
ANDREAS GILA! Benar-benar gila. Ia pikir butuh waktu untuk pendekatan dengan Cherry, apalagi ke tahap bermain ina-inu di ranjang. Nyatanya, gadis itu dengan mudah memberikan itu padanya. Sungguh, ia benar-benar terkejut dengan apa yang mereka lalui beberapa saat lalu.
Wajah Andreas memerah membayangkan betapa manisnya Cherry di bawah kungkungannya.
"Sakit, Yang. Pelan-pelan."
Tubuh Andreas merinding saat mendengar suara manja Cherry. Saat di ranjang, gadis itu benar-benar berbeda. Ia menjadi sosok peri kecil yang menggemaskan. Tak tahan rasanya Andreas dibuatnya. Bahkan beberapa kali Cherry memanggilnya Ayang. Ish, sungguh seperti bukan Cherry Blossom Kusuma istrinya yang psikopat.
Cherry menautkan alis menatap Andreas yang terus senyam senyum tak jelas. Keduanya masih di atas ranjang dengan berselimut menutupi tubuh polos keduanya. Tadi, saat mereka akan memulai, tiba-tiba Arabelle menggedor pintu. Andreas yang tak bisa meninggalkan kesempatan langka pun tak memedulikan gedoran tersebut apalagi kamarnya kedap suara. Yang penting, ia bisa merasakan naninu bareng istrinya yang memiliki visual seperti Queen Elsa dari Arandelle kalau kata Tante Daisy.
"Berhenti menatapku seperti itu," ujar Cherry ketus.
"Panggil Ayang lagi, dong. Kamu manis banget tadi," sahut Andreas yang membuat Cherry melengos. Wanita yang kini sudah tidak perawan seutuhnya itu hendak beranjak. Ia tak memedulikan tubuhnya yang sepolos salju terpampang, membuat Andreas turn on lagi. "Aduh, Cher. Tutupin badan kamu. Aku tergoda."
"Cih! Mesum sekali." Cherry beranjak berdiri. Ia merasa perih di area sensitifnya. Namun, ia masih bisa berjalan menuju kamar mandi. "Turunlah ke bawah. Timothy pasti sudah membawa pakaianku. Aku mau mandi."
"Siap sayangnya aku. Mau apalagi? mau makan gak? Kita belum makan siang, loh," sahut Andreas yang mengenakan kolornya yang bergambar SpongeBob.
"Bisa tidak sih kolormu itu ganti? Jijik sekali melihat tubuhmu yang besar tapi bawahnya spons kuning," omel Cherry yang kesal melihat kelakuan suaminya.
"Stop it!"
"Ciyeee Ayangnya Andreas malu. Aduhh, anak Papa Raharsya bisa malu juga. gumush, gumush." Lelaki itu justru mendusel di dada istrinya yang polos. ah, turn on lagi, kan. Gawat kalau tidak disalurkan. Dengan cepat, Andreas mengangkat tubuh semapai istrinya. Ia bawa ke atas sofa dan direbahkannya. "Kita coba di sofa, yuk."
"Andreassssss!"
**
Wajah Andreas begitu ceria saat turun ke bawah untuk mengambil pakaian istrinya. Bagaimana tidak, bermain dengan Cherry di ranjang sungguh membuat badannya segar, berbeda jika bermain lego dengan Arabelle yang justru membuatnya bosan.
"Aku jatuh cinta padanya. Oh sungguh dia memesona." Andreas bernyanyi sembari bergoyang saat berjalan kembali menuju kamar. Ah, cherry benar-benar menawan. Ia tak salah memilih wanita itu sebagai istrinya. Ya, meski dia setengah menakutkan. Tapi, ternyata sisi lain wanita itu sungguh membuat Andreas kembali jatuh cinta seperti bocah remaja labil.
Teringat kembali saat mereka remaja. Bagaimana cantiknya Cherry saat berjalan di lorong sekolah. Andreas yang selalu kebagian melihat wajah ayu itu sungguh dibuat klepek-klepek. Cherry memang beda seperti wanita lainnya. Ia misterius, pendiam dan damage-nya berbeda sekali. Persetan dengan ucapan orang mengenai istrinya. Wanita itu tak segila apa yang mereka ucapkan. Meski memang berbeda dari orang lainnya, Cherry tak pernah mencari masalah sebelum orang duluan yang mengganggunya. walaupun balasan Cherry sungguh menakutkan. Tapi, Andreas sepertinya sudah jatuh akan pesona seorang Cherry Blossom. Yang dia lihat, Cherry adalah puteri kerajaan yang cantik, menawan, anggun dan bisa buat dia enak. Hoho mesum sekali lelaki satu ini.
Saat ia sampai di depan kamar, tiba-tiba ia terkejut saat Cherry menyiramkan segelas air dengan tatapan datarnya.
"APA YANG KAMU LAKUKAN!"