My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Hari Lamaran



Andreas gelisah dalam kamarnya. Lelaki itu tampak frustasi mengingat apa yang diucapkan Cherry.


"Siapa yang menolak cintamu? Saat itu, aku menerima cintamu."


"Apa-apaan dia? Bagaimana bisa menerima cinta dengan melukai? Benar-benar psikopat!" gerutu Andreas kesal.


Bahkan dulu ia tak meminta maaf atau berkata apa pun. Cherry benar-benar aneh untuk ukuran seorang wanita.


"Tau, ah! Pusing gue mikirin dia." Andreas beranjak dari sofa. Ia menatap penampilannya di cermin yang cukup keren dengan mengenakan batik motif mega mendung khas Cirebon berwarna biru tua. Malam ini, ia akan melamar Cherry untuk dijadikan calon istri. Sungguh, ia masih enggan untuk menerima, tetapi demi sang mama, tak ada cara lain untuk menggantinya.


"Tenang, Dre! Cuma nikah sama Cherry, bukan disuruh nguras air laut terus ketemu Nyi Roro Kidul." Andreas menghela napas cepat, lalu kembali menyisir rambutnya yang sudah ia acak-acak tadi. Setelah selesai, ia keluar menghampiri sang mama.


"Ya ampun, anak mama ganteng banget. Kalau penampilan kamu kayak gini, Mama jadi inget mendiang papamu. Dia sama gantengnya pas ngelamar Mama dulu." Citra mengusap air mata yang terjatuh di pipinya. Mengingat Darren adalah hal yang paling mengharukan untuknya.


"Udah, jangan nangis. Make up-nya luntur nanti. Sayang mahal-mahal bayar MUA terkenal," ejek Andreas yang membuat mamanya mencebik.


"Waterproof ini!" Citra menepuk lengan sang anak.


"Mbak, semua seserahan udah masuk mobil. Kita berangkat sekarang?" tanya Ciara—adik Citra yang sejak beberapa hari ini membantunya untuk mempersiapkan seserahan.


"Ya udah, ayo. Takut telat gak enak," sahut Citra.


Bukan hanya Ciara yang membantu, tetapi dari pihak keluarga Darren pun datang menolong. Ada dua adik mendiang suaminya yang tulus datang.


"Mbak Cit, Dre, makasih ya udah mau nyelametin perusahaan Abang. Andai kalian tidak melakukan ini, entah gimana hidup kita. Kami hanya bergantung di perusahaan mendiang Abang Darren untuk hidup. Kami berhutang banyak pada kalian," ujar Darish adik pertama Darren.


"Kamu ini kayak ke siapa aja. Mbak mempertahankan perusahaan karena emang perusahaan itu berharga buat kita. Bukan cuma kamu dan Daisy yang bergantung di sana, Mbak juga. Jadi, mempertahankan perusahaan itu harus. Udah, jangan merasa sungkan gitu. Kita ini keluarga dan jangan nunjukkin wajah sedih. Hari ini Andreas bakal ngelamar anak gadis orang. Kita harus bahagia," sahut Citra tersenyum pada kedua adik iparnya itu.


"Bang, beneran mau nikah sama Cherry? Dia psikopat, Bang. Gak takut dilempar dari lantai 25?" tanya Sagara, sepupu Andreas juga anak dari Darish.


"Jangan ngadi-ngadi kalau bicara, Bocah!" Andreas menggetok kepala remaja berusia delapan belas tahun itu.


Setelah semua sudah siap, mereka pun pergi menuju kediaman keluarga Kusuma. Kali ini Andreas ikut mobil sang mama, tidak menggunakan motor kesayangannya. Sepanjang jalan, lelaki itu terdiam. Rasa-rasanya ia ingin sekali kabur dan tidak jadi menikah dengan gadis psikopat itu. Teringat kembali bagaimana teman-temannya membahas soal Cherry.


"Lu yakin mau nikah sama itu cewek? Ngeri, Bro. Gue pernah denger katanya dia selalu menghabisi orang-orang yang dirasa mengganggunya," ujar Nico, teman tongkrongan Andreas. Lelaki itu memang bercerita pada teman-temannya bahwa ia akan menikah bulan depan dengan anak pemilik perusahaan Kusuma Group.


"Ah, iya. Elu tau pemilik perusahaan PT. Makmur? Gara-gara nyinggung produk dari PT. Kusuma Food, gak lama perusahaannya musnah, Bestie. Katanya sih kerjaan direktur utamanya. Ngeri gila," sahut teman Andreas lainnya.


Lelaki itu mengusap wajahnya. Ia benar-benar gelisah dengan apa yang didengar. Padahal, setelah kejadian menolong Cherry tempo hari, perasaannya sedikit tenang. Namun, setelah bertemu teman genk motornya dan mendengar banyak hal soal Cherry, perasaannya kembali takut. Apakah Cherry memang sekejam itu?


Ah, Andreas benar-benar galau.


"Dre!" Lelaki itu terkejut saat sang mama menepuk bahunya.


"Kenapa, Ma?" tanya Andreas.


"Udah sampe. Ayo, keluar."


Andreas menatap keluar jendela. Ah, kenapa cepat sekali mereka sampai?


Lelaki itu masih bergeming di dalam mobilnya.


"Ayo, Dre! Bentar lagi acara mau mulai," sahut Ciara pada keponakan.


"Ma, aku gak mau nikah sama Cherry!" Dengan cepat Andreas menutup pintu mobil, lalu pindah ke depan dan melajukan mobilnya.


"Andreas!" pekik Citra terkejut melihat anaknya kabur.


**


Di salah satu kamar kediaman Kusuma, Cherry menatap pantulan dirinya di cermin. Sebuah kebaya modern berwarna cokelat muda terbalut begitu indah di tubuh semapainya. Cherry menghela napas dengan tatapan kosong.


"Kamu milikku dan selamanya akan menjadi milikku! Aku cinta padamu, Cherry."


Suara itu kembali terngiang di telinganya. Jantung Cherry berdebar hebat dengan ingatan masalalu kembali datang yang membuat wanita itu gemetar hebat.


"Cher, kamu sudah siap?" tanya Widuri yang masuk ke kamar anaknya.


"Ma."


"Cherry, astaga." Widuri meraih tubuh Cherry yang hampir saja terjatuh. "Kamu kenapa, Nak?" tanyanya khawatir.


"Suara itu datang lagi, Ma," lirih Cherry dengan tangan gemetar.


"Astaga. Kamu tenang, Sayang. Mama di sini." Widuri memeluk anaknya dengan erat. Sesekali tangannya mengusap punggung Cherry. "Lawan, Nak. Kamu kuat, ada Mama di sini."


"Ma, keluarga Tante Citra sudah datang, Papa bilang— Loh, Kakak kenapa?" Sakura terkejut langsung menghampiri sang kakak juga mamanya.


Sakura pun beranjak dan langsung memanggil papanya.


"Maafin Mama, Nak. Dosa Mama sangat besar padamu." Widuri memeluk anak kesayangannya dengan erat. "Napas, Sayang. Jangan ditahan." Ia makin khawatir saat dada putrinya mulai naik turun dengan cepat.


"Cherry, ini Papa. Kamu tenang, ya." Raharsya datang dan langsung memeluk anak sulungnya.


"Suaranya ganggu banget, Pa," lirih Cherry.


"Ma, ambilkan obat Cherry." Widuri pun beranjak dan mencari obat milik sang anak. "Tenangkan dirimu, Sayang. Kamu terlalu stres makanya suara itu balik lagi. Papa sudah bilang jangan memikirkan berita di luaran sana. Papa sudah menanganinya. Sekarang, kamu fokus dengan pernikahanmu, ya. Papa percaya Andreas akan membuatmu bahagia dan melupakan masa itu." Raharsya mengusap punggung anak perempuannya. Sama seperti sang istri, ia juga merasa sakit jika harus mengingat kejadian tragis yang menimpa anak sulungnya itu.


"Ini, minum dulu obatnya." Widuri memberika tiga tablet obat serta segelas air putih. Dengan tangan gemetar, Cherry menerima dan meminumnya.


Setelah sedikit tenang, Raharsya membantu anak kesayangannya untuk duduk di sofa. Sedangkan ia pamit keluar untuk menemui calon besannya dan meminta waktu sebentar untuk sang anak menenangkan diri.


"Cherry gak apa-apa kan, Mas?" tanya Citra khawatir.


"Dia cuma kelelahan. Tadi sempat jatuh saking lemahnya. Tapi, sekarang agak baikan. Saya mau minta sedikit waktu untuk Cherry menenangkan diri," sahut Raharsya merasa tak enak.


Andreas sendiri hanya terdiam. Setelah drama kabur, Citra meneleponnya dan mengancam akan bunuh diri jika ia benar-benar membatalkan lamaran. Karena memiliki hati selembut cutton candy, akhirnya Andreas menyerah dan kembali ke kediaman mewah calon mertuanya. Namun kini, justru si perempuan yang tidak bisa hadir.


"Apa sebaiknya kita undur saja lamarannya, Om, kalau Cherry sedang sakit?" tanya Andreas yang membuat mamanya menatap tajam.


"Maaf, Mas. Omongan bocah ini emang suka aneh-aneh!" Dengan gemas, Citra mencubit paha Andreas hingga lelaki itu mengaduh.


"Tidak perlu, saya sudah baik-baik saja." Semua orang menoleh ke arah suara. Mereka terpana melihat betapa cantiknya visual seorang Cherry Blossom Kusuma. Gadis itu sangat memukau dengan keunikan yang dimiliki.


Bukan hanya para tamu, Andreas pun sangat terpana menatap calon istrinya. Rasa enggan melamar tadi, kini berubah dengan menggebu. Ia ingin sekali memiliki gadis pemilik mata biru tersebut.


"Ya Tuhan, cantik sekali calon menantu Tante. Bagaimana keadaanmu, Sayang? Papamu bilang, kamu tak enak badan," tanya Citra dengan wajah khawatir.


"Saya tidak apa-apa, Tante. Terima kasih," jawab Cherry sekenanya.


"Cher, jangan gitu sama Tante Citra," tegur Widuri yang melihat tak ada senyum yang sang anak berikan.


Citra pun tertawa canggung. "Gak apa-apa, Mbak. Aku paham soal Cherry," sahut Citra mengusap lengan sahabat sekaligus calon besannya.


"Maaf ya, Cit. Tau sendiri anakku yang ini agak beda," ujar Widuri tak enak hati.


"It's okay. She's good girl."


"Mari silahkan duduk kembali. Maaf kalau acara agak ngaret," ujar Widuri. Semua tamu pun kembali duduk.


"Ma, itu Bang Andre?" tanya Sakura berbisik pada mamanya menunjuk Andreas dengan ekor mata.


"Hu'um. Gimana? Ganteng, 'kan?" tanya Widuri.


"Top!" Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya. "Tapi, dia gak sekaku Kakak, 'kan? Aku gak setuju kalau punya abang ipar sebelas dua belas sama Kak Cherry. Horror, Ma."


"Hush! Kamu ini. Nanti kenalan saja, kamu bisa nilai gimana calon mantu pilihan Mama."


Acara lamaran pun dimulai. Perwakilan keluarga masing-masing memberi sambutan. Begitu juga dengan tuan rumah. Setelah itu, acara inti pun datang, di mana Andreas meminta izin pada kedua orang tua Cherry untuk meminang anak perempuan mereka.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu memilih putri kami sebagai pasanganmu dengan menerima semua kekurangan dan kelebihannya?" tanya Raharsya dengan tatapan serius pada lelaki muda di depannya.


Enggak siap, Om.


"Saya yakin dengan keputusan saya, Om. Bukan hanya saya yang harus menerima Cherry dengan semua keadaannya. Cherry pun sama, harus menerima semua kekurangan dan kelebihan saya. Tapi, saya janji pada Om Raharsya bahwa saya, Andreas Wijaya akan menjaga, melindungi sekaligus membahagiakan calon istri saya dengan cara saya."


Raharsya tersenyum mendengarnya. Ia cukup bangga dengan apa yang diucapkan anak sahabatnya itu.


"Baiklah, kalau begitu, saya selaku orang tua Cherrry juga walinya mene—"


"Sebelum melanjutkan dengan keputusan lamaran ini, saya ingin mengatakan sesuatu pada Andreas juga keluarga," ujar Cherry memotong ucapan sang papa. "Seperti yang Papa saya katakan, saya memiliki banyak kekurangan yang mungkin membuatmu berpikir ulang untuk melamar saya. Jadi, sebelum ke jenjang yang lebih serius, saya ingin mengatakan apa saja kekurang saya sebagai wanita sekaligus seorang manusia."


"Cher!" Raharsya menatap tak suka anak sulungnya.


"Dia berhak tahu keadaan Cherry, Pa. Cherry tidak mau setelah dia menikah dengan Cherry dan tahu kekurang Cherry, dia berkata bahwa kita penipu. Jadi, lebih baik terbuka daripada di masa depan ada sebuah penyesalan," sahut gadis itu dengan tatapan tenangnya.


"Kita bisa bicarakan nanti, Nak."


Cherry menggeleng membalas ucapan sang mama.


"Andreas, saya ingin mengatakan bahwa saya—"


"Cherry Blossom Kusuma!"