
Datang kemarkas gue nanti malam atau saudara lo yang akan jadi pengganti lo"
Raka menggeram marah melihat pesan atau ancaman dari orang yang sangat dikenalnya itu.siapa lagi kalau bukan 'mantan'sahabatnya itu.bukan,bukan pertemuan seperti ini yang dia inginkan.
Sedikit membanting ponselnya keatas kasurnya kemudian menjambak rambutnya frustasi.
"Apa sih yang lo mau riko?apa segitu bencinya lo sama gue sampe lo ngelakuin ini?"lirih raka.
Tok tok tok
Cklek
Suara ketukan pintu kamarnya dan terbukanya pintu memunculkan riki membuat raka memutar matanya malas.
"Ngapain lo kesini?"
"Gimana kabar lo?udah baikan?"mengabaikan tatapan tajam raka dan pertanyaan ketusnya,riki malah bertanya balik membuar raka mendengus
"Mending lo urus diri lo sendiri deh dan berhenti ganggu kehidupan gue"sahut raka menatap tajam riki.
"Gue baik baik aja sekarang.kenapa tadi lo sekolah?padahal semalam demam lo makin naik makanya gue kompres.lo baik..."
"CUKUP!berhenti sok peduli sama gue ki.gue benci tau nggak?"bentak raka
"Gue emang peduli sama lo ka.dan kenapa lo harus benci?apa salah gue peduli ama lo?atau apa karna lo benci sama gue?"
"Benar!gue sangat benci sama lo.gue benci dengan kehidupan sempurna lo.gue benci semua tentang lo.dan gara gara lo,gue kehilangan semuanya termasuk kasih sayang ayah sama bunda.jadi menjauh dari hidup gue atau lo bakal menyesal"tegas raka kemudian berlalu dari sana dengan membanting pintu itu dengan keras meninggalkan riki yang menatapnya sendu.
"Gue tau gimana sakitnya yang lo rasain ka tapi jangan menjauh dari gue.maaf jika gue penyebab rasa sakit lo"
.
.
.
Bodoh.kalimat yang dari tadi raka ucapkan pada dirinya sendiri dari tadi.kenapa dia bisa mengatakan kata itu pada riki tadi?
Apa kalian mengira itu dari hatinya?
Bukan,raka cuka membuat jarak dari kembarannya itu.jarak yang mungkin bisa menyelematkan mereka berdua.
Raka menyayangi riki?
Tentu saja,riki adalah saudaranya,abangnya.orang yang selalu melindungi dirinya supaya tidak terluka.bagaimana dia bisa melupakannya.
"Arrgghhhh"teriak raka frustasi sambil memukul setir mobilnya.
"Gue harap lo menjauh dari gue ki."batin raka.
Hingga mobil milik raka berhenti tepat didepan sebuah bangunan yang lumayan besar.
Tempat kenangannya bersama pria yang pernah dianggapnya saudara.markas riko.
Raka keluar dari mobilnya dengan tenang kemudian mengedarkan tatapannya kesegala sudut sebelum senyum sendu terukir disana.
Langkah kaki raka memasuki bangunan itu hingga ruangan gelap langsung menyambutnya disana.
"Gue sudah datang.jadi berhenti bertele tele dengan membuat drama seperti ini"ucap raka dengan tampang tenang.
Tidak ada sahutan membuat raka mengendus kesal.
"Riko,sampai kapan lo..."
Brukkk
Raka memejamkan matanya erat saat mendengar suara dibelakangnya yang tiba tiba membuat jantungnya kembali berulah.
Rasa sakit itu kembali muncul hingga membuat nafasnya sedikit tercekat.
Raka berusaha membuat dirinya terlihat baik baik saja dan dengan santai dia menoleh kebelakang.disana riko dan kawan kawannya berdiri dengan senyuman sinisnya.
"Ternyata lo datang juga teman.gimana kabar lo?"tanya riko sambil mendekati raka yang hanya diam menatap mereka dengan datar.
"Gue nggak suka basa basi.lo mau apa hah?"
"Hahahahaha santai boss.lo nggak usah buru buru.gue...."
"Gue tanya apa mau lo bukan mau mendengar ocehan menjijikan lo"potong raka
"Lo pikir gue bakal mau?"
"Tentu saja.karna lo sangat menyayangi abang lo"
"Jadi ini sekarang kerjaan lo?cihh dasar anak rendahan lo.nggak berguna"
"Jangan membuat gue marah atau lo..."
"Atau apa?gue menyesal?ckk melawanmu tidak akan pernah membuat gue menyesal"
"Baiklah.tapi jika lo melawan kali ini,lo bakal menyesal raka.saudara kembar lo yang tak tau apa apa dalam masalah kita bakalan korban disini.lo mengerti maksud gue kan?"kini raka mengepalkan tangannya antara menahan amarah dan rasa sakitnya.
"Jangan bawa riki dalam masalah ini ***!!"geram raka.
"Dan masalah apa lo bilang?gue nggak punya masalah sama lo."lanjutnya lagi.
"Gue pikir lo ngerti raka aditya pranata.gue pengen lo dapat tanda tangan bokap lo disini atau gue yang bakal nyuruh riki melakukannya.lo tau kan apa yang bakalan terjadi pada riki jika dia yang ambil tanda tangan itu?"ancam riko kembali dengan seringainya.
"Lo pikir riki bakal ngelakuin itu?"tanya raka dengan senyum mengejeknya.
"Itu mudah.gue tinggal ngancam dia dengan nyawa lo taruhannya.riki sangat menyayangi lo sampai dia bisa lakuin apapun untukmu bukan?bahkan dia pernah hampir kehilangan nyawanya untuk menyelamatkan lo waktu itu.apa lo masih ingat kejadian itu teman?"kini urat urat dileher raka mulai terlihat jelas akibat menahan amarahnya juga wajahnya yang memerah padam dan tanggannya yang mengepal kuat.
"Baiklah.gue bakal lakuin apa yang lo mau.tapi dengan satu syarat,jangan pernah muncul lagi dihadapan gue atau keluarga gue"ucap raka pada akhirnya dan langsung berlalu dari sana setelah menerima anggukan setuju dari riko dan mengambil kertas yang ada apa riko dengan kasar.
"Tapi gue nggak janji raka"gumam riko kemudian dengan tatapan sendunya menatap punggung raka yang mulai menjauh.
.
.
.
Raka membanting pintu mobilnya dengan kasar kemudian menyandarkan kepalanya yang terasa berat itu kesetir mobil.
Entah kenapa semua rasa sakit itu terlalu menyukai dirinya hingga tidak berhenti untuk menempel padanya.apa tidak bisa sehari saja dirinya merasakan kebahagiaan?
Raka mendesah seraya menganggkat kepalanya kembali dan kemudian membaca isi dari kertas yang diberikan riko tadi.
Disana terdapat tulisan penolakan kerjasama ayahnya dengan seorang konglomerat sukses.jika ayahnya menandatangani kertas itu maka tanpa secara langsung ayahnya akan menolak kerjasama mereka dengan perusahan besar lainya.dan pasti ayahnya itu akan murka jika itu terjadi yang tanpa sepengetahuannya.
Tapi jika raka tidak mendapatkan tanda tangan itu maka riki yang akan menjadi korban dari riko.dan dia tidak mau saudaranya itu kembali terluka karna dirinya.mau tidak mau dia harus mendapatkan tanda tangan itu.
Tapi bagaimama caranya?bahkan menatap dirinya pun ayahnya tidak pernah apalagi memberikan tanda tangan itu?dengan kertas laknat ini?bisa bisa hidupnya berakhir saat itu.raka sangat yakin.
Raka kembali mengerang frustasi memikirkan masalah ini.kepalanya yang pening lagi lagi harus dipakasakan memikirkan masalah yang terlalu berat ini.
.
.
.
Chandra riko prasetya,pemuda dengan kecepatan diatas rata rata melaju dengan kencang menggunakan motornya.tatapan sinis yang beberapa saat lalu dia tunjukkan pada raka kini berubah menjadi tatapn sendu sarat penyesalan.
Entah apa yang pemuda itu pikirkan dari tadi hingga dia tiba.didepan rumah mewah milik keluarganya.
Setelah memarkirkan kendaraanya itu,raka langsung memasuki rumah yang orang bilang tempat kita berlindung namun bagi dirinya rumah adalah neraka.
Dengan lesu,riko menaiki tangga menuju kamarnya namun langsung terhenti saat pria yang dia sering panggil sebagai 'papa' itu memanggilnya.
"Bagaimana tugas yang saya berikan padamu hari ini dra?apa dia sudah menandatanganinya?"tanya papa riko menatap putranya itu.
Riko mendesah kesal."dia akan segera menandatanganinya"sahut riko dengan nada ketus.
"Kapan?"
"Nggak tau"
"Saya mau secepatnya kertas itu kembali pada saya beserta dengan tanda tangan tomi.jika tidak..."
"Jika tidak Papa akan mencelakai raka?pa,riko sudah bosan dengan ancaman papa.apa papa tidak bisa berhenti?raka tidak bersalah pah.tolong hentikan balas dendam ini dia sudah terlalu banyak menderita.saya mohon pa"mohon riko dengan sendu berharap papanya mau menerima permohonannya.
"Tidak akan.ingat dra,tomi yang telah buat mama kamu meninggal dua tahun yang lalu.saya tidak akan pernah memaafkannya"riko terdiam tidak membalas ucapan papanya lagi.dirinya membenarkan kata yang diucapkan papanya itu namun hatinya berkata lain jika raka tidak bersalah dan kenapa harus raka yang terluka disini?
"Jika tidak ada tanda tangan itu katakan pada raka jika hari itu akan terakhir kalinya dia melihat saudara kembarnya itu"ucap papa sebelum berlalu meninggalkan riko yang terdiam disana.antara memilih papanya atau raka yang sudah dianggapnya sebagai adik bahkan sampai sekarang meskipun dia tidak menunjukkan itu pada raka namun hatinya selalu berteriak jika dia tetaplah sahabat raka.dia selalu ingin memeluk tubuh rapuh itu dan melontarkan candaan yang membuat raka tertawa lepas seperti dulu.
"Maafin gue raka"batin riko dengan sendu.