My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Syoknya Andreas



"Cherry! What the hell are you doing!" pekik Andreas saat istrinya menambah luka di bagian pahanya. Kini, bukan hanya lengan yang bercucuran darah, tetapi bagian paha pun mengeluarkan cairan merah yang membuat Andreas gemetar. Lelaki itu bahkan sampai terduduk lemas melihat betapa gilanya Cherry.


Andreas yang seumur hidup tak pernah bertemu orang penderita gangguan jiwa seperti sang istri, merasa sangat tertekan dengan situasinya.


"Kenapa? Takut?" tanya Cherry tersenyum menatap suaminya yang gemetar hebat. "Ck! Lemah sekali. Hanya melihat darah segini saja sudah tremor." Wanita cantik itu meraih kapas, lalu ia basahi dengan alkohol dan menyeka lukanya tanpa menunjukkan rasa sakit sedikitpun. "Saya sudah bilang jangan ganggu kesenangan saya, Dreas. Saya sangat benci itu. Dan untuk menghilangkan rasa jengkelnya, saya harus melukai diri saya sendiri. Jadi, semakin kamu mengganggu kesenangan saya, semakin banyak luka di tubuh saya. Paham?"


Setelah mengatakan itu, Cherry melanjutkan membersihkan lukanya. Sedangkan Andreas masih terduduk dengan perasaan syok. Lelaki itu benar-benar kena mental dengan apa yang dilihatnya. Penyakit apa sebenarnya yang diderita Cherry? Kenapa ia seperti tak memiliki rasa sakit?


"Menyesal menikahiku?" tanya Cherry menyentuh rahang suaminya. Andreas sendiri hanya menggeleng dengan tatapan takut. "Yakin?" Lelaki itu mengangguk tanpa berpikir. "Jadi, bersiaplah melihat hal yang lebih gila dari ini, Andreas Wijaya." Ia menyeringai, membuat bulu kuduk Andreas berdiri semua.


"Ch-Cher, ja-jangan lakukan itu lagi," lirih Andreas menatap istrinya dengan berkaca-kaca. "Pasti ada cara lain yang bisa membuatmu terlelap tanpa harus melukai dirimu."


"Well, sampai sekarang, selain obat tidur dan obat penenang, belum ada yang mampu membuatku tidur dengan nyenyak tanpa melihat luka ini." Ia tersenyum menunjukkan luka barunya.


"Aku akan tunjukkan cara ampuh untuk tidur dengan nyenyak. A-ayo." Andreas mencoba beranjak dari duduknya, meski kakinya masih gemetar. Ia harus tanggung jawab pada sang istri. Ia tidak akan membiarkan wanita itu melakukan hal berbahaya hanya untuk terlelap.


Andreas menyuruh Cherry untuk berbaring. Lalu, ia ikut berbaring di samping sang istri. "Mendekatlah," ujar Andreas menepuk lengannya untuk dijadikan bantalan.


"Kamu mau cari kesempatan?" tanya Cherry menyelidik.


"Percaya padaku, kamu akan cepat tidur menggunakan cara ini," sahut Andreas.


Akhirnya Cherry menurut. Ia ingin tahu apakah cara yang suaminya katakan itu benar-benar ampuh. Meski masih syok dengan apa yang Cherry lakukan tadi, Andreas berusaha untuk tenang. Diantara mereka harus ada yang waras. Jika sama-sama gila, kasihan juga anaknya punya orang tua tidak ada yang waras. Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga, Andreas memeluk istrinya. Cherry tampak tertawa kecil ketika merasakan tangan suaminya yang masih tremor.


"Kamu masih syok dengan apa yang aku lakukan?" tanya Cherry.


Andreas itu lahir dan tumbuh dari keluarga yang penuh cinta. Kedua orang tuanya adalah sepasang suami-istri yang manis. Mereka jarang sekali bertengkar. Meskipun bertengkar, mereka tidak pernah menunjukkan dan biasanya hanya sebentar langsung baikan. Keluarga besarnya pun sama. Makanya Andreas tumbuh jadi laki-laki tipikan manis dan tidak suka kekerasan. Melihat Cherry yang bertolak belakang dengannya, cukup membuat sang lelaki sedikit terkejut.


"Kamu harus berani mulai sekarang. Penyakitku itu gak bisa disembuhkan, andai kamu terus begini, aku justru takut kamu nyusul aku jadi orang gila."


"Ssstttt, kamu gak gila, kamu unik," sahut Andreas yang memeluk Cherry makin erat. "Kamu tahu? Dulu, saat aku kecil, setiap malam Mama dan Papa memelukku sebelum tidur. Saat sudah pisah kamar pun masih sama. Lalu, ketika aku sedang kalut, Mama selalu memelukku seperti ini. Rasanya sangat nyaman dan pasti aku cepat tidur. Karena pengalaman ini, makanya aku coba padamu. Mungkin ini akan berhasil daripada kamu harus melukai diri, aku rela memelukmu setiap waktu seperti ini," ujar lelaki itu panjang lebar. Namun, tak ada sahutan dari si wanita.


"Cher, kok diam?" tanya Andreas. "Ck! Dia tidur ternyata." Ia tersenyum dengan napas lega. Ternyata cara yang dia lakukan ampuh. Lihat saja, belum lima menit dipeluk, Cherry sudah terlelap.


Andreas melonggarkan pelukannya. Ia menunduk menatap Cherry yang sudah terlelap. Tangannya yang bebas terulur mengusap pipi halus sang istri. "Entah sehancur apa kamu sampai bisa memiliki gangguan yang begitu parah, Cher," gumamnya masih menatap wanita cantik itu. "Maaf kalau aku masih pengecut. Tapi, akan aku pastikan bahwa aku akan selalu berada di sampingmu."


Andreas kembali memeluk Cherry dengan cukup erat. Ia labuhkan ciuman di ujung kepala sang istri dengan menghirup aroma kopi yang meyeruak dari rambut putihnya. "Dasar aneh, perempuan lain baunya selalu manis, ini bau kopi cappuccino," kekeh Andreas. Mau gimana lagi, Bang. Tau sendiri binimu itu emang beda.


Setelah dirasa Cherry tertidur dengan lelap, Andreas melepaskan pelukannya. Dengan hati-hati ia beranjak dari tempat tidur, lalu melangkah keluar kamar. Ia butuh bernapas setelah mengalami hal menakutkan. Lelaki itu berjalan menuju lift. Menurut Widuri tadi, mereka memiliki atap yang cukup nyaman untuk menghirup udara segar. Karena itulah, Andreas pergi ke lantai lima. Sampai di atap, lelaki itu terkejut dengan suasana di sana. Bagaimana tidak, tempat yang dibilang cukup nyaman itu justru benar-benar nyaman.


Lantainya yang dipasang kayu kwalitas premium, lalu ada kolam renang ditengah-tengah dengan berjejer beberapa kursi santai. Di sudut lain, meja makan, serta sofa di dekat pembatas yang ditutupi atap yang terbuat dari kaca, lalu beberapa tanaman juga berjejer di sana. Rumah lima lantai itu benar-benar mewah. Tidak heran, sih, untuk seukuran pengusaha sukses seperti Raharsya Kusuma.



Andreas duduk di salah satu kursi santai di dekat kolam renang. Ia tatap air yang bergoyang kecil karena embusan angin, memikirkan bagaimana jalan pernikahannya dengan sang istri.


"Loh, ada di sini juga?"


Andreas cukup terkejut melihat siapa yang datang ke atap.