
"Cherry, jangan!" teriak Andreas saat melihat istrinya yang melayangkan pecahan guci itu ke arah sang adik.
"Sial! Aku paling benci dengan cicak!" umpat Cherry yang berhasil membelah tubuh binatang kecil yang menemplok di dekat Sakura.
Andreas melongo melihat sang istri yang mengumpati cicak, sedangkan Sakura justru tertawa. "Kakak, itu guci kesayangannya Mama, loh. Bisa nangis Mama kalau tau guci antik itu dipecahin buat bunuh cicak." Gadis itu masih terkikik geli.
"Eh, itu guci asli?" tanya Andreas yang diangguk Sakura.
"Guci antik dari Kerajaan Cina. Lupa pas raja siapa gitu. Mama beli hampir 5 miliyar di tempat lelang internasional.
"What the!" Andreas terkejut mendengarnya. Lima miliyar untuk sebuah guci kecil? Astaga. Harga dirinya mungkin tak semahal guci tersebut.
"Cher, kamu baru buang duit 5 em. Mama gak bakal minta ganti ke aku, 'kan? Boro-boro 5 em, uangku cuma cukup beli cilok segerobak," celetuk Andreas yang membuat Sakura terbahak hingga menekan perutnya. Sedangkan Cherry acuh tak acuh seakan benda yang ia rusak itu tak bernilai.
"Bang Andre emang cocok jadi suami Kak Cherry. Astaga, aku capek ketawa terus." Gadis itu masih saja tertawa melihat tingkah sepasang suami-istri di depannya. Yang satu minim ekspresi, yang satu penuh ekspresi. Sakura benar-benar bahagia Andreas bisa menjadi anggota keluarganya.
...****************...
Pagi menjelang. Andreas membuka mata saat cahaya matahari mengintip di sela jendela yang tak tertutup gorden. Lelaki itu mengerjap lalu beranjak duduk. Ia menatap sampingnya yang ternyata sudah kosong.
"Jam berapa ini?" tanyanya sambil menguap. Ia meraih ponselnya, lalu melihat jam yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Anak Citra itu mendesah. Biasanya jam segini ia masih terlelap, tetapi ini bukan rumahnya. Bisa diulek sang mama jika ia menunjukkan hal buruk di depan mertuanya.
Akhirnya ia putuskan untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia turun mencari penghuni rumah, terutama istri barunya.
"Pagi, Ma. Jadi anak muda itu harus semangat. Masa males-malesan pagi hari. Malu sama ayam yang udah nyari rezeky subuh-subuh." Ck! pencitraan sekali Tuan Wijaya ini.
"Mama bangga sekali padamu. Penuh semangat." Widuri menepuk bahu sang menantu, sedangkan Andreas menunjukkan wajah bangganya.
"Oh ya, Cherry di mana, Ma? Aku bangun udah gak ada." Andreas celingukan.
"Cherry lagi sama anak-anaknya. Eh, maksud Mama dia lagi sama piaraannya. di halaman belakang," sahut Widuri.
"Srigala itu?" tanya Andreas.
"Loh, kamu tau darimana? Cherry cerita ke kamu?" tanya Widuri.
Andreas menjelaskan bahwa ia diberitahu oleh Sakura. Sang mama pun hanya mengangguk mendengarnya dan berkata bahwa ia bisa menghampiri istrinya. Sejujurnya lelaki itu takut, tapi mana mungkin ia menunjukkan kelemahannya di depan mama mertua? Tengsin, kelleus!
Andreas pun izin pada mama mertuanya untuk menghampiri Cherry. Widuri tampak begitu menyayangi Andreas, ia bisa lihat betapa tulusnya lelaki itu pada sang anak.
Andreas berjalan menyusuri lorong. Para pelayan yang berpapasan, menyapanya dengan sangat ramah. lelaki bermata sipit itu langsung memikirkan sesuatu. Setelah ini apa yang harus ia lakukan? Tidak mungkin selamanya ia harus menumpang di rumah mertuanya, 'kan? Lalu, apa Cherry mau tinggal di rumah Mama Citra? Ia juga memikirkan keadaan istrinya yang sedikit ajaib, ia takut sang mama bisa spot jantung menghadapinya. Laki-laki itu mengacak rambutnya. Ia benar-benar tak memiliki persiapan untuk menampung istrinya sendiri.
"Apa ngontrak dulu, ya? Tapi masa anak emas keluarga Kusuma tinggal di rumah ngontrak? Malu-maluin banget, gila," gumam Andreas frustasi. Uangnya hanya beberapa ratus juta. Ia juga belum mulai bekerja. Ah, pusing sekali ternyata memiliki istri, apalagi istrinya sekelas Cherry.
"Astaga!"