
"Ini yang kamu bilang ramai tapi tidak bising? Seriously?" tanya Cherry yang tak habis pikir dibawa suaminya ke TPU alias tempat pemakaman umum. Andreas sendiri hanya tertawa mendengarnya.
"Loh, bener, kan? ramai tuh orang dikubur tapi gak bising malah sepi. Kamu kan gak suka tempat bising. Ya, aku bawa ke sini aja," jawab lelaki itu tanpa beban yang membuat istrinya mencebik kesal.
"Here we are. Rumah Papa. Aku mau ngenalin kamu ke Papa." Andreas mengajak istrinya untuk berjongkok. Ia mengadahkan tangan dan berdoa untuk lelaki yang sangat ia sayangi itu. Cherry sendiri hanya menatap suaminya dengan tatapan tak terbaca.
Selepas berdoa, lelaki itu mengusap batu nisan dengan nama Darren Wijaya.
"Hey, Pa. Apa kabar di sana? Pasti lagi tidur," ujar Andreas mencebik. "Pa, lihat deh. Aku bawa perempuan cantik. Tahu, gak? Dia istriku, Pa. Semalam aku menikahinya." Dan Papa tahu dia siapa? Dia wanita yang sangat aku cintai. Wanita yang berani bikin lenganku cacat. Lanjutnya dalam hati.
"Aku cuma mau ngasih tahu Papa kalau sekarang aku gak jomlo lagi. Aku punya guling hidup buat dipeluk." Andreas meringis saat Cherry memukul lengannya. "Bercanda, elah."
Wanita cantik itu menatap batu nisan Papa mertuanya. Ia tersenyum dengan manis. Hanya dia dan Tuhan saja yang tahu apa dalam pikirannya.
"Ya ampun! Cantik banget istriku senyum. Mau meninggoy rasanya."
Senyuman manis itu luntur setelah mendengar ucapan sampah Andreas. Ini laki minta disleding kayaknya.
Selepas dari makam sang papa, Andreas mengajak istrinya berjalan sedikit menanjak ke atas bukit. Kebetulan di dekat pemakaman ada sebuah bukit kecil yang cukup asri juga tempat yang tenang.
"Bisa?" tanya Andreas saat membantu istrinya naik. Cherry sedikit menggerutu sebab ia sedang menggunakan sepatu hak yang tingginya 10 sentimeter dan jalanan ke atas bukit agak susah.
"Tahu gini tadi ganti sepatu dulu," gerutu Cherry yang hanya dibalas cengiran oleh Andreas.
Sampai di atas bukit, Cherry terpana melihat pemandangan di sana. pemukiman warga serta pohon-pohon di bawah sana tampak begitu indah, di tambah sepoy angin dengan suasana yang sunyi. Cherry ... sungguh menyukai tempat itu.
"Ini adalah tempat favoritku sejak Papa pergi," ujar Andreas menikmati embusan angin. "Hari di mana Papa meninggalkanku, aku merasa sangat hancur. Papa adalah sahabat sekaligus panutan untukku. Saat aku tengah berjalan-jalan di sekitar pemakaman, aku menemukan tempat ini," ujar Andreas menatap istrinya yang kini juga menatapnya.
"Kamu orang satu-satunya yang aku ajak ke sini bertemu Papa." Lelaki itu merangkul bahu sang istri agar mendekat padanya.
"Kenapa?"
"Maksudnya?" tanya Andreas.
"Kenapa menikahiku? Kamu kasihan?" tanya Cherry.
Mendengar itu, Andreas tertawa lirih. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang lembut. "Iya, soalnya laki-laki lain pasti takut punya istri kayak kamu."
"Sialan!" umpat Cherry.
Keduanya terdiam menatap pemandangan indah di depannya.
"Penyakitku gak akan sembuh. Kamu belum lihat saat fase depresi dan manikku datang. Aku ini monster. Hari ini saja hampir membunuh orang. Jadi, sebelum hubungan kita berjalan jauh dan kamu menyesal, lebih baik kita sudahi sekarang," sahut Cherry tanpa menoleh.
Andreas terdiam. Sejujurnya, ia sendiri tak yakin apakah akan kuat menghadapi Cherry. Penyakit yang diderita wanita itu bukan main-main. Melibatkan mental dan emosi. Marahnya Cherry itu tidak normal, sikapnya pun tidak normal. Namun, ada rasa di mana Andreas seakan tak bisa melepas wanita itu. Ia sangat menginginkan Cherry meskipun dia harus menghadapi sifat yang sungguh membuatnya takut.
Cherry hanya tersenyum sinis mendengarnya. Percaya diri sekali lelaki satu ini. Ia belum saja melihat gilanya Cherry. Apa yang dilihat Andreas selama ini belum seberapa dari Cherry yang sesungguhnya.
Setelah perbincangan itu, Andreas mengajak istrinya untuk ke rumah sang mama. Awalnya Cherry menolak, tetapi ya, lelaki itu memaksa hingga akhirnya si istri pasrah. Sampai di kediaman berlantai dua itu, Cherry disambut oleh Citra yang tersenyum gembira.
"Akhirnya sampai juga. Andreas bilang kamu dibawa ke makam papanya?" tanya Citra dengan sumringah.
Cherry punya mengangguk dengan wajah tanpa senyumnya. Ia memang masih sebal sekali pada sang suami yang memaksa ikut apalagi harus bertemu orang baru. Sungguh, ia sangat tak nyaman.
"Duduk, Sayang. Kamu mau mau minum apa?" tanya wanita cinta pertama Andreas.
"Tidak usah, Ma. Tadi di jalan sudah minum," jawab Cherry mencoba tersenyum ramah. Ya, meski sulit. Tapi, wanita di depannya ini ibu mertuanya.
"Bohong, Ma. Orang Dreas gak ngajak mampir," celetuk Andreas yang duduk di samping Cherry. Sontak, wanita itu mencubit keras pinggang suaminya yang membuatnya menjerit. "Ampun, Cher!" pekiknya.
Citra sendiri hanya terkekeh geli melihat penganten baru itu.
"Mama buatin jus, ya. Sudah, jangan sungkan. Anggap rumah sendiri." Citra berlalu meninggalkan sepasang suami-istri itu.
"Aku gak mau tahu! Setelah ini pulang!" seru Cherry tak suka.
"No! Kita nginep di sini. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu," sahut Andreas pada istrinya.
"Kita bisa bicarakan di rumah. Aku tidak nyaman di sini."
"Ini rumah mertuamu, Cher. Kamu harus terbiasa."
Cherry mencebik mendengarnya. Ia memang tak bisa tinggal di tempat asing, apalagi dengan anggota keluarga yang banyak. Andreas berkata bahwa keluarga besarnya masih di rumah. Terutama adik perempuan sang papa yang kemarin tak sempat melihat mereka, ingin sekali bertemu, tetapi gadis itu selalu menolak.
"Ya Tuhan! Ini Queen Elsa darimana?"
Andreas dan Cherry menoleh mendengar pekikan seorang wanita yang ternyata Daisy. Wanita berusia empat puluh tahun itu menghampiri mereka dengan wajah berbinar, sedangkan Cherry menatap dengan tatapan dingin. Siapa lagi wanita spesies baru ini?
"Tan, ini Cherry, istriku." Andreas berdiri mengajak istrinya untuk berkenalan dengan tantenya. "Cher, ini Tante Daisy, adik perempuan Papa."
"Ya ampun, cantik sekali istrimu, Dre! Pantas langsung dinikahin." Dengan wajah bahagia Daisy memeluk Cherry. Ia sungguh gemas melihat betapa uniknya istri dari keponakan tercintanya. Rambut putih berkilau, mata biru bercahaya, kulit seputih salju dengan bibir tipis kemerahan seperti buah ceri.
Akhirnya mereka bertiga duduk dengan Citra yang sudah kembali dengan membawa nampan berisi beberapa gelas jus jeruk.
"Mbak, pinter banget cari mantu. Cantik banget," puji Daisy pada kakak iparnya.
"Iya, dong. Mana mungkin Mbak kasih Andreas jodoh sembarangan. Mereka berdua itu cocok," sahut Citra. Cherry sendiri masih diam saja tak mengeluarkan sepatah katapun.
Saat dua wanita dewasa itu memuji bertapa luar biasa istri Andreas, tiba-tiba seseorang datang dengan ucapan ketusnya. "Oh, jadi wanita tua ini istrimu, Honey?"