My Partner Is My Enemy

My Partner Is My Enemy
End



Rizky melamun menatap jendela pesawat, menatap gumpalan- gumpalan putih yang sering di sebut awan.


Naura menoleh ke samping, menatap wajah abangnya dari kiri, wajahnya nampak sendu.


"Bang?"


Rizky menoleh tanpa menjawab. Dia berguman pelan sebagai jawaban.


"Ngak usah sedih masalah cewek, kalo dinda atau iza memang jodoh lo, mereka ngak bakal kemana" Pandangan Naura kembali kedepan, melihat seorang pramugari cantik yang membantu seorang lansia meminum minuman mineralnya


Rizky tersenyum tipis kemudian mengangguk. "Gue mencintai mereka." Ucapnya pelan.


Naura tersenyum lalu kembali menoleh ke arah abangnya. "Mereka juga pasti mencintai lo, hanya saja mungkin ada sebuah alasan yang membuat mereka menjauh, untuk sementara bukan selamanya."


"Mereka tulus mencintai lo, apa adanya. Hanya saja lo yang salah mengartikan tindakan mereka." lanjut Naura.


"Mesti ada suatu alasan di setiap apa yang mereka lakukan. Dan itu buat kebaikan bersama."


Rizky hanya mengangguk- anggukkan kepalanya sebagai jawaban.


'Pasti ada alasannya'


...***...


Pesawat sudah mendarat dengan sempurna di bandara. Rizky berjalan memasuki area bandara dengan menyeret koper besarnya, di ikuti Naura beserta ayah ibunya di belakang.


Rizky berjalan menuju arah mobil, yang sudah ia pastikan mobil milik keluarganya. Setelah membantu memasukkan koper miliknya beserta punya Naura dan kedua orang tuanya ke dalam bagasi, ia langsung masuk kedalam mobil. Dan membiarkan sang supir membawanya sampai ke rumah lamanya.


Sudah 40 menit perjalanan. Kini mobilnya berhenti di depan rumah mewah. Mereka turun satu per satu membawa koper masing masing, dan memasuki rumah tersebut.


Rizky melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 16:00 "Sudah sore..." Gumannya pelan.


Rizky berjalan memasuki rumahnya. Bersih, rapi.. dan barang- barangnya masih di tempat semula. Bi Surti mengurus rumahnya dengan penuh tanggung jawab.


Rizky tersenyum saat menengok ke arah ruang tamu. Dulu saat kecil ia sering bermain kejar- kejaran dengan iza, haishh Sudahlah seharusnya ia tak mengingatnya lagi.


Pemuda itu lantas berjalan menaiki tangga menuju kamarnya dulu. Ia membuka pintu berwarna biru muda itu dengan perlahan.


Kamarnya masih sama, tidak berubah. Rizky berjalan mengelilingi kamar tersebut, lalu berhenti di depan sebuah etalase. Di etalase tersebut banyak miniatur robot yang dulu selalu ia koleksi. Masih tersimpan rapi di etalase tersebut.


Lalu ita berkeliling lagi. Dan berhenti di depan sebuah foto besar. Di foto tersebut nampak 4 anak kecil tersenyum lebar.


"Ara - Iky - Iza - Putra"


Tulisan tersebut tercetak jelas di bawah foto tersebut.


Rizky menatap foto iza. Ia memang sedikit lupa dengan wajah iza, karena saat ia berangkat ke jakarta Ia tak membawa 1 pun foto iza.


Rizky terus menatap intens foto tersebut. Lalu beralih ke foto di sebelah iza, foto Putra.. ia tampak familier dengan wajah tersebut... seperti ia sering melihatnya. Tapi wajah siapa?


Ia menggeleng pelan, Menepis pemikiran itu.


Lalu berjalan ke arah kasur King Size nya, dan merebahkan tubuhnya.


Sejenak ia melirik ke arah balkonnya, ada yang aneh. Kamar sebrang atau lebih pastinya kamar Iza, lampunya menyala.


Apakah ada orang di sana? apakah iza sudah pulang? Tak menunggu lama ia segera mengganti baju nya. Lalu berlari menuruni tangga untuk menuju rumah sebelah.


Saat sudah memasuki halaman, Rizky memelankan langkahnya. Apa iza benar- benar sudah pulang? Tanpa ragu ia melangkah memasuki rumah iza.


Yang pertama ia lihat adalah kedua orang tua nya, dan juga kedua orang tua iza.


Ibundanya "alya" menoleh. " Eh, bang? ngak istirahat dulu. Tadi di pesawat kamu kelihatan capek soalnya."


Wanita paruh baya itu tersenyum. mengangguk pelan. Seketika jantung Rizky berdebaran. "Di taman belakang, ada putra sama temen temennya juga, adek kamu ara juga di situ."


Rizky langsung tersenyum sumringah, ia langsung berjalan cepat menuju taman belakang.


Tapi seketika langkah dia berhenti. Ekspresi Rizky langsung murung." Apa iza masih ingat gue?"


Rizky segera menepis pemikiran bahwa Iza nya akan melupakannya. Ia langsung berlari kecil menuju taman belakang.


"Deg.."


Jantung Rizky seketika berdebar debar, saat melihat seorang perempuan duduk di bangku taman, membelakanginya.


Rizky memelankan langkahnya, ia tak peduli dengan keributan di area kolam renang, fokusnya sekarang hanya pada gadis di depannya ini.


Rizky sudah berhenti di belakang gadis itu, tampaknya gadis itu tidak menyadari keberadaan Rizky.


Rizky meneguk salivanya kasar, memberanikan diri untuk menyapa.


"I-iza??.."


Gadis tersebut menoleh saat merasa terpanggil.


"Deggg..."


Saat melihat wajah gadis tersebut, pertahanan Rizky seakan runtuh. Ia ingin menangis, sungguh ingin menangis.


Gadis di depannya tersenyum. "Hai... bang Iki, ini iza" Gadis tersebut masih tersenyum lebar.


"D- din.. dinda??"


Gadis tersebut terkekeh kecil. "Ini iza bang, iza nya bang iki."


Tak menunggu lama, Rizky langsung memeluk dinda dengan erat, bahkan air matanya tidak mampu ia tahan.


"Gue kangen sama lo... iza" lirih Rizky tepat di telinga Dinda.


Dinda tersenyum. " Gue juga bang..."


"I love you.. iza.."


"I love you too.. bang iki"


"will you be my girlfriend?"


Dinda mengangguk. " Yes, I will."


Saat mendengar jawaban dinda, Rizky semakin mengeratkan pelukannya.


"WOYYY, KALIAN JANGAN PACARAN MULU... SINIII IKUTAN MAIN." seketika pelukan Dinda dan Rizky langsung terlepas. Suara yang mengganggu suasana itu, suara Evan. Dasar tukang perusak suasana.


"EKHEM, MAKAN- MAKANNYA JANGAN LUPA YAKK!!!" Ini lagi, si ratu cempreng kila.


Dinda menggeleng- gelangkan kepalanya melihat tinggkah para sahabatnya. Ia langsung menyeret tangan Rizky untuk menghampiri para sahabatnya.


Hari ini, besok, Selamanya..


Aku tidak akan melepaskanmu, Aku berjanji pada diriku sendiri, akan selalu membuatmu bahagia.. sampai dirimu lupa rasanya kesedihan. from me, to you my dear


-Rizky-


...-**The End**-...