My Wife Is Psychopath

My Wife Is Psychopath
Princess Mermaid dan Prince Kelomang



Di tempat lain, lebih tepatnya di mall, Andreas tengah menikmati makan siangnya di salah satu restoran khas sunda. Lelaki itu tampak begitu menghayati memakan nasi tutug oncom dengan pete bakar ditambah sambal serta menu lainnya. Ah, makan siang Andreas kali ini begitu serasa di surga apalagi dengan musik degung yang membuat suasana lebih adem.


Lelaki tampan itu hanya fokus ke makanan, tanpa melihat sekitar yang tengah menatap padanya.


"Eh, bukannya itu cowok yang ada di internet, ya? Bajunya juga sama. Ganteng juga, ya. Tapi kok sayang dapetin cewek psikopat kayak cewek itu," sahut seseorang pada temannya menatap Andreas.


Berita itu memang menyebar sangat cepat. Bahkan Andreas belum melihat ponselnya sejak tadi kembali dari toko perhiasan. Ia yang sangat lapar pun langsung pergi menuju restoran dan makan di sana.


"Ah, makanan sunda emang juara!" puji lelaki itu setelah menyelesaikan makanannya. Ia menatap sekeliling dengan tatapan heran. "Kenapa semua orang menatapku? Apa ada yang salah dengan penampilanku?" gumamnya bingung dengan sesekali melihat penampilannya melalui kamera ponsel. Kali saja ada cabai yang nyangkut di gigi atau nasi yang nemplok di dagu.


Tanpa memedulikan tatapan mereka, setelah menyelesaikan urusan di restoran, Andreas keluar dan segera pulang. Ia sungguh ingin kembali tidur karena semalam tidurnya tak jelas. Sepanjang jalan di mall, banyak sekali yang menatap dirinya, bahkan tatapan mereka seakan iba padanya. Ia makin bingung saja dengan apa yang terjadi.


Setelah sampai di parkiran, Andreas menaiki motor sport merah kesayangannya. Tak lupa menaruh cincin pernikahan di dalam jaket. Setelah itu kendaraan roda dua tersebut melaju meninggalkan mall besar itu. Butuh waktu satu jam untuknya sampai di rumah. Ia turun dari motor dengan sesekali bersiul. Hingga langkahnya terhenti saat melihat sosok laki-laki yang menatapnya dengan cemas.


"Loh, Timothy. Kenapa ada di rumahku?" tanya Andreas bingung pada orang yang selalu mengikuti calon istrinya. "Apa Cherry ada di sini?" Ah, apa-apaan wanita itu? Baru beberapa jam lalu keduanya bertemu. Masa, sekarang ia harus bertemu lagi? Bukannya apa, Cherry itu ketus dan menyebalkan. Andreas sungguh malas jika berhadapan dengan gadis itu.


"Tuan, tolong saya," mohon lelaki yang badannya dua kali lipat lebih besar dari Andreas itu. "Gara-gara berita itu, Nona kini benar-benar terpuruk. Beliau kembali ingat masa-masa sulitnya," sahut Timothy yang membuat Andreas bingung.


"Berita? keadaan Cherry? Lah, kenapa itu cewek? bukannya tadi pas pisah baik-baik aja?" tanya anak Citra merasa aneh.


"Tuan belum melihat berita yang sedang headline?" tanya Timothy yang ditatap bingung oleh Andreas.


Akhirnya Timothy menunjukkan berita yang tengah panas saat ini. Mata Andreas membola melihat begitu banyak link yang membahas tentang hubungannya dengan Cherry. Kebanyakan mereka menulis keburukan si wanita yang disangkut pautkan dengan kasus lamanya. Andreas sungguh baru tahu bahwa lelaki yang katanya dihabisi Cherry adalah calon suami wanita itu. Keduanya dijodohkan oleh keluarga, tetapi naas lelaki itu justru meninggal terjatuh dari lantai 25 tepat di perusahaan Cherry bekerja.


Andreas memijat kepala yang terasa pening.


"Berita itu salah, Tuan. Nona tidak seperti yang mereka katakan," sahut Timothy yang tahu bagaimana perasaan lelaki itu saat ini.


"Di mana dia sekarang?" tanya Andreas.


"Nona berada di The Farm House, Tuan. Jika boleh, tolong datangi Nona. Beliau pasti tengah kalut saat ini," mohon Timothy kembali. "Meski Nona terlihat kuat, beliau juga perempuan biasa, Tuan. Tuan pasti tahu bagaimana perasaan wanita."


Wanita itu ribet, sialan! rutuk Andreas dalam hati. Beberapa kali pacaran, ia selalu zonk mendapat wanita yang selalu ajaib, termasuk calon istrinya yang sekarang.


"Tuan ...." mohon Timothy lagi dengan memelas.


...****************...


"Nona, saya mohon berhenti. Ini sudah satu jam Nona di dalam." Lestari memohon dengan wajah risaunya. Namun, si wanita yang membuatnya khawatir justru tak memedulikan.


Cherry tengah mengalihkan emosinya. Wanita itu sungguh hilang kendali saat kasus lama itu diungkit lagi. Dadanya terlalu sesak membayangkan tragedi tersebut. Setelah cukup lama ia tenang, kini ia kembali diusik dengan hal tersebut, yang membuat perasaannya kacau balau. Dengan melakukan kegiatan ini ia bisa mengalihkan emosinya. Namun, yang dilakukannya terlalu berlebihan. Ia sudah di tahap maksimal bahkan sudah cukup lama Cherry tak memasang tabung oksigennya.


"Nona, ini bahaya, saya mohon keluar, Nona." Lestari sungguh bingung harus melakukan apa. Sang nona benar-benar tak mendengarkannya. Jika wanita itu terus-menerus di sana, bisa-bisanya nyawanya tak tertolong.


Di saat Lestari kalut, tiba-tiba ruangan khusus itu terbuka. Menampilkan sosok lelaki yang terengah-engah menghampiri wanita itu.


"Anda siapa? Kenapa bisa masuk ke ruangan ini?" tanya Lestari bingung. Pasalnya, hanya dirinya, Cherry dan Timothy yang bisa masuk. Lalu lelaki asing ini bagaimana bisa memiliki akses untuk masuk?


"Andreas. Calon suami Cherry. Di mana dia sekarang?" tanya Andreas pada Lestari.


"Ah, Tuan Andreas. Nona ada di dalam. Anda harus menyelamatkan Nona, Tuan. Beliau bisa meninggal kalau tidak dihentikan."


Kata-kata Lestari menghentikan langkah Andreas. "Meninggal? Emang apa yang Cherry lakukan?" tanyanya bingung.


"Mari, Tuan. Anda akan tahu setelah melihat." Lestari sedikit berlari yang disusul Andreas. "Di sana, Tuan." wanita itu menunjuk ke depan yang membuat Andreas terkejut.


"Wadaw, kenapa ada mermaid di sini?" tanya Andreas terkejut melihat sebuah akuarium besar dengan seorang wanita mengenakan pakaian mermaid berenang di dalamnya.


"Itu Nona Cherry, Tuan! Dia sudah berenang sejak satu jam lalu dan melepas tabung oksigennya! Saya mohon, hentikan Nona. Dia tidak akan selamat jika terus berada di dalam," mohon Lestari pada lelaki di depannya.


Bukan mendengarkan ucapan wanita itu, justru Andreas terpana melihat Cherry di dalam sana. Gadis itu benar-benar unik. Andreas tak menyangka bahwa Cherry begitu memesona dalam balutan pakaian mermaid tersebut, di tambah rambut putihnya yang berkilau oleh cahaya lampu serta mata birunya yang sangat bening. Cherry sungguh seperti princess dalam kartun yang dulu ia sering tonton.


"Tuan!" Andreas tersentak saat Lestari mengguncang bahunya. "Nona pingsan!" pekiknya yang membuat lamunan lelaki itu tersadar dan terkejut melihat tubuh Cherry melayang dalam air tanpa pergerakkan.


"Astaga, Princess gue tenggelem. Putri Mermaid, pangeranmu datang!"


Ck! Pangeran Kelomang.