My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Salah Paham



"Om, Tante, maaf saya menolak rencana pernikahan saya dan Cherry."


Citra menangis mendengarnya. Begitu juga Widuri dan Sakura. Sedangkan Cherry hanya tersenyum sinis menatap lelaki di depannya. Katanya dia menerima kekurangan Cherry. Berjanji akan melindungi serta membahagiakan. It's a bullshit!


"Baiklah, Om menerima keputusanmu yang tidak mau menikah putri Om," jawab Raharsya yang tersenyum penuh paksaan.


"Tunggu, sepertinya Om salah paham dengan ucapan saya," ujar Andreas pada lelaki di hadapannya.


Raharsya menatap bingung sekitarnya. "Maksud kamu gimana?"


"Saya tidak menolak menikahi Cherry, Om. Saya cuma bilang menolak rencana pernikahan kami yang akan digelar bulan depan. Saya maunya sekarang!" ujar Andreas yang membuat semua dalam ruangan itu terkejut, begitu juga Cherry. Wanita minim ekspresi itu menunjukkan wajah keterkejutan mendengar ucapan laki-laki manja itu.


"Maksudmu bagaimana, Andre?" tanya Widuri.


"Dre, kamu jangan bikin Mama jantungan, ya!" seru Citra kesal pada anaknya.


"Om, saya akan menikahi Cherry, tapi dengan syarat harus menikah malam ini juga," sahut Andreas. "Kalau Om tidak setuju, ya sudah, saya menolak dan pulang saja."


"Tunggu dulu. Kamu serius dengan ucapanmu ini? Menikah bukan main-main, Dre," ujar Raharsya.


"Saya serius, Om. Saya mau nikahin Cherry malam ini juga."


"Persiapan pernikahan tidak bisa terjadi dalam beberapa jam, Dre. Bagaimana bisa menikah buru-buru?" tanya Widuri yang bingung dengan keputusan anak sahabatnya itu.


"Tan, menikah paling penting itu sah di mata Tuhan. Untuk urusan lain, kita bisa atur nanti. Yang pasti, saya mau menikah dan memiliki Cherry malam ini juga," ujar lelaki muda itu serius. "Delapan tahun lalu Cherry sudah membuat saya salah paham padanya. Jadi, ini hukuman untuk dia yang berani-beraninya kabur sebelum meminta maaf dan menjelaskan hubungan kita. Saya gak mau dia kabur lagi." Tunjuknya pada wanita yang kini menatapnya dengan tatapan dingin. "Kamu pikir aku takut dengan tatapanmu itu!"


Cherry hanya berdecih mendengarnya.


"Cit, gimana ini?" tanya Widuri bingung.


"Aku juga bingung, Mbak," sahut Citra. "Dre! Jangan main-main kamu! Jangan buat malu Mama!" Citra menepuk kepala Andreas.


"Siapa yang main-main sih, Ma! Aku serius. Kalau kalian nganggep bercanda, aku pulang aja! Mending main game deh!" seru Andreas kesal hendak pergi, tetapi ditahan sang mama.


"Beneran mau nikah secara agama dulu malam ini?" tanya Citra serius.


"Mama lihat mukaku serius apa main-main? Ini pernikahan loh, Ma. Masa dibuat mainan!"


Citra tersenyum lebar mendengarnya. "Mbak, Mas. Dia serius. Jadi, gimana? Mas sama Mbak nerima lamaran kami, 'kan?" tanyanya antusias.


Widuri dan Raharsya saling tatap. "Gimana ini, Pa?" tanya Widuri pada suaminya.


"Dre, kamu beneran mau nikahin anak Om?" tanya Raharsya serius.


"Astaga, mau diulang berapa kali ini pertanyaan," keluh Andreas frustasi. "Baiklah, mungkin saya yang kurang meyakinkan."


Raharsya tertawa mendengarnya. "Kamu coba tanya langsung sama anak Om. Mau gak dia nikah sama kamu malam ini juga. Kalau dia menerima, ya Om juga pasti menerima."


"Waduh, saya lebih baik minta izin ke Papa saya di kuburan daripada minta izin Cherry."


"Heh! Mama ulek, ya, bibir kamu itu!" omel Citra. "Cepetan lamar Cherry!"


Andreas pun tersenyum kikuk mendekati wanita yang sejak tadi duduk dengan tangan terlipat. Tak lupa tatapan mautnya. Lelaki itu pun berjongkok di hadapan si wanita berhidung bangir itu.


"Cher, bisa gak tatapannya disetting sedikit hangat, gitu. Aku merinding kedinginan liat tatapanmu yang kayak es itu," ujar Andreas pada wanita di depannya.


"Loh, suka-suka saya. Ini mata saya."


"Haish, iya, iya, terserah kamu aja," sahut laki-laki manja itu pasrah. "Jadi, mau gak nikah malam ini?"


"Bang, romantis dikit kek ngelamar cewek. Siapa juga yang mau nerima lamaran yang gak ada effortnya gitu," ejek Sakura yang gemas.


"Lah, kakakmu juga gak ada manis-manisnya," celetuk Andreas yang langsung dijitak sang mama.


Andreas berdeham untuk menetralkan debaran di dadanya. Kini, ia tersenyum menatap Cherry yang masih duduk tanpa merubah posisinya. "Cherry, jujur aku gak tahu harus bilang apa ke kamu. Tapi, aku akan coba," ujarnya.


"Hay, Cherry. Kenalin, aku Andreas Wijaya anaknya Papa Darren juga Mama Citra. Tapi, Aku sudah jadi yatim sejak lima tahun lalu," kekeh Andreas yang mendapat toyoran dari sang mama. "Aku ... suka sama kamu. Kamu mau gak jadi istriku?"


Semua wanita di dalam ruangan itu memekik saat tiba-tiba Andreas menunjukkan sebuah cincin berlian di hadapan Cherry.


"Eits, kasih jawabannya jangan nyabet tanganku lagi. Cukup terima cincin ini atau menutup kotak cincin ini. Jangan bikin aku kena mental, Cher. Salah satu dari kita harus waras," sahut Andreas yang membuat Citra tak enak hati pada calon besannya. Sedangkan Widuri dan Raharsya sangat bahagia Cherry mendapatkan lelaki banyak bicara seperti Andreas. Hidup anak perempuannya pasti jauh lebih ramai.


"Cher, jawab. Kakiku kesemutan ini. Mana udah malem. Aku mau nikah sekarang juga loh, Cher."


Cherry berdecak menahan senyumnya. Tubuhnya yang sejak tadi bersandar di sofa pun kini tegak sempurna. Wanita dengan pipi kemerahan tersebut mengangkat tangan kirinya. "Pasangkan."


Wajah Andreas tersenyum sumringah. Ia ambil cincin berlian yang ia beli selepas Cherry pergi saat tempo hari. Ia tersenyum menatap cincin itu begitu pas di tangan calon istrinya.


"Akhirnya kita besanan." Kedua ibu itu saling berpelukan, begitu juga Raharsya dan Sakura yang tak bisa menahan harunya.


Setelah lamaran tak romantis itu, mereka kembali ke ruang tamu di mana para tamu menunggu harap-harap cemas. Mereka sungguh terkejut saat Raharsya berkata bahwa malam ini juga Andreas dan Cherry akan menikah. Tak lupa kepala keluarga Kusuma itu menyuruh orangnya untuk memanggil pemuka agama. Ia benar-benar menerima syarat Andreas yang mau menikahi sang anak segera.


Setelah berucap janji suci, kini Andreas dan Cherry sah sebagai suami-istri. Lelaki itu tersenyum menatap Cherry yang kini dibalut gaun pernikahan sang mama dulu. Ia tampak cantik meski hanya bermodal make up sederhana. Kedua mempelai saling bertukar cincin yang mereka pilih tempo hari. Andreas tak menyangka bahwa perasaannya yang ingin membawa tali penyatu keduanya itu adalah sebuah tanda bahwa ia akan menggunakannya malam ini.


Kedua orang tua pasangan itu serta keluarga sangat bahagia menjadi saksi pernikahan antara dua anak kesayangan mereka. Banyak doa yang mereka panjatkan untuk pengantin baru itu. Acara yang harusnya hanya lamaran justru menjadi hari pernikahan dadakan. Ah, semua orang sungguh tak menyangka, begitu juga sepasang suami-istri baru itu.


Hingga tiba-tiba, Andreas teringat akan sesuatu. "Astaga, aku melupakan sesuatu penting!" serunya membuat orang-orang di sana menatap bingung mempelai laki-laki itu.