My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Amarah Andreas



"APA YANG KAMU LAKUKAN!" teriak Arabelle saat Cherry menyiram wajahnya dengan air.


"Berisik!" jawab Cherry.


"Loh, loh, ada apa ini?" tanya Andreas mendekati keduanya dengan wajah bingung.


"Honey, wanita tua ini menyiram wajahku. Lihat, basah semua," adu Arabelle dengan begitu manjanya, sedangkan Cherry hanya tersenyum sinis.


Beberapa waktu lalu, saat Andreas turun mengambil pakaian sang istri, Arabelle mengetuk pintu kamarnya. Gadis cantik tersebut ingin marah pada Andreas sebab ia mengingkari janji untuk bermain dan justru tidak keluar kamar lagi.


Saat pintu dibuka, gadis remaja itu marah karena justru melihat Cherry-lah yang membukanya, apalagi wanita bermata biru tersebut hanya mengenakan bathrobe.


"Pacarku mana?" tanya Arabelle ketus. Sedangkan Cherry hanya diam menatap gadis kecil di depannya.


Arabelle menyelidik penampilan Cherry. Mata hazelnya melebar saat melihat bukti percintaan di leher serta bagian dada atas milik Cherry. Sial! Wanita tua ini menggunakan tubuh untuk menggoda Honey-nya.


"Ck! Dasar wanita murahan. Menggoda pacar orang dengan tubuh," sindir Arabelle tersenyum sinis menatap Cherry yang justru menatapnya santai dengan tangan terlipat. "Boleh saja tubuhmu itu berhasil menggoda kekasihku. Tapi, jangan harap kamu bisa dapat hatinya! Dia menikahimu hanya karena ingin menyelamatkan perusahaan! Pernikahan hanya didasari bisnis, bukan cinta! Jadi, tidak usah berbangga diri."


Cherry yang tengah memegang gelas berisi air pun langsung menyiram wajah bule itu hingga Andreas melihatnya.


"Cher, kenapa kamu menyiram Belle?" tanya Andreas berusaha untuk tidak emosi.


"Dia sangat berisik seperti beo," sahut Cherry dengan tatapan datarnya.


Andreas membuang napas dengan perlahan. Menghadapi Cherry tidak bisa dengan keras dan kasar. Lelaki itu menatap sepupunya. Ia usap air mata gadis itu dengan lembut. "Kamu ke kamar ganti baju, ya. Setelah itu aku ajak beli gelatos gimana?"


Arabelle mengangguk dengan lucunya, sedangkan Cherry hanya berdecih melihatnya. "Kasih dia pelajaran! Dia sudah melakukan hal jahat padaku, Honey!"


"Iya, nanti aku omeli dia. Sana, ganti baju dulu." Arabelle pun mengangguk dan berlalu meninggalkan kamar Andreas.


Setelah kepergian sepupunya, lelaki itu membawa istrinya masuk. Sampai di dalam, Andreas menutup pintu dan menyerahkan paper bag berisi pakaian pada sang istri. Tanpa malu, Cherry mengganti pakaian di depan Andreas, membuat lelaki itu merasa ngilu. Tubuhnya benar-benar menawan. Ah, sial!


"Cher, jangan kasar begitu pada Arabelle. Dia masih kecil, Cher," ujar Andreas mencoba bicara baik-baik.


Cherry sendiri tak memedulikan ucapan sang suami, ia justru sibuk menyisir rambut panjangnya yang putih.


Andreas mengangguk, lalu berjalan mendekati sang istri. Tangannya meraih hairdryer dan mengeringkan rambut Cherry. "Tadi kenapa kamu menyiram Arabelle?" tanya Andreas kembali.


"Apa itu penting dibahas lagi?" tanya Cherry jengah.


"Penting, Cher. Aku gak mau ada salah paham. Tadi aku gak lihat dari awal, aku hanya melihat saat kamu menyiram dia. Aku gak mau berpikir buruk tentangmu sebelum tahu cerita darimu," jawab Andreas.


Cherry hanya tersenyum miring mendengarnya. "Kenapa tidak berpikir buruk tentangku seperti orang lain? Padahal sudah jelas aku menyiram dia di depan matamu."


"Aku bukan orang lain, aku suami kamu. Di saat semua orang menyalahkanmu, aku yang akan berdiri melindungimu. Jadi, kamu harus terbuka padaku tentang apa pun itu, Cher. Aku mau berguna untukmu," ujar Andreas dengan tangan yang sibuk membuat simpul di rambut istrinya.


Jika wanita normal mendengar ucapan Andreas pasti akan luluh atau terharu. Ah, berbeda dengan Cherry yang memang tak memiliki empati. Ia bersikap biasa saja. Masa bodo Andreas mau percaya padanya atau tidak.


"Kenapa masih diam? Jawab, Cher. Aku harus tahu masalah sebenarnya. Aku tahu betul sifat Arabelle. Dia pasti akan membesar-besarkan masalah ini dan aku tidak mau ada kesalahpahaman," ucap Andreas kembali.


"Dia mengatakan bahwa aku wanita murahan yang menggodamu dengan tubuhku. Dia juga bilang kamu menikahiku karena demi menyelamatkan perusahaan," jawab Cherry. "Well, aku memang menggodamu dengan tubuhku. Urusan kamu menikahiku karena cinta atau bisnis aku tidak peduli. Aku menyiramnya karena dia sangat berisik."


Tangan Andreas mengepal. Hatinya terasa panas mendengar ucapan yang ditunjukkan pada istrinya. Bagaimana bisa Arabelle mengatakan hal buruk seperti itu? Dia sudah benar-benar keterlaluan! Dengan menahan amarah, ia lanjutkan mengepang rambut indah istrinya.


"Apa kamu pernah merubah warna rambutmu?" tanya Andreas mengalihkan emosinya.


"Untuk apa aku merubahnya? Aku sangat suka dengan rambutku," jawab Cherry.


"Ya, rambutmu sangat indah. Aku pun menyukainya." Dengan lembut, Andreas mencium ujung rambut istrinya. "Oke, selesai. Bagaimana?" tanya lelaki itu.


"No bad," sahut Cherry yang dikepang menyamping ala artis Korea. Wanita itu makin cantik saat rambutnya diberi sampul begitu. Ia makin memesona.


Cherry berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan gaun panjang berwarna hitam dengan gambar bunga kecil. Wanita itu benar-benar seperti seorang puteri kerajaan atau memang Cherry sangat menyukai gaya gothic. Entahlah! Yang Andreas tahu, bahwa Cherry istrinya itu me-na-wan! Tidak ada obat lagi. Andreas terCherry-Cherry pokoknya!


Andreas mengajak Cherry untuk duduk. Ia menatap wanita itu begitu lekat dengan wajah serius. "Cher, ada yang ingin aku bahas denganmu."


Bonus visual Cherry