
"Astaga!" Andreas terjingkat kaget melihat istrinya yang menatap tajam. "Kamu tuh kenapa kayak jailangkung yang suka tiba-tiba ada di depan mata!" protes Andreas mengusap dadanya.
Cherry tak memedulikan omelan suaminya. Ia berjalan menuju ruang makan. Rasanya ia sangat lapar setelah bermain dengan kedua anak kesayangannya.
"Mau sarapan, Sayang?" tanya Widuri yang tengah menata makanan di meja. Cherry hanya mengangguk dan langsung duduk tanpa membalas ucapan sang mama. Widuri sendiri sudah terbiasa dengan sifat anaknya yang satu ini. Ia sudah mewajari.
"Dre, ayo sarapan," ajak sang mama mertua pada menantunya.
"Papa sama Sakura mana, Ma?" tanya Andreas.
"Sebentar lagi datang. Kamu duduk sana," suruh Widuri duduk di samping istrinya. "Cher, layani suamimu. Malah asyik sendiri," tegurnya pada sang anak perempuan yang kini tengah melahap salad sayur.
"Dia punya tangan sehat, kenapa harus diambilin?" jawab Cherry tak acuh.
Widuri merasa tak enak hati pada Andreas dengan sikap anak sulungnya itu. Ia bahkan sampai meminta maaf yang justru membuat Andreas tak enak hati.
"Gak apa-apa, Ma. Aku bisa ambil sendiri. Benar kata Cherry, selagi bisa ngambil sendiri, lebih baik tak menyusahkan orang."
Mereka makan dengan tenang. Cherry yang lebih dulu selesai pun melengos begitu saja, membuat Raharsya menggeleng. Sikap anak tertuanya itu membuat dirinya tak enak hati pada sang menantu. Namun, Andreas sendiri seperti mewajari sikap istrinya dan itu membuat Widuri serta sang suami merasa beruntung Cherry dinikahi laki-laki baik seperti Andreas.
"Loh, sudah rapi. Mau ke mana?" tanya Andreas yang baru masuk kamar melihat istrinya sudah berpakaian formal.
"Kerjalah. Memang kamu pikir aku mau mancing?" tanya Cherry yang sibuk memasukkan laptopnya ke dalam tas.
"Kita baru nikah, loh. Kok langsung kerja? Gak mau jalan-jalan denganku?" tanya Andreas.
Cherry menatap suami dengan tatapan tak suka. "Aku tidak biasa membuang waktuku untuk hal-hal yang tidak penting. Minggir! Kamu menghalangi jalanku. Aku buru-buru ada meeting." Cherry menggeser tubuh suaminya yang berdiri di hadapannya. Bukan bergeser, Andreas justru mendekat.
"Begitukah caramu pamitan dengan suami?" tanya Andreas sedikit berbisik.
"Pamitlah dengan baik-baik." Andreas memeluk pinggang ramping sang istri dengan senyuman di wajahnya.
"Oh astaga, jangan membuatku emosi sepagi ini, Andreas!"
"Galaknya, istri siapa sih?" Andreas mencubit gemas pipi Cherry yang justru ditepis dengan kasar.
"Stop it!"
"Pamit dengan baik dulu, Cherry," ujar Andreas kembali.
"Lepas atau aku akan menyeretmu ke kandang Wolfa dan Wolfi. Kamu tahu bahwa aku memelihara srigala yang tubuhnya besar, 'kan? Dan aku, tidak pernah main-main dengan ucapanku," kata Cherry dengan senyuman yang membuat Andreas merinding.
Akhirnya lelaki itu melepaskan sang istri yang berlalu begitu saja. Setelah kepergian Cherry, Andreas membuang napas secara kasar. Dadanya berdebar dengan hebat saat tatapan wanita itu kembali seakan menghunus jantungnya. Melupakan rasa takutnya dari sikap dingin Cherry, Andreas bersiap untuk balik ke rumah sang mama. Kini, ia harus kembali menata ulang apa yang akan ia lakukan. Bukannya apa, sekarang ia memiliki tanggung jawab untuk memberi nafkan Cherry. Jadi, mau tak mau ia harus bekerja dan mencari tempat tinggal untuk dirinya dan sang istri.
"Ma, aku pamit pulang ke rumah Mama Citra dulu, ya. Aku harus ke kantor," ujar Andreas yang langsung mencium tangan sang mama mertua dengan takzim.
"Hati-hati di jalan, salam untuk keluarga," jawab Widuri.
Andreas pun hanya tersenyum seraya mengangguk, lalu pergi dari kediaman istrinya. Ia masuk ke mobil sedan warna putih milik sang mama yang semalam ditinggalkan untuknya, melaju menembus jalanan ibukota.
Hanya butuh setengah jam untuk sampai di rumah. Ia keluar dari mobil setelah diparkirkan, lalu berjalan masuk ke rumah.
"Andreas! Kamu benar-benar menikah? Beginikah caramu padaku?"
Suami dari Cherry itu terkejut melihat siapa di depannya. Bahkan kunci mobil yang ia lempar ke atas sejak tadi langsung terjatuh.
"A-Arabelle?"