My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Masalalu Cherry



"Andreas, saya ingin mengatakan bahwa saya—"


"Cherry Blossom Kusuma!" sentak Raharsya.


"Pa, tenang." Widuri mencoba menenangkan sang suami.


Raharsya menutup mata dengan mengatur napasnya. "Kkhhhmm, maaf untuk para tamu semua. Saya ingin meminta izin untuk berbicara dengan Andreas dan Citra sebentar. Kalian bisa ikut kami ke ruangan yang lain. Ada hal penting yang harus kami sampaikan kepada kalian," ujar Raharsya. Ia paham dengan apa yang Cherry ingin lakukan. Keputusan sang anak memang benar dan ia seharusnya melakukan hal yang sama. Namun, ia belum siap jika banyak orang yang tahu tentang keadaan putri kesayangannya.


Akhirnya Citra dengan Andreas ikut Raharsya juga Widuri serta dua anak perempuannya ke ruang kerja milik sang tuan rumah. Kini, mereka duduk berhadapan dengan wajah serius. Setelah saling diam untuk sesaat, Raharsya berdeham meluruhkan kecanggungan di sana.


"Jadi, apa yang ingin Cherry katakan tadi?" tanya Citra yang sejujurnya sudah penasar.


"Jadi begini, Cit. Seperti yang Cherry katakan tadi, bahwa ia memiliki kekurangan dan jujur, kami khawatir dengan apa yang dimiliki anak kami mengganggu hubungan mereka kelak. Saya sebagai orang tua sekaligus wali Cherry ingin memberitahu keadaannya dengan seterbuka mungkin, berhubung hubungan anak-anak kita yang akan ke jenjang serius," ujar Raharsya yang sejujurnya masih berat sekali mengatakan apa yang sang anak alami.


"Cherry kenapa?" tanya Citra yang sudah gemas sejak tadi Raharsya hanya membuka dan mengatupkan bibirnya kembali.


"Jadi Cherry—"


"Saya adalah seorang ODGJ juga sudah tidak perawan."


"Cherry!" seru Raharsya juga Widuri berbarengan. Keduanya terkejut dengan yang diucapkan sang anak. Begitu juga Citra dan Andreas yang membelalak mendengarnya.


"Tunggu, maksudnya Cherry apa? Dia ODGJ? Terus sudah tidak perawan? Apa aku gak salah dengar, Mbak? Mas?" tanya Citra yang meragukan pendengarannya.


"Tante gak salah dengar. Saya memang seorang ODGJ dan tidak—"


"Cher, gak kayak gitu jelasinnya. Kamu diam ya, Nak. Biar Mama dan Papa yang menjelaskan pada Tante Citra dan Andreas," sahut Widuri.


Cherry pun mempersilahkan kedua orang tuanya untuk menjelaskan. Sedangkan Sakura hanya diam duduk di samping sang kakak dengan tatapan sedih. Ia genggam tangan Cherry, membuat wanita itu menoleh dan langsung melepas genggaman tangan adiknya.


"Gini, Cit. Mbak dan Mas Raha gak berniat buat menutupi keadaan Cherry yang sebenarnya. Kami hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan pada kalian. Tapi ternyata, anak kami yang tidak sabaran untuk memberitahu keadaannya," ujar Widuri pada juniornya di kampus dulu.


Citra pun hanya mengangguk, tak berniat untuk menyela.


"Untuk kasus yang dikatakan Cherry bahwa dia ODGJ itu benar. Cherry mengidap sosiopat, bipolar dan halusinasi," sahut Widuri dengan suara yang serak. Ia sungguh tak ingin membahas ini lagi, tetapi benar yang dikatakan Cherry bahwa Citra juga Andreas berhak tahu keadaannya.


"A-apa, Mbak? Sosiopat, bipolar dan halusinasi?" tanya Citra tak percaya, bahkan wanita itu menutup mulutnya saking terkejut. Begitu juga Andreas yang membulatkan matanya dengan sempurna.


"Soal Cherry tidak perawan, itu salah. Cherry tidak pernah tidur dengan laki-laki manapun. Kami sebagai orang tua sangat menjaga kedua putri kami, begitu juga mereka yang menjaga dirinya. Namun, jika kamu dan Andreas mengharapkan seorang wanita yang memiliki selaput darah. Cherry ... Cherry." Widuri tak sanggup untuk melanjutkan. Tenggorokannya terasa sangat berat untuk mengatakan itu. Raharsya pun dengan sigap mengusap bahu sang istri dan mengambil alih menjelaskan keadaan putri kesayangannya.


"Ini adalah dosa terbesar kami terhadap Cherry. Apa yang ia alami adalah kelalaian kami sebagai orang tua. Kejadian ini terjadi saat Cherry masih kecil," ujar Raharsya pada Citra juga Andreas.


Lelaki itu pun menjelaskan apa yang terjadi pada sang anak.


Dulu, saat mereka baru memiliki Sakura, Widuri cukup kelimpungan merawat dua anak perempuannya. Apalagi usian mereka yang cukup jauh, membuat Widuri merasa tak merawat sang anak dengan benar. Akhirnya Raharsya memutuskan mengambil seorang baby sitter untuk Cherry. Ia mendapat rekomendasi dari mendiang ibunya, memperkerjakan seseorang dari kenalannya. Raharsya yang sangat percaya pada ibunya pun akhirnya menerima seorang wanita muda sebagai pengasuh anak sulungnya itu.


Pengasuh Cherry begitu cekatan. Ia sangat menyayangi Cherry seperti yang Raharsya juga Widuri rasakan. Awalnya mereka masih mengawasi cara bekerja wanita itu. Hingga lama-lama melihat betapa baiknya pekerjaan si pengasuh, membuat keduanya memberikan kepercayaan padanya untuk merawat Cherry. Bertahun-tahun mereka memperkerjakan dia, Cherry sendiri merasa nyaman dengan wanita itu sebagai pengasuh. Hingga suatu hari hal janggal mereka rasakan.


Mendengar penjelasan sang ayah, tiba-tiba Cherry teringat kejadian itu lagi. Tangannya mulai gemetar dengan keringat dingin mulai bercucuran. Sakura yang berada di dekat kakaknya pun merasakan itu.


"Ma, Pa. Kakak ...."


Raharsya dan Widuri terkejut melihat reaksi Cherry. Begitu juga Citra.


"Kamu bawa dulu Cherry ke kamarnya. Aku akan tetap menjelaskan pada Citra dan Andreas," ujar Raharsya yang diangguk sang istri.


Widuri pun membawa Cherry keluar, begitu juga Sakura yang ikut dengan sang mama.


Gadis beranjak remaja itu selalu ketakutan saat bersama pengasuhnya. Ia sering menolak jika akan ditinggalkan berdua. Padahal dulu, mereka sering bersama dan tak pernah Cherry menolak. Namun, saat ia beranjak remaja, ia seakan ketakutan dengan pengasuhnya. Hingga akhirnya Raharsya mencari tahu apa yang terjadi.


Ayah dua anak itu memeriksa CCTV, tetapi tak ada yang janggal dengan kegiatan yang dikerjakan pengasuh itu.


"Saya sempat gamang dengan apa yang terjadi pada Cherry. Saya juga membahas ini dengan Widuri dan akhirnya kami mencoba memancing dengan cara kami menitipkan Cherry dengan alasan pergi ke luar kota. Saat itu, Cherry menangis memohon untuk tidak ditinggal. Namun, demi mencari tahu apa yang terjadi, kami terpaksa meninggalkannya," ujar Raharsya yang dadanya mulai terasa sesak.


Mereka pun pergi meninggalkan Cherry. Hanya setengah jam mereka pura-pura pergi, dan kembali dengan cara mengendap-endap masuk rumah. Saat sampai di dalam, mereka tak menemukan Cherry. Hingga akhirnya mereka mencari ke kamar anak perempuannya itu. Namun, nihil sang anak tidak ada di sana.


Raharsya dan Widuri sangat khawatir mencari keberadaan anak sulungnya itu. Hingga akhirnya ia mendengar suara Cherry yang menjerit. Saat itu juga Raharsya berlari mencari keberadaan anak perempuannya. Suara Cherry makin jelas saat Raharsya pergi menuju kamar pengasuh anaknya. Sampai di depan pintu, ia mendengar tangisan Cherry yang meminta ampun, dengan mendengar suara ******* juga. Dada lelaki itu terasa sesak. Ia sungguh tak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada anak perempuannya. Dengan penuh amarah, ia tendang pintu tersebut sampai terbuka. Betapa terkejutnya ia saat melihat keadaan sang anak.


Cherry telah dilecehkan. Tubuh mungilnya dijadikan alat pemuas nafsu wanita bejad itu. Amarah Raharsya bahkan naik melihat darah yang keluar dari inti tubuh anak perempuannya. Saat Widuri menyusul, ia menjerit melihat keadaan anak gadisnya.


Air mata Raharsya terjatuh dengan dadanya yang sesak. "Kamu bisa membayangkan betapa hancurnya kami mengetahui itu. Rasanya hampir gila, Cit. Bayangkan jika kita di posisi Cherry saat itu."


Tangan Citra gemetar mendengarnya. Ia sungguh tak menyangka bahwa dibalik sikap dingin Cherry, ia menyimpan luka yang begitu besar.


"Wanita itu mengidap penyimpangan seksual. Ia penyuka sesama jenis bahkan terhadap anak kecil. Ia berkata bahwa ia jatuh cinta dengan Cherry yang memiliki keunikan. Hati kami hancur, Cit. Kami yang membawa monster itu untuk anak kami. Semua kesalahan yang dia buat, kamilah yang harus disalahkan. Cherry tidak akan seperti sekarang andai kami sabar merawat anak-anak."


Melihat keadaan Raharsya yang tak baik-baik saja, Andreas beranjak dan memeluk lelaki yang merasa bersalah pada anak perempuannya itu.


"Cherry mengalami trauma yang sangat parah saat itu. Ia bahkan tak mau disentuh siapa pun termasuk kami. Pengasuhnya dulu selalu mendoktrin dia bahwa kami tidak menyayanginya dan hanya menyayangi Sakura. Beberapa tahun dia membenci kami bahkan adiknya sendiri. Mungkin sampai sekarang rasa itu masih ia rasakan. Tapi, setidaknya tidak separah dulu. Kini ia mau disentuh kami dan mau berbicara dengan kami, meskipun hubungannya dengan sang adik masih seperti orang asing," ujar Raharsya kembali.


"Karena trauma itu, Cherry sering halusinasi mendengar ucapan-ucapan pengasuhnya dulu yang membuat tubuhnya akan tiba-tiba lemah. Belum lagi ia menderita sosiopat yang membuat sikapnya berbeda dari orang lain. Ia sungguh antisosial, bahkan selalu berbuat masalah tanpa merasa bersalah. Dan itu semua karena kami." Air mata Raharsya tak bisa ia kendalikan lagi. "Tapi, kami menjamin bahwa pembunuhan itu bukanlah salah Cherry. Kami tidak pernah membela anak kami yang salah. Cherry benar-benar tidak melakukannya karena itulah ia bebas."


"Cherry tidak pernah memiliki kepercayaan sejak kejadian itu, bahkan terhadap kami. Ia selalu menutup diri dan selalu mengandalkan dirinya sendiri. Hingga suatu hari, ia berkata pada kami bahwa ia menyukai seorang laki-laki, tetapi dia salah menunjukkan rasa sukanya. Dia justru melukai laki-laki itu," ujar Raharsya yang membuat Andreas terdiam. "Cherry merasa bersalah dan akhirnya ia meminta kami untuk memindahkannya ke luar negeri karena ia merasa bahwa laki-laki itu pasti takut dengannya."


"Dia sangat menyukaimu, Andre. Bahkan selama hidupnya ia tak pernah pacaran dan selalu menganggap dia adalah pacarmu karena sudah menerima pernyataan cintamu dulu," sahut Raharsya.


Andreas sungguh terkejut mengetahui itu semua.


"Tapi, kenapa dia melukaiku jika dia menyukaiku?" tanya Andreas.


"Perjalanan hidupnya teramat berat, Dre. Dia tidak pernah percaya pada siapa pun dan dia selalu merasa akan disakiti orang. Karena itulah dia melukaimu untuk melihat apakah kamu laki-laki yang bisa melindunginya atau tidak. Cherry tak pernah menunjukkan rasa suka pada laki-laki. Saya sempat takut ia mengalami penyimpangan seksual. Namun, itu salah. Saat kami mengatakan bahwa kami akan menjodohkannya denganmu, ia tak menolak dan justru meminta segera menikah," sahut Raharsya tersenyum dibalik tangisnya.


"Om ...."


"Kami menerima keputusanmu sekarang, Dre. Kami tidak pernah memaksa dalam hubungan ini. Kalian juga jangan takut saya akan mencabut investasi karena penolakan hubungan ini. Sejak awal, saya tulus membantu kalian," sahut Raharsya.


"Dre ...." Citra menggenggam tangan anak laki-lakinya.


"Saya akan mewajari jika kamu menolak atas keadaan Cherry. Kamu memang berhak mendapat wanita yang jauh lebih baik dari anak saya," ujar Raharsya pasrah.


"Om, boleh tolong panggilkan Tante Widuri juga Cherry. Saya ingin memberitahu keputusan saya atas hubungan ini," ujar Andreas yang diangguk Raharsya. Lelaki itu pun menghubungi sang istri untuk kembali ke ruang kerjanya.


Tak lama, pintu terbuka menampilkan tiga wanita cantik yang tadi sempat keluar. Keadaan Cherry pun mulai membaik tak seperti tadi. Mode dinginnya telah kembali. Mereka akhirnya duduk di tempat semula. Menunggu jawaban Andreas atas kelanjutan hubungan mereka.


"Saya sudah mendengar cerita dengan apa yang terjadi pada Cherry. Saya juga sudah berpikir untuk kelanjutan hubungan kami berdua. Keputusan ini mutlak dari diri saya sendiri. Jadi, Om, Tante, Cherry dan Sakura tidak berhak untuk marah pada Mama saya."


"Dre!"


"Ma, jujur, awalnya Dreas menerima lamaran ini hanya demi membahagiakan Mama tanpa berpikir kebahagiaanku. Lebih tepatnya, aku terpaksa menikahi Cherry. Tapi, setelah mendengar cerita Om Raha mengenai Cherry, rasanya akan sangat berdosa jika aku menikahi Cherry hanya karena balas budi. Jadi, Andreas mohon pada Mama untuk menghargai keputusan Dreas saat ini," ujar Andreas menggenggam tangan sang mama.


"Dre, Mama mohon." Air mata Citra terjatuh. Ia sungguh berharap bahwa anak laki-lakinya tidak membatalkan pernikahan dengan anak sahabatnya itu.


"Om, Tante, maaf saya menolak rencana pernikahan saya dan Cherry."