My Partner Is My Enemy

My Partner Is My Enemy
32_ cafe



Bel pulang telah berbunyi sepuluh menit yang lalu. Rizky, sekarang berada di koridor kelas X IPS, yang kini keadaannya sedang sedikit sepi karena sebagian besar murid sudah pulang.


meski ada beberapa murid yang masih di sekolah, entah itu untuk piket, numpang


Wi-Fi, sekedar nongkrong dikantin yang sepi, atau mengikuti ekstra kurikuler.


sudah sekitar lima menit lebih rizky menunggu dinda, rencananya ia akan bicara dengan dinda empat mata, tentu tanpa sepengetahuan elvano.


beberapa menit kemudian, rizky melihat sekitar jarak sepuluh meteran dinda berjalan dengan riang, tapi jangan lupakan seseorang dengan tampang judes di belakangnya, ya siapa lagi kalo bukan elvano.


dengan segera rizky ngumpet agar tidak terlihat oleh elvano. Dengan posisi jongkok, rizky mendengus kesal pasal tempat sembunyinya itu. jika kalian tanya dimana rizky ngumpet? maka jawabannya adalah di belakang tong sampah.


saat jarak tempat rizky dengan elvano dan dinda sudah dekat sekitar dua meter, rizky berguman tak jelas seperti merapalkan do'a agar dirinya tak ketahuan oleh elvano jika dirinya bersembunyi di balik tong sampah.


 


\-*mpisme*\-


 


tiba tiba elvano berhenti.


"eh dek, kunci mobil gue kayaknya ketinggalan di laci, kamu temenin abang ambil dikelas dulu ya"


"ck. apa gue ngak bisa nungguin di parkiran aja bang?" balas dinda dengan nada malas.


"ngak bisa kamu ikut abang, nanti kamu di culik sama kutu kuprett "


sementara rizky yang masih sembunyi di balik tong sampah tak sengaja mendengar pembicaraan dua kakak- beradik itu, kembali mendengus kesal.


'dasar elvano sint*ng, pake ngatain gue kutu kuprett lagi' batin rizky dengan kesal.


"lo ikut gue balik ke kelas"


"yeah" ucap dinda dengan nada super malasnya.


*


saat elvano dan dinda berbelok, dengan elvano didepan dan dinda yang berada dibelakang.


' setttt'


rizky menarik lengan dinda, saat dinda akan berteriak mulutnya di bekap oleh rizky.


"sttt diem, nanti ketahuan abang lo"


"hepas...hepas..humph"


rizky pun melepaskan bekapan tangannya.


"asin" ucap dinda sembari mengusap mulutnya dengan lengan tangannya.


"dasar amnesia, ngak amnesia sama aja rese, nyebelin" guman rizky pelan


"ngapa narik- narik tangan saya? kalo ketahuan bang el. ****** kamu jadi daging cincang"


tanpa membalas ucapan dinda, rizky menarik lengan dinda menuju parkiran.


"ish... apaan sih kamu, main tarik tarik aja"


lagi lagi rizky tak mengubris, ia masih fokus pada jalannya menuju parkiran dengan tangannya yang masih menarik dinda.


*


em.. ya rizky sekarang sering bawa mobil, karena dia masih trauma, mungkin.


setelah beberapa menit menyetir mobil, rizky memberhentikan mobilnya di depan sebuah cafe.


"ngapain ke cafe?"


"beli garem buat cuci tangan"


"makanya tangan lo asin"


'sialann' umpat rizky dalam hati.


setelah rizky turun dari mobil, ia menuju bagian pintu mobil lainnya dan membukanya.


"ayo turun"


"gamau"


"dinda, turun"


"ish emang mau ngapain sih"


"ya makanlah mau ngapain lagi, ntar gue yang traktir deh"


"hm"


dinda akhirnya turun dengan ogah-ogahan.


akhirnya mereka berada di dalam cafe..


duduk berhadap- hadapan dengan posisi meja dekat dengan jendela.


tak lama seorang pelayan perempuan menghampiri mereka dengan buku menu ditangannya.


"selamat datang di cafe kami, mau pesan apa?" ucapnya ramah sembari menyerahkan buku menu.


tanpa melihat menu rizky menyebutkan pesanannya.


"pasta satu, sama kopi hitam satu"


kini giliran dinda yang menyebutkan pesanannya.


"pastanya juga satu tapi yang pedes banget, spons cake satu, cheese cake satu, cappucino satu, jus mangga juga satu, sama yang terakhir es krim yang rasa cokelat satu"


ucap dinda dengan senangnya sembari membolak balikkan buku menu.


sedangkan rizky sudah melototi dinda yang pesan begitu banyak.


memang tak masalah seberapa harganya pasti rizky bayar, tapi nanti kalo ngak habis itu lho bagaimana


pelayan itu mengangguk lalu membacakan ulang pesanan mereka sebelum akhirnya pergi dari hadapan mereka.


~ ~ 


TBC


LIKEEEE


LIKEEE