My Pain

My Pain
5



Turun!"titah raka dengan nada datar setelah tiba didepan rumah mereka.dan dengan berat hati riki turun dari motor raka diikuti raka yang sudah siap memarkirkan.


Riki langsung berdecak melihat raka yang langsung berlalu tanpa menunggunya.padahal dia sudah menunggunya supaya masuk bersama.


"Assalamualaikum!!!!"seru riki dengan semangat menuju dapur.sedangkan raka sudah langsung berjalan menuju kamarnya.


Dengan langkah girang,riki mendekati bundanya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan itu.


"Walaikhumsalam...kamu sudah pulang nak"ujar santika yang dibalas anggukan semangat dari riki dan kecupan dipipinya dari riki.


"Bunda masak apa?kenapa banyak sekali?"tanya riki yang baru menyadari jika makanan disana terlalu banya dan pasti akan sangat lebih jika hanya mereka yang makan.


Santika tersenyum manis kemudian mengelus pipi riki dengan sayang.


"Sekarang kamu mandi gih.bentar lagi keluarga cindy bakal dateng"ucap santika membuat mata riki berbinar.


"Benarkah?"


"Iya..sekarang bersiap siap saja.ayah juga sudah siap dikamarnya"


"Iya bun.riki kekamar dulu ya"kata riki dengan girang dan segera berlalu.


Sedangkan raka yang baru tiba dikamarnya langsung membanting pas bunga yang ada diatas nakas dengan kasar.dada pemuda itu naik turun tidak teratur.


Mengingat kejadian tadi membuat emosinya hampir meledak namun ditahannya membuat rasa sesak didadanya semakin kentara.


"Riko,apa yang ingin lo rencanakan hah?"ucapnya dengan nada emosi.


Rasa sesak itu semakin menjadi jadi hingga membuatnya semakin kepayahan untuk menarik nafasnya.


Raka berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan menarik nafas dalam namun rasa sakit itu semakin terasa hingga dia mengerang kesakitan sambil mencengkram dada kirinya.


Dengan kepayahan,raka merogoh botol berisi obat obatan yang menjadi temannya selama ini dan dan memassukkan beberapa obat itu kemulutnya dengan rakus tanpa bantuan air.


Tubuh raka meluruh dan meringkuk dilantai dingin kamarnya itu dengan nafas terpenggal penggal.


Raka tersenyum miris melihat keadaanya saat ini dan sekelebat bayangan kejadian beberapa menit lalu memenuhi pikirannya.


"Ahh gue sahabatnya raka.kenalin gue riko"suara itu masih terngiang ngiang dikepalanya hingga tanpa sadar air bening itu menetes dari mata sayunya.


"Gue harap bisa denger kalimat itu lagi dari mulut lo dengan tulus ndra"gumannya lemah sebelum mata itu tertutup sempurnah entah tidur atau pingsan tidak ada yang tau.


.


.


.


Jam menunjukkan jam 17:02 saat cindy dan kedua orangtuanya tiba dirumah mewah keluarga sikembar.


Mereka langsung berpelukan bahagia setelah sekian lama tidak bertemu.


Santika  yang memang sahabat kecil dari rani mamanya cindy membuat mereka terlihat seperti saudara.


Mereka duduk bersama diruang tamu sambil bercanda gurau hingga menceritakan kejadian lucu mereka dulu dan tertawa bersama.


Riki dan cindy yang memang hanya menyimak percakapan keempat paruh bayah itu juga tertawa lepas menanggapi candaan mereka hingga kedatangan pemuda dengan wajah tirusnya menghentikan tawa mereka dan terdiam.


Hingga rani mendekati pemuda yang tak lain raka yang menatap mereka dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan


"Nak raka?bagaimana kabarmu hm?"ujar rani dengan sayang yang dibalas senyum tipis dari raka sebelum berlalu dari sana tanpa berniat membalas sapaan rani.


Semua terdiam melihat tingkah raka terutama keluarga cindy yang terkejut dengan reaksi raka.


Sedangkan santika dan tomi berusaha menahan amarah supaya tidak meledak akan sifat memalukan putra bungsu mereka.dengan senyum paksaan mereka langsung memberi penjelasan yang tentu kebohongan untuk membuat keluarga cindi tidak terlalu memikirkannya dan memasukkkannya kedalam hati.


Dalam hati mereka sudah mengumpat darah daging mereka sendiri.


.


.


.


Sekarang raka berada diruangan serba putih dengan duduk di depan meja kerja dr.farhan dengan malas.Dr.farhan yang tak lain pemilik rumah sakit itu sekaligus om nya.


Malas mendengar ocehan omnya yang sejak dia tiba selalu mengoceh ini itu membuat raka jengah.


"Saya sudah bilang kan kamu harus datang kesini setiap sekali seminggu bukan saat kambuh seperti ini.dan dari mana saja kamu selama sebulan ini?kau sudah melewatkan beberapa kali jadwal cek up mu raka.apa om harus selalu menyeretmu kesini?"raka hanya berdehem sambil memainkan ponselnya membalas chat dari dua teman kreseknya.


Merasa diabaikan,farhan langsung menarik ponsel ditanggan raka dengan kasar membuatnya mendelik tidak terima dengan perlakuan omnya itu.


"Om balikin ponsel raka.ihhh sini om"kesal raka sambil berusaha meraih tangan farhan yang selalu menghindarinya.


"Maaf om"sesal raka membuat farhan mendesah kasar.selalu seperti itu dan besoknya raka pasti berulah kembali.


"Jika kau melewatkan jadwal cek upmu lagi maka om akan menyeretmu untuk tingga denganku lagi supaya saya bisa memantau kesehatanmu"tegas farhan yang langsung akan diprotes raka namun urung saat farhan melemparkan tatapan tajam untuknya.


Memang setelah kejadian kelam tujuh tahun lalu raka tinggal dengan om nya lebih dari lima tahun dan setelah memasuki SMA raka kembali kerumah kedua orangtuanya karna dijemput orangtuanya atas permintaan riki.


Farhan heran apa sebenarnya yang raka pikirkan menerima ajakan riki untuk pulang padahal dirumah itu raka hanya akan diabaikan,raka pasti hanya akan mendapatkan rasa sakit.


Hening


Hingga suara raka mengalihkan fokus farhan.


"Om,bagaimana hasil pemeriksaan saya kali ini?"tanya raka membuat farhan terdiam.entah kenapa terlalu sulit untuk menjawab pertanyaam raka kali ini.


"Om..."


"Raka,om minta sama kamu untuk lebih menjaga kesehatan kamu.keadaan jantung kamu semakin memburuk.kenapa secepat ini?apa kau tidak meminum obatmu?"


Raka terdiam memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan farhan.


"Raka minum kok om.emang jantungnya aja yang nakal."sahut raka


"Kau tidak minum beralkohol atau merokok kan?"lagi lagi pertanyaan farhan membuat raka lagi lagi memutar otaknya untuk berpikir cepat.


"Nnggak om.raka nggak ngelakuin itu"raka memaki dirinya yang sudah membohongi pria yang sudah dianggapnya sebagai ayahnya sendiri membuat perasaan bersalah memenuhi hatinya


Farhan mendesah berat menatap raka yang menunduk lesu.


"Raka..."


"Hmm?"raka mendongak mempertemukan manik kebiruan raka dengan manik hitam pekat farhan.


"Apa kamu tidak bisa kembali aja kerumah om?aku tau kamu tidak bahagia disana."ucap farhan


Raka lama terdian hingga dia mengulas senyum tulusnya.senyum yang tidak pernah dia tunjukkan kepada orang lain.hanya didepan farhan raka akan menjadi dirinya sendiri.


Raka yang pendiam dan dingin nyatanya raka yang sangat penyayang dan ceria.


Raka yang terlihat urak urakan itu ternyata pria yang memiliki luka yang disembunyikan dari orang lain.luka batin dan fisik.


"Om raka bahagia disana.walau raka diabaikan atau dilukai tapi raka sudah sangat beruntung.setidaknya raka bisa melihat mereka dengan jarak dekat."farhan bisa melihat ketulusan dari raka yang tidak pernah sadari oleh orang lain.


"Tapi raka sampai kapan kamu akan terus seperti itu hah?om.."


"Raka...raka akan terus seperti ini hingga raka menghembuskan nafas terakhir raka.disisa hidupku ini raka hanya ingin selalu melihat tawa mereka walau bukan karna raka dan hingga raka lelah om"potong raka membuat farhan lagi lagi mendesah.


"Raka...sudah om katakan jangan pernah mengucapkan kata itu lagi.kau pasti sembuh.jangan terlalu pesimis raka.yang hanya kau lakukan hanya menjaga kesehatan jangan memperburuknya"


"Tapi om kita tidak tau kapan waktu kita berhenti bukan?bisa saja waktu raka habis besok atau nanti.tidak ada yang tau kan.raka tidak terlalu berharap sembuh om"


.


.


.


"Dari mana saja kamu?apa hanya kelayapan yang bisa kamu lakukan?dasar tidak berguna"kata sambutan dari toni yang raka dengar setelah memasuki rumah itu.


Raka menatap wajah sang ayah yang menandakan kemarahan disana.entahlah,raka sepertinya ingin menghilang dari tempat itu.


"Raka nggak kelayapan yah.raka cuma..."


"Cuma apa?cuma nongkrong sama teman berandalmu itu?"seketika raut wajah raka mengeras mendengar ucapan ayahnya itu.


"Mereka bukan berandal ayah!!!mohon jaga ucapan anda selaku pria yang terhormat."


Plakk


Lagi lagi sentuhan dari ayahnya membuat rasa sakit batinnya semakin menyiksa.manik yang pernah kesukaan ayahnya itu memerah menahan lelehan itu terjatuh.


"Ini akibat berteman dari mereka sehingga kamu semakin tidak bisa diatur.jika sekali lagi kamu melewan saya,saya akan memindahkan kamu keluar negri"tegas tomi dengan nada penekanan.


"Ayah tidak bisa mengatur hidupku sesuka ayah.raka..."


"Kamu pikir kamu bisa hidup tanpa uang saya hah?jika saya mau,kamu sudah anak gelandangan sekarang.jadi hidupmu saya yang akan mengatur.untuk itu jangan coba coba untuk melawan saya"raka terdiam,menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh setelah mengucapkan kata manis itu.


Tubuh raka limbung seketika dan hampir jatuh jika saja tidak ada meja nakas yang ada didekatnya.dengan deru nafas beratnya raka berpegangan pada meja nakas.


Berusaha mempertahankan kesadarannya setidaknya sampai dia tiba dilantai atas tempat kamarnya berada.


Namun kini pening dikepalanya yang menjadi jadi membuat pertahananya runtuh hingga tubub ringkih itu ambruk seketika sebelum pekikan terkejut seseorang yang raka dengar hingga gelap menyelimuti dirinya.