
"Cher, are you okay?" tanya Andreas yang datang menyusul Cherry. Ia khawatir bahwa istrinya kenapa-kenapa. "Loh, kok beres-beres? Kamu mau ke mana?"
Wanita itu masih saja diam. Ia justru meraih ponsel dan menelepon seseorang.
"Timmy, jemput saya sekarang." Setelah mengatakan itu, Cherry memutus panggilan. Sial! Kenapa penyakit itu harus kambuh saat ini?
Halusinasi Cherry kembali datang. Jika sebelumnya ia selalu mendengar suara wanita yang sudah menghancurkan hidupnya, kini indera pengecapnya yang mengalami halusinasi. Saat ia melahap makanan tadi, bukan rasa sayur yang ia rasakan, tetapi justru ia merasa tengah memakan pasir. Jika halusinasi pengecapnya kambuh, biasanya ia akan mengalami depresi juga. Karena itulah ia harus segera pergi dari rumah suaminya. Ia tak mau terlihat menyedihkan di depan orang-orang, terutama keluarga sang suami.
"Cherry! kamu mau pergi ke mana?" Andreas menarik tangan istrinya saat wanita itu hendak pergi.
"Lapsakan aku. Aku ada kerjaan yang penting. Aku harus pergi."
"No, Cherry. Kamu gak boleh pergi. Lihat, jalan kamu aja masih belum benar. Jangan, ya. Pekerjaan bisa besok lagi, Sayang. Kamu istirahat saja, ya." Andreas berucap dengan sangat manis sembari mengusap pipi istrinya.
Perasaan Cherry campur aduk. Ia tiba-tiba merasa sangat sedih tanpa tahu alasannya. Ia duduk di bibir ranjang dengan menangis sesegukkan.
"Loh, kok nangis, Cher? Kamu kenapa?" tanya Andreas panik dan khawatir.
"Jangan ganggu aku! Aku mau pergi!" Wanita itu beranjak dan berjalan keluar kamar.
"Cher, tunggu. Kamu kenapa? Ngomong sama aku, Cher." Andreas terus mengejar istrinya yang pergi begitu saja.
"Ah, sial. Kenapa harus nangis gini, sih!" Cherry terus menghapus air matanya yang jatuh begitu saja tanpa tahu alasan yang membuatnya menangis.
Sampai di luar, Cherry menatap Arabelle yang juga menatapnya. Tatapan Cherry sungguh sedih seakan ia baru saja kehilangan orang yang sangat ia cintai.
"Nona," panggil Timothy yang ternyata sudah sampai. Kebetulan memang lelaki itu berencana menemui sang nona untuk meminta tanda tangan, sehingga tak butuh waktu lama untuknya sampai.
Cherry masuk ke mobil SUV mewahnya. Saat pintu mobil hendak ditutup, Andreas buru-buru masuk hingga duduk di samping istrinya.
"Cherry, ada aku, Cher." Lelaki itu memeluk Cherry yang menangis sesegukkan.
Sebelum masuk mobil tadi, Timothy membisikkan sesuatu pada Andreas. "Nona tengan dalam fase depresi."
Tak lama, sampailah Cherry di mansion pribadinya. Dengan lembut, Andreas membantu sang istri untuk masuk hunian baru mereka. Lelaki itu tak melepaskan pelukannya sebab ia tahu Cherry membutuhkannya.
Wanita cantik berhidung bangir itu masih sesegukkan. Ia juga terus mengumpat kesal sebab ia paling benci dalam keadaan seperti ini. Andreas sendiri hanya dia sembari mengusap punggung istrinya.
"Kenapa tangisannya gak berhenti, sih," keluh Cherry yang masih sesegukkan.
"Nangis aja gak apa-apa."
"Kamu tidak mengerti yang aku rasakan! Enak saja cuma bilang gak apa-apa. Kamu pikir aku gak capek kayak gini? Aku ini orang gila yang bahkan gak tahu perasaan itu sebenarnya gimana," pekik Cherry marah pada Andreas.
"Kamu tahu gimana rasanya saat sedang biasa-biasa saja tiba-tiba nangis kayak gini? Kamu tahu gimana rasanya saat tidak ingin tertawa tapi kamu justru tertawa?" tanya Cherry. "Kamu bahkan tidak pernah merasakan saat makan tiba-tiba rasa makanan itu seperti tanah liat atau bahkan seperti pasir!"
"Ch-Cher?" Andreas terkejut mendengarnya. Memang ada yang seperti itu?
"Kamu tahu kenapa tadi aku tidak jadi makan?" tanya Cherry dengan air mata jatuh. "Aku serasa makan pasir! Halusinasi sialan ini bahkan mengganggu indera pengecapanku! Dan kamu masih bilang gak apa-apa? Kamu sama saja dengan mereka!"
Cherry berlari naik ke lantai atas. Ia banting pintu kamarnya dan langsung terdengar suara barang pecah belah.
"Tuan! Kita harus segera mengeluarkan Nona dari sana! Ini gawat, Tuan! Nona pasti inginnbunih diri lagi," ujar Timothy panik dan langsung berlari menuju lantai dua.
...****************...
Hai Gaesss. Huhuhu berat sekali meninggalkan novel ini. Gak apa, Author bakal coba lanjutin, ya. Moga pada suka.
Mau kasih sedikit gambaran soal novel ini. Sebenarnya, novel ini diangkat sebagian dari kisah nyata. Seorang teman, memiliki gangguan mental dan jiwa seperti Cherry. Bedanya, teman Author ini bukan sosiopat, tapi Psikopat tingkat tinggi. Di sini Author gak mau ngangkat terlalu nyata. Jadi, apa yang kalian baca tentang apa yang dialami Cherry ini benar adanya. Contoh seperti halusinasi pengecapnya. Temna Author ini kalau lagi gak minum obat pasti bakal kayak gitu. Tiap makan rasa makanannya tiba-tiba berubah jadi rasa yang aneh seperti pasir.
Novel ini bukan kisah wanita kejam yang membunuh orang atau hal-hal mengerikan. Novel ini adalah kisah gimana perjalanan hidup para penyandang gangguan jiwa dan mental. Mungkin tema yang jarang sekali dibuat, ya, makanya mungkin kurang menarik. Tapi, Author memang gak suka bikin novel dengan Tema pasaran.
Terima kasih buat para readers yang setia membaca kisah ini. Author akan berusaha menamatkan novel ini meski Gak dapat apa-apa alias free. Kalau mau support, bisa like, Komen, vote, rate dan buka iklan, ya.
Lots of love from Mrs. A