My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Bocah yang merajuk



"Apa!" sentak bocah berusia tujuh belas tahun itu dengan wajah marahnya.


"Aduh, sayangnya Dreas kenapa makin cantik aja." Lelaki itu melangkah dan langsung memeluk gadis cantik yang selalu ada di hatinya itu.


"Lepasin! Kamu jahat nikah sama perempuan lain!"


"Uluuuu ngambek ceritanya." Andreas dengan gemas mencubit pipi gadis bermata hazel tersebut.


"Kamu bilang mau nikah sama aku! kenapa kamu malah nikah sama perempuan lain? huwaaaaa." Andreas panik saat tiba-tiba gadis cantik bernama Arabelle itu menangis kencang. "Katanya mau nunggu aku selesai kuliah, terus mau nikahin aku! Dreas jahat! Aku benci Dreas!"


"Oh God, what's going on?" Seorang lelaki berparas Eropa datang menghampiri keduanya.


"He is liar! Dia bilang mau nikahin aku setelah lulus sekolah. Ternyata ... ternyata, dia malah nikah sama orang lain. You are jerk! You are bastard!"


"Arabelle Wilson! Yang sopan bicara dengan kakakmu!" sentak Daisy—adik mendiang ayah Andreas menatap marah anak gadisnya.


"Mom! Dia mengkhianatiku! Aku benci dia!" Dengan air mata yang terus meleleh, Arabelle menunjuk Andreas dengan penuh amarah.


"Astaga, anak ini." Daisy memijat pelipisnya. Ia sangat pusing jika sudah menghadapi anak tunggalnya itu. Sejak dulu memang Arabelle dan Andreas sangat dekat, apalagi saat Andreas memutuskan kuliah di London dan tinggal bersama keluarganya. Sejak saat itu, Arabelle selalu merasa bahwa Andreas kekasihnya. Lelaki itu sendiri hanya menanggapi dengan candaan. Ia tak menyangka bahwa sepupunya benar-benar marah seperti sekarang.


"Belle, masuk kamar." Daisy menatap anak perempuannya yang masih menangis karena patah hati. Keluarga Daisy sendiri memang baru sampai tadi malam. Awalnya ia memang ingin ikut mengantar keponakan lelakinya itu, tetapi tiba-tiba penerbangan tertunda hingga telat sampai.


Citra pun menjelaskan bahwa Andreas tak jadi lamaran justru langsung menikah, sontak membuat Daisy terkejut. Tanpa mereka tahu, Arabelle pun mendengarkan obrolan mereka yang membuat emosinya memuncak.


"I hate you, Andreas!"


"Hey, kok bilang gitu? Aku sayang loh padamu. Kamu akan tetap menjadi penghuni di hatiku," ujar Andreas menyentuh kedua bahu sepupunya. Arabelle pun hanya berdecih mendengarnya sembari terus mengatsinys dengan kata-kata tak pantas yang membuat Daisy tak enak hati pada keponakannya itu.


"Kamu tidak suka dengan istrimu? Aku dengar, kamu dijodohkan?" tanya Arabelle masih dengan nada sedikit ketus.


Andreas hanya mengangguk dengan wajah sedihnya.


"Ck! Ini salah Tante Citra! Aku harus memberinya pelajaran!" Dengan kesal, gadis resek itu berlalu menuju dapur, di mana Citra sedang berada.


"Dre! kamu itu kalau bicara dengan Arabelle jangan sembarangan! Tahu sendiri dia sangat tidak mentoleril apa yang dia tidak suka!" gerutu Daisy yang justru dibalas tawa oleh lelaki yang baru menyandang gelar suami itu.


"Duh, gawat. Aku harus nyusul ke dapur." Dengan panik, ibu satu anak itu mengejar Arabelle.


"Hi, Uncle. Apa kabar?" Andreas memeluk pamannya yang berkewarganegaraan Inggris tersebut.


"Seperti yang kamu lihat, masih gagah." Lelaki bernama Jonas Wilson itu menunjukkan otot-otot kekarnya. "Baru satu bulan kamu kembali dari Inggris, tiba-tiba statusmu sudah berubah saja. Selamat atas pernikahanmu. Uncle bahagia mendengarnya." Jonas menepuk bahu keponakannya dengan wajah gembira, sedangkan Andreas hanya tersenyum meringis. Andai omnya itu tahu seperti apa istrinya, bukan selamat yang diucapkan, tetapi belasungkawa.


Saat keduanya tengah berbincang, tiba-tiba ponsel Andreas berdering. Ia izin pada sang paman untuk menerima panggilan tersebut yang ternyata dari istrinya, Cherry Blossom. "Ck! Tadi aja pergi ngomel-ngomel, sekarang menelepon."


Akhirnya Andreas mengangkat panggilan tersebut. "Kenapa, Cherry? kamu Kang—"


"Tuan, ini saya Timothy. Bisakah Anda ke kantor polisi sekarang juga? Nona Cherry mengalami masalah."


"Bonus visual Arabelle