My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Si Mood swing Cherry



"Cher, buka pintunya. Jangan kayak gini, Sayang." Andreas terus menggedor pintu kamar sang istri. Di sampingnya ada Timothy yang panik. Ia takut bosnya itu kembali melakukan percobaan bunuh diri. Saat dalam fase depresi, keinginan mengakhiri hidup begitu kuat, padahal Cherry tidak berniat untuk mati. Halusinasinya yang kuat mengganggu pikiranlah yang membuat dirinya sering mencoba mengakhiri hidup.


"Dobrak, Tuan," sahut Timothy.


"Bercanda? Kamu gak lihat pintunya terbuat dari apa?" tanya Andreas menunjuk pintu berbahan metal kuat tersebut.


"Duh, gimana terus, Tuan?" tanya Timothy khawatir.


"Berapa passwordnya?" tanya Andreas.


"075846," jawab Timothy yang membuat Andreas mendelik kesal. Kenapa tidak daritadi?


Pintu kamar itu pun terbuka. Kedua lelaki itu terkejut melihat kamar besar tersebut seperti tengah didera angin topan.


"Cher!" Andreas berlari saat melihat Cherry yang duduk di pinggir tempat tidur. Ia meringkuk dengan kedua tangan menutup telinganya. "Sayang, aku di sini."


"Pergi, sialan! Aku tidak mau mati!" teriak Cherry.


"Cher, ini aku Andreas, suamimu." Ia terus mengguncang tubuh istrinya.


"Timmy, carikan obatku!" sentak Cherry yang mulai pusing sebab banyak sekali bisikan yang ia dengar. Ia sungguh menyesal selalu malas meminum obat, sehingga halusinasinya semakin kuat.


Dengan cepat pula Timothy mencari obat sang bos. Duh, ia panik sekali. Ia bahkan sampai bingung di mana atasannya itu menyimpan obatnya.


"Di lemari walk-in-closet, sialan!" teriak Cherry dengan kesal.


"Tenang, Sayang. Aku di sini." Andreas memeluk istrinya dengan tangan mengusap punggung gadis itu. "Kamu gak sendiri, ada aku. Ada aku."


"Apa kau mencari berlian? Lama sekali!" teriak Cherry dengan kesal.


"Ketemu, Nona." Timothy dengan terburu-buru memberikan obat itu pada atasannya. Tak lupa mengambil minum dari dispenser yang berada di kamar Cherry.


Wanita berambut putih itu meneguk tiga butir obatnya. Perlahan, tubuhnya limbung. Inilah hal yang paling Cherry benci saat mengonsumsi obat antiseptik yang psikiater berikan padanya. Ia akan mengalami efek samping tremor, lemas, serta pusing. Belum lagi rasa gelisah yang membuat Cherry merasa tak nyaman. Karena itulah saat halusinasinya membaik, ia tak meminum obatnya.


Dengan telaten, Andreas membawa tubuh istrinya menuju ranjang. Ia baringkan di atas kasur super empuk itu, lalu dipakaikan selimut agar istrinya tak merasa kedinginan. Bukannya apa, kamar Cherry memang benar-benar dingin. Dalam ruangan itu, tersapat tiga AC dengan suhu paling dingin. Wanita bermata biru tersebut memang sungguh seperti Elsa yang sangat suka hawa dingin, sama seperti sifatnya.


Andreas duduk di bibir ranjang. Ia singkirkan anak rambut yang menutup sebagian wajah cantik sang istri.


"Menyesal?" tanya Cherry lirih sebab ia seperti melayang dikarenakan dosis obatnya yang lumayan tinggi.


"Kamu menikahi wanita tidak waras sepertiku. Pasti sekarang menyesal, 'kan?" tanya Cherry dengan senyuman sinisnya. Sudah setengah sadar saja wanita itu masih menyebalkan. "Jika ingin lepas, pergilah. Sebelum aku sadar sepenuhnya."


Bukan menjawab, Andreas merangkak naik ke atas tempat tidur. Ia melewati tubuh Cherry dan membaringkan diri di samping wanita itu. Andreas memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat.


"Aku sudah mengambil keperawananmu, sudah menikmati tubuh indahmu itu. Gimana bisa aku kabur? Maaf saja, aku bukan laki-laki brengsek. Aku laki-laki yang bertanggung jawab. Lagian, gimana kalau benihku tumbuh di sini dalam beberapa minggu ke depan?" Andreas mengusap perut rata istrinya.


Mendengar itu, Cherry tertawa lirih. "Aku tidak akan bisa hamil. Obat-obatanku akan membunuhnya," ucapnya dengan lirih.


"Maksudnya?" tanya Andreas bingung.


"Obat-obatanku memiliki dosis yang tinggi. Andai aku hamil, obat itu akan membunuh janin dalam rahimku," sahut Cherry yang mulai habis kesadarannya. "Jangan-pernah-berharap-memiliki-anak-dariku."


Andreas terdiam setelah mendengar kata terakhir yang Cherry ucapkan sebelum terlelap. Apa iya mereka tidak akan punya anak? apa setinggi itu dosis obat Cherry yang bahkan bisa membunuh janin dalam kandungannya?


Lelaki beralis tebal itu meraih strip obat milik istrinya, lalu mencari tahu tentang obat tersebut. "Ya Tuhan, tinggi sekali dosisnya. Ini baru obat Skizofrenia, belum yang bipolar dan sosiopat." Andreas memijat kepalanya, lalu menatap sang istri yang tengah terlelap. Perasaannya sedih seketika membayangkan psikis istrinya yang begitu berantakan. Ia kecup dahi Cherry dengan penuh perasaan. Air matanya terjatuh merasakan sesak di dada.


Ia tak menyangka bahwa gadis cantik yang begitu pendiam saat di sekolah dulu, memiliki beban yang sangat berat. Hatinya semakin teriris saat mengingat bagaimana semua teman di sekolahnya mengatakan bahwa Cherry adalah gadis aneh yang kejam.


"Maaf, maafkan aku yang tidak bertanggung jawab." Ia merasa bersalah jika mengingat masalalu ketika ia pergi begitu saja setelah mengatakan suka. Andai dulu Andreas bertanya kenapa Cherry melukainya, andai dulu ia mau mendengar gadis itu, setidaknya hidup Cherry tidak seberat ini.


**


Di malam hari, Cherry membuka matanya. Cukup lama ia tertidur sekitar enam jam. Wanita cantik itu mendesah kesal mengingat beberapa jam lalu saat dirinya mengamuk lagi. Ah, bagaimana bisa ia menunjukkan kelemahannya di depan lelaki itu.


"Kamu sudah bangun?" Cherry menatap Andreas yang baru masuk ke kamarnya. Lelaki itu mendekat dan tersenyum pada sang istri. "Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Andreas mengusap pipi putih wanitanya.


Cherry beranjak duduk dengan sesekali menyentuh bahunya. Ia merasa pegal di sekujur tubuhnya. Sudah baru lepas keperawanan, ditambah kumat dan berakhir minum obat, lengkap sudah membuat tubuh wanita cantik itu remuk.


Anak Raharsya itu menatap suaminya yang juga menatap dirinya. Entah kenapa mengingat kejadian panas itu membuat pipi Cherry memerah. Ah, sial! Dengan cepat Cherry menarik tubuh Andreas hingga kini keduanya berbaring dengan si lelaki di atas tubuh istrinya.


"Che-Cherry?" Andreas benar-benar gugup menatap wajah putih Cherry yang kini memerah.


"Aku mau kamu. Sekarang." Dengan cepat wanita yang sudah tak perawan itu mencium bibir suaminya. Andreas yang mendapat serangan tiba-tiba itu terkejut, tetapi tak lama langsung ia pimpin permainan.


Ah, ampun! Wanita ini benar-benar menawan. Andreas kembali dibuat tergila-gila oleh Cherry. Ia pikir istrinya itu butuh penyesuaian setelah kejadian pertama itu, tetapi ternyata tidak. Katanya, rasa sakit adalah teman hidupnya. Lepas perawan dirasa tak begitu menyakitkan secara ia sering sekali melukai dirinya sehingga rasa sakit sudah kebal ia rasakan. Dan sialnya, tanpa sensor, Cherry mengatakan bahwa ia suka melakukan itu. Ia seakan candu dan mau melakukan lagi.


Itu suatu berkah untuk Andreas, bukan? hahahaha.