
Niatnya sih pengen pas malming upnya.tapi ini tangan udah gatal banget pengen up hehehe.
#Happy reading guys๐๐
Typo bertebaran,harap di maklumi ya๐๐
๐๐๐๐๐
Tomi terduduk di ruang tunggu itu dengan keadaan hancur,wajahnya terlihat pucat dan kusam.setelah tubuh putranya di bawa kedalam ruang operasi,yang dia lakukan hanya menunduk dan berharap jika dia masih di berikan kesempatan untuk memberi kasih sayang seorang ayah untuk putranya,riko.
Hening,santika hanya diam menatap tomi yang menunduk tanpa membuka suara hingga dia mulai jengah sendiri.
"Mas,katakan!siapa dia?"tanya santika dengan nada bergetar,takut jika apa yang di katakan raka beberapa saat yang lalu adalah kebenarannya.
"Maaf"hanya itu yang keluar dari bibir suaminya membuat tanpa sadar santika menangis.
"Jadi dia putramu?"
"Sayang,dengarkan aku dulu."
"Apa?kamu menghamili wanita?dan kamu tidak mempertanggung jawabkannya?iya?"santika meninggikan suaranya menatap tajam tomi yang sudah berdiri mendekatinya dengan tatapan rasa bersalah.
"Tidak,bukan begitu.benar jika aku telah merusak seorang gadis 18 tahun yang lalu,dia sahabat aku.sebenarnya saat itu aku sedang mabuk jadi aku tidak sadar melakukannya.percayalah padaku"kata tomi.
"Sebelum kita menikah?"tanya santika melirihkan suaranya yang dibalas anggukan kecil dari tomi.
"Sa..."
"Lalu kenapa kamu lari dari tanggung jawabmu hah?"
"Karna aku mencintaimu,saat pertemuan pertama kita,aku jatuh cinta padamu dan aku tidak mau kehilanganmu.maafkan aku yang terlalu egois ini"
"Persetan dengan cintamu,aku tidak percaya denganmu lagi.selama ini aku terlalu mempercayaimu bahkan hiksss aku sampai melukai putraku hiksss raka,jika terjadi sesuatu padanya,maka aku akan membencimu seumur hidup.dan juga....sepertinya hubungan kita akan berakhir disini.dari dulu aku paling benci sama pembohong.urus saja putramu riko!"kata santika kemudian berlalu dari sana.
"San,kamu tidak boleh seperti ini.pikirkan dengan matang-matang,bagaimana dengan anak-anak,hah?aku mohon sayang,tolong tarik kata-katamu tadi"tomi berusaha mengejar santika namun tidak di gubris wanita itu sama sekali.
Hingga langkah tomi berhenti dan membiarkan istrinya itu pergi berlalu setelah berhadapan dengan seorang pria yang di kenalnya.
"Roby..."lirih tomi,sedangkan yang di panggil menatap tajam dan benci terhadap tomi namun dia tetap melangkah mendekati ruang operasi riko,putranya.
"Papa mohon,bertahanlah nak.maafkan papa"lirih roby menatap sendu pintu ruangan itu.
"Ro.."
"APA?UDAH PUAS KAMU HAH?INI YANG KAMU INGINKAN?PERGI DARI SINI BRENGSEKK!!'marah roby seraya menarik kerah tomi yang hanya pasrah.
"Saya minta maaf.."
"TIDAK ADA MAAF UNTUK PRIA SEPERTIMU,sekarang pergi atau saya akan benar-benar membunuhmu"roby mendorong tomi menjauh namun pria itu tidak beranjak sesuai yang di perintah.
"Aku ingin melihat keadan putraku"
"Ckk kamu cari matiย sepertinya"
Bugghh
Bughhh
Bughhh
Beberapa pukulan dia layangkan untuk tomi yang hanya pasrah,membuat wajah itu mendapat warna kebiruan dan darah dari bibirnya yang sobek akibat pukulannya yang tak main-main.
Tubuh tomi sudah meluruh namun tidak ada niatnya untuk membalas karna dia sadar jika ini kesalahannya.
"Jangan pernah sebut dia putramu dengan mulut kotor mu ini brengsek!"geram roby kemudian berdiri membelakangi tomi yang tergeletak dengan nafas beratnya.
Roby memejamkan matanya berusaha mengontrol emosinya itu,dia tidak bisa melukai siapa pun lagi.sudah cukup dirinya selama ini di selimuti hawa iblis.
"Pergilah,raka lebih membutuhkan mu sekarang!"kata roby dengan lirih tanpa menatap tomi.
"Sepertinya karma sedang berjalan untukmu"lanjutnya lagi kemudian duduk di kursi itu dengan menunduk.
"Riko...lebih membutuhkan saya"sahut tomi dengan pasti,roby mengangkat kepalanya dan menatap tomi tidak percaya.
"Kamu memang benar-benar sudah gila"guman roby tidak percaya.
.
.
.
Sedangkan di ruang UGD,suasana disana terlihat menengangkan.beberapa suster dan dokter yang menangani pemuda itu hampir menyerah di buatnya.
Seluruh alat medis sudah menempel di tubuhnya namun tetap saja tidak ada perubahan.mesin pendeteksi jantung itu dari tadi masih menunjukkan garis lurus dan bunyi nyaring nan panjang dari sana.
Tubuh tak berdaya itu memejam dengan tenang,tidak terusik dengan dokter yang memanggilnya seraya menekan-nekan dadanya dan menempelkan benda berbentuk setrika ke dada yang sudah terpampang secara langsung membuat tubuhnya terangkat dan meluruh kembali.
Detak itu menghilang.
Hingga pintu ruangan itu terbuka dengan kasar menampilkan dr.farhan dengan penampilan berantakannya.
Dengan segera dia mendekati tubuh ringkih itu dan menatap layar monitor yang menunjukkan garis lurus.
Farhan kalap,dengan brutal dia menekan-nekan dada itu dengan kedua tangannya setelah menyingkirkan para dokter dan perawat dari sisi brankar.
"Om minta kamu kembali.ayo raka,jangan begini om mohon.jangan pergi.buka matamu anak nakal, "
"Satu,dua,tiga,empat,lima,enam..
"
"Defiblatore!"ucap dr.farhan yang masih fokus memekan dada itu.
Seorang perawat segera memberikan benda yang di minta farhan setelah memberikan gell.
Farhan segera menerima benda yang mirip setrika itu dan menempelkan di dada raka.
"160 joule,clearr?"
"Clearr"
"180 joule,clearr?"
"Clearr"
Lagi,lagi detak itu tidak terlihat membuat farhan semakin ketakutan.
"Jagoan om kuat,ayo kembali sayang!"
"200 joule,clearr?"
"Clearr"
Dokter dan perawat disana menggeleng,tidak ada harapan untuk pemuda itu.
"Dok,ikhlaskan dia!"ucap dokter yang menangani raka sebelumnya membuat farhan menatapnya dengan tajam kemudian kembali menatap raka
"Naikkan tegangan!300 jou.."
"Dr.farhan,anda hanya akan menyakitinya.sudah cukup!"cegah dokter itu lagi,karna itu hanya akan melukai tubuh keponakannya itu.
"Diam atau saya akan memecat mu sekarang juga!"sahut farhan dengan sorot dingin kemudian menatap perawat itu yang menangguk pasrah,tidak akan ada yang bisa melawan farhan jika sudah begini.
"300 joule,clearr?"
"Clearr"
Shoott
Tetap saja,tidak ada detak kehidupan di tubuh keponakannya itu.
"OM MINTA KEMBALI ANAK NAKAL!!!!ARRGGHHH"teriak farhan karna emosi bercampur dengan perasaan hancur,tubuh kokoh itu akhirnya meluruh.keringat dan air mata sudah memenuhi wajah pucatnya bahkan tubuhnya sudah terlalu lelah.
Farhan menggemgam tangan dingin raka,menciumnya.
Dan tepat di pintu ruangan yang tidak di tutup itu,riki menyaksikannya dalam keadaan hancur.adiknya pergi,meninggalkan orang sekitarnya yang larut dalam penyesalan.
Riki hanya menatap nanar tubuh itu,tidak ada suara tangisan dari bibirnya namun air bening itu dari tadi meluncur dari netra miliknya.
Tatapan riki kosong,bahkan saat bundanya mendekat dan mengguncang tubuh kakunya.menanyakan bagaimana keadaan raka padanya,namun riki tidak menyahut.pemuda itu terlihat seperti mayah hidup.
"Riki,jawab bunda nak!bagaimana keadaan raka?"pertanyaan itu kembali terulang dari bibir santika seraya menatap tubuh putranya yang terbaring di brankar dalam ruangan itu.
"Bun,adek...adek udah ningalin kita"lirih riki dengan suara bergetar dan tatapan kosong dan detik itu dunia santika seakan hancur.rasa penyesalan tiba-tiba menyelimutinya.
Santika menggeleng kemudian berlari ke arah tubuh putra bungsunya.
"Nggak,buka matamu sayang hiksss ini bunda.maafkan bunda nak hikksss maaff bunda menyesal sayang.bunda mohon buka matamu sayang hikssss"isak santika mengguncang tubuh putranya itu.
"Bunda janji,kalo raka bangun bunda akan memperbaiki semuanya.hikksss ayo sayang,bunda mohon kembali nak"lanjutnya lagi,menciumi keningnya dengan sayang.
"Adek,ini bunda.adek jagoan bunda,ayo nak hiksss kembali.bunda mohon hiksss"
Titt titt tittt titt
Semua mata langsung tertuju pada layar EKG yang menunjukkan garis naik turunย disana,yang berarti detak kehidupan ituย sudah kembali sebelum bernafas lega.ini suatu keajabain.
Farhan tersenyum lega dan segera berdiri dari acara berlututnya kemudian mengelus rambut lepek keponakannya itu.
"Jagoan om memang kuat.makasih nak"
Raka kembali,pemuda itu kembali dan mungkin hanya untuk sementara.
.
.
.
Indah
Satu kata yang mewakili perasaan pemuda yang menatap sekelilingnya itu.semuanya terlihat indah dan sejuk.
'Apa ini di surga?'batin pemuda itu kemudian tersenyum senang.
Wajahnya terlihat bersinar,tidak ada luka seperti sebelumnya.bahkan pakaiannya yang serba putih terlihat bersinar.
Netra itu terus menelusuri tempat itu hingga menangkap seorang wanita paruh bayah yang menatapnya dengan sayang.tiba-tiba netra pemuda itu berkaca-kaca dan segera berlari memeluk wanita itu.
"Mama....candra kangen mama"ucap pemuda yang tak lain riko,memeluk tubuh yang di panggil mama itu dengan erat,seakan tidak akan melepaskan tubuh itu darinya lagi.
Sedangkan sang mama atau dewi hanya tersenyum tulus kemudian mengusap punggung putranya dengan sayang.
"Mama juga"
"Ma,candra ikut mama ya!"kata riko melepaskan pelukannya dan menatap wajah bersinar mamanya.
Dewi menggeleng kemudian mengelus rahang tegas putranya.
"Tugas kamu di sana masih banyak nak.perjalanan kamu masih panjang"ujar dewi dengan sayang.
"Tidak ma,candra nggak mau kesana.aku cuma mau sama mama aja.candra mohon jangan tinggalin candra lagi ma"
"Bukan mama yang tinggalin kamu nak,ini semua karna takdir.dan takdir kamu belum saatnya disini.dengar mama nak,mama itu akan selalu disini,di hati kamu."kata dewi.
"Kembalilah nak dan hapus rasa benci dari hatimu karna mama tidak suka jika putranya punya dendam ke seseorang,apalagi ayah kandungnya sendiri.belajarlah menerima kenyataan meskipun itu sulit"
"Kamu janji sama mama,ya?kamu harus tetap anak baik mama"lanjutnya lagi,riko mengangguk pelan membuat dewi tersenyum kembali.
"Makasih sayang,mama sayang banget sama kamu.mama pamit ya"belum sempat riko menjawab,tubuh itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Nggak ma,jangan tinggalin candra.ma...MAMA!!!!"
*********
"Pa,kenapa semuanya gelap?candra nggak bisa liat apa-apa.papa,candra takut gelap"
#TBC