My Pain

My Pain
22



        ATTENTION!!!!


Kenapa cepet up?


Karna kalo story ini nggak siap sampe tgl 20,kemungkinan akan up lagi sebulan lebih kemudian.ya...karna sebuah alasan pribadi.


Jadi akan kuusahakan story ini tamat sampe dua minggu kedepan dan mungkin tinggal beberapa chap lagi.


OK,itu aja.sekian dan terimah kasih.


Happy reading guys😘😘😘


*****


Raka memasuki bangunan mewah itu dengan langkah pelannya dan langsung disambut oleh pemandangan yang menyesakkan untuknya.


Netra itu langsung menangkap seluruh keluarganya yang sedang berkumpul dengan wajah bahagianya,tanpa dirinya.


Raka berusaha mengukir senyumnya walau hati itu berdenyut sakit.dan tanpa disadari,santika baru saja menghembuskan nafas leganya setelah kedatang pemuda itu.


"Raka pulang!"ucapnya kemudian menunduk karna semua tatapan mengarah padanya,tatapan yang sama,dingin dan tajam.


"Ckk kamu ini cuma bisa malu-maluin keluarga kami ya? Pulang tengah malam dengan seragam sekolah?dasar anak tak tau diri.apa kamu tidak bisa meniru riki sedikit saja?riki selalu berprestasi,tidak pernah membuat masalah,selalu membanggakan keluarga ini.kamu?apa yang bisa di untungkan dari mu?yang ada kamu ini hanya membawa sial.kamu sudah membuat cucu saya hampir kehilangan nyawanya dua kali,kamu juga sudah menghilangkan nyawa putri kesayangan saya.tidak berguna,kenapa bukan kamu aja yang mati?tanpa dirimu,kami pasti sangat bahagia"ucap ridwan dengan tajam dan sinis menatap raka sedangkan yang di tatap hanya diam menunduk dan meremat jari tangannya.tidak membalas perkataan tajam opanya itu,karna dia tau akibatnya jika melawan mereka.


"Maaf,jika kehadiran raka merusak kehidupan kalian"lirih raka dengan nada bergetar,kemudian mengangkat kepalanya menatap keluarga itu satu persatu,hingga netranya terhenti pada riki yang diam dan memalingkan wajah darinya.


Riki kenapa?itulah pertanyaan yang ada di pikiran raka sekarang.karna sejak tadi riki hanya menatapnya acuh tanpa membelanya.


Apa dia marah?apa raka punya kesalahan yang membuat dia kecewa?tapi apa?bahkan disekolah tadi masih baik-baik saja.


"Raka ke atas dulu yah,bun,oma,opa,abang.mau ganti baju"pamitnya dengan senyum sendu disana.


"Tidak usah pamit,apapun yang kamu lakuin itu bukan urusan kami.bahkan sampai kamu mati,itu bukan urusan kami"sahut lisa yang dibalas oleh senyum tipis dari raka sebelum berlalu dari sana dengan dada yang sangat sesak.


Hingga dia tiba di dalam kamarnya,dia langsung meringkuk dalam kesendiriam.


Pada akhirnya,dia hanya berjuang sendirian tanpa ada penopang untuknya.


****


Matahari pagi sudah mengintip dengan malu-malu dengan cahaya yang langsung menembus gorden kamar milik pemuda yang masih asik berpelukan dengan bantal gulingnya.


Hari ini libur,jadi dia memanfaatkan waktu liburnya untuk tidur lama mengingat dirinya semalam hampir tidak tidur karna tamu tak di undang itu datang lagi menyiksa fisiknya,tepatnya di area dada.


Dan tiga jam yang lalu dia benar-benar bisa tertidur dengan pulas,wajahnya yang pucat langsung menyerit tak nyaman saat sinar matahari itu langsung menerpa wajahnya dan lagi-lagi tidurnya terganggu.


Pemuda yang tak lain raka itu mendesah malas kemudian mencoba tertidur lagi namun usahanya tetap sia-sia.dia menyerah,akhirnya dengan gerakan malas,dia beranjak dari kasur itu menuju kamar mandi yang ada di kamar itu untuk sekedar membasuh wajah pucatnya supaya lebih segar.


Langkah kakinya kembali membawa dirinya keluar kamar menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang sudah terasa kering dan perih.


Langkah pemuda itu langsung terhenti saat berhadapan dengan pemuda yang akhir-akhir ini menjahuinya.


Bahkan saat semua keluarga itu melemparkan kata-kata tajam untuknya,pemuda yang pernah berjanji akan tetap menopangnya supaya tidak jatuh,nyatanya hanya diam,menyaksikan semua penderitaannya.


Riki,pemuda itu hanya menatap raka sekilas dan berlalu dari sana tanpa memperdulikan raka yang masih setia berdiri menatapnya.


"Abang,mau kemana?"tanya raka mencoba memberanikan diri sebelum riki menghilang dari pandangannya.


Riki sempat terdiam sebentar tanpa menoleh dan langkahnya kembali membawa tubuh itu menjauh dari raka,dan tidak meninggalkan raka yang menatapnya jengah.


Raka berjalan cepat mendekati riki dan menghadang jalan pria itu yang sudah di pintu utama rumah itu.


"Lo kenapa sih?lo sengaja jahuin gue?"tanya raka mulai kesal,riki mendengus kemudian menatap raka dengan sorot dingin.


"Lo nggak tau kesalahan lo atau pura-pura nggak tau?"riki berbalik tanya dengan ketus.


"Maksud lo apa?"raka mulai bingung dengan pembicaraan kembarannya itu,karna dia merasa tidak melakukan sesuatu.


"Cindy suka sama lo"


Degg


Pernyataan yang di lontarkan riki membuat tubuhnya seketika menegang.


"Bang..."


"Dan lo tau perasaan cindy yang sebenarnya ke lo"potong riki dengan cepat.


"Gue bisa..."


"Apa?kata semangat dari lo hanya bualan saja?kenapa lo nggak kasih tau gue kalo cindy suka sama lo?supaya lo liat gue terluka di tolak oleh cindy?"masih tesimpan jelas di pikiran riki saat cindy mengatakan jika dia sudah menyukai orang lain dan lebih menyakitkan karna orang itu adiknya sendiri.dan dia baru sadar jika orang yang membuat cindy nangis saat di sekolah ternyata raka dan riki sangat kecewa dengan itu.bukan karna penolakan yang cindy berikan,tapi pada raka yang dengan ssenaknya menyakiti gadis itu.


"Abang,raka bisa jelasin se..."


"Gue nggak butuh kata-kata basi lo lagi.semuanya udah jelas,cindy sendiri yang mengatakannya secara langsung pada gue.dan lo...lo udah nyakitin cindy."lagi-lagi riki tidak membiarkan raka membuka suaranya,dan akhirnya raka hanya diam mendengar semua kekesalan riki yang membuat pria itu menjahuinya selama ini.


"Dan gue paling benci jika seseorang melukai cindy.jika saja gue lupa lo adek gue,gue udah buat muka lo babak belur.gue kecewa banget sama lo"kata riki dengan dingin kemudian berlalu dari sana dengan sengaja menubruk bahu raka membuat pemuda itu mundur kebelakang,hampir terjatuh.


Raka hanya menatap punggung tegap riki yang mulai menjauh dari pandangannya sebelum dia mendesah berat.


"Hahahahahah kenapa lo terluka raka?emangnya siapa yang menerima lo disini?"monolong raka sembari menertawakan hidupnya yang begitu miris.


.


.


.


"Ndra?kamu ada waktu sebentar?papa mau bicara sama kamu"ucap roby pada riko yang baru keluar dari kamarnya dengan pakaiannya yang rapi.mungkin putranya itu ingin bermain dengan teman-temannya.


"Papa akan jelasin yang sebenarnya kenapa papa lakuin itu semua!!"kata roby lagi namun tidak di gubris oleh riko.


Roby mendesah pelan,menatap riko dengan nanar.putranya itu semakin membangun dinding tebal untuknya.meski dia tau jika riko melakukannya karna sudah terlalu kecewa pada dirinya.


"Papa harap kamu lebih kuat jika tau kenyataannya nak"batin roby kemudian mengepalkan tangannya erat sebelum netranya menangkap foto istrinya yang dipajang didinding bangunan itu.


Netra pria itu langsung berkaca-kaca hingga air bening itu meluncur bebas dari pipinya.


"Candra putra kita,aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya.tidak akan,sayang.meskipun itu ayah kandungnya sendiri"gumannya dengan peneegasan.


.


.


.


"Raka,lo ngapain melamun disini?lo nggak tau ya disini ada arwah gentayangan yang suka gangguin cogan"celetuk riko setelah tiba di hadapan raka yang duduk dengan tatapan kosongnya di taman rumah sakit milik farhan.


Hari ini jadwal raka untuk cek up dan riko memutuskan untuk menemaninya sekalian.


"Baru nyadar lo gue cogan?"ketus raka kemudian menatap sekelilingnya.


"Mas riko naik apa kesini?"tanya raka.


"Naik becak"


"Tumben"


"Naik motor lah"kesal riko,


"Emangnya kenapa?"lanjutnya kemudian.


"Mau nebeng ama lo."sahut raka.


"Hmmm.yaudah,yuk kita keruangan om farhan"kata riko menarik tangan raka.


"Lo demam?"tanya riko saat merasakan hawa panas dari tangan kurus raka.


"Sikit"


"Sikit pala lo.kenapa nggak langsung ketemu sama om tadi hah?gue jamin lo bakal di kurung disini lagi.biar tau rasa lo."gerutu riko.


"Bawel lo"


"Lo udah sarapan?"tanya riko seraya berjalan disamping raka yang juga berjalan dengan pelan.


"Belum"sahut raka seadanya membuat riko mendesah kasar,sebelum kembali menarik tangan raka ke arah kantin rumah sakit itu,sedangkan raka hanya pasrah dengan perlakuan sahabatnya itu.


"Ngapain kesini?"


"Makan bodoh"ketus riko.


"Lo duduk disini,biar gue yang pesen"kata riko kemudian berlalu dari sana yang hanya diam,diam dan diam dengan tatapan kosongnya.


Hingga netranya menangkap sosok pria setengah bayah yang familiar itu,raka menyipitkan matanya memastikan jika yang dilihatnya itu memang nyata.


Dibalik dinding kaca kantin itu,dia melihat tomi,ayahnya itu berdiri seperti sedang mengamati gerak-gerik seseorang.


Raka berdiri,kemudian mendekati ayahnya yang belum menyadari kedatangannya itu.


"Ayah!"panggil raka pelan namun mampu membuat yang di panggil tergelonjak kaget.


"Ayah disini?apa ada yang sakit?"tanya raka mengabaikan tatapan tajam tomi yang menatapnya.


"Bukan urusan kamu"ketus tomi kemudian berlalu dari sana,tapi raka tidak langsung menyerah sampai disana.


"Ngapain ayah liatin riko terus?"tanya raka yang berhasil menghentikan langkah pria itu.


Tomi berbalik dan semakin menajamkan matanya.


"Ikut saya"tegas tomi kemudian menarik tangan itu dengan kasar membuat raka meringis dan sekuat tenaga dia mengikuti langkah ayahnya yang terlalu cepat membuat dirinya kewalahan.semoga dia baik-baik saja.


Hingga mereka tiba di lingkungan sepi,tomi melepaskan cekalannya kemudian menatap wajah pucat raka yang meringis dengan dingin.


"Saya akan membuat kesepakatan denganmu"kata tomi dengan datar membuat raka menyerit heran.


"Apa maksud ayah?kesepakatan apa?"


"Kamu ingin saya memaafkan kesalahannmu 'kan?"tanya tomi membuat raka mengangguk pasti,meski hatinya berteriak jika kesalahan apa yang di maksud ayahnya itu?.


"Saya akan memaafkanmu dengan syarat.."


"Apa yah?"


"Jauhi riko!"tegas tomi membuat raka menggeleng tidak terima kemudian memandang ayahnya itu dengan bingung.


"Riko itu sahabat raka yah,raka nggak mau jauhin dia.dia sudah kayak keluarga raka sendiri."


"Kenapa raka harus jauhin riko?"tanya raka lagi membuat tomi gelagapan.


"Kamu itu 'kan pembawa sial,saya nggak mau anak sebaik riko jadi terbawa sial karna dekat dengannmu"sahut tomi tak sepenuhnya bohong.


Dan lagi raka hanya menelan pel-pel pahit itu yang semakin menambah rasa sakit.


Raka menunduk,kemudian menggeleng.


"Iya,raka tahu jika raka pembawa sial,tapi raka tidak akan menjahui riko,dan akan kupastikan jika dia tidak akan kena sial.karna disaat semua keluarga raka ninggalin raka,riko yang datang dan membantu raka bertahan.riko itu oksigen buat raka,jika riko menjauh,maka detak jantung raka akan berhenti saat itu juga."