
"Mau bicara apa?" tanya Cherry.
Andreas menatap sang istri. "Ini soal kelanjutan hidup kita," sahutnya sembari berdeham. "Kita tidak mungkin tinggal di kediaman Papa Raha terus menerus, kan? Aku juga tidak akan membawamu tinggal di rumah ini. Aku ingin kita tinggal terpisah dengan orang tua kita," lanjutnya.
"Apa kamu tidak keberatan jika kita mengontrak rumah terlebih dahulu? Kamu pasti tahu kalau keadaan ekonomiku masih kurang stabil. Aku baru saja lulus kuliah, lalu perusahaan keluarga pun baru bangkit setelah hampir kolaps. Jadi—"
"Apa kamu penganut patriarki?" potong Cherry.
"Maksudnya?" tanya Andreas bingung.
"Aku punya beberapa property hunian. Kita bisa tinggal di salah satunya. Mau rumah atau penthouse aku memilikinya," sahut Cherry.
"Tidak bisa. Mana mungkin lelaki tinggal di rumah perempuan. Di mana harga diriku sebagai laki-laki?"
"Ck! Otak patriarki," cibir Cherry, sedangkan Andreas hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi gimana?" tanya Andreas.
"Sejak kecil aku sudah terbiasa tinggal di rumah besar dengan banyak pelayan. Jika kamu bisa memberikan tempat tinggal yang sama seperti rumah Papa, aku mau saja. Ya minimal rumah orang tuamu ini," sahut Cherry realistis. Siapa juga yang mau hidup susah jika dirinya punya harta? Bodoh sekali.
Andreas menghela napas dengan berat. Cherry tak salah memang bicara seperti itu.
"Pilihannya, tinggal di mansion pribadiku atau tetap tinggal di rumah Papa," lanjut Cherry.
Andreas berdecak mendengarnya. Ia bingung harus berbuat apa. Ia memang masih memiliki pikiran bahwa semua kebutuhan istri harus ditanggung dirinya, termasuk tempat tinggal. Namun, ia juga belum bisa memberikan itu sekarang. Mungkin jika rumah sederhana bisa ia beli. Uangnya masih cukup. Namun, tempat tinggal istrinya itu sepuluh kali lipat dari rumah orang tuanya. Benar yang dikatakan sang istri, jika dia hidup susah, untuk apa juga dia menikah dan menyusahkan hidupnya sendiri.
"Baiklah, untuk sementara, kita tinggal di rumah pribadimu, sampai aku mampu memberikan rumah yang layak untukmu. Lalu, soal nafkah—"
"Kamu tidak perlu pusing soal itu. Aku bisa menghidupi diri dengan uangku sendiri." potong Cherry lagi.
"Jangan salah sangka dulu. Maksudnya, kamu bisa menyimpan uang-uang itu untuk hal penting dulu. Setelah keadaanmu stabil, aku akan terima uang darimu sebagai nafkah," jelas Cherry yang membuat amarah di hati Andreas sedikit terkikis.
"Aku akan tetap memberikan uang untuk keperluan sehari-hari kita. Aku tidak ingin lari dari tanggung jawabku sebagai seorang suami," sahut Andreas.
Cherry hanya mengedikkan bahunya. Terserah saja, ia tak peduli dengan apa yang ingin suaminya lakukan.
"Jadi kapan kita akan pindah?" tanya Andreas.
"Kapan saja aku siap. Tidak ada persiapan khusus untukku karena memang sejak bekerja aku sudah tidak tinggal dengan orang tuaku. Aku selalu tinggal sendiri," jawab Cherry yang berarti tinggal Andreas saja yang bersiap untuk pindahan.
"Tapi, malam ini menginap di sini dulu, ya. Tidak enak dengan Mama. Besok baru pindah. Lagipula nanti malam Mama, Papa juga Sakura akan datang untuk membahas resepsi pernikahan kita. Sial melegalkan pernikahan, aku sudah bicara dengan pengacaramu dan Pak Willy sudah mengatur semuanya," jelas Andreas.
Lelaki itu mendekati sang istri. Tangan halus wanita itu digenggamnya, lalu ia kecup dengan begitu menggoda. "Lagipula, aku ingin melanjutkan apa yang kita lakukan tadi," bisiknya yang membuat Cherry merinding.
"Apa kamu tidak berpikir bahwa ini adalah yang pertama untukku? kamu pikir itu tidak sakit?" omel Cherry mendelik tajam yang justru membuat Andreas tertawa geli.
"Aku cuma menggoda. Mana tega aku menyakiti istriku sayang," ujar Andreas mencium gemas pipi Cherry. "Kita ke bawah, yuk. Tadi aku suruh Bibik masak untukmu. Kamu pasti lapar."
Cherry tak menolak. Ia dibawa suaminya ke ruang makan. Di dapur terdengar sangat ramai sebab Citra serta adik-adik perempuannya sibuk mengolah makanan untuk menyambut keluarga Kusuma.
"Makan yang banyak. Anggap rumah sendiri." Citra mengusap surai indah menantu cantiknya itu.
"Terima kasih, Mama Citra," ujar Cherry tersenyum ramah. Ah, luluh hati Citra rasanya mendapat senyuman dari seorang Cherry Blossom.
Tak ingin mengganggu anak-mantunya, wanita dewasa itu berlalu menuju dapur kembali. Cherry sendiri mengambil sayuran. Ia memang hanya memakan nabati saat hari biasa dan makan daging di hari libur. Saat ia memasukkan makanan tersebut, mulutnya berhenti mengunyah. Tak lama, ia muntahkan kembali. Dengan kesal, ia membanting sendok dan garpu di tangan, lalu pergi begitu saja membuat Andreas terkejut.
Apa yang terjadi pada Cherry?