
Selepas pergi dari toko perhiasan, tujuan utama Cherry yaitu kantor. Gedung pencakar langit itu adalah tempat favorit untuknya. Cherry memang sangat terobsesi menjadi seorang wanita karier. Meski dibilang orang dia adalah psikopat, tetapi untuk keprofesionalan, dia jempolan.
Cherry sendiri menjabat sebagai direktur utama di perusahaan makanan dan minuman instant. Gadis itu memang ditunjuk sang ayah untuk berada di sana, sedangkan untuk rumah sakit, kelak Sakura-lah yang akan menjadi direktur utamanya.
Gadis berambut putih itu sampai di ruangan yang sedikit redup. semua jendela di sana ditutup oleh gorden dan ia langsung melepas kacamata hitamnya. Wanita cantik itu duduk di kursi kebesarannya. Membuka laptop, lalu mulai bekerja. Ada banyak laporan yang harus ia periksa, apalagi kalau sudah masuk akhir bulan. Semua karyawan akan sangat sibuk.
Tak lama, pintu ruangannya diketuk. Setelah mendapat izin, seorang wanita dengan blazer hitam menghampiri Cherry.
"Selamat siang, Nona. Ini makan siangnya," ujar wanita dengan rambut digelung rapi itu.
Cherry hanya mengangguk tanpa menatap asistennya itu.
"Oh ya, Nona. Tadi perwakilan dari The Farm House menghubungi saya. Katanya, beberapa sapi di peternakan mendapat virus yang membuat produksi susu sedikit menurut. Beliau bertanya apakah ada cara untuk menanganinya sebab penjualan susu dan minuman yoghurt serta olahan susu lainnya semakin meningkat," ujar wanita bernama Carissa itu pada sang atasan.
Mendengar itu, Cherry menghentikan ketikan di laptop. Ia menatap Carissa dengan tatapan tak terbaca.
"Suruh Timothy untuk bersiap. Saya akan ke peternakan sekarang."
"Baik, Nona. Permisi." Carissa pun pamit untuk menghubungi Timothy agar bersiap.
Setelah itu, Cherry kembali bergegas menutup laptop, lalu ia raih tasnya, tak lupa mengenakan kacamata hitamnya lagi, dan keluar dari ruangan. Sepanjang jalan, para karyawan menyapa dengan sopan, tetapi sang atasan tak pernah mau membalas sapaan mereka. Mobil minibus luxury milik Cherry pun sudah menunggu di lobby. Petugas penjaga di sana memberi hormat pada wanita nomor satu di anak perusahaan Kusuma tersebut.
Setelah duduk dengan nyaman, pintu tertutup otomatis. Cherry membuka tabletnya untuk kembali bekerja. Namun, tiba-tiba sebuah notifikasi berdering di alat elektronik kotaknya tersebut. Itu adalah sebuah link berita mengenai dirinya. Cherry pun membaca dan matanya menyorot dengan tajam melihat isi berita itu.
"Sialan! Siapa yang berani mengekspos urusan pribadiku!" sentak Cherry dengan wajah yang mulai memerah dan melempar tabletnya dengan kesal.
Mendengar amukan sang atasan, Timothy menepi. Ia keluar dan membuka pintu bagian penumpang.
"Nona, ada apa?" tanya lelaki berbadan besar itu menatap sang atasan yang mulai mengepalkan tangannya.
Cherry menatap Timothy dengan menyalang. Ia tarik kerah jas lelaki itu. "Saya sudah katakan padamu untuk menjaga berita hubungan saya dengan Andreas. Tapi ini apa!" Ia melemparkan tablet yang tadi pada orang kepercayaannya tersebut.
Mata lelaki itu membola sempurna melihat portal berita tentang atasannya itu.
Hubungan terbaru Direktur Utama PT. Kusuma's Foods, Cherry Blossom Kusuma dengan seorang lelaki muda yang diketahui anak dari mendiang Darren Wijaya, pemilik PT Wijaya Makmur, Andres Wijaya. Apakah sang lelaki akan menjadi korban selanjutnya?
"Nona ...." Timothy menatap sang atasan dengan rasa bersalah. Foto sang nona dan Andreas terpampang di sana. Entah saat makan malam bahkan beberapa saat lalu ketika mereka berada di toko perhiasan.
Tatapan Cherry begitu dingin, tangannya mencengkram kemudi dengan hebat. Tangannya yang putih terlihat memerah saking ia mencengkram dengan kuat. Ia embuskan napasnya perlahan. Berulang kali, hingga perasaannya sedikit membaik.
Butuh waktu kurang lebih tiga jam untuk sampai ke peternakan. Para pegawai menyambut sang pemilik perusahaan yang ternyata datang sendirian tanpa supir.
"Selamat datang, Nona Cherry," sapa Aji penanggung jawab peternakan yang luasnya sampai sepuluh hektar tersebut. Tidak hanya peternakan, di sana juga ada pabrik untuk memproduksi olahan susu, seperti yoghurt, susu murni, keju dan lainnya.
"Bagaimana masalah soal sapi-sapi itu?" tanya Cherry sembari berjalan menuju ruangannya.
"Kami sudah memanggil dokter hewan untuk memeriksanya, Nona. Mereka berkata bahwa sapi-sapi itu mengalami penyakit mulut dan kuku," sahut Aji.
Cherry menggunakan pakaian apdnya. Tanpa banyak yang tahu, Cherry adalah seorang dokter hewan. Selepas mendapatkan gelar master, Cherry melanjutkan mimpinya yang ingin menjadi dokter hewan. Ini juga yang menjadi alasan ia memilih perusahaan makanan dan minuman sebab untuknya perusahaan tersebut sesuai keinginan dan passion-nya. Bukan hanya itu, Cherry juga punya klinik hewan dan buka praktek selepas pekerjaannya di kantor selesai.
Setelah mempersiapkan diri untuk memeriksa keadaan sapi-sapinya, Cherry diantar Aji menuju kandang. Gadis itu menautkan alis saat memasuki kandang.
"Apa-apaan ini?" tanya Cherry membalikkan badan dan menatap tajam lelaki di hadapannya dengan suara yang mengerikan.
"Ma-maksud Nona a-apa ya?" tanya Aji dengan wajah bingung dan takut.
"Kamu tahu bahwa beberapa sapi di sini terkena PKM. Kenapa kamu satukan dengan sapi yang sehat!" bentak Cherry yang membuat Aji langsung menelan salivanya dengan susah.
"Do-dokter hewan tidak mengatakan bahwa sapi harus dipisahkan, Nona. Ja-jadi—"
"BODOH!" bentak Cherry. "Kalian dapat dokter dari mana? Dia benar-benar dokter hewan terbaik atau abal-abal? Pantas saja yang sakit semakin banyak! Ah, sial! Kenapa hari ini semua orang menguji emosiku!" umpatnya kesal.
"Pindahkan yang sakit ke kandang lain, SEKARANG!" bentak Cherry yang membuat Aji kalang kabut. Buru-buru ia panggil pekerja untuk memindahkan kurang lebih lima belas sapi yang sakit. Sedangkan Cherry, ia pergi ke suatu tempat rahasia di mana selalu ia gunakan untuk meredakan amarahnya.
Wanita itu sampai di salah satu gedung yang cukup tersembunyi. Ia tekan jempolnya pada alat sidik jari, hingga pintu terbuka.
"Nona Cherry." Seorang wanita berdiri dari duduknya, lalu berlari menghampiri sang nona.
"Siapkan pakaianku!" sentak Cherry dengan tubuh yang terus mondar mandir gelisah.
"Tenangkan diri Nona. Semua akan baik-baik saja. Ayo, tarik napas, lalu—"
"SIAPKAN PAKAIANKU SEKARANG JUGA!" teriak Cherry melempar kacamata dan menunjukkan dari matanya betapa kini ia kehilangan kendali.