
Riki membuka pintu kamar raka dengan semangat dan wajah berbinarnya setelah mendapat kabar dari ayahnya jika raka sudah ada di kamarnya.
Senyum riki semakin lebar kala matanya menangkap sosok pemuda yang sedang duduk di pinggir kasurnya membelakangi dirinya.
"Adek dari mana aja hah?gue khawatir banget tau nggak."pekik riki setelah menghadap raka yang sedang menatapnya dengan datar.
"Ngapain lo ke sini?keluar!"ketus raka membuat senyum riki semakin mengembang
"Syukurlah gue masih bisa denger kata kata ketus lo.gue kangen banget ama lo"ujar riki membuat raka mendesah kasar.
Raka berdiri dan mengambil jeketnya dan juga kunci motornya membuat riki menatapnya bingung.
"Lo mau ke mana ka?"
"Bukan urusan lo"
"Tapi lo baru dateng 'kan?kenapa pergi lagi hah?kalo lo mau pergi,gue ikut lo"tegas riki namun tidak di gubris raka sama sekali.
Pemuda itu langsung keluar dari kamarnya di ikuti oleh riki yang mengejarnya dari belakang.
"Adekk!!!tungguin abang!!!"teriak riki membuat raka menghentikan langkahnya dan menatap riki dengan tajam
"Mau lo apa sih?berhenti ganggu hidup gue.lo nggak paham bahasa indonesia?"pekik raka kesal.
"Tapi rak..."
"STOP!!!gue mau sendiri!"potong raka langsung mengakhiri perdebatan itu dan langsung mengendarai motornya menjauh dari rumah itu sedangkan riki hanya menatapnya sedih kemudian bernafas lega.setidaknya dia bisa melihat adiknya itu baik baik saja.
Riki kemudian berjalan gontai dengan senyum sendunya ke halaman belakang rumah mereka.tempat itu sangat sejuk dan tenang karna tempat itu selalu di rawat dengan baik.
Riki kemudian teringat kenangannya dengan raka dulu.di saat semua baik baik saja.masih terekam jelas semua sifat ceria raka,wajah polos tanpa tatapan dingin itu.dulu raka selalu menempel padanya.
"Abang!!!!main yuk!!"
"Abang,adek pengen bobo sama abang aja"
"Abang...kepala adek pusing"
"Abang...cindy jahilin adek lagi"
"Abang!!!lutut adek beldalah tadi jatuh hiksss"
"Adek cuma mau abang"
"Abang...jangan sedih ya"
"Abang,adek takut!!!"
"Abang...abang...abanggg....
Riki tersenyum sendu kala mengingat setiap rengekan raka padanya,anak itu selalu mengikuti kemana pun dia pergi.dimana ada riki,maka disana pasti ada raka.
Riki mendongak,mencoba menghalau tetasan air yang mengepul di matanya meski dadanya itu semakin merasa sesak.
"Hahhhhhh"mendesah berat sebelum merebahkan dirinya di rerumputan disana dan memejamkan matanya mencoba menengangkan pikirannya.
"Gue kangen lo yang dulu dek"batin riki.
.
.
.
Dua pemuda yang saling diam dalam ke canggungan itu duduk sambil menatap jalanan yang lumayan lenggang dari balik kaca ruangan itu.sebuah kafe dengan lapisan dinding kaca yang langsung tembus ke jalanan.
Raka dan riko,keduanya terlalu asik dalam alam mereka masing masing hingga tidak menyadari jika mereka sudah duduk bersama disana selama beberapa menit tanpa ada yang berniat memulai percakapan.
Riko,pria itu melirik raka yang menatap lurus kedepan kemudian berdehem kecil untuk mengurangi kecanggungan.
"Ra,sorry!!!"ucap riko membuat raka menatapnya sekilas kemudian kembali menatap jalanan itu membuat riko mendesah pasrah.
"Gue akan jelasin yang sebenarnya"lanjut riko namun tidak di respon oleh raka sama sekali namun itu tidak membuat riko mundur dari niatnya itu.
"Selama ini gue ngak benar benar benci lo ra,tapi gue lakuin itu karna bokap gue"raka menatap riko dengan dahi berkerut namun tidak mengucapkan kata apapun.
"Bokap gue ngancam bakal celakain lo kalo gue masih berteman dengan lo,ra
"Mama gue udah meninggal"mendengar penuturan riko kembali membuat raka menatapnya tidak percaya.
"Papa bilang mama kecelakan karna lo"riko masih melanjutkan ucapannya namun kali ini jauh lebih mengejutkan.
"A_apa?gue nggak lakuin itu.bahkan gue nggak tau kalo nyokap lo udah meninggal"sahut raka merasa tidak terima.
"Gue tau itu.papa cuma salah paham dan gue nggak tau lagi gimana caranya yakinin papa."
"Kenapa paman nuduh gue kayak gitu?"
"Lo tau kan?mama itu sayang banget sama lo.waktu itu mama nggak tega liat lo sedih saat menatap kepergiaan bonyok lo jadi mama mutusin buat ketemuan sama ayah dan bunda lo.tapi mama malah terlibat kecelakaan dan meninggal.
"Papa jadi nyalahin lo dan ngancam gue buat nggak temenan ama lo lagi.dan tentang surat itu,papa juga ngancam gue ra,bukan cuma lo yang bakal dicelakain ama papa tapi kembaran lo juga"jelas riko membuat dada raka terasa terimpit.bukan karna ancaman itu,namun karna mama riko yang dulu selalu menyayanginya layaknya anak sendiri dan pergi karna dirinya.
"Maaf"guman raka membuat riko terdiam.
"Gue pembawa sial."lanjut raka membuat riko menggeleng tidak setuju atas ucapan raka.
"Ini takdir raka.jangan jadi salahin diri lo sendiri.liat gue,lo percaya gue 'kan?"ucap riko sambil menarik bahu raka memaksanya untuk menatap dirinya.
"Lo bilang lo nggak ngelakuin itu,jadi lo nggak usah merasa bersalah gitu"ujar riko kemudian.
"Gue pengen kita kayak dulu lagi.gue janji bakal lindungin lo dari papa.gue nggak akan biarin lo terluka lagi.lo itu adik gue"raka yang mendengar ucapan riko itu menatapnya dengan sinis dan kesal.
"Adik?kita cuma beda 4 bulan udah sok tua lo?"sahut raka membuat riko terkekeh kemudian memeluk raka dengan erat.
"Makasih udah maafin gue ra"
"Gue nggak,lepasin ri gue sesak nih"gerutu raka membuat riko tersadar kemudian melepaskan pelukan itu dan menatap raka dengan khawatir.
"Sorry ra,lo baik baik aja?nggak sakit 'kan?"tanya riko dengan cemas membuat raka tertawa melihat reaksi pemuda didepannya itu.
"Canda mas"ucap raka kemudian membuat riko menghembuskan nafas leganya.
"Kalo canda nggak harus gini ra,gue hampir mati jantungan tau.padahal lo yang sakit jantung"raka terdiam mendengar ucapan riko kemudian menunduk.riko yang menyadari respon raka membuat dia kembali merasa bersalah.mungkin raka tersinggung akan ucapaannya barusan tentang penyakit itu.
"Ra,maksud gue nggak gitu,maaf.gue nggak maksud nyinggung lo.gue cuka khawatir ama lo.maaf,gue janji nggak bakal ngungkit itu lagi"ucap riko dengan wajah memelasnya sedangkan raka sedang sibuk menahan tawanya.menjahili pria didepannya itu memang hobinya dari dulu dan dia sendiri yang akan tertawa atas tindakannya itu.
"Nggak akan sebelum lo..."
"Apa?gue bakal lakuin apapun asal lo maafin gue"ucap riko dengan pasti tanpa memikirkan resikonya.
"Lo harus..."
.
.
.
"Ahahahahaha"
"Hahahahaha"
"Lanjut abang,seru banget hahahaha"seruan anak anak dan tawa bahagia disana memenuhi ruangan dengan ciri khas bau obat obatan itu.
Anak anak dengan pakaian pasien dan wajah pucat mereka tertawa lepas melihat aksi konyol pemuda yang tak lain riko itu.
Iya riko,pemuda itu sekarang memakai pakaian badut dan membuat tingkah yang menurutnya sangat konyol namun mampu membuat anak anak pasien rumah sakit itu bahagia di buatnya.sesuai permintaan raka yang harus menghibur anak anak di rumah sakit itu dan mau tak mau dia harus melakukannya.
Namun riko tidak menyesal melakukan permintaan raka,walau sedikit malu tapi rasa bahagianya lebih besar saat dia juga melihat sahabatnya yang berkumpul di tengah anak anak itu tertawa lepas.
"Nahh adek adek,udah dulu ya.kapan kapan abang bakal dateng kesini lagi."ucap riko pada akhirnya karna dia tau anak anak itu juga harus istirahat meningat mereka semua disana adalah penderita penyakit kronis.
Mendengar penuturan riko,anak anak itu langsung murung dengan wajah sedihnya merasa terlalu cepat selesai.raka yang menyadari ekspresi itu langsung mengulas senyum tulusnya.
"Hei,kenapa jadi murung hm?bukankah bang riko bilang akan dateng lagi?nah...sekarang kalian istirahat ya?kalian mau sembuh 'kan?"semua anak anak itu mengangguk serempak menjawab pertanyaan raka membuat pria itu tersenyum gemas.
"Kalo gitu balik ke ruangan masing masing ya."
"Tapi ka raka sama bang riko janji ya bakal dateng lagi"sahut gadis kecil yang ada disana.
"Tentu,kaka janji."lalu raka mendekatkan wajahnya dengan anak kecil itu kemudian membisikkan sesuatu membuat wajah pucat anak itu seketika berbinar.
"Yeeeeee makasih ya ka"seru gadis itu kemudian memeluk erat raka.
"Nah sekarang kalian balik ya.kasian suster cantiknya nungguin kalian"ucap raka yang dibalas anggukan semangat dan berlalu dari sana diikuti oleh anak anak lainnya itu.
Setelah ruangan itu sepi,riko memdekati raka kemudian duduk disampingnya.
"Hahhhh sangat menyenangkan"ucap riko membuat raka mengulas senyumnya itu.
"Mereka sangat menggemaskan"kata raka yang diangguki riko tanda setuju.
"Lo nggak temuin om farhan dulu ra?"
"Udah tadi"
"Lalu?"
"Lalu?ya gue minta izin buat kesini.emang apa lagi?"tanya raka membuat riko menghembuskan nafas beratnya.
"Dasar nggak peka.maksud gue lo nggak cek up dulu?"
"Gue bilang sih nanti tapi gue dah capek.pengen istirahat.pulang kuy"ajak raka
"Ehh nggak bisa gitu.lo harus.."
"Besok aja mas.kalo lo nggak mau gue pulang duluan"putus raka.riko pasrah menghadapi pria keras kepala itu dan langsung mengikuti raka yang sudah menghilang di balik pintu itu.
"Tungguin woi...ni baju badut mau di kemanain!!"teriak riko sambil mengejar raka.
"Bomat,simpen aja.kan lo bakal kesini lagi"riko yang sudah disamping raka langsung menatapnya dengan tatapan protes kemudian menghela pasrah.
"Eh btw,lo ngomong apa tadi ama gadis kecil itu?"tanya riko penasaran membuat raka menyengir.
"Bang riko bakal ngasih hadiah tiap minggu pada anak anak itu"sahut raka dengan watadosnya sedangkan wajah riko sudah memerah padam.
"Sabar...sabar..emang anak ganteng harus banyak di uji"guman riko meredam emosinya.
"Mas,rambutnya kok kriting?abis kebakar ya?"tanya raka sok polos menatap rambut badut riko yang kriting itu.
"AWAS LO RAKA!!!!"
"hahahahahaha"
"Untung sayang,kalo nggak lo yang udah kebakar"