
“ku kira hatiku sudah kuat untuk menahan guncangan atas kepergianmu, Tapi nyatanya hati ini hanya daun kering ketika jauh dari mu.”
Ketika usiamu 18 tahun….
By : Alvy Syahrin
Segala telah berubah sejak kau enam belas tahun.
Teman temanmu : mereka tak lagi sama.
Sebab ketika kalian berkumpul di pojok meja kantin, mereka hanya sibuk dengan ponselnya, tersenyum di detik sekian, murung di detik sekian,menghilah di hari hari tertentu,kembali kepadamu dengan air mata keesokan harinya.
Dan, kau tak polos-polos amat saat kala itu.
Kau bisa melihat, saat enam belas tahun. Cinta seolah menjadi dunia baru bagi teman temanmu. Seperti pembuka kafe baru dengan promosi menggiurkan, orang orang mendatanginya, hiruk-pihuk, terjepit di dalamnya, dan ruang itu seolah sudah penuh saat kau tiba. It’s like yau didn’t belong here and there. Ketika usiamu enam belas tahun, kau tak tahu banyak tentang cinta. Dirimu yang di tinggalkan, dan persahabatanmu secara keseluruhan.
Saat kau enam belas tahun, segalanya telah menjadi jelas.
Teman-temanmu telah mencintai dan di cintai.
Tak ada lagi cerita hingga larut bersama teman. Tak ada lagu jalan-jalan bersama teman di malam minggu. Tak ada lagi kedatangan teman di rumahmu.
Mereka sudah menemukan the one.
Menghabiskan waktu bercerita semalam penuh bersama the one. Jalan jalan bersama the one. Seakan seluruh hidupnya hanya tentang the one.
Sejujurnya, ini sedikit memojokkan. Di usia enam belas tahunmu, kau mulai kawatir: Akankah ada seseorang yang mau menerimaku yang biasa-biasa saja? Mengapa aku tidak bisa di cintai seperti teman temanku di cintai? Mengapa tidak ada seorang pun yang mau melihat diriku?
Sejak usiamu enam belas, cinta telah mengambil porsi terbesar dalam pikiranmu. Sayangnya, yang kau tahu tentang cinta hanyalah: dua orang,saling mencintai dan dicintai, saling menyemangati untuk menggapai mimpi bersama, lalu menikah, memiliki anak dan cucu yang lucu, bahagia selamanya.
Puncaknya,saat kau delapan belas tahun.
Kau bertemu cinta pertamamu dan patah hati pertamamu. Bertahun-tahun menanti cinta,kau
mencoba yang terbaik, mencintai begitu dalam,di cintai begitu tulus,lalu,seiring waktu, topengnya terbuka,mendung hadir,badai turun,dan, dalam sekejap mata, ia mengancurkan segalanya. Masalah-masalah sepele,keegoisan yang tak masuk akal,perubahan hati yang signifikan: semua itu berubah pada
suatu kecelakaan besar: patahnya hatimu: sakit yang tak berdarah. Sakit tanpa luka konkrit. Terlalu susah bagaimana dan di mana harus di obati.
Dan, saat kau delapan belas tahun, kau sadar cinta butuh konsekuensi, dan konsekuensinya adalah keselamatan hatimu: keselamatan dirimu sendiri. Sampai sampai kau takut jatuh cinta karna tak mau seluruh dirimu patah seperti ini lagi.
Lalu, tahu-tahu, usiamu sudah dua puluh delapan tahun.
Kau bertemu seseorang baru. Cinta yang baru, kebahagiaan yang baru,patah hati yang sama.
Lima tahun kemudian, kau sedang sendiri, di kubikal favoritmu, di temani secangkir kopi
yang sudah dingin, leptop yang sudah tak tersentuh, dan sebuah undanga pernikahan dari temanmu.
Ini adalah undangan pernikahan sekian dari teman-temanmu.
Yah, teman-temanmu telah menikah. Beberapa bahka telah memiliki anaanak yang lucu. Waktu terus beranjak, foto-foto pernikahan bermunculan di instagram, keromantisan di pamerkan di sana-sini, dank au semakin ketakutan: kapan tiba waktunya?
Tidakkah
ini mengingatkanmu pada dirimu yang masih enam belas tahun? Kau pikir ada
pelajaran membekas yang kau ambil selama sebilan tahun teperangkap dalam cinta,
patah hati jatuh cinta lagu, patah hati lagu. Ternyata, tak ada perbedaan
signifikan pada hati enam belas tahunmu dan hati dua-puluh-lima-tahunmu.
Tetapi, dudah, tidak apa apa. Mudah-mudahan kau segera menemukan pelajaran
membekas sehingga kau kau tak perlu lagi kawatir pada hal-hal semacam itu.
Tetapi, kukatakan sejak sekarang,supaya kau tak kaget.
Nanti, saat kau tiga puluh atau empat puluh tahum, kau akan mendapati bebetapa memutuskan bercerai dari pasangannya. Beberapa melanjutka petualangan cinta yang baru.beberapa focus menjadi orang tu tunggal. Cinta tk pernah terlihat semengerikanitu, saat kau masih delapan belas. Belum lagi, nanti, saat kau enam puluh tahun. Kabar duka akan datang dari teman-temanmu. Pasangan mereka meninggal. Teman-temanmu memutuska tak akan lagi menikah.
Menua tanpa pasangan baru.
Pada diri enam puluh tahunm aku belajar:
Pasti ada suatuyang lebih penting selain cinta dan hidup ini. Maksudku, jika cinta adalah hal yang paling penting dalam hidup. Pastilah diri-enam-puluh-tahunmu mencari cinta yang baru, seperti yang sudah sudah. Tapi semacam ada perjalanan yang membekas karna tak berhenti mencari, dan itu bukan sebatas karna kau terlalu tua untuk menikah, itu bukan sebatas karna kau tak ingin kekasih sejatimu. Enam puluh tahun menjalani hidup, pastilah kau menemukan sesuatu berharga dalam hidup.
Yang lebih berharga dari cinta…..
** " Assalamuallaikum\, Ini kisah yang saya kutip dari Instagram. cuman sekedar bonus buat para pembaca. **
Saya bukan seorang penulis yang baik, banyak dalam karya-karya saya yang salah penulisannya. saya sangat berterima kasih buat teman teman yang komen kalau ada bahasa yang salah. dan juga saha mohon tinggalkan jejak buat kalian para pembaca. agar saya tau yang baca bukan hanya sekedar angin. ya dukungan kalian dan komentar kalian sangat berguna agar saya lebih semangat lagi untuk berkarya. mungkin sangat panjang kalau saya bercerita tentang keluh kesah saya dalam membangun cerita ini dan saya sangat memohon untuk teman teman yang sangat ingin agar karya ini terus berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Aseek, ok lah terima kasih buat teman- teman yang sudah mendukung karya ini.
Saya akan cantumkan Instagram saya buat teman teman yang pengen nanya yang lebih pribadi lagi.
@anidaakhyar