
Perpustakaan...
Leeyya kembali datang kekampusnya lebih awal, tanpa menanti para sahabatnya datang, ia langsung menuju perpustakaan. Leeyya memang lebih suka nongkrong di perpustakaan ketimbang di kantin kampus, alasannya sudah jelas, karena ia sangat suka membaca.
"Oke, sekarang masih setengah 8, kelasnya bu Inggrid mulai jam 9 masih ada waktu lah buat baca-baca sebentar" ucapnya senang.
Delila Calling...
'Hallo Leey, dimana?'
'Perpus, kenapa Lil?'
'Buruan kekelas, urgent nih' belum sempat Leeyya menjawab Delila telah mematikan sambungan teleponnya.
"Nih anak kenapa sih? apa jangan-jangan mata kuliah bu Inggrid dimajukan ya?" fikirnya lalu Leeyya langsung bergegas menyusun kembali buku-bukunya dan pergi meninggalkan area perpustakaan.
Leeyya berlari kecil menuju kelasnya, namun saat hendak kembali mengecek handphonenya dari arah depan tiba-tiba ada seorang pria yang juga tengah berjalan terburu-buru lalu tanpa sengaja mereka berdua pun bertabrakan.
"Awwsss..." ringisnya, Leeyya tertabrak cukup keras karena keduanya sama-sama sedang terburu-buru, hingga handphone Leeyya pun terpental cukup jauh.
"Astaga... sakit sekali bokongku" gumam Leeyya pelan.
"Kamu itu kalau jalan lihatnya kedepan, malah mainan HP jadi begini kan jadinya" omel pria itu sembari terus berjalan tanpa mempedulikan Leeyya yang masih kesakitan.
Leeyya termenung sejenak, menatap sosok pria barusan yang amat tidak memiliki perasaan itu terus berjalan meninggalkannya bahkan sama sekali tidak menoleh kearahnya.
"Ck...pak tompel sialan, bisa-bisanya dia mengabaikan gue dan pergi begitu saja tanpa aaaarrgkkk....mengesalkan setidaknya bantuin gue berdiri kek" rutuk Leeyya sembari mencoba berdiri sendiri.
"Awwws...pinggang gue ya Allah rasanya mau poteekkk aaww..." ringis Leeyya memegang pinggangnya sembari berjalan dengan tertatih-tatih.
"Astagaa.. handphone gue.."
"Takk...takk...takk..." ia memukul-mukulkan handphone itu di tangannya sendiri namun sayang handphone tersebut tetap gelap tak mau menyala.
"Ayss....rusak handphone deh gue, iiss pak tompel sialan bikin keki saja bisanya..." rutuknya seraya menatap tajam kearah Gavano yang sudah hampir menghilang dari pandangannya.
Meski dengan tertatih-tatih akhirnya Leeyya pun tiba dikelasnya, para sahabat Leeyya yang melihatnya kesakitan pun langsung menghampiri dan membantunya.
"Astaga Leey, kamu kenapa?" Kania cemas.
"Iya Leey, kamu kenapa?" Delila ikut cemas.
"Nanti gue ceritain sekarang tolongin gue dulu dong" pintanya kemudian Kania dan Delila pun langsung membantu Leeyya untuk duduk.
"hugh...Akhirnya" Leeyya lega karena akhirnya ia tiba dikelasnya.
"Jadi lo kenapa itu Leey?" kini Devo ikut bertanya.
"Ditabrak noh sama pak tompel, mana gak ditolongin" ucap Leeyya masih kesal.
"Ffftt...eh sorry Leey, kok bisa lo berdua tabrakan?" tanya Devo kembali.
"Yah bisalah Dev, tadi gue buru-buru karna kata Delila harus cepat kekelas ada yang urgent jadi gue dari perpus itu setengah berlari, nah pas gue mau cek handphone mau lihat jam eh pak tompel tiba-tiba langsung nabrak gue. mana bukannya ditolongin eh guenya malah di marahin, nyebelin kan tuh dosen satu" keluhnya sontak membuat ketiga sahabatnya itu tertawa karena gemas melihat tingkah Leeyya ketika bercerita.
"Kok kalian malah ketawa sih, respect dong sama temannya" rasa kesal Leeyya semakin jadi ketika sahabatnya malah menertawakannya.
"Hahaha....iya iya sorry Leey, habis lo tuh ya kalau cerita mukanya kocak banget bikin gemas tahu" ledek Kania.
"Hehe iya Leey, oh ya sorry juga gara-gara gue bilang Urgent lo jadi begini deh" ucap Delila
"Jadi maksud lo urgent tadi apa Lil?" tanya Leeyya mulai melupakan hal yang ia alami barusan.
"Itu....emm....itu Leey, bu Inggrid tidak masuk jadi urgentnya mau ngajakin lo nongkrong hehe..." jawab Delila merasa tak enak hati.
"Hufh... capek gue marah mulu hari ini, gue mau pulang aja" Leeyya pun berdiri hendak meninggalkan ruang kelas.
"Leey, jangan marah dong, tadi kita pengen isengin lo doang Leey maaf ya bercanda kita bikin lo kayak gini" cegah Kania yang jadi merasa bersalah.
Melihat para sahabatnya merasa bersalah, Leeyya pun luluh.
"Hemm...gue habis download film horor terbaru gimana kalau nongkrong di apartemen gue aja" saran Leeyya.
"Setuju" ucap mereka serentak.
...........
Markas GZor Black....
"Selamat datang bos" sapa para anggota GZor Black ketika Gavano memasuki ruangan yang minim cahaya itu.
"Dimana mereka?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Ada disel paling ujung bos" jawab seorang pria yang menjadi tangan kanannya.
Gavano berjalan menuju sel paling ujung dan terlihat seorang pria paruh baya yang kini tengah diselimuti rasa takut yang teramat.
Gavano menyeringai, lalu memerintahkan Heru (orang kepercayaan Gavano) untuk membuka pintu sel tersebut.
"Hai pak tua, lama tak berjumpa" ucap Gavano dengan seringaiannya yang menakutkan itu.
Pria paruh baya itu langsung bersujud dikaki Gavano, memohon agar Gavano mau melepaskannya dan memaafkan kesalahannya. namun bukanlah Gavano jika semudah itu untuknya melepaskan mangsanya.
"Melepaskanmu? hmm... bisa bisa, tapi tentunya kita harus bermain dulu jika kamu berhasil dalam permainan maka kamu bebas" ucap Gavano tenang.
"Pe...permainan apa yang anda maksud?" tanya pria itu masih sangat ketakutan.
"Hmm...mudah saja...bunuh saya dengan pisau ini" ucapnya seraya menyerahkan pisau itu.
Pria paruh baya itu pun menerima pisau itu dengan gemetaran, ia tidak bisa mengatasi rasa takutnya saat ini.
"Namun tunggu dulu, bagaimana jika kita bermain yang ringan dulu? seperti... permohonan terakhir" ucap Gavano masih dengan sikapnya yang tenang.
"Pper.. permohonan terakhir?"
"Ya, jadi permohonan terakhir saya adalah saya hanya ingin tahu siapa orang yang memintamu untuk membuat perusahaanku bangkrut?" tanyanya dingin.
Pria tua itu nampak terdiam, membuat Gavano menjadi tidak sabar untuk melenyapkannya sesegera mungkin. kini rahangnya mengeras semakin lama pria itu berfikir semakin geram Gavano dibuatnya.
"Baiklah jika kau tak mau memberitahu maka saya tidak akan sungkan lagi" Gavano mulai menggulung kemeja lengan panjangnya hingga ke siku.
"Tttunggu..." pria itu gemetaran seketika ia menelan salivanya sendiri.
Dengan rasa takutnya itu akhirnya ia mengungkapkannya.
"Tuan Wilson dari Will Production" ungkapnya
"Woow...sayang sekali kau terlambat pak tua, saya sudah mengetahuinya, tadinya saya ingin berbaik hati membiarkan anda untuk Jujur dan mengakui kesalahan anda namun sayang kesempatan itu kau buang sia-sia" ucap Gavano menyeringai.
Braakk....
Tanpa aba-aba Gavano langsung menendang bagian dada pria itu hingga ia terpental dan mengerluarkan darah dari mulutnya.
Uhuukk....
"Am... ampun tuan ampun...hikss..." mohonnya
"Ayo permainan baru saja dimulai" ucap Gavano tersenyum.
"Dasar iblis" gumam Jody yang baru saja tiba ruang bawah tanah.
Sreeeett....
Sebuah goresan panjang berhasil merobek celana dasar dari pria itu hingga merobekkan betis pria tua itu.
"Aaaaaaaakkk" teriakannya begitu miris terdengar.
"Ayolah, kau sudah ku berikan pisau kesayangan ku itu kenapa kau malah menggunakannya untuk melukai dirimu sendiri ha?" ledek Gavano.
Pria itu hanya menangis seraya terus memohon ampunan Gavano.
"Haihh... sungguh membosankan pak tua ini" Gavano pun kembali mengambil pisau kesayangannya, kemudian keluar dari ruangan pengap itu.
"Siapkan air garam dan siramkan kekakinya, supaya luka cepat sembuh....hahahaha...." tawanya menggelegar membuat seisi ruangan bergidik ngeri.
"Bukan sembuh bos yang ada rasanya seperti melepuh, amat perih" batin Jody merasa ngeri.
"Jody, kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" ucap Gavano menatap Jody.
"Sangat tahu bos" Jody langsung menyahut.
"Bagus" setelah itu Gavano pergi meninggalkan markas mereka.