
"Astaga, astaga, astaga. Bangun, Cher!"
Melihat calon istrinya yang tak sadarkan diri dalam air, Andreas langsung berlari naik ke lantai tiga dan loncat begitu saja masuk ke dalam akuarium besar itu. Beruntung, dulu ia atlet renang, sehingga berenang di kedalaman enam meter tak sulit untuknya, meski harus menahan napas cukup lama, apalagi saat ia harus menarik tubuh Cherry yang tak sadarkan diri.
Setelah berhasil membawa gadis itu ke daratan, Andreas membaringkan di lantai, lalu ia cek pernapasannya. "Astaga, dia kehilangan napasnya." Tanpa banyak basa-basi, ia melakukan pertolongan pertama dengan memberi napas buatan. "Bangun, Cher!" Tindakan itu gagal, hingga akhirnya Andreas melakukan CPR. "Bangun, cewek nyebelin!" Ia terus berusaha menekan dada gadis itu berulang kali. Jantung Andreas berdebar dengan hebat. Rasa takut menyusup begitu saja membuat perasaannya kacau. Sial! Apa rasa cinta dulu untuk Cherry masih ada? Tidak mungkin!
Setelah beberapa kali melakukan CPR, akhirnya Cherry mengeluarkan air melalui mulutnya lalu terbatuk-batuk. Andreas pun bernapas lega dan langsung memeluk gadis itu. "Oh Tuhan, terima kasih."
"everything is fine?" tanya lelaki itu menyentuh kedua pipi Cherry. Sedangkan si wanita hanya menatap calon suaminya, lalu membuang muka.
"Bawa aku ganti pakaian," ujar Cherry pada Lestari. Wanita itu pun mendekati sang nona, tetapi tiba-tiba ia menghentikan langkah saat Andreas mengangkat tubuh calon istrinya yang terbalut pakaian mermaid.
Cherry pun tak menolak dengan tangan yang mengalung di leher Andreas. Sampai di ruang khusus milik Cherry, lelaki itu turunkan di atas sebuah matras, lalu ia usap lembut kepala Cherry. "Aku tunggu di luar." Setelah itu, Andreas keluar dan tak lama Lestari masuk untuk membantu sang nona mengganti pakaiannya.
Hampir satu jam di dalam, akhirnya Cherry keluar dengan penampilan terbarunya. HANYA mengenakan kaus polos berwarna merah muda dengan kerah berbentuk V dibalut kardigan rajut, lalu rambut putihnya digerai, membuat penampilan Cherry sedikit berbeda. Ia terlihat seperti gadis biasa lainnya yang begitu manis.
Kalau aja ni cewek agak normal, mungkin kisah kita gak setragis ini. Ah, Cherry. Cinta pertama gue yang kandas sebelum dimulai. Malah sekarang jadi calon istri gue. Takdir macam ini? Andreas sungguh menertawakan takdirnya. Dulu, ia selalu berharap untuk menjadi pasangan Cherry. Tantangannya tidak mudah. Namun, saat tahu gadis itu mengerikan, ia menjadi takut dan berharap tak bertemu dengannya. Akan tetapi, takdir sialan itu mempermainkannya lagi memberi ia jodoh wanita yang sangat dihindarinya.
I dare you, destiny!
Dalam mobil, Andreas terus tersenyum menatap Cherry. Sedangkan yang ditatap tampak acuh tak acuh. Lelaki itu bahkan cekikikan yang sungguh mengganggu indera pendengaran si gadis.
"Berisik!" seru Cherry kesal.
"Aku beneran gak nyangka kalau calon istriku punya hobi yang unik. Jadi mermaid. Hahahaha."
Cherry merona mendengarnya. Ia cukup malu saat Andreas tahu hobi anehnya itu. Hanya Lestari, juga Timothy yang tahu bahwa ia memiliki hobi unik tersebut dan kini, lelaki yang digadang-gadang sebagai calon suaminya pun mengetahui itu.
"Jadi laki-laki kenapa banyak omong sekali sih kamu!" seru Cherry kesal.
"Wah, wah, wah, aku benar-benar amaze. Hari ini calon istriku mengeluarkan banyak kata. Sorry to say, kukira dulu kamu ini gak bisa bicara, ternyata normal toh. sshhhh, andai dulu kamu menolak cintaku secara baik-baik, mungkin aku akan tetap mengejarmu," kata Andreas yang tersenyum miris membayangkan dulu bagaimana Cherry menyabet tangannya dengan pisau.
"Siapa yang menolak cintamu? Saat itu, aku menerima cintamu."
...****************...
Hari lamaran pun datang. Mansion besar milik Raharsya Kusuma sudah terlihat sangat sibuk dengan persiapan. Orang tua Cherry sungguh bahagia menyambut hari ini. Bagaimana tidak, anak sulung mereka akhirnya menemukan pasangan yang menerima kekurangan anak gadisnya itu.
Widuri sejak pagi sudah menjadi mandor untuk melihat pekerjaan para pekerja, padahal ia sudah memberikan tanggung jawab ini pada EO terbaik di tanah air. Namun, tetap saja wanita berusia empat puluh enam tahun itu tak ingin ada kesalahan sekecil apa pun itu.
"Itu jangan ditaruh di sana, tapi di sisi kiri saja," ujar Widuri pada petugas dekorasi bunga.
"Mama!"
Widuri terjingkat kaget saat tiba-tiba anak bungsunya memeluk dari belakang.
"Sakura! Kamu ini kebiasaan ngagetin Mama. Kalau jantung Mama lepas gimana?" omel Widuri mencubit gemas pipi anak bungsunya itu.
"Tenang, nanti aku pasangin lagi," kekeh Sakura yang justru mendapat jeweran dari sang mama. "Aduh, aduh, ampun, Ma."
"Kamu pikir jantung Mama itu puzzle bisa lepas pasang?"
Tawa Sakura menggema di mansion besar itu. Para pekerja tersenyum melihat bagaimana anak bungsu Raharsya Kusuma yang memiliki karakter hangat seperti orang tuanya. Berbeda dengan gadis yang kini menatap keduanya dengan tatapan tak terbaca. Ia hanya bisa menatap dari jauh, tanpa bisa dekat dengan mereka. Tangannya mengepal hebat dengan mata yang berkaca-kaca. Dia tidak pantas berada di dekat keluarganya.