
Double up✌
2 jam kedepan😄😉
Tapi kalo votmen nya memuaskan😅😂
Happy reading guys😘😘😘
🌺🌺🌺🌺
Langkah riki terhenti saat melihat gadis yang di kenalnya itu mendekat kearahnya di lorong sekolah itu.senyum riki merekah,semakin lebar tak kala gadis itu tiba di depannya,menatapnya dengan wajah cemas gadis itu membuat riki merasa senang.
"Riki?lo nggak papa?"tanya cindy cemas.
"Mmm gue nggak papa"sahut riki pelan.
"Tadi lo beneran pingsan?trus raka mana?tadi dia bilang bakal bawa lo ke uks tapi nggak ada"ucap cindy,sedangkan riki hanya tersenyum simpul.
"Gue mau ngomong ama lo sebentar,boleh?"tanya riki membuat cindy mendengus kesal.
"Gue tanya raka mana?"ulang cindy karna pertanyaannya tadi belum di jawab.
"Raka?dia masih di aula.kita ke taman sebentar ya"lagi,riki mengajak cindy untuk mengobrol berdua,gadis itu hanya mengangguk pasrah.
Setelah mereka sampai di tempat tujuan,mereka langsung duduk di kursi panjang itu.
"Lo mau ngomong apa?cepetan,lima menit lagi bakal bel masuk lho"kata cindy langsung,sedangkan riki masih fokus untuk menenangkan dirinya sendiri kemudian menatap wajah gadis di sampingnya itu.
Sekarang kesempatan yang pas untuknya.
"Mmmm gue..gue...suka sama lo"ucap riki dengan cepat membuat cindy menyeritkan alisnya heran kemudian tertawa lepas.
"Hahahahahaha gue juga riki hahahah"canda cindy sambil tertawa sendiri.
"Gue serius cin"ucap riki dengan nada serius membuat cindy terdiam dan menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sejak dulu gue udah suka sama lo tapi gue nggak berani mengatakan yang sejujurnya."kata riki dengan tulus.
"Riki..."
"Apa lo punya perasaan yang sama ke gue?"
"A-aku..."
"Hmm?"cindy menunduk,entah kenapa dia sangat bingung untuk menjawab pertanyaan yang di lempar riki.
Hatinya ingin menolak dan mengatakan jika dia menyukai raka,saudara pemuda di depannya itu,namun hati lainnya menolak,tidak tega melihat wajah kecewa riki,yang hanya dia anggap sebagai sahabatnya itu.
Dan juga,raka tidak menyukai dirinya 'kan? Lalu apa dia masih berharap dengan pria itu?
Cindy mengerti bagaimana sakitnya mencintai orang yang tidak mencintainya dan dia sangat tidak tega jika melihat sahabatnya itu juga terluka.
Setelah terdiam beberapa saat,cindy mengangkat kepalanya menatap wajah riki kemudian mengukir senyum tulusnya sebelum mengatakan keputusan darinya.
.
.
.
"Lo abangnya?"pekik kedua mahluk kresek itu dengan wajah terkejut menatap dua orang lainnya yang baru saja mengatakan hubungan mereka.
"Sahabat"elak pemuda yang di tanya membuat yang disampingnya itu mendengus.
"Tapi udah kayak abangnya sendiri"sahut pemuda yang satu itu lagi membuat mahluk kresek itu memutar matanya malas,bingung akan jawaban kedua pemuda itu.
"Nama gue riko"lanjut pemuda itu lagi yang ternyata riko.
"Mmm gue devan,ini adek gue rio"sahut devan memperkenalkan diri kepada riko.sedangkan rio mendelik kesal menatap devan yang memasang wajah santainya.si devan memang selalu sok tua.
Sekarang posisi mereka berada di apartemen milik devan setelah pulang sekolah,mereka berkumpul disana.raka juga mengajak riko kesana untuk memperkenalkan mereka semua.
"Sejak kapan lo kenal raka?"tanya rio menatap riko.
"Hmmm udah tujuh tahun sih"sahut riko.
Devan dan rio mengangguk mengerti kemudian menatap raka yang hanya diam dan riko secara bergantian.
"Wajah kalian ada miripnya ya.apa jangan-jangan kalian itu saudara kandung?"tanya devan membuat raka mendelik tidak terima.
"Gue ganteng,masa disamain sama dia?"protes raka langsung.
"Gantengan gue kali"kata riko dengan pedenya,lagi lagi devan memutar matanya malas melihat tingkah kedua orang itu.
Devan dan rio kembali bertanya tentang hal lainnya membuat mereka semakin cepat kompak dan tak terasa mereka sudah menghabiskan beberapa jam disana untuk mengobrol dan bercanda.
Ya,mereka merasa sangat cocok menjadi teman.
"Ra,udah sore nih.lo nggak pulang?"tanya riko tiba-tiba,raka melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan ke arah 05:03.
"Yaudah,kita pamit dulu ya"sahut raka kemudian berdiri.
"Hmm kalian hati-hati"kata devan kemudian saling bertos berpisah dan kembali kerumah masing-masing.
"Raka,lo gue antar ya"kata riko yang sudah menaiki motornya itu.
"Nggak usah,gue naik taksi aja.gue lagi nggak enak badan nih,entar masuk angin lagi kalo naik motor"tolak raka dengan halus,riko mengangguk mengerti.
"Ya udah,gue duluan.hati-hati ra"kata riko sebelum menyalakan motornya dan berlalu dari sana.
Raka mendesah pelan kemudian menatap sekeliling tempat itu berharap dia langsung mendapat taksi.
Lalu dimana mobil raka?sepulang sekolah,raka menebeng sama devan dengan alasan dia sedang malas menyetir dan mobilnya dia tinggalkan begitu saja di sekolah itu.
Ya karna penjagaan disana sangat aman jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan mobil itu.
Lima menit raka berdiri di pinggir jalan itu,tapi yang di tunggu pun belum ada hingga akhirnya dia berjalan ke halte bus yang tak jauh dari sana namun mampu menguras tenaga raka.
Raka mendudukkan dirinya di bangku itu seraya mengurut dada kirinya yang berdenyut nyeri.setelah beberapa saat,sebuah bus sudah datang dan dengan sisa tenaganya,dia mendekati bus itu dan menaikinya.
Dan bus itupun berjalan dan berhenti di halte bus yang lumayan jauh dari sebuah bangunan yang akan di tuju oleh pemuda itu.
Setelah turun di halte pemberhentian itu,raka langsung memasuki taksi yang kebetulan lewat disana.dan beberapa menit kemudian,raka sudah tiba didepan bangunan tinggi dan besar itu,tempat yang sudah biasa dia injak,rumah sakit milik om nya.
Ya,raka tidak langsung pulang kerumah.alasannya,karna dia belum siap melihat wajah bahagia kembarannya itu.
Sebenarnya waktu disekolah,dia sempat mengikuti riki dan cindy yang berjalan ketaman sekolah itu,dan senyum miris yang dia ukir saat melihat senyum cindy menjawab pertanyaan riki.
Dan dia langsung pergi dari sana sebelum mendengar jawaban yang gadis itu berikan karna dia sudah bisa menebak melihat dari raut wajahnya.dia terluka,tapi tidak ada yang dia salahkan disana karna dirinya lah yang bodoh.
Disini,dirinya lah yang patut disalahkan,dan sekarang dia sudah merasakan bagaimana kehilangan,ahhh bahkan dari dulu dia sudah merasakannya.
Kaki jenjang raka membawa dirinya keruangan yang biasa om nya itu tempati dan tanpa mengetuk atau mengucapkan salam,dia langsung memasuki ruangan itu.
"Lagi apa om?"tanya raka langsung setelah berhadapan dengan om farhan yang sibuk dengan sebuah amplop di tangannya itu.
"Sibuk.kamu datang?bukannya baru kemarin kamu keluar?apa sakit lagi?ayo kita periksa"sahut farhan dengan cepat membuat raka mendengus kesal.
"Raka cuma mau ngobrol aja sama om.om lagi sibuk ya?"tanya raka kemudian memasang wajah memelasnya berharap om nya itu menyempatkan waktu untuknya.
"Hmmm saya lagi sibuk.pulang gih,udah mau malam."sahut farhan dengan senyum jahil,raka yang mendengar pengusiran dari farhan langsung mengerucutkan bibirnya.
"Jauh-jauh kesini malah diusir.dasar om durhaka"gerutunya membuat farhan tertawa lepas.
"Baiklah,kita ke kafe ya.kamu bawa jaket 'kan?"ucapnya setelah meredakan tawanya.
Raka mengangguk dengan menyunggingkan senyum manisnya itu.
"Cepetan om,lelet banget sih"gerutu raka lagi karna farhan masih terlihat mengganti pakaiannya.
"Sabar bocah nakal,dasar keponakan durhaka"balas farhan melirik tajam pemuda yang dari tadi menggerutu itu.
Setelah berdebat cukup lama,kini mereka sudah duduk tenang di meja kafe yang ada di sudut ruangan itu sembari menunggu pesanan mereka.
Keduanya masih terdiam sebelum raka melirik ragu pria didepannya itu.
"Om,raka mau tanya sesuatu"kata raka,farhan menatap raka kemudian menaikkan sebelah alisnya.
"Apa?"
"Mmmm gini om.tadi raka sempat baca cerita,ini tentang sebuah percintaan.mmm dua cowok dan satu cewek."
"Dua cowok itu ternyata bersaudara dan si cewek itu sahabatan sama kedua cowok itu.tapi,si cewek punya perasaan lebih dari sahabat terhadap cowok yang kedua,dan cowok kedua juga punya perasaan sama si cewek,tapi karna sebuah alasan,dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya."
"Hingga suatu hari,cowok yang pertama itu mengatakan perasaan yang juga di pendamnya sama si cewek itu.apa yang harus di lakukan sama cowok kedua itu om?"
"Cowok kedua memang mencintai si cewek tapi dia juga tidak mau melukai si cowok pertama.menurut om,dia pilih si cewek yang dicintainya itu atau saudaranya itu?"tanya raka setelah mendongeng panjang lebar membuat farham hampir menuju ke alam mimpinya.*bercanda😂
Farhan mengetuk-ngetukkan tangannya di atas meja seraya berpiki-pikir sebelum menatap raka.
"Menurut saya,lebih baik si cowok kedua milih saudaranya,karna saudara adalah keluarga,satu darah dan orang yang paling pertama maju untuk mendukung disaat kita terpuruk.dan juga,jika wanita yang di cintainya itu jodohnya,maka dia akan datang dengan sendirinya 'kan?."sahut farhan bersamaan dengan jus yang sudah tiba di meja mereka.
"Terima kasih"kata raka sopan pada pelayan kefe itu.
Setelah pelayan itu pergi,raka meminum jus miliknya seraya mendengar kata-kata dari om nya itu dan mengangguk menbenarkan dalam hatinya.
"Emangnya siapa cewek yang kau sukai itu?"
Uhukkkk uhukkkk uhukkk
Pertanyaan tiba tiba dari farhan membuat raka terkejut dan terbatuk tersedak oleh jus yang di minumnya.
Farhan panik,dan langsung mendekati pemuda itu,menepuk pelan punggung raka.
"Kamu nggak papa?"tanya farhan setelah raka mulai tenang,namun pemuda itu masih fokus mengatur nafasnya.
Suara ringisan mulai terdengar dari bibir pemuda itu membuat farhan semakin panik apalagi raka yang mencengkram daerah dadanya itu,dia langsung merogoh saku raka yang untungnya obat ajaib itu ada disana,dengan cekatan farhan langsung membantu raka meminum obat itu.
"Jangan panik hmm.it's okey."ucap farhan menenangkan pemuda itu.raka mengangguk pelan namun deru nafasnya masih terdengar berat.
"Tuan,apa ada masalah?sepertinya adek ini sakit.apa ada yang bisa di bantu?"tanya seorang pelayan disana yang kebetulan melihat mereka yang tidak baik-baik saja.
"Ahh makasih dek,keponakan saya sudah baik-baik saja"sahut farhan dengan ramah yang di balas dengan anggukan dan berlalu dari sana setelah pamit.
"Sudah lebih baik?"tanya farhan menatap raka.
"Hmm"sahut pemuda itu lirih.
"Kenapa bisa gini sih?"tanya farhan bingung.
"Kita pulang ya?"lanjutnya lagi,namun raka menggeleng,menolak permintaan farhan.
"Raka mau disini sama om"sahut raka.
"Tapi ini udah jam 19:30 raka"
"Biarin"kekeuh raka,farhan menarik nafasnya dalam,menghadapi keponakan keras kepala ini memang harus ekstra sabar.farhan kembali duduk di bangku miliknya itu.
"Kalo minum itu hati-hati"nasihat farhan sedangkan raka sudah mendengus kesal.
"Om sih,peka banget."gerutu raka sedangkan farhan terkekeh lucu.
"Jadi...siapa cewek yang kalian suka itu?"tanya farhan tersenyum jahil.
"Kepo"ketus raka,farhan tertawa pelan sebelum terdiam dengan wajah sendunya melihat memar yang ada di tangan raka.
Farhan tetap menatap raka yang sudah asik dengan jusnya kembali dalam diam dengan tatapan sendu miliknya dengan perasaan sesak.
"Sebelum pulang,kamu makan dulu habis itu minum obat"kata farhan kemudian menunduk,menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
.
.
.
Sedangkan di kediaman keluarga riki,seluruh keluarga itu sudah berkumpul santai di ruang keluarga.oma dan opa yang duduk diantara riki dan santika,tomi duduk berdua sembari berbincang-bincang diselingi tawa bahagia.kecuali raka tentunya.
Namun kali ini tawa itu terasa palsu untuk santika,wanita paruh bayah itu dari tadi merasa resah dan tak jarang dia selalu menatap pintu utama,berharap pintu itu terbuka dan memunculkan pemuda dengan senyu manisnya itu,raka.putra bungsunya yang akhir-akhir ini selalu membuat dirinya gagal fokus.
Entah apa yang terjadi padanya,namun sejak pertemuannya dengan raka diruang rawat riki beberapa hari yang lalu,membuat hatinya selalu terfokus pada anak itu.
Senyum tulus dan binar wajah yang di pamerkan raka pada saat itu ternyata bagaikan sihir yang menarik perhatiannya.
Bahkan,tanpa di ketahui siapa pun,dia datang keruang rawat raka dan menatapnya dari balik kaca tanpa menemuinya secara langsung.
Santika heran apa yang terjadi pada dirinya hingga dia melakukan itu.biasanya dia selalu acuh terhadap apa yang anak itu lakukan dan akan melemparkan kata-kata tajam yang menggores hati anak itu jika berkaitan tentang riki.
Lalu sekarang?
Santika mendesah,lagi dia menatap pintu utama yang masih tertutup rapat itu padahal sudah menunjukkan jam 21:11 malam.ya,santika akui jika selama ini anak itu selalu pulang tengah malam tapi kali ini dia merasa cemas karna raka memang baru sembuh.
"Sayang,kamu kenapa hm?"tanya tomi yang menyadari gelagat aneh istrinya.
"Hah?aku tidak apa-apa mas.mmm aku akan membawa buah dari dapur"kata santika kemudian berdiri menuju dapur meninggalkan semua yang ada disana menatapnya bingung.
#tbc