My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Perdebatan Sengit



"Aku lupa cium istriku." Dengan cepat Andreas mengecup bibir Cherry membuat wanita itu tersentak kaget. "Kamu cantik banget. Aku gemessss."


"Astaga, Dre. Sabar apa! Bikin malu aja!" omel Citra yang membuat Andreas meringis.


Sedangkan Cherry hanya bisa menggeleng melihat kelakuan lelaki yang kini menjadi suaminya.


Acara sederhana itu berlangsung sampai pukul sebelas malam. Citra beserta keluarga pamit, meninggalkan sang anak lelaki yang akan menginap di kediaman mertuanya. Widuri sudah meminta Citra untuk menginap juga, tetapi ia menolak sebab keluarganya masih ada yang tinggal di rumahnya. Ia sebagai tuan rumah merasa tak enak jika harus ditinggal. Akhirnya Widuri pasrah dan berkata bahwa esok hari ia harus datang lagi membahas pernikahan legal serta pesta resepsi untuk kedua anaknya.


"Titip Andreas, Mbak. Kalau dia ngeselin pukul aja pake penggorengan," ujar Citra yang membuat anak lelakinya mencebik kesal.


"Dia anakku juga, Cit. Tenang, aku gak akan sungkan," kekeh Widuri.


"Mas, titip Andreas. Ajarin jadi suami yang baik. Dia masih rada-rada bocah," ujar Citra yang kembali membuat Andreas hanya bisa menghela napas.


Lalu, Citra memeluk Cherry. "Makasih sudah mau jadi menantu Mama. Yang sabar ngadepin suamimu yang masih kekanakan." Ia melepas pelukannya, lalu mengusap pipi sang menantu.


"Mama hati-hati di jalan." Citra begitu bahagia mendengar ucapan tulus Cherry, meski gadis itu masih belum bisa tersenyum ramah.


"Sampai bertemu besok, Sayang. Istirahatlah. Jangan berpikir banyak hal. Harus bahagia."


Kini, giliran pada anak tunggalnya ia pamit. "Jaga sikap. Kamu jangan bikin malu Mama."


"Mama, aku udah gede," ujar Andreas cemberut.


Setelah berpamitan, mobil Citra dengan yang lainnya kini melaju meninggalkan mansion mewah keluarga Kusuma. Para penghuni kediaman itu pun masuk.


"Kalian istirahatlah. Ini sudah malam. Cher, bawa suamimu masuk," titah Widuri yang diangguk anak sulungnya. Tak lupa wanita itu meminjamkan piaya tidur suaminya. Andreas tak ada persiapan ap pun, jadi ya mau tak mau ia mengenakan pakaian papa mertuanya.


"Wajarin ya, kalau istrimu itu pendiam," ujar Widuri pada menantunya.


"Tenang, Ma. Aku bakal bikin Cherry kayak beo yang gak berhenti bicara," kekeh Andreas yang membuat Widuri tertawa.


Setelah itu, Andreas pamit menyusul istrinya. Pasangan baru itu masuk ke lift dengan Sakura di dalam sana juga.


"Ciyeee yang punya temen bobok sekarang," goda Sakura tanpa ditanggapi sang kakak.


"Oh, hallo, Sakura. Andreas. Kakak iparmu. Kita belum ngobrol dari tadi, ya." Andreas menjabat tangan adik iparnya.


"Hi, Bang. Tenang saja, kita masih banyak waktu untuk saling kenal. Senang bertemu dengan Abang Andre," balas Sakura dengan senyum mengembangnya.


"Khhhmmm. Ini lantaimu. Keluarlah!"


"Ck! Jahat sekali. Baiklah, selamat istirahat." Sakura melambaikan tangan, lalu berjalan keluar lift.


"Lucu sekali dia," sahut Andreas tersenyum menatap Sakura. "Wo, wo, wo, ada apa, Nona?" Ia terkejut saat tiba-tiba Cherry mendorong tubuh Andreas hingga punggungnya menempel di dinding lift. Wanita itu mengungkung sang suami.


"Berani sekali kamu merayu wanita lain di depan istrimu," kata Cherry menatap tajam suaminya.


"Si-siapa yang merayu wanita lain? A-aku hanya mengatakan bahwa adikmu lucu," jawab lelaki itu dengan dada berdebar. Baru kali ini ia begitu dekat dengan Cherry dan sungguh, wanita ini sangat menawan dengan mata birunya.


Pintu lift terbuka. Cherry melepas kungkungannya. "Berani memuji wanita lain, kucongkel matamu!" Gadis itu pun berlalu meninggalkan suaminya yang terbengong-bengong.


"Daebak! Jadi begini kalau dia cemburu? Shhhh, manis sekali," ujar Andreas menyentuh kedua pipinya. "Cher, tungguh. Iya, aku janji cuma kamu wanita tercantik di muka bumi ini." Lelaki itu terus berlari mengejar sang istri.


Sampailah mereka di kamar Cherry. Lantai empat adalah bagian pribadi milik gadis itu. Hanya orang-orang tertentu yang bisa naik ke sana.


Cherry menarik jempol Andreas, lalu menempelkan di alat sensor pintu. "Aku tambahkan fingerprint kamu di sini," ujar Cherry, lalu ia menekan sensor itu hingga pintu terbuka.


"Aigo, what a room." Andreas begitu takjub melihat bagaimana indahnya dekorasi kamar Cherry dengan desain selayaknya kamar seorang puteri kerajaan dengan warna biru langit menjadi warna dominasi di sana.


Cherry hanya bisa menghela napas melihat suaminya seperti orang udik. Tak memedulikan lelaki itu, Cherry berjalan menuju walk-in-closet. Ia melepaskan gaun pernikahannya, lalu berjalan masuk menuju kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, ia kembali dengan pakaian tidurnya.


Mata Andreas membola sempurna menatap penampilan sang istri. Daerahnya berdesir hebat melihat Cherry yang mengenakan gaun tidur berwarna merah muda yang begitu seksi.


Tenang, Dre. Pelan-pelan aja, batinnya bermonolog.


"Malah bengong! Mandi sana!" omel Cherry yang membuat lamunan Andreas buyar.


"Cher, seksi banget. Ada yang tegak tapi bukan keadilan, Cher," sahut Andreas dengan mata yang tak berkedip.


"kucongkel matamu, ya! Cepat, mandi!" Pelotot Cherry yang membuat Andreas bergidig ngeri.


Andreas pun mengalah. Ia tak ingin di malam pernikahannya justru hanya ada pertengkaran. Cukup lima belas menit untuknya membersihkan diri. Ia keluar, lalu tersenyum menatap Cherry yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang, membaca buku dengan kacamata bulat bertengger di hidung mancungnya. Ia sungguh terlihat menggemaskan dan tak terlihat seorang ODGJ. Cherry, justru terlihat seperti seorang peri dengan keunikan visualnya.


Wanita itu terkejut saat tiba-tiba Andreas memeluknya.


"Love language-ku physical touch, Cher. Jangan nolak saat aku menyentuhmu," ujar Andreas sebelum istrinya melayangkan protes.


"Terserah saja," sahut Cherry acuh tak acuh.


"Kamu tidak takut aku peluk begini? Kata Papa Raha, kamu sangat sulit untuk disentuh," tanya Andreas penasaran, tetapi sang istri justru diam tanpa niat membalas ucapan suaminya. "Cherr, aku nanya ini loh," rengek lelaki itu seperti anak kecil.


"Just shut up!"


"Ck! Ini malam pernikahan kita loh, kamu kok malah sibuk baca buku? Suaminya dianggurin," gerutu lelaki itu masih tak ditanggapi si wanita.


"Cherry, ya ampun, kamu beneran kayak kuburan, ya. Sepi banget. Mending Mbak Kun masih cekikikan."


Cherry menutup buku dengan kasar, membuat Andreas terjingkat kaget. Wanita itu menatap kesal suaminya yang sejak tadi mengganggu. "Kamu bisa lakukan apa pun yang kamu mau. Tapi, jangan pernah mengganggu saya! Saya paling benci orang yang mengganggu kegiatan saya!"


Andreas menelan saliva dengan susah payah. Cherry jika marah sungguh membuat Andreas ciut bagai kerupuk disiram air.


"O-oke. A-aku akan tidur saja. Hehehe." Andreas langsung ngibrit ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa!" sentak Cherry yang membuat jantung Andreas berdebar hebat. "Kembali ke sini!"


Dengan patuh, lelaki itu berjalan menuju tempat tidur. Ia naik dan berbaring di sisi istrinya. Gila ini cewek. Kenapa vibesnya horror sih!


Cherry kembali membaca bukunya. Sedangkan Andreas pura-pura tidur. Ia lupa bahwa emosi istrinya ini tak terbaca. Kadang diam, kadang tenang, lebih sering emosi, sih.


Andreas hanya bisa menyabarkan diri. Ia sudah memilih Cherry sebagai istrinya, jadi dia harus menerima bagaimana pun keadaan sang istri.


Setelah tiga puluh menit, Cherry menutup bukunya. Ia lepas kacamata lalu beranjak dari tempat tidur. Andreas tampak mengintip apa yang dilakukan sang istri. Tangan lelaki itu gemetar saat melihat Cherry tengah duduk dan memainkan sebuah pisau. Entah kenapa, hawa di sana menjadi sangat dingin apalagi melihat tatapan mata Cherry yang sungguh menakutkan.


"Cher!" pekik Andreas saat tiba-tiba gadis itu menyayat lengannya hingga tetesan darah terjatuh. "Apa yang kamu lakukan? Kamu gila, ya!" omel Andreas melihat lengan istrinya berdarah.


"Saya memang orang gila." Cherry tersenyum sinis. Ia menelengkan kepalanya menatap Andreas yang panik. "Saya gak bisa tidur. Biasanya setelah mencium aroma darah saya suka ngantuk."


Andreas bergidig ngeri. Ternyata keadaan Cherry separah ini. Buru-buru lelaki itu meraih kotak pertolongan pertama dan mencoba membersihkan luka di lengan sang istri.


"Apa yang kamu lakukan!" pekik Cherry tak suka.


"Darahmu bisa habis kalau tidak dihentikan," sahut Andreas khawatir.


Cherry tertawa mendengarnya. "Ini hanya luka kecil. Tidak akan membunuh saya. Pergilah! Sudah saya katakan, jangan pernah ganggu saya!"


"Dulu kamu bisa melakukan sesuka hatimu! Tapi sekarang, jangan harap kamu bisa melakukan ini. Jangankan hanya tanganmu! Seluruh tubuhmu kini adalah milikku. Tanpa seizinku, kamu tidak bisa melakukan hal apa pun sesukamu. DENGAR TIDAK!" bentak Andreas.


Cherry terdiam. Ia sungguh malas meladeni Andreas yang banyak bicara. Perdebatan bukanlah hal yang Cherry suka. Tapi, mengganggu kesukaannya, itu sungguh menjengkelkan. Ia tersenyum menatap pisau itu, lalu mengambilnya. Ia tatap si suami yang kini sedang mengomel dengan tangan sibuk membersihkan luka yang ia buat barusan.


"Just a shut up!" Cherry mengangkat pisau itu dengan mata menatap penuh amarah pada Andreas.


"Aaarrgg! Cherry!"