
Masih didalam sebuah ruangan yang cukup luas, dengan perpaduan warna Hitam-putih yang sangat klasik membuatnya terlihat sangat monoton. meskipun begitu furniture diruangan itu terlihat sangat berkualitas sehingga membuat ruangan itu sangat nyaman dan terlihat sangat elegant.
"Ada apa perlu apa?" tanyanya seraya membalikkan kursinya dan kini posisi mereka saling berhadapan.
Tanpa sengaja kini manik mata mereka bertemu dan seketika itu juga Leeyya langsung memalingkan pandangannya. menghindar, ya itulah yang saat ini Leeyya lakukan.
"Aneh, mengapa mata itu terlihat sangat akrab. apa gue sekarang sedang terpesona? hah!!! mustahil. fokus Leey, tujuan awal lo bukan ini" ucapnya dalam hati.
"Maaf Mr.G sudah mengganggu waktu anda, saya tidak akan berbasa-basi lagi" ucapannya terhenti sejenak,
"Tolong jangan jadikan saya sebagai alat bisnis kalian. saya tahu papi saya sedang membutuhkan bantuan anda. tapi tidakkah anda merasa ini pantas untuk anda lakukan? tidak bisakah anda menegosiasikannya terlebih dahulu? Kenapa harus saya yang diseret-seret? hah?" ungkap Leeyya membicarakan semua isi hatinya.
"Saya sudah bisa berbicara?" tanya Gavano seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, jawab itu" tantang Leeyya membuat Gavano sedikit tersenyum.
"Baiklah, saya juga tidak akan berbasa-basi. tidak perduli anda berfikir sebagai alat bisnis atau apapun itu. yang saya mau anda menikah dengan saya 4 hari lagi" jawab Gavano dengan amat santainya.
"Hah! hei, Mr. G yang terhormat, tahukah anda dengan maksud pertanyaan saya barusan ha?" kesal Leeyya
"Saya rasa cukup disini. kalau ingin tahu alasan yang sebenarnya, maka menikahlah dengan saya" tutupnya lalu ia kembali memberikan sebuah kode kepada Jody, agar dia segera membawa Leeyya pergi dari ruangannya itu.
Leeyya nampak tertawa sembari memikirkan hal yang membuatnya pusing tujuh keliling itu,
"Tunggu, kenapa saya harus menikah denganmu hanya untuk sebuah jawaban yang..."
"Maaf nona, waktu anda sudah habis, tolong silahkan keluar" pinta Jody menghentikan ucapan Leeyya
"Sebentar saya belum selesai sama orang itu" ucap Leeyya seraya berusaha menyingkirkan tubuh Jody yang menutupinya.
"Silahkan nona, sebelum semuanya menjadi lebih runyam" ucap Jody sambil tersenyum penuh arti.
Leeyya pun akhirnya mengalah namun sebelum itu,
"Baiklah saya akan pergi dari sini, ck....saya kira anda cukup baik ternyata..." ucap Leeyya seraya memandang Jody dari atas hingga bawah dengan tatapan yang pastinya sangat tidak senang.
Dan Leeyya pun benar-benar meninggalkan perusahaan itu,
"Bos, calon istri anda jadi membenci saya gara-gara bos" adu Jody sambil menunjukkan wajah sedih yang sengaja ia buat.
"Lantas? apa perduli saya?"
"Ehemm...anda sangat kejam bos"
.............
Leeyya yang masih sangat kesal dengan ucapan yang disampaikan Gavano tadi, akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat yang selalu ia datangi jika ada masalah. dan tempat itu lah yang selalu bisa mendamaikan hati Leeyya.
Sebuah danau dipinggiran kota, terlihat pohon-pohon tinggi dengan daun-daunnya yang berwarna hijau, burung-burung berterbangan seraya mengicaukan suara merdunya, angin yang juga terus berhembus membuat kesejukan ditempat ini semakin nyaman.
Seperti sebelumnya Leeyya akan berada disini, menghirup sejuknya udara didanau itu, ia memejamkam matanya, menikmati setiap alunan yang dikicaukan oleh burung-burung diatas sana, mencoba merasakan hembusan angin yang menentramkan hatinya.
Cekrekk....cekreeekk...
"Aaaakkk, siapa lo?" tanya Leeyya yang sangat terkejut melihat seorang pria berada didekatnya.
"Hai, Maaf sudah mengganggu, gue suka ekspresi lo tadi, sangat alami. oh ya kenalin, gue Alan" ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya
"Oh. lo fotografer?" tanya Leeyya tanpa membalas uluran tangan pria itu.
"Hmm....ya, hanya fotografer lepas" jawabnya sembari tersenyum lalu menatap jauh kearah danau itu.
"Gue kesini bukan karena ada masalah, gue disini untuk ini" seraya menunjukkan kamera yang ada ditangannya.
"Apa lo mau gue foto?" ucapnya mengarahkan kamera tepat diwajah Leeyya
"Haha..apaan sih, gak jelas banget lo"
"Nah gitu dong ketawa, dari tadi merengut terus nanti cantiknya berkurang loh" ejek Alan yang memang sedari awal sudah sok asik.
"Ya ya..." balas Leeyya masih tersenyum.
"Eh gue belum tahu loh nama lo"
"Leeyya" jawabnya singkat
"Leeyya? nama lo bagus. kayak orangnya" puji Alan sukses membuat Leeyya tersenyum.
"Hugh...sayang sekali gue harus pergi, btw, gue mau minta kontak lo. tapi gue orang yang amat percaya dengan takdir, jadi gue akan tunggu sampai kita bertemu lagi. kalau begitu bye Leey, sampai jumpa lagi, ketika nanti kita bertemu siap-siap berikan kontak lo dan gue ingin tahu semua tentang lo Leey" tutur Alan seraya terus menjauh dari Leeyya. tak lupa ia terus tersenyum dan melambaikan tangannya seolah tak ingin berpisah dengan orang yang baru saja ia temui itu.
Leeyya yang mendengar penuturan Alan hanya membalasnya dengan senyuman juga, tidak disangka kabur kedanau itu malah bertemu dengan orang aneh seperti Alan. ia akui Alan orang yang sangat asik. meskipun baru berbincang seperkian menit tapi Leeyya sudah tahu karakter Alan itu seperti apa.
"Kenapa Mr. G itu ingin menikahi gue? hah... sekeras apapun gue berusaha berfikir tetap saja tidak ketemu jawabannya" ucap Leeyya frustasi.
Drrttt....Drrttt...
Papi❤️Calling...
"Halo assalamualaikum" jawab Leeyya lemas.
"Leey, cepat pulang kerumah sekarang juga" ucap papi Abdyan dengan suara sedikit cemas.
"Papi, ada apa pi?" tanya Leeyya dan mulai bangkit dari duduknya
"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, lekaslah pulang papi menunggumu nak" kemudian panggilan itu pun terputus.
Leeyya yang jadi sangat khawatir itu pun langsung bergegas kembali ke kediaman keluarganya. ia terus berlari, sialnya tidak ada satu kendaraan pun yang melintasi area itu, hingga akhirnya ia menemukan sebuah motor yang kuncinya masih ada disana. tanpa berfikir panjang Leeyya pun mengambilnya dan membawanya.
"Ya terimakasih banyak bapak, sudah mau saya foto" ucap pria itu.
"Sama-sama mas, jangan lupa ya bikin saya jadi terlihat ganteng hehe..."
"Siap pak, akan saya edit dengan semaksimal mungkin hahaha.... kalau begitu saya permisi ya pak" pamitnya
"Loh...tadi disini....loh..." bingungnya
"Kenapa mas?" tanya bapak-bapak itu.
"Motor saya pak, tadi saya taruh disini. tapi kok tidak ada ya?" tanyanya seraya celingukan kesana kemari berharap ia salah ingat ketika menaruh motornya tadi.
"Yang benar mas? coba ingat-ingat masnya taruh dimana? soalnya disini biasanya aman kok mas. hampir tidak pernah ada pencurian"
"Haduh...benar pak saya taruh disini tadi. walah...mana tuh motor kenangan dari orang lagi pak" pusing pria itu lagi seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau begitu lapor polisi saja mas, saya akan minta bantuan warga sekitar siapa tahu mereka ada yang melihat motor mas"
"Iya pak terimakasih ya pak"
Sedangkan ditempat lain, Leeyya baru saja tiba di kediamannya. dengan tergesa-gesa ia langsung menerobos masuk dan betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang terlihat tidak asing lagi ada dirumahnya dan beberapa orang yang amat asing dimata Leeyya.