Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 12. Bimbangnya pak Abdyan



Seperti yang telah Gavano dan Jody diskusikan kemarin, tibalah hari ini mereka akan mendatangi L.A.B company. dimana ini akan menjadi negosiasi yang sangat alot, karena mereka tahu jika pak Abdyan tidak akan semudah itu untuk menyerahkan putri semata wayangnya kepada Gavano yang telah dikenal cukup kejam dalam dunia bisnis.


Brakk....


Terdengar suara pintu dari luar lobby, ternyata itu adalah Mr. G dan asistennya. keduanya berjalan beriringan, dengan langkah pasti keduanya menuju ke meja resepsionis. tanpa memedulikan tatapan penuh kekaguman dari setiap wanita yang mereka lewati. kini keduanya diarahkan untuk menaiki Lift terlebih dahulu, kemudian mereka akan di antarkan menuju ruang pimpinan disana.


Tokk...tokk....


"Masuk" titah sang pemilik ruangan.


"Permisi pak Abdyan, maaf ada yang ingin bertemu dengan bapak" ujar sang sekretaris.


"Suruh masuk"


Tanpa menanti sekretaris tuan Abdyan, kedua orang itu pun masuk dan langsung menduduki sebuah sofa yang ada didalam ruangan tersebut.


Pak Abdyan yang melihat ketidakdsopanan dari dua anak muda itu pun hanya memandangi mereka dengan sinis.


"Selamat siang pak Abdyan Raygan" sapa Jody ramah


"Siang, apa gerangan yang membuat Mr. G yang super sibuk ini bisa datang kekantor saya yang kecil ini?" tanya Pak Abdyan sembari menatap Gavano dengan tatapan sedikit aneh.


Gavano tersenyum tipis lalu meminta Jody untuk memberikan sebuah berkas yang sudah mereka siapkan,


"Jody" Gavano langsung menggerakkan jari telunjuknya, Jody yang paham pun langsung membuka tasnya dan memberikan sebuah map kepada pak Abdyan.


Dengan sedikit ragu, pak Abdyan menerima map tersebut dan membukanya seraya sesekali melirik kedua pria yang ada didepannya itu.


"Ini?" ucapan pak Abdyan terhenti, tak percaya dengan apa yang ia lihat kini.


"Ya, saya akan menaruh 75% saham saya diperusahaan anda, dengan satu syarat" ucap Gavano datar.


"Apa syarat yang anda ajukan?" tanya pak Abdyan ragu.


Gavano nampak tersenyum penuh arti,


"Saya menginginkan putri anda yang bernama Leeyya" pungkasnya.


"Apa? tidak, saya tidak akan mempertaruhkan kebahagiaan anak saya hanya untuk bisnis" pekik pak Abdyan seraya melemparkan map tersebut ke atas meja tepat di depan Gavano dan Jody.


"Fikirkan dulu saja pak Abdyan jangan terburu-buru menolak tawaran kami. ingat kini perusahaan anda sudah di ambang kebangkrutan, jika bukan perusahaan kami yang berinvestasi apakah masih ada perusahaan lain yang mau berinvestasi di perusahaan ini pak Abdyan?" ucap Gavano menatap manik mata pak Abdyan.


Pak Abdyan tertunduk, ia tahu betul bagaimana kondisi perusahaannya ini, memang benar jika perusahaan mereka bergabung maka perusahaannya akan hidup kembali dan kemungkinan akan berjaya. pak Abdyan juga tidak tega jika karyawannya menjadi pengangguran akibat perusahaannya bangkrut. namun ia juga tak bisa membiarkan anak semata wayangnya itu dinikahi oleh Mr. G yang terkenal dengan kekejamannya. ia takut putrinya itu akan terluka dan tidak bisa menemukan kebahagiaannya selamanya. bimbang, ragu semua seakan menyita fikiran pak Abdyan.


"Saya beri waktu hingga lusa nanti, silahkan hubungi saya" ucapnya seraya menaruh kartu namanya dimeja itu.


Setelah Gavano dan Jody pergi dari ruangan itu, pak Abdyan mengambil kartu nama tersebut. ditatapnya kartu nama berwarna silver itu, disana bertuliskan Mr. G Zergio berserta nomor handphone-nya.


"Tunggu, bagaimana Mr. G bisa mengetahui tentang Leeyya? semenjak Leeyya berkuliah ia tinggal sendiri di tengah kota L. apakah mereka pernah bertemu disana?" pak Abdyan bergelut dengan fikirannya sendiri.


.............


Disebuah Resto yang bernama MEshe resto, tepatnya diruangan VIP 01. Leeyya dan Kania terlihat tengah sibuk mempersiapkan dekorasi untuk proses lamaran sahabatnya yaitu Devo dan Fia malam ini.


"Leey, tolong dong bunga itu mumpung gue masih di atas nih" pinta Kania yang sedang mendekorasi dinding bagian atas dengan bunga-bunga plastik.


"Kania, kayaknya itu sudah cukup deh jangan terlalu ramai nanti kurang enak dilihat" ucap Leeyya


"Oh oke deh" Kania pun turun dari tangga lipat.


"Delila mana sih Kan?" tanya Leeyya yang sedari tadi tidak melihat sahabat satunya itu.


"Oh ya lupa ngasih tahu, Delila pergi mengambil cincin dan bunga bersama Devo, Leey" beritahu Kania.


"Ohhhh....."


Usai menyelesaikan semua persiapan untuk lamaran Devo, Leeyya dan Kania yang sudah cukup lapar itu pun langsung memesan makanan disana.


Tak berapa lama pun makanan mereka tiba, keduanya terlihat sudah tidak sabar untuk menyantap makanan yang nampak lezat itu. saat keduanya hendak menyuapkan makanan mereka kedalam mulut,


Braakkk.....


Pintu ruangan itu terbuka cukup keras, terlihat Devo dan Delila yang mengikutinya dari belakang. Devo terlihat sangat marah hingga semua dekorasi yang sudah Leeyya dan Kania siapkan dihancurkan oleh Devo, balon-balon yang tergantung itu pun meletus kini ruangan yang awalnya terlihat indah kini sudah sangat berantakan. Leeyya dan Kania yang tidak tahu apa-apa itu pun hanya terpaku ditempatnya, mereka terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Devo.


"Devo, stop apa yang lo lakuin sih?" Kania terus mencoba menghentikan Devo namun seperti angin yang hanya melewati telinganya, Devo terus mengamuk dan menghancurkan ruangan itu.


"Devo, berhenti" kini giliran Leeyya yang berusaha. menghentikan Devo.


"Berhenti Dev" lagi-lagi Devo tak mengindahkan ucapan para sahabatnya itu.


Satu tamparan mendarat di wajah tampan Devo dan sukses menghentikan Devo.


Kini Devo terduduk lemas, menatap nanar kedepan lalu tak terasa cairan bening keluar dari matanya. melihat itu Leeyya jadi merasa bersalah, ia fikir Devo menangis karena dirinya menampar Devo cukup keras.


"Dev, ada apa dengan lo?" tanya Leeyya kini duduk berhadapan dengan Devo.


"Lil, Devo kenapa sih?" bisik Kania kepada Delila.


Delila menggelengkan kepalanya, ia juga syok melihat Devo yang seperti itu.


"Tadi kami melihat Fia" balas Delila ikut berbisik ditelinga Kania.


"Lah terus kenapa kalau melihat Fia? kalian ketahuan sedang merencanakan lamaran?" tanya Kania kembali lalu Delila menggelengkan kepalanya.


"Dev" panggil Leeyya kembali


"Fia, dia akan menikah dengan pria lain" ucap Devo lirih.


"Apa???" pekik Leeyya dan Kania bersamaan, sedangkan Delila hanya bisa diam dan mengangguk ketika kedua sahabatnya itu menatapnya.


"Sih Anj** tuh cewek benar-benar ya" kesal Kania tidak dapat menahan emosinya.


"Gue mau pulang, maaf sudah merepotkan kalian" ucap Devo lemah, ia langsung berjalan dengan lunglai.


"Lil, hantarkan Devo ya, masalah disini biar gue sama Kania yang urus" titah Leeyya.


"Iya Lis, sana buru susulin Devo nanti dia berbuat yang tidak-tidak lagi" timpal Kania lalu Delila pun mengangguk dan pergi menyusul Devo.


Seperginya Delila dan Devo, Kania maupun Leeyya nampak terdiam dan saling melirik. menatap kekacauan yang sudah sahabatnya perbuat tadi.


"Huft..." keduanya sama-sama membuang nafas kasar.


"Besok-besok kalau Devo mau ngelamar cewek lagi gue kapok deh Leey" ujar Kania seraya menggelengkan kepalanya.


Leeyya mengulum senyum manisnya,


"Tapi gue bersyukur banget Kan, akhirnya Devo melihat sendiri. walaupun sakit, tapi itu lebih baik dari pada dia harus dibohongi Fia terus menerus"


"Lo benar Leey, sih Fia tuh emang dasar ya. kalau sampai gue ketemu dia, lihat aja bakal gue jambak rambutnya, gue tarik kupingnya dan gue bakal remas mukanya sampai lecek" geram Kania


Leeyya yang menyaksikan sahabatnya menggerutu itu hanya bisa menanggapinya dengan tertawa,


"Sudah sudah, lebih baik kita membereskan semua ini Kan, kasihan mbak-mbak pelayannya kalau harus membereskannya sendiri"


Saat Leeyya dan juga Kania membereskan tempat itu, tiba-tiba dua pelayan wanita masuk dan cukup terkejut dengan ruangan yang kini terlihat kacau.


"Astaga..." lirih salah satu pelayan itu.


"Hehe...maaf ya mbak tempatnya jadi begini" ucap Leeyya tak enak hati.


"Oh tidak apa-apa kok nona, ini sudah menjadi tugas kami" jawab pelayan itu dengan senyum ramah.


"Kalau begitu mari kita bereskan sama-sama saja biar cepat selesai" ajak Leeyya kembali


Sebenarnya dua pelayan itu cukup penasaran tapi mereka juga tidak berani untuk bertanya kepada pelanggannya itu. Leeyya yang melihat ekspresi penuh tanya dari kedua orang tersebut pun tersenyum lalu berkata,


"Hmm... ini namanya ekspektasi tidak sesuai dengan harapan mbak" ucapan Leeyya itu sontak membuat kedua pelayan tadi tersenyum malu.


"Tidak apa-apa kok mbak, teman saya ini memang cukup peka haha..." timpal Kania khawatir jika kedua pelayan itu merasa bersalah.


"Maaf ya nona, bukan maksud kami untuk lancang"


"Iya tidak masalah mbak, santai saja" jawab Leeyya sambil menunjukkan senyum manisnya.


1 jam telah berlalu,


"Aaghh....akhirnya selesai juga" lega mereka.


"Kalau begitu sisanya kami minta tolong ya mbak. maaf sudah membuat tempatnya kacau, untuk piring dan gelas yang pecah akan kami ganti kerugiannya" ucap Leeyya dengan sopannya.


"Oh iya nona tidak apa-apa, silahkan menuju kasir kami saja" balas pelayan itu masih terlihat ramah


Setelah keduanya pergi, kedua pelayan itu kembali melanjutkan aktivitas mereka yaitu membersihkan sisa kotoran diruangan itu.


'Eh nona tadi sangat baik ya, belum pernah loh saya lihat orang kaya yang ramah dan baik hati seperti itu' kedua pelayan tadi mulai membicarakan Leeyya dan Kania


'Iya ya, sudah baik, cantik dan bertanggung jawab. paket komplit tuh' sahut temannya.