My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Kepergok



"Eh, Sakura. Belum tidur?" tanya Andreas menatap adik iparnya yang berjalan mendekat.


"Baru selesai ngerjain tugas. Pusing banget, akhirnya naik buat nyari angin," sahut gadis cantik bermata cokelat itu duduk di samping Andreas sembari memegang gelasnya.


"Abang sendiri belum tidur? apa habis ....," kekeh Sakura yang hanya dibalas gelengan oleh Andreas.


"Kakak ngelukain diri lagi, ya?" tanya Sakura.


"Kamu ... tau?" tanya Andreas terkejut.


"Sudah jadi rahasia umum di kalangan rumah," sahut Sakura menyesap teh hijaunya. "Muka Abang aja keliatan banget syoknya. Hampir tiap hari Kakak begitu. Tadi juga Mama mondar mandir takut Kakak bikin Abang snewen dan bener aja dugaan Mama," sahutnya lagi.


"Sesering itu?"


Sakura hanya mengangguk.


"Tapi, kenapa tidak ada luka di tubuhnya? mulus-mulus aja tuh," sahut Andreas yang membuat Sakura tersedak. "Eh, sorry, sorry. Aku salah bicara."


Gadis cantik itu berdeham. "Kak Cherry setiap bulan melakukan operasi menghilangkan bekas luka. Karena itulah kulitnya selalu mulus. Itu atas permintaan Mama. sebelumnya Kakak tidak pernah mau."


"Separah itu sakitnya?" tanya Andreas.


"Papa sudah cerita kan, apa yang terjadi pada Kakak di masa lalu?" tanya anak bungsu Raharsya, yang diangguk Andreas.


"Menurut Abang, kalau kita di posisi Kakak akan tumbuh seperti apa?" tanya gadis itu lagi. "Mungkin akan jauh lebih parah." Ia tersenyum. "Kakak itu wanita hebat. Dia bisa survive dalam waktu dua tahun, meski memang merubah sikapnya, tetapi minimal, dia bisa beraktivitas seperti anak-anak lainnya."


"Satu tahun Kakak dirawat di rumah sakit jiwa saat itu. Traumanya benar-benar membuat dirinya hancur. Setiap waktu selalu menjerit ketakutan ketika ada orang yang mendekatinya. Sampai akhirnya Kakak dibawa ke sana," sahut Sakura. "Aku sendiri gak terlalu ingat karena aku masih sangat kecil. Cuma, Mama selalu cerita padaku saat aku selalu bertanya kenapa Kakak seperti benci padaku."


"Kenapa kamu merasa begitu? Apa Cherry tidak memperlakukanmu dengan baik?"


Sakura tersenyum miris, menerawang mengingat bagaimana hubungannya dengan sang kakak.


"Berarti benar hubungan kalian tidak baik-baik aja," kekeh Andreas.


Sakura hanya berdecak mendengarnya. Kedua orang itu begitu asyik mengobrol. Mereka tak menyangka bahwa mereka akan nyambung seperti ini. Sifat keduanya yang sama, membuat mereka tak sulit untuk berkomunikasi. Hingga tiba-tiba tubuh Andreas merinding saat mendengar auman menyeramkan.


"Kenapa ada suara srigala malam-malam gini di kota?" tanya Andreas bergidig ngeri, yang justru dibalas kekehan oleh Sakura.


"Itu si Kembar milik Kakak. Kakak punya sepasang srigala dan kandang mereka di halaman belakang."


Ucapan Sakura sungguh membuat Andreas terkejut. "Istriku punya srigala?" tanyanya tak percaya.


"Iyes. Namanya Wolfi dan Wolfa. Lima tahun Kakak memelihara mereka," sahut Sakura.


"Serius? Daebak. Bini gue emang bukan kaleng-kaleng." Andreas menggeleng. "Orang lain miara kucing atau Shin Tzu, dia miara srigala, dong."


Sakura hanya tertawa mendengarnya. Itu belum seberapa keunikan Cherry yang lain. Biarkan itu jadi kejutan untuk Andreas.


Saat keduanya tengah mengobrol seru, tiba-tiba terdengar sebuah benda yang pecah. Sontak, Andreas dan Sakura menoleh dan terkejut melihat Cherry bersedekap dengan pecahan guci di sekitarnya.


"Cherry, apa yang terjadi? kenapa guci itu pecah? Kamu menyengolnya?" tanya Andreas berdiri dan langsung menghampiri sang istri. Namun, tatapan Cherry sungguh berbeda dari sebelum-sebelumnya. Andreas belum pernah melihat tatapan penuh kebencian dari mata biru itu.


Cherry menunduk, meraih pecahan guci dengan mata masih menatap pada sang adik.


"Kita turun, yuk, tidur lagi," ujar Andreas dengan wajah panik.


Cherry melangkah tanpa memedulikan ucapan sang suami. Arahnya ke sang adik yang justru kini tersenyum padanya.


"Cher, Cher, Cher." Andreas menahan tubuh istrinya. "Sakura, pergi!" teriak Andreas.