
emang sebenernya udah di rencanain novel ini bakal aku hiatusin, tapi ngak nyangka kalau cerita abal2 ku ini banyak yang like, Oke aku akan lanjutin ini sampai tamat dulu deh. INi di Khususkan hanya untuk pembaca setia "MPiME"
LOVE YOU ALL READERS..
***
Sudah lima menit Rizky dan Dinda berdiam diri. Dinda menatap kosong jalanan yang kini nampak padat, ia melamunkan sesuatu. Apa dia harus mengatakan yang sebenarnya? tapi tentang mengatakan atau tidaknya, tetap saja salah satu dari mereka akan tersakiti.
Dua hari lagi, Dinda tak punya banyak waktu, ia akan mengatakannya sekarang.
Dinda menoleh pada Rizky, cowo itu sibuk dengan handphonenya. "Ekhem, Rizky?"
Merasa dirinya terpanggil, Rizky menoleh pada gadis di depannya ini. "hemmm? Kenapa?" tanyanya.
Dinda meremas ujung roknya, apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakannya, gadis itu tidak yakin.
Tapi, ia harus mengatakannya. "Sebenernya gue... ngak amnesia..." ucapnya pelan.
Rizky terdiam mendengar pengakuan Dinda, apakah selama ini dirinya dibohongi? Rizky terkekeh pelan. "Kenapa?"
Dinda menyerit tak paham. "Kenapa apanya?"
Rizky menatap dalam dinda. "Kenapa lo bohongi gue?" Tanyanya sambil terkekeh miris. "Apa gue ini cuma mainan lo?"
Dinda memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawahnya. "I...iya.." jawabnya pelan.
Rizky kembali terkekeh miris, dua kali jatuh cinta, dan dua kali ia di jatuh kan ke jurang paling dalam. Rizky langsung bangkit dari duduknya dengan kasar, menaruh uang seratusan ribu lima lembar, lalu keluar kafe meninggalkan Dinda sendirian.
Dinda tak mengejar, memang sepantasnya ia ditinggalkan kan? Karena semua tak akan sama dan lama lagi.
Dinda bangkit dari duduknya tapi seorang pelayan mencegahnya. "Eh mbak, tapi ini pesanannya?"
"Gak jadi, itu uangnya di meja."
Dinda langsung keluar dari kafe itu, ia berjalan menyelusuri trotoar itu, ia merasa sendiri walau berada di tengah keramaian. Semua terasa hampa baginya.
"Tin...tin..."
"Dek, Ayo masuk." Itu, Elvano. Dinda menoleh dan berusaha untuk tersenyum dan masuk ke mobil kakaknya.
Dinda menoleh. "Gak jadi." Ucapnya lesu.
Elvano tersenyum menguatkan adiknya. " Yang Kuat."
Dinda tersenyum lalu mengangguk. Dia akan pergi dari sini, menjauh... untuk waktu yang lama atau bahkan selamanya?
"Kita langsung ke bandara bang?"
Elvano menoleh, lalu mengangguk. Dan fokus pada mobil yang di setirnya. "Bunda sama Ayah udah telephon. Mereka nungguin kita di sana."
Dinda tak menjawab, ia fokus pada jalanan yang tampak sedikit padat.
Tes.
Sebulir air mata menetes, membasahi pipinya. Semua akan berakhir disini. Ia akan segera pergi, dan Rizky akan menemukan kehidupan barunya, dan hidup bahagia.
Tak lama mobil Elvano sampai di bandara, ia mengeluarkan koper miliknya dan juga milik adiknya, yang memang sudah mereka persiapkan pagi ini.
Semua ini sudah di rencanakan sebelum Dinda koma, dan itu semua permintaan Dinda. Hanya untuk satu orang paling sepesial di kehidupannya, Rizky.
Ini semua untuk kebaikan Rizky. Hanya untuk Rizky seorang.
"Aku akan pergi, dan tak tahu kapan akan kembali." Guman Dinda sebelum naik ke pesawat, yang akan membawanya pergi.
*****
hehe gimana gimana? tulisan ku kini rapi kan hehe^^ bagus ngak???
Untuk Chapter ini KHUSUS untuk kalian PARA PEMBACA SETIAAA MY PATNER IS MY ENEMY..... LOVEEE YOUUUUU...
kalo tulisannya bagus dan rapi, Like dulu dong... ^^
gimana yah... lanjutin atau ngak yahhh cerita ini, dengan tulisan yang lebih rapi ku??
Lanjutin? Ngak?