My Partner Is My Enemy

My Partner Is My Enemy
12_Marah dan Panik



"eh lo kok masih disini. ngoceh ngak jelas segala" kata seseorang menepuk bahu kila


"eh kak rizky. kok kak rizky ada disini bukannya membimbing kelas IPS A ya?" tanya kila pada seseorang yang tak lain adalah rizky


"tukeran ama osis lain. jadi gue membimbing kelas lo" jawab rizky.


kila hanya ber oh ria sebagai jawaban.


"lo kok masih diluar. kok ngak masuk"


"keliling koridor cari cowo ganteng hehe"


"ngak usah dicari aja ada yang bakalan nyamperin lo"


"emang siapa kak? yang bakal nyamperin kila?"


"evan lah siapa lagi" jawab rizky


"elah kak kagak doyan buaya darat gue"


"kan yang penting ganteng"


"ganteng dari mana coba. udah kak rizky ngak usah ngejek kila lagi agh.. "


"yaudah yuk masuk" ajak rizky.


.


.


.


.


kila dan rizky masuk ke kelas X IPS B bersama, saat sudah di dalam kelas evan melihat rizky dan kila bertawa ria entah apa yang mereka bicarakan hingga tampak asik.


"ky lo kok bisa bareng kila?" hanya pertanyaan itu yang ingin ia tanyai kepada sahabat dan gebetannya itu.


"tadi ketemu didepan"singkat rizky.


kila yang melihat muka evan langsung muram seketika


"kil.."lirih evan ketika kila melewatinya.


kila tak menjawab dan bersikap jutek pada evan.


evan melihat rizky dan menaikkan satu alisnya seperti mengisyaratkan 'kenapa dia?'


rizky mengangkat bahunya sebagai jawaban seperti mengisyaratkan 'ngak tahu gue'


.


.


.


.


.


kila berjalan kebangkunya dan duduk di sebelah lisya.


"kil tuh patung es kok malah kekelas kita?"tanya dinda


"emang dia yang jadi pembimbing kita MOS seminggu kedepan"jawab kila jutek.


"eh kil lo napa dah lemes amat?" tanya naura.


"ngak kenapa- napa gue" jawab kila tersenyum tipis pada naura.


.


.


.


.


rizky memulai pembicaraan


"halo semua gue rizky yang akan membimbing kalian MOS selama seminggu kedepan" rizky tersenyum manis


"wah kak rizky ganteng banget.."


"iya ganteng banget"


"itu yang belakang ngak kalah ganteng juga"


"hm yang belakang ganteng"


"senyumannya manis banget"


"elah masih manis senyuman gue kali"


"sirik aja lo "


masih banyak pujian dari para cewe.


dan sindiran dari para cowo kelas X IPS B


sedangkan dinda dan teman temannya hanya berdecak sebal.


"hai semua kalo nama gue evan"


ucap evan memperkenalkan diri.


"oh namanya evan"


"kak evan ganteng banget"


"udah punya pacar belum kak"


"kalo belum gue mau dong jadi salah satu calonnya"


"kalo pacar sih.. belum punya...calon pacar punya tapi semoga aja besok pagi udah ngak menyandang status jomblo"jawab evan sambil melirik kila. tapi kila langsung membuang muka.


para cewek pun mendesah kecewa, dan para cowo langsung menertawai para cewe. setelah beberapa saat perkenalan antara murid kelas X IPS B pun berlanjut hingga satu kelas mulai kenal satu per satu yang akan menjadi teman mereka tiga tahun kedepan. setelah selesai perkenalan.


"kak kalo besok pagi masih jomblo, mau dong gue jadi pacar lo" kata salah satu cewe yang ber tag name 'septiana atau akrab di panggil tia'


"tia dari pada sama kak evan mending lo sama gue"jawab seseorang yang ber tag name 'ardian atau akrab di panggil iyan'


"elah kagak doyan gue sama lo" jawab tia


"kak evan mau ya sama tia kalo besok pagi masih jomblo"lanjut tia


"ELAH BUAYA DARAT MODEL PALYBOY KAYA EVAN KOK MAU DIPACARIN" ucap kila lantang yang jengah dengan segala omongan para cewe kepada evan


"DIEM LO KIL. BILANG AJA LO CEMBURU NGAK BISA GODAIN KAK EVAN" jawab tia.


"APAAN LO DIEM NGAK. KATA SIAPA GUE CEMBURU... GUE NGAK CEMBURU."


"HALAH BILANG AJA LO CEMBURU"


"BRAKKK...." kila mengebrak mejanya.


"DIEMM NGAKKK LOOO" kila mulai emosi.


dinda dan lisya yang memang mengenal kila sejak lama mencoba menenangkan kila. karena jika kila sudah marah semua bisa menjadi sasaran kemarahannya.


"kil lo tenang dulu kil... jangan emosi" lisya yang memang berada di sebelah kila. dinda bangkit dari bangkunya dan berjalan ke arah bangku kila dan lisya yang memang berada didepannya. dinda pun mencoba menenangkan kila tapi emosi kila tak kunjung reda.


"LO BERANI AMA GUE HAH" tia menjawab dengan lantang.


"GUE BERANI SAMA LO. EMANG LO SIAPA HAH" kila menjawab. sebenarnya kila tak marah pada tia tapi ia hanya ingin melampiaskan rasa marah dan kecewa karena evan.


evan yang melihat emosi kila semakin tak terkendali pun menghampiri kila dan menarik tangan kila keluar ruang kelas.


kila meronta dan mencoba melepaskan genggaman tangan evan tapi hasilnya nihil cengkeraman tangan evan sangat kuat hingga ia pun pasrah ditarik tarik oleh evan.


saat diambang pintu


"bagus tuh kak. bawa kila keluar kelas kasih hukuman biar dia ngak bikin rusuh"ujar tia


"APAAN LO DIEM NGAK" teriak kila dari ambang pintu dan berniat menghampiri tia tapi evan lebih dulu menarik tangan kila keluar kelas. di koridor kila terus meronta minta di lepaskan hingga sampailah mereka di ruang osis. keadaan ruang osis memang sepi karena memang para osis masih bertugas membimbing MOS. saat di ruangan itu


"LEPASIN TANGAN GUE EVANNN.. SAKITTT TAHU NGAK" kila mulai mengaduh.


evan pun melepaskan tangan kila karena memang ia baru sadar bahwa ia memegang tangan kila terlalu kencang.


"maaf" lirih evan.


evan berbalik dan kini menatap kila yang mengusap usap tangannya yang memerah seketika evan menjadi merasa bersalah. ia meraih tangan kila yang satunya dengan lembut dan menariknya untuk duduk di salah satu kursi, kila hanya menurut.


evan menggeledah isi laci yang berada di ruang osis dan menemukan barang yang ia cari ia mendekat ke arah kila.


evan duduk di salah satu kursi di dekat kila dan meraih tangan kila yang pergelangan tangannya memerah. evan membuka kotak p3k dan mengambil salep dan mengoleskan pada tangan kila,


"ngak usah sok baik lo sama gue" ketus kila pada evan


"gue bisa sendiri" kila berusaha merebut salep dari tangan evan


"ngak, biar gue yang ngobatin lo" evan tetap mencoba mengobati kila. kila pun akhirnya membiarkan evan mengobatinya, setelah selesai mengobati luka kila evan kembali membereskan kotak p3k nya dan mengembalikannya ke laci semula. evan kembali duduk di tempat tadi ia duduk.


"lo napa tadi emosi?" evan mencoba tenang bertanya pada kila


"ck, ngak ada urusannya sama lo" balas kila


"kil, gue tahu lo ngak marah sama ucapan si tia tadi, dimata lo terpampang jelas kil, kalo lo ada masalah lo cerita dong sama gue" evan memegang bahu kila. kila memalingkan pandangannya ke samping tak ingin melihat wajah evan dan menepiskan tangan evan dari bahunya dengan kasar.


"kil, lo jangan diem aja dong, gue ngak paham, lo cerita sama gue kalo emang ada masalah, kil... gue sayang sama lo, dari awal gue liat lo gue cinta ama lo, tolong masalah jangan lo pendam sendiri, lo bisa berbagi ama gue" kata evan lembut


'tapi masalah gue ada di elo kak' batin kila


tanpa sengaja cairan bening meleleh dipipinya membasahi pipi yang agak cubby itu. evan langsung menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya dan berhambur memeluk kila. kila mencoba melepaskan pelukan nya dan memukul evan tapi pelukan evan semakin kuat air mata kila pun kembali deras mengalir, kila masih memukuli evan sambil berkata


"dasar buaya...... palyboy.....brengsek lo......gue benci...benci....benci ama lo"


kila mendorong evan dengan sekuat tenaganya akhirnya pelukan evan akhirnya terlepas. kila berlari keluar ruang osis menuju kelasnya dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti.


*di kelas X IPS B


"mau kemana lo"


"ck, bukan urusan lo" jawab dinda singkat.


"sekali lagi gue tanya lo mau kemana" rizky kembali mengulang pertanyaannya.


dinda hanya diam dan berniat melangkah menuju pintu.


tapi rizky mencekal tangan dinda.


"woy lepasin tangan gue, gue mau ngejar kila, lo ngak tau sih kalo kila lagi marah, bisa bahaya mungkin sekolah ini jadi berantakan mau lo" jelas dinda


"lo ngak usah pergi, evan bisa beresin"


"gue ngak bisa percaya ama tuh evan bisa beresin" tolak dinda dan mencoba melepas genggaman tangan rizky


"lo percaya dikit napa sama gue"


"ngak, mana bisa gue percaya sama lo"


"harus.. lo harus percaya ama gue kalo evan bisa beresin yang satu ini"


"ngak"tolak dinda


"harus"


"ngak"


"harus"


"NGAKKK"


"HARUSSS"


di tengah pertengkaran rizky dan dinda


"BRAKK" pintu terbuka dengan keras


disana kila berada dan berlari menuju bangkunya dan menenggelam kan wajahnya lipatan tangannya dan mulai menangis dan sesengukan.


dinda menepis tangan rizky


"INI YANG LO BILANG BERESIN" nada dinda mulai meninggi


"SAHABAT GUE NANGIS KAYA GITU PASTI GARA- GARA TUH EVAN"lanjut dinda


"MANA GUE TAHU KALAU BAKAL JADI KAYA GINI" rizky ikut sewot


"WOY UDAH NGAK USAH BERANTEM NIH KILA NANGIS MALAH PADA BERANTEM AJA" naura berteriak pada dinda dan rizky.


dinda pun berlari ke bangku kila dan mencoba menenangkan kila tapi tak kunjung tenang. selang tak lama kemudian evan pun datang ke kelas X IPS B dengan terengah engah sepertinya dia lari mengejar kila.


evan langsung berlari menuju bangku kila tapi


" GARA GARA LO SAHABAT GUE JADI NANGIS" dinda langsung mendorong tubuh evan.


"kil lo jelasin dong kalo gue emang ada salah sama lo. gue ngak paham apa yang terjadi kil" evan mulai mendekat kepada kila tapi lagi lagi dinda mendorong tubuh evan.


"LO NGAK USAH DEKET- DEKET SAHABAT GUE LAGI" dinda kembali mendorong saat evan kembali mendekat ke arah kila


"DINDA LO NGAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN GUE" evan berteriak pada dinda yang selalu menghalanginya.


"KILA ITU SAHABAT GUE" dinda kembali mendorong tubuh evan


"DIEM LO" tanpa sadar evan mendorong tubuh dinda


hasilnya dinda jatuh dan tubuhnya terhantuk meja, rizky yang melihat dinda jatuh langsung mendorong evan " LO KALO KAWATIR YA JANGAN MAIN KEKERASAN AMA CEWE" rizky langsung menghampiri dinda yang terjatuh dilantai.


"din lo sakit yang mana" rizky bertanya dengan panik saat melihat dinda terus memegangi perutnya sambil kesakitan.


"akhh.. ky sakitt... sakit.. banget.. perut gue" kata dinda terus merintih.


tanpa basa basi rizky langsung menggendong dinda dan membawanya keluar kelas X IPS B, di pikiran rizky hanya membawa dinda ke rumah sakit. saat di koridor ia bertemu aryo


"tuh cewe kenapa ky" tanya aryo


"nanti gue ceritaiin. oh ya lo bawa mobil kan yo gue pinjem mobil lo sebentar" tanpa basa basi aryo meminjamkan mobilnya pada rizky . rizky mulai berjalan cepat menuju parkiran, di tengah perjalanan menuju parkiran dinda terus merintih mengeluh sakit.


"ky.. sakit... sakit...banget ky"


"dinda lo tenang dulu, gue bawa lo ke rumah sakit bentar lo tahan dulu ya din" entah kenapa rizky merasa sangat khawatir melihat keadaan dinda.


sesampainya di parkiran ia langsung menuju mobil aryo dan mendudukan dinda di kursi depan dan dipakaikan sabuk pengaman. rizky berlari ke kursi pemudi dan menancapkan gas menuju keluar sekolah.


satpam sempat bertanya kenapa rizky pergi saat belum saatnya pulang tapi rizky tak menjawab dan langsung ngebut membelah jalanan jakarta dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat. di mobil dinda terus kesakitan, rizky mencoba menenangkan dinda dengan sesekali membelai rambut dinda dan menyuruhnya untuk bertahan.


《《《


author: woy khawatir amat lo ky...dinda ngak bakal meninggal juga kali..


rizky: woy author kalo sampe terjadi sesuatu sama dinda gue ngak segan segan nampol lo pake sandal nih


author:lo pake sepatu bukan sandal bego


dinda:woy gue kesakitan nih malah debat bae


》》》


setelah sampai dirumah sakit dinda diperiksa oleh dokter.


setelah beberapa saat dokter pun keluar dari ruangan


"keluarga pasien dinda?" tanya dokter


"saya temennya dok" kata rizky


"tolong ikut saya ke ruangan saya"


diruangan dokter tersebut


" gimana keadaan temen saya dok?" tanya rizky khawatir


"pasien mengalami benturan yang sangat keras pada perutnya, tapi pasien baik- baik saja hanya mengalami sangat nyeri dalam perutnya tapi bagian luarnya kulit pasien agak lebam" jelas dokter


"saya sudah memberikan obat pereda nyeri mungkin sekarang nyerinya sudah agak tidak berasa lagi, dan saya sudah oleskan salep pada lebamnya, beberapa hari kemudian pasien akan baik- baik saja" lanjut dokter


dokter menulis resep obat dan memberikan ke rizky dan menyuruh rizky untuk melunasi administrasinya .


rizky keluar ruangan dan ke apotik untuk membeli obat pereda nyeri jika sewaktu waktu nyerinya terasa lagi dan memberi salep untuk lebamnya. setelah itu ia membayar administrasi pengobatan dinda dan kembali ke ruangan perawatan tempat dimana dinda sekarang.


"lo udah baikan" tanya rizky


"lumayan cuma masih sedikit sakit aja"


"yaudah gue anter lo pulang"


"lah kok pulang sih"


"lo butuh istirahat bego"


"terus tas gue"


"nanti kan di bawain abang lo kalo ngak ntar gue ambilin"


" yaudah deh... eh... tapi kenapa lo bawa gue ke rumah sakit kan ada UKS di sekolah"


"emmm... ngak tau juga gue panik terus pikiran gue cuma satu rumah sakit"


"hah lo khawatir ya sama gue..." goda dinda


"lo lagi sakit aja masih rese ya"


"halah ngaku aja lo"


"dari pada gini mending tadi gue biarin lo tepar di lantai"


"idih tega amat dah"


"udah ah gue anterin lo pulang"alih rizky


"sini gue bantu lo"lanjut rizky


rizky membantu dinda dengan memapahnya tapi sepertinya dinda masih kesakitan jika perutnya digerakkan


"akhh masih sakit nih perut gue ky"


"halah ngak usah lebay deh"


"beneran kyyy"


"terus gue harus gimana?"tanya rizky jutek


"gendong gue lah"


"hah?"


"ha hah ha hah gendong cepet"


"ngak mau ah gue"


"tadi aja tanpa gue minta lo gendong gue, sekarang gue minta lo ngak mau, terus gue gimana mau sampe parkiran RIZKY ADIATAMAYA?" tanya dinda


" ngesot aja lah"


"tega lo"


rizky pun mendekat


"riz-ky lo mau nga-pain " tanya dinda dengan gugup.


rizky tak menjawab. rizky langsung menggendong dinda .


"RIZKY" dinda langsung berteriak


"lo katanya mau digendong ama gue. gak usah kaya gitu lo."


rizky menggendong dinda menuju parkiran dinda sempat memberontak mereka sempat menjadi pusat perhatian.