" tanyanya sembari mengasah pisau kesayangannya.
"Bagus, kudengar ada yang bermain denganku, apa kau sudah mengurusnya?"
"Sudah bos, bahkan sudah kami lenyapkan seketika" sahut Jody kembali.
"Good job" Gavano langsung memerintahkan Jody dan beberapa orangnya untuk pergi meninggalkannya sendiri.
Setelah ia sendirian diruangan itu, Gavano kembali meraih sebuah kertas foto yang memperlihatkan dirinya yang amat bahagia kala itu, ia tertawa bahagia bersama wanita yang amat ia cintai. wanita yang bisa membuatnya bahagia dan dia juga yang menyakitinya hingga terpuruk cukup lama.
"Mengapa aku masih menyimpan foto ini? dia yang memutuskan untuk pergi dengan cara yang menyakitkan" Gavano langsung meremat kertas tersebut dan melemparnya kekotak sampah.
"Disitulah tempatmu sekarang, jangan pernah kembali dan memperlihatkan tampang mu itu dihadapan ku" kesalnya kemudian ia meremas rambutnya.
"Jody, keruangan saya sekarang" titahnya dan tak berapa lama pun Jody datang.
"Ada apa bos?" tanyanya
"Tarik orang kita untuk mengikuti orang itu" titahnya
Tanpa menjawab, Jody langsung mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi anak buahnya, Jody pun langsung menarik mereka dari tugasnya sesuai dengan perintah bosnya tadi.
"Titt...mode sahabat aktif" ucap Jody sengaja sedikit mengencangkan suaranya.
"Akhirnya lo sadar juga Van" sambungnya seraya memegang bahu Gavano.
"Singkirkan tangan mu itu" sinisnya.
"Wettts... oke sorry" Jody langsung menyingkirkan tangannya dari bahu Gavano.
"Saya cukup puas, faktanya memang wanita itu tidaklah pantas untuk Saya" jawab Gavano
"Syukurlah, gue bersyukur lo bisa ngomong seperti itu Van" ucap Jody senang.
"Akhirnya gue bisa laporan ke tante kalau Vano sudah bisa move on. walaupun sadarnya butuh waktu 5 tahun" gerutu Jody dalam hati. tak dapat ia pungkiri selama ini ia sangat kesal karena sahabatnya itu masih saja memperhatikan wanita licik itu, padahal ia sering kali meminta sahabatnya untuk melepaskan saja wanita tersebut tapi selalu saja Gavano menolak dan bersikeras untuk memerhatikan keseharian wanita itu, hingga ia harus terus menerus terluka dan sakit hati. namun kini ia benar-benar sangat bersyukur karena akhirnya Gavano sadar dan benar-benar melepaskan wanita itu dan ia berharap bahwa wanita itu benar-benar lenyap dari kehidupan Gavano selamanya.
"Untuk merayakan ini, bagaimana kalau kita ke club klok... klok" ajak Jody seraya mempraktikkan cara minum.
"Kau saja, saya sibuk" Gavano berdiri dan meninggalkan markas mereka.
"Dasar pria malang" gumam Jody sembari menggelengkan kepalanya.
Kembali ke Leeyya yang kini tengah asik menonton drama korea kesukaannya. tengah asik memperhatikan televisi, tiba-tiba handphonenya berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.
Devo Calling...
'Hallo say'
'Hmm, kenapa Devo rempong?'
'Leey, lo sudah mengerjakan tugas pak tompel belum?' tanya Devo.
'Memangnya ada tugas?'
'Astaga Leey, Management accounting'
'Ohh...kan lusa, besok aja gue kerjainnya'
'Hmm...tumben lo gak memerhatikan, biasanya kalau ada tugas lo yang paling tahu dan paling cepat mengerjakannya'
'Pertama kemarin kan gue telat dan dapat hukuman jadi gue mana tahu pelajaran hari itu, kedua gue sudah males banget rasanya sama pak Gavano itu. gue malu banget dihukum gitu'
'Hahaha....makanya jangan telat say'
'Gara-gara siapa juga coba? hemm...sudahlah gue mau nonton, ganggu aja lo, bye'
Usai mematikan panggilan itu, Leeyya kembali teringat momen memalukan dalam hidupnya. baru kali ini ia mendapatkan hukuman.
"Kalau difikir-fikir selama gue janji atau ada kelas, gue telat baru 2 kali yaitu mata kuliah bu Inggrid itupun gara-gara gue lagi diare dan bu Inggrid gak tahu itu tapi gue masih dimaklumi tuh, nah ini pak Tompel malah main hukum gue seenaknya saja. Tapiiii....hugh...sudahlah mau difikirkan bagaimanapun tetap saja kali ini gue yang salah" gumamnya.