
Cindy melirik raka yang menjadi teman sebangkunya itu dengan heran.bagaimana tidak,pemuda itu dari tadi hanya menutup matanya dengan menelungkupkan kepalanya diatas lipatan tangannya yang berada dimeja raka.
'Apa raka pingsan?'batin cindy karna sudah sejak memasuki pelajaran awal raka tertidur.beruntung saat ini guru mereka tidak hadir membuat suasana kelas sedikit ribut namum raka tidak terusik sama sekali membuat cindy terus memfokuskan netranya pada raka.
Hingga suara ringisan pelan dari raka seketika membuat cindy diradang khawatir.gadis itu langsung mengguncangkan tubuh raka sedikit pelan
"Raka lo baik baik saja?"tanya cindy khawatir namun tidak mendatap jawaban sama sekali.
"Shhhhh"suara ringisan tertahan raka membuat cindy semakin khawatir dan kalut.dia yakin raka sedang tidak baik baik saja.
Sedangkan raka,pria itu masih menundukkan kepalanya sambil mengelus dada kirinya berharap rasa sakit itu menghilang.
Sebenarnya sejak bangun pagi tadi raka merasa sangat lemas ditamba kepalanya yang sangat pusing.bahkan dia berniat untuk tidak sekolah.
Tapi jika dirumah akan semakin menambah sakitnya untuk apa dia disana?akhirnya sekarang raka memutuskaan untuk sekolah.
Dan kini rasa sakit itu sudah dua kali lipat dari tadi pagi.bahkan jantungnya pun ikut menambah rasa sakitnya itu membuat raka ingin menyerah saat itu juga.
Raka membuka matanya dan melihat cindy dengan wajah khawatirnya walau pandangannya sedikit buram.
Ahhh..kenapa melihat cindy sekarang membuat raka sedikit lebih baik.
Sadar atau tidak,raka memeluk erat tubuh mungil cindy membuat gadis itu seketika mematung.entahlah,tiba tiba gadis itu merasa dia memiliki sakit jantung.
"Jangan tinggalin gue.gue takut"lirihan itu membuat cindy kembali tertegun.
"Rak,,,"hingga cindy merasa bebannya semakin memberat dan pelukan raka terlepas.kesadaran pria itu hilang menambah kepanikan cindy dan tampa sadar dia berteriak membuat seisi kelas langsung menatap mereka
Rio dan devan langsung mendekati mereka dengan panik.
"Raka?lo kenapa?bangun ka,jangan bercanda"ucap devan panik.
"Kenapa raka hah?"tanya rio terdengar menuduh cindy.
Cindy menatap tajam orang itu dengan kesal."lo nuduh gue hah?raka itu pingsan.bukannya langsung dibawa ke uks malah sempat nuduh orang lain"gerutu cindy.
Sekarang mereka sudah dikerumuni oleh seisi kelas yang kaget melihat pria yang biasa membuat masalah kini tidak sadarkan diri dengan wajah pucatnya.
Devan yang kesal karna hanya ditonton langsung memapah raka yang langsung dibantu rio ke uks.
Cindy juga ikut menemani mereka membawa raka tak lupa dia juga mengirim pesan ke riki jika raka ada di uks sekarang.
"Semoga lo baik baik saja raka.sebenarnya apa yang terjadi?kenapa lo tidak mau terbuka lagi sama gue?padahal dulu lo selalu kasih tau sama gue tentang semuanya."batin cindy sendu.
.
.
.
Riki langsung berlari ke uks melihat pesan yang dikirim cindy.wajah pemuda itu langsung berubah pucat mendengar raka kembali pingsan.
Pemandangan pertama yang riki lihat adiknya yang terbaring dengan wajah pucatnya bahkan dia belum membuka matanya.
Dia menatap tiga orang yang ada disana dan melempar beberapa pertanyaan.
"Apa yang terjadi pada raka?kenapa dia bisa pingsan?raka baik baik saja kan?"cercah riki kepada devan,rio dan cindy.
"Petugas tadi bilang jika raka hanya kelelahan tapi..."
"Tapi apa?"tanya riki tidak sabaran karna rio terlihat ragu melanjutkan.
"Kita harus membawa raka kerumah sakit.karna detak jantung raka terlihat lemah.alat disini tidak lengkap jadi petugas tadi tidak dapat memastikan apa yang terjadi pada raka"kini devan yang menyahut membuat riki meluruh.
Tidak,raka pasti baik baik saja.selama ini dia tidak pernah melihat raka sakit.raka itu kuat'batin riki sambil menggeleng ketika pikiran buruk itu datang.
"Eunghh"lenguhan kecil raka mengalihkan semua atensi mereka kepadanya.riki langsung menggemgam tangan dingin adiknya itu.
"Ka,lo baik baik saja?dimana yang sakit?apa kepala lo pusing?"deretan pertanyaan lagi lagi dilincurkan oleh riki sedangkan ketiga orang itu hanya diam memberi waktu untuk sikembar.
Raka Masih berusaha menormalkan penglihatannya yang sangat buram itu hingga kembali normal.dilihatnya riki yang menatapnya cemas dan cindy yang...entahlah,,
Raka langsung mengalihkan tatatapannya dari mereka dan merutuki dirinya yang memeluk cindy tadi.kejadian tadi masih terekam jelas di ingatannya membuat raka sedikit gugup menatapnya.
"Raka,,,katakan lo baik baik aja?"pertanyaan riki kembali menarik perhatian raka.raka menatap riki dengan tatapan yang sulit dimengerti kemudian menepis tangan yang menggemgamnya dengan hangat
"Ngapain lo kesini?"ketus raka berusaha duduk dari tempat berbaringnya.
"Raka lo mau kemana hah?lo iatirahat dulu"ucap cindy melihat raka yang mulai beranjak dari sana.
"Iya ka,atau kita kerumah sakit dulu?"kini rio yang menimpali membuat raka mendengus kesal.
"Gue nggak papa"
"Rak,kalo dibilangin bisa nggak sih lo nurut sekali aja?lo itu lagi drop.berhenti sok kuat jika tubuh lo itu udah berontak ingin istirahat.lama lama gue makin kesel deh sama lo.lo egois banget tau nggak?lo nggak pernah hargai sahabat dan kakak lo yang khawatir sama lo.kalo lo mau mati,nggak gini caranya."ucap cindy dengan menggebu gebu yang tidak tahan melihat tingkah raka yang hanya semaunya.
Sedangkan raka,pria itu hanya menatap cindy dengan datar.
"Egois?lo pikir lo siapa hah?lo nggak tau apa apa jadi jangan menilai orang lain dengan sembarangan.lebih baik urus diri lo sendiri"kata raka dengan datar dan segera berlalu dari sana dan tentunya devan dan rio mengikuti pria itu.
Sedangkan cindy hanya menggerutu kesal melihat tingkah sok kuat raka.padahal dia sangat kesakitan tadi.
"Dasar cowo aneh"cibir cindy kemudian menatap riki yang hanya diam dengan tatapan kosongnya.
"Ki,lo baik baik aja?"
"Hmm gue baik.ayo balik lagi"sahut riki segera berlalu.dan tinggallah seorang cindy disana membuat gadis itu mendengus kesal.
"Ya...tinggalin aja gue sendiri"ucap cindy sedikit berteriak hingga riki yang menyadari jika cindy sedang kesal akhirnya tertawa lepas melihat wajah kesal gadis itu.
"Makanya ngapain gabung sama anak cowok"ucap riki kembali menarik tangan cindy lembut dan berjalan bersama menuju kelas masing masing.
Cindy yang melihat riki menarik tanggannya seketika terdiam dengan wajah yang tersipu.
"Gue suka lo ki"
Deg
Langkah riki langsung terhenti mendengar gumanan cindy.pria itu mematung dengan jantung yang berdebar.
'Apa dia salah dengar?cindy menyukainya?'batin riki berharap kata yang diucapkan cindy barusan bukanlah ilusi.
"A_apa?lo suka ama gue?"tanya riki sambil menatap cindy dengan gugup.sedangkan cindy hanya mengangguk dengan santai kemudian tersenyum manis.
"Sebagai sahabat"ucap cindy yang langsung menjatuhkan harapan riki sampai kedasar.
Jadi cindy menyukainya sebagai sahabat?'tapi kenapa hati ini sakit saat mendengar kata ini dari lo cind?'batin riki tersenyum miris.
Cindy,gadis itu dari dulu sudah merebut perhatian riki.riki yang sudah terlalu nyaman pada gadis itu menetapkan bahwa hatinya sudah jatuh pada gadis didepannya itu.
'Sebenarnya gue cinta sama lo cindy'dan kata itu hanya selalu tersimpan didalam hatinya.terlalu takut untuk mengucapkan kata yang selalu dipendamnya itu.takut cindy akan menjahuinya,takut persahabatan mereka rusak hanya karna perasaan sepihak itu.
"Ki,lo masih mau disana?bel udah bunyi.kantin yuk!gue laper hehehehe"cengiran cindy kembali menyadarkan riki ke alam nyatanya.dengan cepat,riki mengulas senyum paksaanya itu walau hatinya masih terasa sesak.
"Ayo"
#TBC...