My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Tak sanggup Aku sungguh tak sanggup



Daisy memutar bola mata dengan malas melihat anak gadisnya yang langsung gelendotan di lengan Andreas. Bocah Inggris tersebut menatap tak suka wanita berambut putih yang kini menatapnya dengan tatapan datar.


"Honey, where have you been? I'm waiting you. Katanya mau KENCAN!" Arabelle menatap sinis wanita yang sejak tadi tak acuh padanya.


"Belle! Gak boleh gitu. Gak enak sama istrinya Bang Andreas," tegur Daisy pada anaknya.


"Siapa istri? Dia?" Arabelle menunjuk Cherry. "Gak cocok dengan Honey. Dia cocok denganku! Rambut putih kayak nenek-nenek saja" Gadis itu menjulurkan lidahnya mengejek.


"Duh, Cherry, maafkan anak Tante, ya. Dia memang begitu pada sepupunya. Maklum, saat Andreas kuliah di Inggris, tinggal bersama kita dan mereka jadi sangat dekat," ujar Daisy tak enak hati.


Cherry hanya mangut-mangut tanpa mau membalas.


Andreas sendiri hanya tertawa kecil sembari mengusap kepala Arabelle. Ia memang sangat menyayangi gadis itu. Maklum, ia anak tunggal dan kehadiran Arabelle membuatnya merasa memiliki adik. Ia juga tak peduli gadis itu menyebutnya pacar, lebih baik begitu daripada ia berpacaran dengan laki-laki lain yang mungkin merusak adik sepupunya itu. Andreas hanya menganggap bahwa Arabelle hanya tengah puber.


"Besok aku ajak jalan-jalan naik motor, mau? Keliling kota? Nanti kita makan kerak telor sama bir pletok pulangnya," ujar Andreas dengan lembut.


"Mau! Mau! Mau! Andreas terbaik!" Gadis itu mencium pipi sepupunya dengan pelukan yang makin erat.


"Eh, kok gitu? Aduh, Belle. Minta maaf pada Kak Cherry. Jangan cium Bang Andre sembarangan, Nak. Duh, maaf ya, Cher." Ingin sekali rasanya Daisy menyeret anak gadisnya yang kecentilan itu.


"Dre, bisa kamu antar aku ke kamar? Aku ingin istirahat," ujar Cherry tanpa menimpali ucapan Daisy.


"Belle, tunggu dulu. Aku mau antar dia ke kamar, oke. Setelah ini, kita main lego, gimana?" tanya Andreas dengan lembut.


"Fine. Jangan lama-lama antarnya. Aku cemburu!" Andreas hanya tertawa menimpalinya.


Setelah itu, Andreas pamit untuk mengantar Cherry.


"Mbak, Cherry marah ya, sama Arabelle? Aduh, aku gak enak banger," ujar Daisy pada Kakak iparnya. "Kamu sih! Jaga sikap, Belle! Andreas bukan lelaki single lagi." Dengan gemas, ia memukul paha anak gadisnya.


"Bisa aja jawabnya. Anak siapa sih, kamu!"


"Anak Mommy, lah!"


Di tempat lain, lebih tepatnya di lantai dua Andreas dan Cherry berjalan menuju kamar. Lelaki itu bersiul sepanjang jalan dengan santainya. Sampai di depan kamar, ia membuka pintu dan mengajak istrinya masuk.


"Kamu bisa istirahat aku akan keluar du—"


Andreas terkejut saat tiba-tiba istrinya mendorong tubuhnya hingga membentur pintu. "Ch-Cher, apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan gugup. Mata biru itu menatapnya dengan tatapan yang ... berbeda.


"Pacarmu?" tanya Cherry.


"Si-siapa?"


"Bocah kecil itu. Dia pacarmu?" tanya gadis itu lagi.


"Astaga, Cher. Kukira apa." Andreas hendak melepaskan diri, justru tiba-tiba Cherry mencium bibirnya. Sontak lelaki itu terkejut membelalak.


"Kau milikku. Apa yang sudah menjadi milikku, tidak boleh ada yang memilikinya juga!" Cherry kembali mencium bibir suaminya. Ini adalah ciuman pertamanya, ia benar-benar kaku saat melakukan itu, yang membuat Andreas sedikit lucu.


"Kamu cemburu, hhmmm?" bisik Andreas mengusap bibir tipis sang istri.


Cherry melepaskan diri. Ia mundur beberapa langkah menatap suaminya. Senyuman Andreas luntur saat tiba-tiba sang istri melepas blazer dan melemparnya ke sembarang arah. Gadis itu kembali melangkah maju dengan tangan melepas kancing kemejanya satu per satu.


"Lebih milih bermain lego bersama bocah itu, atau bermain denganku di ... ranjang?"


Andreas menelan salivanya dengan sulit saat semua kancing kemeja wanita itu terlepas. Tuhan, dia menawan sekali. Gak sanggup aku gak sanggup.