Mysterious Lecturers

Mysterious Lecturers
Chapter 5. Dosen Baik.



Hari berikutnya Leeyya kembali kekampusnya.


"Leey, tugas pak tompel udah?" tanya Kania.


"Sudah" jawab Leeyya seraya memegang perutnya.


"Kenapa lo Leey? kok pucet banget" cemas Kania.


"Duh, gak tahu nih Kan, dari tadi perut gue sakit banget. mana udah 5 kali gue bolak balik ke WC" jawab Leeyya mulai lemas.


"Kok bisa sih Leey, yasudah lo ke ruang kesehatan aja Leey, nanti tugas lo biar gue yang bantu kumpulin" Akhirnya Kania membantu Leeyya berjalan keruang kesehatan.


"Mana Leey tugas lo?" tanya Kania yang sudah mau masuk kekelas Gavano.


"Ditas gue Kan" jawabnya sembari menunjuk kearah tasnya.


"Yasudah gue kekelas dulu ya Leey, nanti setelah kelas kami kesini buat nemenin lo" Leeyya hanya mengangguk seraya memejamkan matanya.


Di ruang kelas...


Gavano tiba dikelas dengan tampang dinginnya,


"Kumpulkan tugas kalian" titah Gavano sambil menatap para mahasiswanya.


"Kemana gadis sembrono itu?" tanya Gavano dalam hati.


"Sudah semua?"


"Sudah pak" jawab semua mahasiswanya.


"Saya ingin salah satu dari kalian menjelaskan tulisannya ini kepada saya dan semua orang yang berada disini" sontak perkataannya itu pun membuat para mahasiswanya ketar ketir, pasalnya sebagian dari mereka hanya mengcopy paste tugas dari temannya atau mencopy paste lewat internet.


"Devo Aleandra" panggil Gavano


"Anjir nama gue woii" bisik Devo langsung merasa panik, sedangkan Kania dan Delila yang duduk berdekatan dengannya hanya bisa menahan tawanya.


"Saya pak?" tanya Devo berpura-pura tak mendengar.


"Iya selama nama kamu masih Devo Aleandra, silahkan maju ke depan" titahnya kembali.


Devo pun berdiri dan berjalan kedepan sesuai yang diperintahkan dosennya itu,


"Hehe..." Tiba didepan kelas Devo malah cengengesan membuat semua mahasiswa ikut tertawa


"Saya minta kamu untuk menjelaskan tugas yang saya berikan, bukannya cengengesan seperti orang gila" ketus Gavano.


"Ekhem... mau nya juga begitu pak, tapi saya lupa isi laporan saya itu apa" Devo berkata jujur


"Hahahaha" jawaban Devo sukses membuat satu kelas tertawa terbahak-bahak membuat Gavano kesal.


"Berhenti" Gavano dengan suara yang cukup keras.


"Ambil kembali tugas kamu dan pelajari setelah kamu paham isi dari tugas itu, kamu bisa menghadap saya. kalau tidak nilai kamu akan saya kosongkan" ucap Gavano sambil menyerahkan tugas milik Devo.


"Baik pak" Devo mengambil kembali tugas itu dengan pasrah.


"Selanjutnya, Leeyya Faleesha Ablia. silahkan maju ke depan"


"Maaf pak, Leeyya tadi tiba-tiba perutnya sakit dan tidak bisa hadir pak" ujar Kania


"Yang mengumpulkan tugas ini siapa?" tanya Gavano.


"Saya pak" jawab Kania kembali


"Bawa kembali tugas ini, suruh dia nanti menghadap saya" Gavano langsung melemparkan tugas yang sudah Leeyya buat didepan mejanya.


"Astaga pak tompel sadis bener dah" kesal Devo


"Iya Leeyya kan sakit bukannya malas-malasan" sahut Delila


"Oke sepertinya tidak ada yang sesuai dengan harapan saya. untuk tugas selanjutnya saya tidak mau seperti ini lagi. kalian harus siap jika saya meminta kalian untuk menerangkannya kembali. apakah kalian paham?" ucap Gavano


"Paham pak" seru mereka serentak


Gavano sengaja keluar paling terakhir, disana ia mendengar ketiga sahabat Leeyya berbicara mengenai kondisinya saat ini.


"Ternyata benar-benar sakit, saya kira memang suka bolos" batin Gavano


Gavano berjalan menyusuri koridor, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya dan meminta bantuan Gavano untuk menjaga ruang kesehatan sebentar sembari orang itu selesai menghadap dekan.


"Awwss..." ringis seseorang dari salah satu bilik.


Gavano yang baru saja tiba tak sengaja mendengar ringisan seseorang, ia pun langsung menghampirinya.


"Ada apa? apakah anda memerlukan sesuatu?" tanya Gavano tanpa ekspresi.


"Sakit banget...awwss" Ia tidak menjawab pernyataan Gavano, ia lagi-lagi meringis karena sakit diperutnya.


Gavano yang mulai sedikit cemas itu pun langsung membuka gorden yang menjadi penutup antar bilik diruangan tersebut. betapa terkejutnya ia melihat gadis yang membeli sate semalam, ternyata adalah mahasiswinya dikampus.


"Anda sangat pucat, lebih baik anda dibawa ke rumah sakit" seru Gavano melihat Leeyya yang sudah sangat pucat dan lemas.


Leeyya mendengar suara namun terdengar samar ditelinganya, tubuhnya kini seakan melayang, walau samar-samar ia melihat dosen tompelnya kini sedangan mengangkat tubuhnya. kemudian pandangannya perlahan mulai kabur lalu detik berikutnya Leeyya pun tak sadarkan diri.


Tiba dirumah sakit, Gavano langsung meminta perawat untuk memeriksa keadaan Leeyya.


Lalu 30 menit kemudian, dokter yang memeriksa Leeyya pun keluar dan menghampiri Gavano.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Gavano


"Anda tenang saja, istri anda hanya mengalami nyeri akibat menstruasi. sekarang hanya perlu istirahat lalu istri anda dapat dibawa pulang" jawab dokter tersebut.


"Oh ya terimakasih, tapi maaf dok, dia bukan istri saya" ujarnya dengan ekspresi datar.


"Oh..begitu kalau begitu saya mohon maaf pak, saya kira beliau adalah istri anda" balas dokter tersebut.


"Bukan" sahut Gavano


"Baiklah nanti setelah beliau sadar, tolong berikan dia air hangat ya pak. jika tidak ada hal yang ingin ditanyakan saya permisi pak" pamit dokter itu dan Gavano menganggukkan kepalanya.


Gavano pun masuk keruangan Leeyya, ia duduk disebuah sofa sembari memainkan ponselnya. dan 1 jam kemudian, Leeyya pun sadar dan melihat sekelilingnya. ruangan yang tampak asing dan juga terlihat seorang pria bertompel yang sangat dikenalnya.


"Pak Gavano" lirihnya lalu ia pun refleks terbangun dari tidurnya, membuat kepalanya menjadi pusing kembali.


"Awwws..." mendengar rintihan Leeyya, Gavano pun terbangun dari tidurnya.


"Anda sudah sadar?" tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Leeyya hanya menganggukkan kepalanya, ia sedikit takut dengan dosennya ini, karena terakhir kali ia kena hukuman gara-gara telat masuk jam mata kuliahnya.


"Ini minum dulu air hangatnya agar nyerinya segera mereda" Gavano memberikan segelas air hangat kepada Leeyya.


Leeyya pun mengambil dan meminumnya sedikit demi sedikit.


"Nah, sambil makan baru setelah itu obatnya diminum" ucap Gavano


Perhatian Gavano tersebut, justru membuat hati Leeyya bergetar. baru kali ini hatinya merespon, biasanya Leeyya selalu cuek dengan pria. mengobrol bahkan diberikan perhatian yang lebih tetap saja hatinya tak merasakan apapun, namun kini berbeda, sebuah perasaan hangat dan sangat mendebarkan membuat wajah putih Leeyya kini bersemu kemerahan.


"Terimakasih pak Gavano, ternyata anda dosen yang baik" gumam Leeyya yang tentu saja Gavano dapat mendengarnya juga.


"Sama-sama" jawab Gavano singkat membuat Leeyya terkejut sekaligus senang.


"Malam ini anda menginap disini saja, besok pagi baru pulang. oh ya, maaf tadi saya menjawab telepon diponsel anda. sepertinya sahabat anda khawatir, jadi saya minta mereka datang kesini" ucap Gavano


"Kalau begitu saya pergi dulu, teman-teman anda mungkin akan segera tiba" tambahnya lalu mengambil jaketnya, saat hendak membuka pintu, Gavano berbalik arah dan mulai mendekat kearah Leeyya.


"Pakai jaket ini, disini udaranya sangat dingin" dengan telaten Gavano pun memakaikan jaketnya ketubuh mungil Leeyya.


"**... terimakasih pak nanti akan saya kembalikan jaketnya setelah saya cuci" ucap Leeyya seraya menunduk, kini wajah Leeyya sudah seperti kepiting rebus. teramat malu untuknya menegakkan wajahnya kearah dosennya itu.


"Tidak perlu terburu-buru, yang penting jaga kesehatan anda dengan baik" lalu Gavano benar-benar meninggalkan ruangan Leeyya.


40 Menit setelah kepergian pak Gavano, para sahabat Leeyya pun tiba.


"Leeyyaaaa...." pekiknya ketika pintu ruangan Leeyya terbuka.